JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕
SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕
JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕
DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕
MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕
HAPPY READING ❕
Shiny baru saja menyelesaikan ibadah salat Isya. Biasanya ia melakukan ibadah salat bersama suaminya. Namun, semuanya tidak indah seperti dahulu lagi.
Shiny mondar-mandir menunggu Varun pulang. Sejak tadi, Varun sama sekali tidak menampakkan dirinya. Tidak tahu pergi ke mana suaminya itu.
Terdapat sebuah kekhawatiran di hatinya. Shiny bernapas lega saat ia mendengar suara deruman mobil milik Varun. Shiny turun ke bawah, ia ingin membuka pintu rumah. Namun, sudah keduluan dengan Varun yang membuka pintu rumah.
Varun mengalihkan pandangannya saat atensi keduanya bertemu. Shiny menahan kelingking Varun yang akan pergi meninggalkannya.
Varun menjatuhkan atensinya pada kaitan kelingking Shiny.
"Dia sudah menunggu kamu. Sekali saja jumpai dia. Aku mohon," lirih Shiny.
Varun membuang napasnya kasar. Masih sempatnya Shiny menyuruh Varun bertemu dengan orang yang sama sekali tak ingin ia jumpai. Sebenarnya, apa maksud di balik perkataan istrinya?
"Sudahlah, aku lelah."
Varun melepaskan kaitan kelingking Shiny. Ia berjalan ingin meninggalkan Shiny, namun hal tak terduga terjadi. Shiny menjatuhkan dirinya dengan memeluk sebelah kaki Varun. Air mata Shiny mulai mengalir dengan suara bergetarnya.
"A-ku mohon Va-run. Tolong jumpai di-a. A-da yang ingin dia katakan padamu," ucap Shiny tersedu-sedu.
Varun menutup matanya dengan tangan yang mengepal erat, 'Apakah kamu akan melakukan hal yang sama untuk aku? Demi lelaki yang bukan muhrim kamu, kamu menjatuhkan harga diri kamu.'
'Maaf, Varun. Aku harus melakukan ini demi-,'
"Di mana dia?" tanya Varun setelah membuka matanya.
Shiny mematung. Shiny tidak yakin kalau Varun akan menemuinya. Shiny kembali tersadar saat Varun menyuruhnya berdiri.
"Ka-mu yakin akan menemuinya?" tanya Shiny tak percaya.
Varun tidak menjawab, ia menarik tangan Shiny dan membawanya keluar.
"Va-run, tangan kamu."
"Kenapa dengan tanganku?"
"Tangan kamu menggenggam tanganku."
Varun sedikit terpancing, "Terus?"
"Tidak enak kalau dia melihat tangan kamu menggenggam tanganku."
Varun menghentikan langkahnya. Seketika itu, Varun menarik tangan Shiny agar lebih dekat padanya, "Aku masih suami kamu. Apakah layak seorang istri mengatakan itu pada suaminya sendiri?"
Shiny menunduk. Air mata jatuh saat ia menutup matanya, "Ma-af, tapi aku tidak ingin menyakiti hatinya."
'Bahkan suami kamu sendiri, hatinya sakit saat kamu menyebut pria lain,' Varun melepaskan genggamannya.
Varun membelakangi Shiny dengan mengusap wajahnya kasar.
"Dengarkan aku-,"
Saat Varun membalikkan tubuhnya, Shiny tidak ada di sana. Alis Varun saling tertaut. Bukankah ia bersama Shiny? Lalu, di mana Shiny?
Varun membalikkan tubuhnya. Bersamaan dengan itu, suara Shiny menggema di halaman rumah.
Shiny tidak seorang diri, bahkan ia bersama keluarga besar mereka. Varun menatap bingung pada mereka.
Setelah nyanyian selamat ulang tahun berhenti, Shiny mendekat pada Varun dengan tangan yang membawa kue ulang tahun.
"Apa maksud semua ini?" tanya Varun dengan wajah sembapnya.
"Make a wish dahulu. Baru itu, aku akan menjelaskan semuanya," ucap Shiny dengan senyuman.
Varun menundukkan pandangannya, ia mulai berdoa. Setelah itu, ia meniup semua lilin yang menghias setiap sisi.
Ibu mertua Namish menghampiri Varun. Ia mengusap pipi sembap Varun.
"Apakah Shiny berhasil membuat kamu menangis dalam satu harian ini?" kekeh Pari dengan Varun yang mematung.
Ibu Namish yang sudah dianggap Varun Ibunya juga ikutan nimbrung. Shalini mengelus bahu Varun.
"Ibu bahagia karena bertambahnya usia Varun. Ibu berharap Varun bisa berpikir lebih dewasa lagi," pesan Shalini, lalu membawa Varun ke pelukannya.
Varun mulai mengerti, ia membalas pelukan Shalini tak kalah erat.
"Bahkan Varun tidak tahu kalau hari ini adalah hari kelahiran Varun," ucap Varun.
"Makanya, jadi orang jangan sok sibuk bekerja!" ucap suara cempreng Namish.
"Varun bukan sok sibuk. Varun memang selalu sibuk dalam pekerjaan. Memangnya kamu, Namish?" celetuk Tarun, Kakak pertama Namish.
Mendengar perkataan Tarun membuat mereka terkekeh. Varun melepaskan pelukannya. Ia menatap Shiny. Varun meminta penjelasan melalui mata, namun Shiny hanya membalas dengan senyuman.
"Kakak kalau bicara terlalu jujur, ya?" balas Namish dengan wajah kesalnya.
"Sudah, ayo kita ke dalam! Capek kalau berdiri lama," ucap Nagesh, Ayah Tarun dan Namish.
"Baiklah, ayo!" ucap Amar, Ayah Varun.
Semuanya berbalik, namun wajah Varun datar kembali saat orang yang tidak ingin ia lihat berada di hadapan mereka.
Varun mengalihkan atensinya pada Shiny, "Kenapa dia ada disini?"
Shiny membalas tatapan Varun. Kue yang di pegang Shiny sudah beralih di tangan Teja.
"Aku sudah mengatakannya bukan, kalau dia menunggu kamu?" balas Shiny sambil menggenggam hangat tangan Varun.
"Aku pikir-,"
"Varun biarkan dia bicara dahulu. Setelah itu, terserah kamu mau beranggapan apa," ucap Shiny dengan tangan bebas yang mengelus lengan Varun.
Pria itu tersenyum, ia berjalan dan berhenti di hadapan Varun, "Maaf kalau aku penyebab hancurnya keluarga kecilmu. Aku memang mencintai Shiny, tapi sayangnya aku sudah ada penggantinya."
Pria itu memanggil sang kekasih. Ia menggenggam tangan kekasih dengan hangat, "Perkenalkan Varun. Wanita yang sedang aku genggam tangannya adalah Mrunal. Wanita ini merupakan calon istriku."
Mrunal adalah calon istri Arjit sekaligus mantan kekasih Shiny. Mrunal mengatupkan kedua tangannya didada, "Salam Varun."
Varun hanya diam menanggapi. Varun menatap tajam Arjit. Varun menuntut penjelasan dari Arjit.
"Tenang saja Varun, aku tidak memiliki hubungan lagi sama Shiny. Sejak tiga bulan yang lalu, aku mengenal Mrunal. Kami memang dijodohkan, tapi cinta hadir saat kami terbiasa bersama. Aku memutuskan melupakan Shiny dan berusaha membuka hatiku untuk Mrunal."
Arjit dan Mrunal saling pandangannya. Keduanya tersenyum hangat, "Terus? Bagaimana dengan yang dikatakan Shiny? Ia mengatakan-,"
"Shiny hanya mengetes betapa besarnya cinta kamu padanya. Tidak ada niat yang lain dan pertanyaan selanjutnya bisa kamu tanyakan pada orang yang sudah melahirkan kamu," ucap Arjit membuat Varun kian bingung.
"Baiklah, kami tidak bisa lama-lama disini. Kami harus mengemas pakaian, karena besok adalah hari keberangkatan kami ke Italia," ucap Arjit, lalu memeluk Varun yang terdiam kaku.
"Sudahlah, ini hanya kejutan saja," bisik Arjit membuat Varun membalas pelukannya.
Keduanya mengatupkan tangan didada.
"Kami harap, kalian hadir di acara pernikahan kami. Nanti undangannya akan diantar oleh sopir Mas Arjit," ucap Mrunal sebelum mereka benar-benar pergi.
"InsyaAllah," ucap mereka.
"Assalamu'alaikum," keduanya pergi setelah mendapat balasan salam dari keluarga Varun.
Varun menurunkan pandangannya dengan mereka yang baru saja duduk disofa ruang tamu. Shiny duduk di samping Varun dengan tangan kiri yang ia selipkan dilengan kanan Varun. Shiny menyatukan kelima jari mereka.
"Shiny melakukan itu karena Mama," pernyataan dari Soni membuat Varun mengangkat pandangannya.
"Mama cuma penasaran dengan kamu yang tidak pernah menangis. Bahkan saat kamu bayi sampai sekarang, Mama tidak pernah mendengar suara tangisan kamu, kecuali saat kamu baru lahir."
"Itu pun hanya sebentar. Mama sampai takut kalau kamu memiliki kelainan. Namun Mama salah. Hanya karena Shiny, kamu membuktikan langsung pada kami kalau kamu bisa mengeluarkan air mata itu," ucap Mama panjang lebar.
"Terus? Perasaan Shiny?"
"Aku berbohong agar kamu menyerah. Kalau tidak begitu, kamu pasti akan mengatakan kalau aku bohong," ucap Shiny membuat Varun menatap dirinya.
"Tapi memang bohongan kan? Bukan-,"
"Kalau di tanyakan, siapa yang aku cinta? Aku akan menjawab, kamu. Karena kamu, aku belajar jadi makmum yang baik. Karena kamu, aku belajar jadi istri yang baik. Hanya karena kamu kehidupan aku berwarna," ucap Shiny mantap.
"Aku tahu hidup tanpa kedua orang tua tidak mudah Varun. Tapi berada di sisi kamu, aku merasa disayangi, dicintai, dan dilindungi. Jika aku salah, kamu hanya perlu menghukum ku. Cubit aku dan bimbing aku ke jalan yang benar," sambung Shiny membuat Varun memeluknya erat.
Varun membenamkan wajahnya di ceruk leher Shiny. Seketika itu, air mata mengalir di pipi Varun, "Maaf karena aku tidak percaya sama kamu."
Shiny mengelus punggung Varun yang bergetar. "Sudah, aku melakukan ini semua untuk melihat senyum kamu bukan tangisan kamu."
"Maaf, sayang," ucap Varun berulang kali tanpa berniat menjauhkan dirinya.
"Sttt, sudah aku maafkan," ucap Shiny berakhir mengalah.
Pelukan keduanya terlepas, Shiny mengusap pipi Varun yang basah kembali, "Maafkan aku juga, ya?"
Varun mengangguk, Shiny mulai mendekat dan mengecup kelopak mata Varun bergantian.
"Ekhem!" dehem yang lainnya seakan menegaskan bahwa dunia tidak milik mereka berdua.
Shiny salah tingkah, sedangkan Varun tak merasa terusik. Tidak lama kemudian, Bik Ana datang dengan kue bolu yang sudah dipotong.
Jangan tanyakan bagaimana kue itu bisa ke tangan Bik Ana. Teja yang memberikan dan menyuruh Bik Ana untuk dipotong.
"Terima kasih, Bik," ucap Akanksha, istrinya Tarun.
"Sama-sama Nyonya. Saya permisi dahulu," ucap Bik Ana dengan membungkukkan tubuhnya.
"Sudah, tidak perlu ditangisi. Sekarang kebenarannya sudah terungkap," ucap Nagesh dengan membawa sepotong kue ke arah Varun.
Setelah itu, bergantian dengan yang lainnya. Kini yang terakhir adalah Mama. Setelah Varun menerimanya, Mama memeluk Varun erat.
"Mama kian nakal, ya? Di kasih apa sama Papa sampai Mama rela membuat anaknya menangis?" decak Varun setelah Mama mengecup hangat kening Varun.
"Seperti yang kamu lakukan pada Shiny," sahut Papa yang langsung mendapat teguran dari Mama.
Sedangkan Shiny kian menurunkan pandangannya. Pipinya merona saat mendengar perkataan Papa.
"Kami punya kejutan lagi buat Kak Varun," ucap Teja membuat Varun menatap dirinya.
Teja menoleh ke belakang dan menyuruh masuk orang yang sudah ada di balik pintu.
To Be Continued...
1470 kata
Maaf kalo nih cerita gak seperti yg kalian bayangkan.
Ayo tebak, siapa orang yg di balik pintu masuk.
Kuy pantengin terus ceritanya!
Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR)
Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI)
Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA)
Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH)
Tarun Rabbani Irsyad (TARUN SINGH)
Akanksha Lathifatul Nuha (AKANKSHA CHAMOLA)
Amar Zulfatin Irsyad (AMAR SHARMA)
Soni Trisnawati Irsyad (SONICA HANDA)
Muhammad Nagesh Irsyad (NAGESH SALWAN)
Shalini Isna Irsyad (SHALINI KAPOOR SAGAR)
Sachin Affan Fadillaisyah (SACHIN TYAGI)
Pari Eileen Fadillaisyah (PARINEETA BORTHAKUR)
Minggu, 15 November 2020
Calon anak Pari dan Sachin.
linar_jha2