JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕
SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕
JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕
DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕
MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕
HAPPY READING ❕
Keesokan harinya...
Shiny melihat keadaan kamar yang sudah berantakan. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, "Apa yang kamu cari Varun? Kenapa kamar bisa berantakan begini?"
Shiny meletakkan handuk kecil pada tempatnya, "Aku mencari koperku, tapi tidak ada di mana-mana? Apakah kamu melihatnya?"
Shiny mendecak. Ia mengambil koper milik Varun di sudut ranjang, "Padahal kamu sendiri yang meletakkannya."
Varun mengambil alih kopernya, "Aku lupa."
Shiny mengernyit saat Varun memasukkan barang ke kopernya, "Kamu mau kemana? Kenapa semuanya kamu kemas ke koper?"
"Aku lupa mengatakannya sama kamu. Hari ini kita akan pulang. Ada pertemuan di perusahaan Jakarta."
"Bukankah kamu akan melihat perusahaan disini?"
"Aku sudah ke sana tadi. Sekarang cepatlah bersiap. Kita akan berangkat setengah jam lagi."
"Sepagi ini?"
"Iya, sayang. Aku sudah siap. Aku akan menunggu kamu di bawah," ucap Varun sambil mendorong kopernya.
Beberapa jam melewati perjalanan menuju Jakarta membuat Shiny lapar. Saat ini, mereka sedang sarapan disalah satu pejalan kaki dekat bandara. Mereka sarapan sambil menunggu mobil Varun yang dibawakan sopirnya.
"Pak Reza udah sampai. Kamu cepatan makannya," ingatkan Varun saat makanannya sudah habis.
Berbeda dengan Shiny, makanan milik Shiny masih banyak. Tidak biasanya makanan Shiny habis lama.
Ketika suapan ketiga masuk ke mulut Shiny, ia langsung membekap mulutnya. Tidak tahu kenapa makanan itu minta dikeluarkan kembali.
Varun yang melihat Shiny membekap mulutnya pun segera mendudukkan tempat di samping Shiny. Pasalnya posisi mereka tadi saling hadapan.
"Kamu kenapa, hem?"
"Aku mual Varun. Kita pulang aja, ya," ucap Shiny.
"Tapi makanan kamu?"
"Aku sudah kenyang."
"Baiklah, bentar."
Varun memanggil tukang penjualannya. Ia langsung membayar makanan dan minuman mereka.
Varun membopong Shiny, sedangkan Pak Reza membawa koper keduanya.
Sampai di rumah.
"Kamu istirahat dulu. Aku akan pergi ke kantor," ucap Varun sambil membaringkan Shiny di ranjang.
"Kamu akan meninggalkan ku sendirian?" Shiny menggenggam erat tangan Varun.
Kini Varun duduk di tepi ranjang, "Aku sudah menelepon Mama untuk menemani mu."
"Aku maunya kamu yang menemani ku," ucap Shiny bersikeras untuk tidak melepaskan tangan Varun.
"Sayang, sebentar lagi ada pertemuan di kantor."
"Jadi kamu memilih pergi ke kantor dari pada menemani ku?"
Varun menatap teduh wajah pucat Shiny, "Aku panggilkan Dokter, ya?"
Shiny menggeleng, "Tidak, aku maunya kamu."
Shiny membawa Varun mendekat padanya. Ia mulai mengerti maksud dari istrinya. Dengan setengah berbaring, Varun membawa wajahnya tepat di leher Shiny.
Dia mulai menghirup pelan leher istrinya. Sedangkan Shiny menutup matanya merasakan deru napas Varun begitu pula dengan Varun.
Selang beberapa menit, Varun membuka matanya. Varun menjauhkan dirinya dari Shiny. Varun menatap Shiny yang sudah terlelap.
Cup!
Varun mengecup singkat dahi Shiny.
"Kalau bukan urusan kantor, kamu sudah habis di tanganku. Tidur saja mesti diperagakan dahulu," gemas Varun pada Shiny.
Tidak lama kemudian, Varun pergi setelah Mama datang.
Siang sudah berganti menjadi sore. Kini Varun baru pulang dari kantor. Ia menatap setiap sudut rumah.
Kenapa rumahnya sepi? Tidak biasanya rumah sepi saat Mama datang. Ia mencari kedua wanita tersayangnya. Namun yang ia dapatkan hanyalah Mama seorang.
Mama duduk di belakang rumah dengan secangkir jus jeruk di meja dan buku majalah di pangkuannya.
Varun menghampiri Mama, "Kenapa Mama duduk sendirian? Apakah Shiny belum bangun?"
Mama mengangkat wajahnya, "Shiny sudah bangun, tapi baru saja pergi."
Varun mengernyit, "Pergi? Kenapa tidak izin sama Varun?"
Mama ikutan mengernyit, "Mama tadi sempat bertanya sudah izin belum sama Varun, Shiny mengatakan sudah."
"Ponsel Varun mode pesawat. Bagaimana bisa Shiny mengatakan sudah menelepon Varun?"
"Kalau begitu Mama tidak tahu Varun."
Varun mengacak rambutnya. Varun berpikir, kemana Shiny pergi dalam keadaan dirinya yang lagi tidak sehat?
Dengan tergesa-gesa, Varun masuk ke rumah. Ia tidak menjawab Mama yang sudah memanggil dirinya.
"Tidak bisakah dia tidak membuat ku khawatir begini?" gerutu Varun dengan ponsel di telinga.
"Bik!" panggil Varun saat teleponnya tak diangkat oleh Shiny.
Wanita paruh baya setengah berlari dari dapur menghampiri Varun. Ia menundukkan wajahnya saat di hadapan Varun, "I-iya, Tuan."
"Kemana perginya Shiny?!" nada bicara Varun meninggi.
"Ma-af, Tuan. Bibik tidak tahu. Sejak tadi Bibik berada di dapur," gumam Bik Iza dengan ketakutan.
Varun memejamkan matanya. Ia baru sadar dengan siapa ia bicara, "Bibik boleh kedapur lagi."
"Permisi, Tuan," ucap Bibik membungkukkan tubuhnya, lalu pergi meninggalkan Varun yang sedang mengatur napasnya.
'Nyonya Shiny harus cepat pulang. Kalau tidak, kami yang akan menjadi amukan Tuan Varun,' batin Bik Lestari di balik dinding dapur.
Varun beristighfar, ia mengusap wajahnya kasar. Pandangannya mengarah ke pintu masuk.
Di sana, Shiny sudah berdiri dengan kepala tertunduk. Dengan tangan dipilin, Shiny berjalan menuju Varun. Shiny menyodorkan tangannya pada Varun tanpa mengangkat kepalanya. Varun menerimanya. Shiny mengecup punggung tangan Varun.
Setelah itu, Varun menarik pelan tangan Shiny. Varun menggendong Shiny ala bridal style dan membawanya ke kamar.
Shiny mengangkat wajahnya, ia menatap Varun takut. Sedangkan Varun memalingkan atensinya ke depan. "Ka-mu marah?"
Pertanyaan pertama tidak di respons oleh Varun.
"Maaf, Varun. Aku tadi-,"
"Diamlah," balas Varun ketus menatap Shiny sebentar.
Shiny merengut, ia membenamkan wajahnya didada bidang Varun yang terbuka sedikit. Shiny menutup matanya dan berpura-pura terlelap. Shiny tidak ingin dihakimi oleh Varun.
Sampai di kamar.
Varun menurunkan Shiny di ranjang. Ia beringsut ke ranjang dengan tubuh setengah berbaring.
"Bangun, aku tahu kamu tidak tidur," ucap Varun dengan tangan yang menepuk lembut pipi Shiny.
Melihat Shiny yang tidak membuka mata, Varun mengalihkan wajahnya tepat di telinga Shiny. Ia mengendus lembut telinga Shiny. Shiny terlihat gelisah, ia mengeratkan tangan Varun yang di atas perutnya.
"Va-run, aku-,"
Dengan perlahan, Shiny membuka matanya.
"Apakah aku baru saja menemukan bagian sensitif itu?" tanya Varun dengan lirih.
Varun beralih menatap Shiny dengan tatapan berbeda. Pandangan Varun jatuh tepat di bibir ranum Shiny. Varun menarik selimut. Dengan perlahan, ia mulai mendekat pada Shiny.
Shiny memejamkan matanya, ia pasrah dengan yang dilakukan Varun.
Cup!
"Aku mencintaimu," bisik Varun tepat setelah ia mengecup bibir Shiny.
Tidak sampai di situ, kecupan Varun turun ke leher, bahu, dan lain-lain. Namun, kegiatan Varun terhenti saat matanya terjatuh pada belahan leher Shiny.
Jam menunjukkan pukul enam sore. Shiny terbangun dari tidur sebentarnya. Ia menatap suaminya yang masih tenang di bawah alam sadar.
Mengingat bagaimana ganasnya Varun memakan dirinya. Tidak, hanya kecupan saja yang dilakukan Varun. Shiny bangkit dengan mengangkat pelan tangannya di atas d**a Varun.
Shiny bergerak ingin turun dari ranjang, namun tangannya langsung ditarik oleh Varun. Dengan otomatis, dirinya terjatuh di atas tubuh Varun.
"Aku mau bertanya. Disaat aku pergi ke kantor, apakah kamu benar-benar tidak terlelap?" ucap Varun dengan suara khas bangun tidur.
Shiny menggeleng kaku, "Tidak, aku benar-benar terlelap."
"Lalu? Bagaimana bisa kamu pergi dan tidak izin sama ku? Mama mengatakan kalau kamu sudah izin padaku," Varun mengeratkan pelukannya.
"Aku rasa di layar ponselku sama sekali tidak ada nama kamu," sambung Varun.
"I-tu yang mau aku katakan. Ponsel kamu mati saat aku menelepon. Karena aku terlalu bosan, jadi aku pamit sama Mama," ucap Shiny pelan.
"Pergi dan meninggalkan Mama sendirian di rumah? Kamu sadar tidak? Mama rela menyempatkan diri untuk menjaga kamu, sedangkan kamu malah berkeluyuran," ucap Varun ketus.
"A-ku tidak berkeluyuran. Aku keluar karena ada urusan."
"Apa yang sedang kamu urus di luar sana?" tanya Varun masih ketus.
Shiny menurunkan pandangannya. Ia tak berani menatap wajah dingin suaminya.
"Apakah kamu tidak punya mulut, hem?" tanya Varun membuat Shiny menggeleng lambat.
"Katakan sekarang juga."
"A-ku. Aku-,"
"Aku apa Shiny? Bicara yang jelas!" ucap Varun mulai habis kesabaran.
Shiny tersentak, ia menatap Varun dengan mata berkaca-kaca. Satu hal yang membuat hati Shiny sakit adalah sebuah bentakan.
"Aku ke panti asuhan untuk menyumbangkan barang yang kemarin kita beli dari Bali," ucap Shiny dengan takut.
"Berdua?"
Shiny menggeleng, "Aku pergi sendiri."
"Aku tidak suka kamu berbohong."
"Aku tidak berbohong. Aku memang-,"
Shiny tersentak saat Varun mengubah posisinya menjadi duduk. Dengan otomatis, Shiny ikutan duduk.
Varun menyodorkan ponselnya yang baru saja ia ambil dari nakas. Varun menyuruh Shiny mengambil ponselnya melalui mata. Shiny yang mengerti pun mengambil ponsel dari tangan Varun.
Shiny mengamati dirinya dan seseorang di dalam ponsel Varun. Pandangan Shiny terangkat menatap mata Varun, "Dari mana kamu mendapatkan foto ini?"
"Tidak perlu kamu tahu dari mana aku mendapatkan foto itu," balas Varun dingin.
Sebenarnya Varun sudah bangun sebelum Shiny. Ia membuka ponselnya saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Orang suruhan Varun baru saja mengirimkan foto istrinya bersama mantan kekasihnya semasa sekolah menengah atas.
Varun bangkit dari ranjang. Shiny yang melihat Varun akan melangkah pun segera menahan jari kelingking Varun dengan jari kelingking miliknya.
Shiny bangkit dan berhadapan dengan Varun, "A-ku bisa jelaskan."
"Apakah layak seorang wanita yang sudah bersuami pergi berduaan bersama pria lain tanpa sepengetahuan suaminya?"
Shiny menggeleng dengan air mata yang berjatuhan.
"Apakah layak seorang wanita yang sudah bersuami membohongi suaminya sendiri hanya untuk menutup kelakuan b***t kalian?"
Isakan Shiny terhenti saat mendengar pertanyaan kedua Varun, "A-pa maksud kamu, Varun?"
Varun menarik tangan Shiny dan membawanya menuju cermin.
"Apa ini?" tanya Varun sambil menunjuk leher Shiny.
Shiny menyentuh bagian yang ditunjuk Varun. Terdapat sebuah warna di belahan lehernya.
Varun membalik paksa tubuh Shiny, "Berapa kali dia melakukan itu padamu?"
Shiny menyentuh tangan Varun, namun segera dijauhkan Varun, "A-ku bisa jelaskan semuanya."
"Apa lagi yang harus di jelaskan Shiny?! Semuanya sudah jelas!" ucap Varun mengusap wajahnya kasar, lalu membelakangi Shiny.
Shiny mengusap pipinya yang basah, ia mulai berdiri di hadapan Varun. Ia harus mengatakan semuanya agar permasalahan ini cepat selesai.
"Aku memang tidak pernah mencintai kamu. Aku hanya mencintai dirinya. Aku muak sama kamu, Varun! Aku merasa terkekang jika bersama kamu!" ucap Shiny histeris.
Varun mematung mendengar pernyataan dari Shiny. Bagaimana bisa orang yang selama ini ia cinta ternyata hanya berpura baik dibalik topengnya?
"Sedangkan bersama dia, aku merasa bebas. Aku bebas melakukan apapun. Tidak seperti kamu yang banyak peraturan!"
Varun hancur saat Shiny menunjukkan wajah aslinya.
"Di sini-," Shiny membawa tangan Varun pada perut ratanya.
"Ada nyawa lain dan pastinya bukan darah daging kamu," tekan Shiny seakan menegaskan Varun.
Kedua kalinya, napas Varun berhenti seakan tersedot oleh dunia. Menarik paksa tangannya dan menatap luka mata Shiny.
"Aku mohon, katakan kalau ini semua hanyalah mimpi. Kamu tidak mungkin bisa melakukan ini padaku," ucap Varun dengan mata yang berkaca.
Shiny tertawa keras. Hal itu membuat tangan Varun terkepal. Varun memejamkan matanya. Seketika itu, air mata mengalir melalui pipinya.
"Semua ini tidak mimpi Varun! Apa yang aku katakan tadi adalah nyata! Aku tidak mencintai kamu. Aku sedang mengandung anak dirinya. Kamu dengarkan itu!" tekan Shiny lagi pada setiap perkataannya.
Varun membuka matanya, lalu menatap pedih Shiny. Ia mengusap pipinya dan menarik pelan Shiny dengan tangan bebasnya, "Aku mengekang kamu karena aku tidak ingin ada pria lain di hati kamu. Aku mengekang kamu karena aku mencintai kamu dengan tulus. Tapi apa balasan kamu?"
Varun menggeleng lirih, "Jadi selama ini, kamu hanya berpura bahagia saat bersama ku?"
"Ya, aku hanya berpura bahagia saat bersama kamu," balas Shiny.
Cengkeraman tangan Varun terlepas. Ia mengusap kasar pipinya yang basah.
"Terima kasih karena sudah menjadi Shiny istriku. Sekarang aku membebaskan mu. Maaf, kalau selama ini kamu merasa terkekang olehku," ucap Varun dengan perlahan menghilang di balik pintu.
To Be Continued...
1810 kata
Gimana dengan bagian ini?
Ada yg yakin gak, kalo Shiny gak cinta sama Varun?
Ada yg sedih gak atau bahagia gitu liat mereka bertengkar?
Ayo yg penasaran kelanjutannya jangan lupa vote dan komen
Udah 2 kali apdet kan. Kalo mau di apdet lgi komen y.
Ramein nih cerita biar author nya semangat ketik.
Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR)
Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI)
Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA)
Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH)
Kamis, 12 November 2020
Kenalin, author yg ambil suami Shiny.
linar_jha2