?20

1484 Words
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕ SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕ JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕ DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕ MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕ HAPPY READING ❕ Shiny keluar dari mobil Varun. Kini ia berhadapan lagi dengan bangunan besar milik mertuanya. Shiny menatap Varun yang keluar dari mobil dengan datar. "Kita mau apa kesini?" tanya Varun. "Mama menelepon ku. Ia mengatakan kalau Papa memenangkan sebuah tender. Kita di undang dan bukan hanya itu saja, Mama ingin memperkenalkan kita pada sahabatnya sekaligus rekan Papa," jelas Shiny menangkap kemalasan dari tampang Varun. Niat Varun mengajak Shiny keluar adalah pergi jalan-jalan untuk menghabiskan waktu berdua. Ternyata setelah insiden Vishal ingin bertemu dengan Shiny, insiden lain datang ketika Mama Soni menelepon Shiny untuk datang ke rumah. "Kita seperti biasanya aja ya di depan Mama dan Papa? Jangan memperlihatkan kalau kita lagi dalam masalah," ucap Shiny sangat berharap. Varun dan Shiny langsung mengecup punggung tangan kedua paruh baya itu. "Kalian terlambat," ucap Mama Soni sangat pelan. "Maaf, Ma. Tadi ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan," alibi Shiny yang hanya dibalas anggukan kepala dari Mama Soni. "Ayo, Varun! Kita bergabung dengan rekan Papa," ucap Papa Amar yang berjalan terdahulu. Varun menarik tangan Shiny agar ikut padanya, namun tangan lain menahan langkah keduanya. Siapa lagi jika bukan Mama Soni yang menahan tangan Shiny? Varun menatap bingung Mama Soni, "Ada apa, Ma?" "Mama ada perlu dengan Shiny. Bisakah Mama pinjam istri kamu sebentar?" ucap Mama Soni. Varun menatap Shiny yang dibalas anggukan kecil pertanda mengizinkan. Varun menghela napasnya, lalu mengangguk pasrah, "Hanya sebentar kan?" "Iya, sayang. Pergi sana kamu menyusul Papa," ucap Mama Soni yang langsung diturutin Varun, walaupun berat rasanya membiarkan Shiny bersama Mama Soni. "Kamu lihat gadis yang berjalan menghampiri Varun, dia yang sebentar lagi akan menggantikan posisi kamu," ucap Mama Soni sambil menunjuk wanita berhijab yang umurnya di bawah satu tahun dengan Varun. Kini gadis itu berjalan dengan anggun menghampiri perkumpulan Varun bersama kedua paruh baya di sisi kanan dan kirinya. Mama menghampiri mereka dan meninggalkan Shiny begitu saja. Sampai sebuah tepukan hangat mendarat di pundaknya membuat ia tersadar dari lamunannya. "Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi. Lakukan sesuatu Shiny!" ucap Khyati. "Apa yang akan kita lakukan?" tanya Shiny. Khyati menghilangkan jarak keduanya. Ia membisikkan sesuatu di telinga Shiny. "Ayo, kita bergabung dengan yang lainnya!" ucap Khyati menarik pelan lengan Shiny. Mama Soni menatap kagum gadis itu. Ia membiarkan telapak tangannya dikecup oleh gadis itu. "Kamu cantik sekali menggunakan hijab," ucap Mama Soni tidak berhenti menatap kagum putri rekan suaminya. "Terima kasih, Tante," balasnya sedikit canggung. "Jangan Tante dong, sayang. Panggil Mama saja. Biar sama seperti Teja memanggil saya Mama," ucap Mama Soni. Tidak lama kemudian, wanita yang disebut namanya baru saja datang bersama Namish dan Tasheen yang berada di tengah keduanya. Mereka melakukan hal yang sama seperti gadis itu ketika bergabung dengan yang lainnya. "Adik dan Kakak memang tidak beda jauh cantiknya ketika menggunakan hijab," ucap Mama Soni membuat Teja tersenyum malu. "Aku yang memaksa mereka menggunakan hijab. Kalau tidak dipaksa pasti tidak akan mau menggunakannya," ucap Ayah Sachin. "Lain kali di biasakan. Menggunakan hijab dengan keinginan sendiri lebih baik dari pada paksaan," ucap Khyati yang langsung berdiri di samping Mama Soni. Mama Soni yang mendengar itu pun mencubit halus pinggang Khyati. Gadis itu, Janah menatap Khyati sebentar sebelum mengalihkan atensinya pada Varun yang sejak tadi menatapnya lekat. Varun memalingkan wajahnya ke samping saat Shiny menggenggam tangannya hangat. "Janah terlalu cantik, ya? Sampai kamu tidak bisa berpaling dari Janah?" bisik Shiny dengan senyuman manisnya. "Aku tidak mengatakannya cantik," kilah Varun. "Tapi mata kamu mengatakan semuanya," balas Shiny menatap sayu Varun. Janah menatap pantulan dirinya dicermin kamar mandi. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk menggunakan hijab secepat ini. Sampai ia tidak menyadari Shiny sudah berdiri di sampingnya. "Kamu harus mendengarkan aku dengan baik," ucap Shiny menyadarkan Janah atas dirinya. "Kamu mengikuti diriku?" "Menurutku, aku harus mengatakan ini sebelum kamu benar-benar jatuh ke dalam pelukannya." "Apa maksud kamu?" "Vishal sahabat kamu adalah mantan calon suamiku. Aku yang meninggalkan dirinya di saat hari pernikahan kami. Aku berhutang budi karena dia sudah membiayai pengobatan Ayahku. Dia memaksa aku untuk menikah dengan dirinya. Bahkan ia rela menjadi pembunuh hanya karena aku meninggalkan dirinya di hari pernikahan. Aku tidak mencintainya. Dia membunuh kedua orang tuaku." "Dia juga yang membunuh Rrahul," ucap Khyati yang baru saja masuk ke kamar mandi. Khyati mengunci pintu kamar mandi. Ia mendekat dan menghilangkan jarak yang lebar di antara mereka. "Karena dia mencintai kamu, Janah. Vishal tidak mau ada pria lain yang mencintai kamu kecuali dirinya. Jadi, masalah di balik kecelakaan Rrahul adalah Vishal," jelas Khyati. Shiny mengambil alih bicara, "Penyakit OCD atau Obsessive Compulsive Disorder. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan cintanya. Bahkan di saat cintanya tak terbalaskan." "Apakah ada bukti kalian mengatakan semua ini? Bentar, apa mungkin kalian disuruh Varun untuk menutupi semua kejahatannya. Aku tahu kalau dia adalah penyebab kecelakaan Rrahul. Bagaimana mungkin Vishal bisa melakukan itu? Selama ini dia baik-baik saja kok melihat aku dan Rrahul mempunyai hubungan." "Di balik ketenangan seseorang ada sesuatu yang dia sembunyikan. So please. Don't blame my brother for what he didn't do," ucap Khyati penuh harap. Khyati menggenggam kedua tangan Janah. Ia mulai bicara dengan air mata yang sudah mengalir deras, "Dia tahu kalau aku menginginkan kamu bersama Varun. Makanya itu, dia mengancam aku untuk berbohong padamu. Kalau tidak, dia akan melukai Varun. A-ku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi. Aku mohon padamu, Janah. Percaya padaku sekali ini saja. Aku akan melakukan apapun agar kamu menjauh dari Vishal. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kamu." "Maaf, aku tidak percaya sama kalian berdua," ucap Janah langsung pergi meninggalkan keduanya. Malam harinya... Ketika Janah mematikan lampu utama kamar dan menggantikannya dengan lampu tidur di kedua sisi kepala ranjang, ia tidak sengaja melihat bayangan seseorang di pintu menuju balkon kamarnya. "Bayangan itu lagi? Kenapa aku merasa selalu di perhatikan?" gumam Janah sambil membuka selimut yang sempat menyelimuti kakinya. "Aku harus melihat siapa pelakunya." Janah berjalan menuju balkon dengan sebuah vas bunga yang sempat ia ambil dari atas nakas. Hanya berjaga-jaga saja. Tidak tahu kalau itu adalah orang jahat yang sedang memata-matai dirinya. Setelah pintu terbuka lebar, Janah menatap sekelilingnya. Di sana sama sekali tidak ada orang, tapi ia tadi melihat bayangan itu. Kemana perginya bayangan itu? Bulu kuduknya langsung naik ketika angin malam menyerbu dirinya. Pagi harinya... Janah menutup mulutnya yang terbuka lebar. Ia baru saja menguap, lalu memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Semua tubuhnya sakit dan mungkin efek ia salah tidur. Janah teringat dengan sebuah sapu tangan yang ia simpan di laci. Secepat mungkin Janah merogoh laci nakasnya. Ia menatap lekat sapu tangan yang menurutnya sangat familier. "JHF. Janah Helly Fadillaisyah. Bukankah sapu tangan ini aku rajut sendiri untuk hadiah ulang tahunnya? Apa mungkin dia pelakunya? Orang yang di balik kecelakaan Rrahul dan orang yang selama ini memata-matai diriku?" "Semuanya memang sudah diatur. Aku tidak akan memaafkan kamu semudah itu." Kegaduhan terjadi di saat Mama Soni mencari surat penceraian itu. Dari nakas yang lacinya terbuka semua. Vas bunga beserta lampu tidur terbalik. Seprai dan bantal yang sudah terbaring di lantai. Sampai pakaian berserakan di atas ranjang. "Ah, sial! Semalam aku letak surat itu di dalam lemari. Kenapa surat itu tidak ada lagi?" ucap Mama Soni mengumpat. "Apa yang kamu lakukan Soni? Kenapa kamar kamu berantakan begini?" ucap Ibu Shalini yang baru saja datang langsung mendengar suara keributan dari kamar Adik Iparnya itu. "Em, Kakak. Kapan Kakak datang? Kok aku tidak mendengar suara mobil Kakak?" tanya balik Mama Soni sedikit gelagapan. Ibu Shalini menggelengkan kepalanya. Ia membiarkan kakinya masuk ke kamar, "Bagaimana kamu akan mendengar? Kamu saja sibuk dengan dunia kamu sendiri. Aku sampai memencet bel berkali-kali lho." Mama Soni tidak membalas. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Katakan padaku. Apa yang kamu cari pagi-pagi begini?" tanya Ibu Shalini yang belum mendapatkan jawaban. "Ah, tidak penting. Aku tadi hanya mencari tikus yang berkeliaran di kamar." "Ada tikus di kamar kamu?" Mama Soni mengangguk kikuk. Ibu Shalini memicingkan matanya menatap tak percaya, "Apakah ada sesuatu yang lagi kamu sembunyikan?" Khyati menginjak surat yang baru saja ia bakar. Ia tersenyum lebar, "Ternyata menggagalkan rencana Mama sangat mudah. Ketika ia lengah semuanya akan hangus dan hilang begitu saja. Maafkan aku, Ma. Aku harus melakukan ini pada Mama." Khyati membuang macis tadi ke sudut pohon. Ia menendang asal abu itu, "Semuanya selesai. Bye, berkas penceraian!" Deg! Jantung Khyati berdetak dua kali lipat saat ia membalikkan tubuh dan mendapatkan Mama Soni yang tak kalah jauh darinya. "Mama butuh penjelasan kamu. Mama tunggu di ruang keluarga," ucap Mama Soni berlalu pergi. Mampus kamu Khyati. Mama Soni pasti mendengarkan semua perkataan kamu. Pikir Khyati berakhir mengikuti Mama Soni menuju ruang keluarga. To Be Continued... 1445 kata Minggu, 06 Juni 2021 Hayo.. Khyati ketauan, nih! Apa yg akan Khyati katakan pada Mama Soni? Ditunggu aja kelanjutannya y guys.. Siyu nexpat! linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD