?19

1728 Words
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕ SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕ JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕ DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕ MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕ HAPPY READING ❕ Sore harinya... Shiny berhasil keluar dari rumah setelah Varun pergi. Ia berterima kasih pada Zain yang sempat menelepon Varun untuk meninjau tanah yang akan mereka buat menjadi sebuah pabrik. Wanita itu menatap bangunan besar yang selama ini dihuni mertuanya. Atensinya berpindah pada sebuah map, lalu beralih lagi pada bangunan besar itu. "Eh, Neng Shiny. Kenapa berdiri di situ? Ayo, silahkan masuk Neng!" ucap Pak Ferdi, satpam di rumah itu. "Tuan Amarnya ada, Pak?" tanya Shiny setelah Pak Ferdi membuka pagar. "Oh, baru saja pergi, Neng. Lagi ada urusan di kantor," balas Pak Ferdi dengan sopannya. "Mama ada di rumah kan? Shiny mau bertemu Mama." "Ada, Neng. Tapi Neng lagi tidak bertengkar dengan Nyonya kan? Soalnya kemarin saya sempat melihat Neng menangis setelah keluar dari rumah." "Kami baik, Pak. Sangat baik. Apa yang Bapak lihat jangan kasih tahu Varun, ya? Saya tidak mau Varun kepikiran," ucap Shiny penuh harap. "Siap, Neng. Dengan sebaik mungkin saya akan menutup mulut," ucap Pak Ferdi dengan senang hati. "Untuk apa kamu kesini?" tanya suara judes itu ketika Shiny dan Pak Ferdi masuk ke rumah. Siapa lagi kalau bukan Mama yang memiliki suara judes itu? Tapi tenang saja, suara judes itu hanya berlaku untuk Shiny. "Kalau begitu saya permisi dahulu," ucap Pak Ferdi tidak enak hati langsung pergi meninggalkan keduanya. "Saya sudah katakan, jangan datang ke rumah saya lagi. Apa kamu tidak bisa mendengarnya dengan baik?" ucap Mama Soni menghampiri Shiny yang masih berada di bendul pintu. "Maaf, Shiny cuma mau kasih berkas ini," ucap Shiny menyodorkan berkas itu. Mama Soni menerimanya dan langsung memeriksa berkas yang sudah ditanda-tangani oleh keduanya. Terlihat Mama Soni manggut-manggut. "Bagus sekali. Saya jadi tidak harus memaksa kamu untuk berpisah dengan putra saya," ucap Mama Soni, lalu menatap tajam Shiny. "Perlu kamu ingat, kalau Varun tahu tentang surat perceraian ini, kamu yang akan mendapatkan akibatnya," ucap Mama Soni penuh tekanan. "Shiny akan meninggalkan Varun. Shiny tidak akan menjelaskan apapun agar Varun merasa kalau Shiny pergi karena keinginan Shiny sendiri," ucap Shiny menatap teduh Mama Soni. Mama Soni mengalihkan pandangannya, "Bagus kalau kamu tahu diri. Wanita seperti kamu memang tidak pantas bersanding dengan putra saya." "Sangat tidak pantas," ulang Mama Soni menatap Shiny benci. 'Mama yang selama ini aku lantunkan namanya di do'aku sangat membenciku. Hanya karena aku wanita yang kekurangan, Mama tidak sudi nenatapku lagi. Tapi aku bersyukur pernah bertemu Mama sebaik dia. Mama memang baik dan sekarang hanya ditutupi oleh ego yang tinggi,' batin Shiny menangis. "Apakah boleh Shiny memeluk Mama terakhir kali?" Wanita paruh baya di hadapan Shiny ingin berkomentar ketika mendengarkan kata Mama dan bahkan memintanya untuk dipeluk. Shiny langsung menyelanya, "Sekali ini saja biarkan Shiny menyebut nama Mama." "Saya sudah membiarkan kamu memanggil saya Mama. Sekarang kamu bisa pergi dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" ucap Mama Soni begitu tenang. "Apakah tidak ada kesempatan untuk memeluk Mama?" tanya Shiny untuk ke berapa kalinya. Kurang rasanya jika tidak mendapatkan pelukan terakhir dari Mama Soni. "Menatap kamu saja saya tidak sudi. Apalagi memeluk kamu," ucap Mama Soni dengan tajam. Shiny hanya bisa mengangguk lirih. Shiny begitu tahu diri siapa ia sekarang di mata Mama Soni, "Baiklah, Shiny pulang dahulu. Sampaikan salam Shiny untuk Papa dan Khyati. Sampaikan juga salam Shiny untuk Mama mertua Shiny. Assalamu'alaikum." Sampai sosok Shiny menghilang dari pandangan Mama Soni, Mama Soni membalas salam Shiny dengan begitu lirih. "Apa yang Mama lakukan pada Kak Shiny?" Pertanyaan pertama dari Khyati ketika Mama Soni membalikkan tubuh, namun di abaikan begitu saja. Mama Soni melempar berkas itu ke meja, lalu mendudukkan dirinya disofa. Khyati yang melihat tampang tenang Mama Soni pun mendesah kesal, "Mama keterlaluan!" Khyati masuk ke kamarnya. Lalu tidak lama kemudian, ia keluar lagi setelah mengambil tas selempang, jaket hitam kulitnya, dan kunci mobil. "Kamu mau kemana Khyati?!" tanya Mama Soni yang masih duduk disofa ruang tamu. "Pergi sebentar!" balas Khyati. Disini lah Khyati sekarang. Berhadapan dengan Shiny yang hanya dibatasi oleh meja restoran. "Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Shiny membuka pembicaraan. "Kamu pasti mengenal Vishal," ucap Khyati tanpa basa-basi. "Lalu?" "Satu hal yang baru ku ketahui tentangnya, dia memiliki penyakit Obsessive Compulsive Disorder. Dia akan melakukan apapun termasuk mendapatkan cintanya yang tak terbalas," ucap Khyati dengan satu tarikan. "Bahkan dia rela jadi pembunuh hanya karena ditinggalkan calon istrinya di hari pernikahan," lanjut Khyati. "Pria itu membunuh calon mertuanya setelah calon istrinya pergi meninggalkan dirinya tepat di hari bahagianya," jelas Khyati. "Bukankah kisah itu hampir sama seperti kisahmu? Tidak, kisah itu memang sama seperti kisahmu," tanya Khyati berakhir meralat perkataannya. "Katakan yang sebenarnya, apa yang kamu inginkan? Aku sudah menuruti mu untuk berpisah dengan Varun." Khyati mencondongkan badan ke depan dengan tangan yang merekat di atas meja, "Aku mau kamu membatalkan perpisahan itu?" "Bagaimana mungkin? Bukankah kamu yang menginginkan kami berpisah?" "Itu dahulu dan sekarang tidak. Nyawa Kakakku ada di tangan kamu!" ucap Khyati. Shiny yang akan mengangkat suara langsung disela Khyati, "Vishal berhasil menjadi pembunuh lagi. Dia membunuh kekasihnya Janah. Dia juga tahu kalau aku menginginkan Varun bersama Janah. Dia mengancam ku dan mengatakan kalau aku membiarkan keduanya berhubungan, maka dia tidak akan segan untuk menyakiti Varun." "Vishal mencintai Janah, Shiny!" lanjut Khyati. "Aku mohon padamu, jangan biarkan Varun dan Janah bertemu. Matanya begitu banyak, dia akan tahu apa saja kegiatan Janah selama ini," ucap Khyati memohon sambil menggenggam hangat tangan Shiny. "Bagaimana dengan perjanjian aku dan Mama?" tanya Shiny. Shiny mengayunkan kakinya di atas tanah. Bersamaan dengan itu, tubuhnya melayang di udara. Rambutnya berterbangan ketika angin menyerbu dirinya di iringi suara decitan ayunan. "Apa yang harus aku lakukan?" gumam Shiny. "Ada apa?" tanya Varun menahan ayunan yang digunakan Shiny. "Varun, kamu sudah dari tadi pulang?" Varun membawa tubuh Shiny turun dari ayunan, "Aku baru pulang. Aku mencari kamu di kamar, tapi tidak ada. Ternyata kamu ada disini." Shiny tersenyum tipis, "Aku mencari angin." "Angin kok dicari? Aku dong yang seharusnya kamu cariin." Shiny memeluk Varun, "Kamu selalu ada di hati aku. Untuk apa aku cari lagi?" "Bisa aja, sih!" ucap Varun menggemas Shiny di pelukannya. Shiny menatap Varun yang masih memeluknya, "Aku minta maaf kalau aku salah sama kamu." Varun menurunkan wajahnya. Kini kedua pasang mata mereka saling menatap teduh, "Kamu tidak pernah salah di mata aku." "Asalkan kamu selalu ada disampingku," lanjut Varun mulai melepaskan pelukannya. "Bagaimana kalau aku pergi?" "Pergi dalam artian?" Varun menggiring Shiny ke dalam rumah. "Menurut kamu bagaimana?" "Pergi dalam artian sebentar dan pergi dalam artian selamanya," jelas Varun. "Kalau opsi pertama bagaimana?" "Aku akan membiarkan kamu pergi, walaupun sebentar." "Bagaimana yang kedua?" tanya Shiny. "Aku akan selalu menunggu kamu balik ke aku." "Kan pergi selamanya, bagaimana bisa kembali?" "Takdir ada di tangan Tuhan. Kalau Tuhan menginginkan kita berpisah, ya mau bagaimana lagi?" balas Varun. "Kalau misalnya itu terjadi, kamu tidak akan marah pada Tuhan kan?" "Kita diciptakan olehnya dan akan kembali di tangannya. Aku hanya manusia yang diturunkannya untuk menjaga orang yang aku sayang. Aku tidak pantas marah padanya karena mengambil salah satu orang yang aku sayang." Shiny tersenyum lebar pada Varun, "Varun, aku mencintai kamu." "Aku juga mencintai kamu," balas Varun mengecup kilat jidat Shiny. Varun menutup kembali pintu kamar yang baru saja ia buka tadi. Ia membawa Shiny menuju ranjang. "Aku ganti baju dahulu. Setelah itu, kita akan keluar," ucap Varun berlalu pergi ke kamar mandi. "Kita mau kemana?" tanya Shiny di saat Varun memegang knop pintu. Sambil menunggu Varun ganti baju, Shiny memainkan ponselnya sambil berselonjoran di ranjang. Satu pesan masuk di aplikasi w******p Shiny. Segera ia membukanya dan ternyata pesan dari Khyati. Khyati.. |Kamu harus melakukan sesuatu.| 04.47 |Apa yang harus aku lakukan?| 04.47✔✔ |Katakan pada Mama kalau kamu lagi hamil.| 04.48 |Bagaimana mungkin?| 04.48✔✔ |Apanya yang bagaimana mungkin? Bukankah kalian suami-istri?| 04.48 |Tapi kamu tahu kan kalau aku tidak bisa hamil?| 04.48✔✔ |Aku baru saja baca internet. Orang yang mempunyai penyakit kayak kamu kemungkinan besar bisa hamil. Tapi yang selamat hanya satu orang.| 04.49 Shiny memang sudah memberitahukan Khyati alasan ia tidak bisa mengandung. Shiny juga sempat memperingatkan Khyati untuk tidak mengatakan pada siapa pun tentang penyakitnya. Khyati sempat menolak, namun Shiny berhasil mempercayai Khyati dengan satu syarat, ia tidak akan berpisah dengan Varun. Bukankah itu yang diinginkan Khyati sekarang? |Katakan pada Mama kalau kamu ingin mempertahankan kandungan kamu dan tidak peduli dengan keadaan kamu sedikit pun.| 04.49 |Kamu mau kan, Shiny? Kamu sudah berjanji padaku untuk tidak melepaskan Varun.| 04.49 |Aku akan mempertimbangkannya dahulu.| 04.50✔✔ Setelah itu, Shiny mengacak rambutnya frustasi. "Bagaimana mungkin aku melakukan itu? Membohongi semua orang? Apa yang akan mereka pikirkan tentang diriku?" |Aku berhasil mendapatkan surat perceraian itu. Nanti malam akan aku bakar surat itu agar Mama tidak bisa membawanya ke pengadilan agama.| 04.51 Shiny hanya membacanya saja, lalu segera menghapus room chatnya dengan Khyati. Shiny tidak mau Varun mendapatkan percakapan mereka ketika ponselnya di tangan Varun. Suaminya itu memang selalu memeriksa ponsel Shiny. Katanya; "Nanti ada orang iseng yang menganggu kamu." Tidak lama kemudian, Varun keluar dengan pakaian rapinya. "Kamu mandi?" ucap Shiny ketika Varun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. "Iya, sudah sana kamu gantian," ucap Varun yang langsung diturutin Shiny. Ketika mengeringkan rambut dengan handuk, Varun tidak sengaja mendengar suara getaran ponsel Shiny di atas nakas, "Tumben sekali dia mematikan suaranya." Varun membaca nama yang mengambang di layar ponsel Shiny. Vishal? Varun bertanya di hati seakan pernah mendengar nama itu. Secepat mungkin Varun menggeser telepon berwarna hijau. "Aku ingin bertemu dengan kamu. Ada yang ingin aku sampaikan. Nanti aku kirim lokasinya melalui room chat," ucap Vishal tanpa basa-basi mengatakan keinginannya. Varun mematikan panggilannya sepihak tanpa mengeluarkan suara. "Vishal masih sering menghubungi kamu?" tanya Varun. Shiny yang baru saja keluar dari kamar mandi mendapatkan pertanyaan mengerutkan jidat dengan bertanya, "Memang dia mengatakan apa?" Varun mengedikkan bahunya, "Mungkin ada yang belum selesai diantara kalian. Dia ingin bertemu dengan kamu dan sebentar lagi mengirimkan lokasinya." Setelah itu, Varun berlalu dari kamar. Ia meninggalkan Shiny yang sedang memeriksa ponselnya. "Ya Allah, apa lagi ini?!" To Be Continued... 1650 kata Makin gak jelas ceritanya. Maaf y gays selalu gak tepat apdetnya. Lagi malas mikir. Bantu komen dong. Mana tau bisa semangat lagi. Siyu nexpat! Sabtu, 08 Mei 2021 linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD