?18

1978 Words
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕ SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕ JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕ DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕ MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕ HAPPY READING ❕ Di malam harinya... Shiny tidak tenang ketika percakapan antara dirinya dengan Vishal bermain terus di telinganya. "Apakah dia suamimu?" "Pantes." "Pantes saja ketika di hari pernikahan kita, kamu membatalkan semuanya. Ternyata ada pria yang lebih kaya dariku." Shiny masih setia dengan acara mondar-mandirnya. "Apa maksud kamu? Bukankah kamu mencintai ku dan berjanji akan hidup bersama ku untuk selamanya?" Shiny menghentikan langkahnya. Ia memejamkan matanya erat, lalu membuang napasnya dengan kasar. "Bagaimana aku tidak melakukan itu? Bayangkan saja, ketika orang yang kita cinta pergi meninggalkan kita di hari bahagianya. Semua ini bukan tentang aku dan kamu, tapi keluargaku. Keluargaku yang menanggung malu karena sifat kekanakan kamu." "Bahkan kamu rela menjadi pembunuh hanya karena aku lari dari pernikahan. Bagaimana jika aku sudah menikah dengan kamu dan penyakit kamu tidak akan pernah sembuh? Belum menikah saja sudah membuat ku menyerah, apalagi ketika aku sudah menikah dengan kamu, Vishal?" gumam Shiny. "Kamu tenang saja Shiny. Aku tidak akan pernah lagi mengganggu kehidupan kamu, karena aku sudah ada penggantinya." "Tidak! Tidak! Aku tidak akan membiarkan Vishal menghancurkan kehidupan perempuan itu. Siapa pun dia, aku akan mengatakan semuanya tentang penyakit Vishal. Aku tidak mau perempuan itu merasakan apa yang aku rasakan dahulu. Perempuan itu berhak bahagia dengan pria yang dia inginkan dan bukan paksaan dari Vishal maupun keluarganya," ucap Shiny mulai tenggelam dari dunia nyatanya. Tidak lama kemudian, sepasang lengan melingkar di pinggangnya. Secara tidak sengaja, Shiny menghempaskan kedua lengan itu dengan kuku panjangnya. "Apa yang kau-," "Shh-," "Varun-," ucap Shiny terputus ketika melihat Varun menahan sakit pada lengannya. "A-ku minta maaf. Aku ti-tidak tahu kalau kamu yang-. Le-ngan kamu Varun. Lengan kamu berdarah," ucap Shiny histeris meraih lengan Varun. "Hanya luka kecil saja." "Luka kecil, tapi darahnya tidak berhenti. Ayo duduk dahulu. Biar aku obatin," ucap Shiny dengan cekatan mengambil kotak obat di laci. Sebelum itu, ia mendudukkan Varun di ranjang. Varun memperhatikan Shiny yang sibuk mengobati tangannya. Terlintas ide jahil mengambang di otak Varun untuk Shiny. "Padahal lukanya cuma karena cakaran. Kenapa bisa sesakit ini, ya?" Shiny mengangkat kepalanya, "Apa sakit sekali?" Varun mengangguk ribut, "Percuma saja kamu mengobatinya. Ini akan makin sakit." "Aku ha-rus bagaimana Varun? Katakan padaku cara menyembuhkannya," ucap Shiny kelimpungan. "Hanya ada satu cara yang ampuh untuk mengobatinya," ucap Varun menarik pelan pinggang Shiny. "A-pa?" tanya Shiny tertahan ketika keduanya sudah sangat dekat. Varun menunjuk pipinya, "Ciuman." "Ciuman?" Varun mengangguk, Shiny terdiam memikir ulang perkataan Varun. "Ayo lakukan! Kenapa diam saja?" ucap Varun saat Shiny masih setia dengan diamnya. "Ah, iya," Shiny mulai memajukan dirinya dan satu kecupan mendarat sempurna di pipi Varun. Setelah itu, Shiny meletakkan kedua tangannya melalui bahu Varun dan memeluknya begitu erat. "Maafkan aku, Varun. Karena aku, kamu jadi terluka," ucap Shiny lirih. Varun mengelus punggung Shiny yang bergetar, "Apa yang kamu pikirkan sampai aku panggil berapa kali tidak kamu dengarkan?" Shiny melepaskan pelukannya. Shiny menatap lekat Varun, "Kamu ingat tidak dengan pria yang makan bersama kita tadi?" "Sahabatnya Janah?" Shiny mengangguk, "Dia adalah orang yang hampir saja menikah dengan aku sekaligus membunuh kedua orang tuaku." "Jadi dia orangnya?" "Iya, Varun. Aku tidak masalah jika ia muncul lagi di hadapanku. Aku bermasalah ketika Vishal mengatakan dia sudah mendapatkan pengganti ku. Aku takut kejadian dahulu terulang lagi dengan perempuan lain." "Tenanglah, perempuan itu pasti bisa mengatasi semuanya. Dia akan kuat sama seperti wanita ku ini," ucap Varun dengan senyuman tipisnya. "Aku beruntung punya suami seperti kamu," ucap Shiny membawa tangan Varun ke pipinya. "Aku lebih beruntung punya istri seperti kamu," balas Varun tak mau kalah. Varun membawa Shiny ke dalam pelukannya. Shiny membalasnya tidak kalah erat. Tidak tahu kapan lagi ia akan memeluk suaminya seerat ini. Vishal menjatuhkan dirinya di ranjang. Ia melempar asal jaket kulitnya, lalu menggulung lengan baju sampai ke siku. Flashback On : "Aku meragukan seseorang." "Siapa?" Jari telunjuk Janah mengarah pada Varun yang bersama Tasheen, "Aku meragukan dia." "Siapa pria itu, Janah?" "Kakaknya Khyati. Dahulu pria itu mencintai aku sebelum aku pergi dari rumah," ucap Janah sembari memainkan bibir gelasnya. "Memang sih, sekarang dia sudah berumah tangga. Namun, tidak ada yang tahu sampai kapan cinta itu menghilang?" lanjut Janah. "Jadi maksud kamu, dia masih mencintai kamu?" Janah mengedikkan bahunya, "Aku bingung. Aku hanya ingin mencari tahu siapa pelaku yang sebenarnya di balik kecelakaan Rrahul. Apakah aku salah meragukan seseorang?" Flashback Off : "Itu yang aku mau Janah. Semuanya berjalan seperti yang aku rencanakan. Maaf, kalau aku menghilangkan orang berharga dari kamu. Setelah itu, aku tidak akan membiarkan pria mana pun mendekati kamu," gumam Vishal menyeringai. Keesokan harinya... Shiny mendapatkan pesan dari Mama Soni. Ia mulai membuka room chatnya dengan Mama Soni. |Apakah kamu sudah mendapatkan tanda tangan Varun?| 06.57 "Kehadiran Vishal membuat ku lupa dengan tujuan yang sebenarnya," gumam Shiny langsung lemas. Shiny menaruh ponselnya di atas nakas, "Bagaimana aku bisa mendapatkan tanda tangan Varun tanpa sepengetahuannya?" "Ah, sudahlah! Nanti saja aku pikirkan. Sekarang aku fokus memasak dahulu." Shiny meraih ponselnya kembali. Ia mengetikkan balasan untuk Mama Soni. |Maaf, Shiny belum mendapatkan tanda tangan Varun. Tapi Shiny akan berusaha dan secepat mungkin mendapatkan tanda tangan Varun.|✔✔ |Baiklah, saya akan memberikan waktu selama satu minggu. Kalau kamu gagal mendapatkan tanda tangan Varun, jangan salahkan saya memaksa kalian berpisah.| 06.59 Hembusan napas panjang terdengar dari Shiny. Shiny keluar dari aplikasi w******p. Ia meletak asal ponselnya di ranjang. Shiny bangkit dan memacu langkahnya sampai di depan pintu kamar mandi yang tertutup. "Varun, pakaian kamu sudah ku sediakan di ranjang!" ucap Shiny meninggikan nada bicaranya agar Varun yang di kamar mandi dapat mendengarnya dengan baik. "Iya!" Shiny baru aja selesai mencuci piring. Kini ia menunggu Varun mengambil jasnya yang tertinggal di kamar. Namun, hampir setengah jam Shiny duduk disofa ruang tamu dengan televisi yang menyala dan Varun belum menunjukkan batang hidungnya juga. "Varun mengambil jas atau tertidur di kamar, sih?" gerutu Shiny, lalu mematikan televisi. Shiny membawa langkahnya sampai kamar. Dapat ia lihat, Varun sudah berkutat dengan laptopnya. Bahkan di saat mau berangkat kerja pun suaminya itu masih bisa menyempatkan diri untuk berkutat dengan laptop di rumah dahulu. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Shiny setelah duduk di samping Varun. "Bukankah kamu mau ke kantor?" tanya Shiny lagi ketika Varun tidak menjawabnya. "Varun, udah sana. Kamu bilang mau pergi ke kantor," ucap Shiny mendengus sebal. "Aku tidak jadi ke kantor, sayang," balas Varun tanpa melihat Shiny. "Kenapa?" "Kan aku bosnya. Terserah aku dong mau ke kantor apa tidak," balas Varun begitu tenang. "Oh, jadi begitu, ya?" ucap Shiny manggut-manggut seakan mengerti. "Mentang-mentang bos kamu jadi tidak profesional begitu?" ucap Shiny sedikit menyindir. "Aku profesional kok. Buktinya aku masih bisa kerja di rumah." "Itu yang menjadi masalahnya, Varun. Aku suntuk tahu lihat kamu kerja di rumah. Lebih baik pergi ke kantor aja," ucap Shiny makin sebal dengan Varun. Apalagi suaminya itu tidak merespons dirinya lagi. Sekali lagi ia membuang napasnya lelah, ia merasa seperti sedang bicara sama patung. "Dari pada kamu diam saja, lebih baik bantu aku mencari map berwarna biru," ucap Varun seenak jidatnya. Shiny membuka mulutnya sedikit. Ia mengerjapkan matanya seakan tak percaya dengan yang dikatakan Varun. "Sejak kapan aku hanya diam? Aku sejak tadi berusaha menyuruh kamu pergi ke kantor," ucap Shiny berusaha menahan emosi. "Itu namanya pengusiran," balas Varun melirik Shiny sebentar, lalu fokus lagi ke laptopnya. "Semua map kamu warna biru yang sama. Aku tidak tahu map warna biru yang kayak mana lagi." ucap Shiny menyerah. "Coba lihat di mobil kamu. Sepertinya aku membawanya semalam ketika kita pergi ke swalayan." "Sebentar, aku ambilkan." Shiny meletakkan kedua map yang warnanya sama di atas kap mobil miliknya. Satu milik Varun yang berisi dokumen pekerjaan dan satu lagi miliknya yang berisi surat perceraian. "Tidak tahu kenapa warna map yang di berikan Mama padaku warnanya sama dengan map milik Varun. Semuanya memang sudah diatur Mama. Mama terlalu pintar menyusun rencana," gumam Shiny tersenyum getir. "Aku bisa saja menukar map milik Varun dengan map milik ku, tapi masalahnya adalah cara aku mengambil balik map itu. Bagaimana aku bisa mengambilnya balik ketika Varun sudah menandatanganinya?" Shiny terdiam sejenak. Ia mulai membuka kedua map itu. Shiny menukar berkas bagian belakang milik Varun dengan surat perceraian itu. Sedangkan berkas bagian belakang Varun, Shiny letakkan di dalam map miliknya. Ia mulai memacu langkahnya sampai kamar. Namun sebelum masuk ke kamar, Shiny meletakkan berkas miliknya di balik vas bunga di depan kamar. Shiny meletakkan map yang diminta Varun dan duduk di tempatnya kembali. Jantung Shiny berpacu cepat ketika Varun mulai membuka map itu. Shiny memejamkan matanya erat begitu juga dengan sebelah tangan yang berada di atas tangan sofa. 'Semoga saja Varun tidak membacanya lagi,' batin Shiny mulai gelisah. "Ada apa?" tanya Varun melihat gelagat aneh Shiny. Shiny membuka matanya, lalu menggeleng pelan. Varun mengerjakan tugasnya di laptop lagi dengan tenang seakan tidak terjadi sesuatu. Seketika itu, Shiny bernapas lega. "Kamu sudah menandatanganinya? Aku butuh pertolongan." "Katakanlah," balas Varun tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. "Aku kepengin jus." "Di mana ponselku?" "Untuk apa?" "Kamu mau jus kan?" "Iya, tapi ponsel untuk apa?" "Aku mau menelepon Bibi untuk membuatkan kamu jus." "Aku maunya kamu yang buat." "Tapi pekerjaan aku belum selesai." "Membuat jus tidak akan menghabiskan waktu lama, Varun," ucap Shiny sedikit gemas. Shiny menutup paksa laptop Varun, lalu meletakkannya di meja. Shiny mulai menarik tangan Varun. Dengan malas, Varun keluar dari kamar dan menuju dapur untuk membuatkan Shiny jus. Varun hanya sedikit merasa bingung, karena Shiny tidak pernah menyuruh dirinya membuatkan jus. Biasanya kalau ia mau jus, Shiny langsung memintanya pada Bibi. Di kamar... Shiny menaruh kembali surat perceraian itu di map miliknya, lalu menyimpannya di dalam lemari penyimpanannya. Sedangkan map milik Varun, Shiny letakkan ditempat semula yaitu samping laptop Varun yang tertutup. Selang beberapa menit, Varun datang dan menyodorkan jus jeruk pada Shiny. Dengan senyuman kecil Shiny menerima jus pemberian Varun. Shiny mulai meneguknya perlahan, lalu meletakkan gelas jus yang tinggal separuh di atas meja. "Aku tadi sempat memeriksa ulang map kamu. Ada satu berkas yang belum sempat kamu tanda tangani." Varun mengernyit dengan jari yang masih bermain di atas keyboard laptop, "Benarkah?" "Iya, ada di bagian akhir. Coba kamu periksa lagi." Varun memeriksanya dan benar saja berkas terakhir belum ditanda-tanganinya. Segera ia menandatanganinya tanpa merasa curiga sedikit pun. "Kamu itu orangnya pelupa. Untung saja aku memeriksa ulang berkasnya. Kalau tidak, mungkin kamu sudah bolak-balik ke kantor lagi," ucap Shiny yang sebenarnya merasa bersalah pada Varun. "Aku mencintai kamu, Varun," ucap Shiny tiba-tiba memeluk Varun. "Tumben sekali memelukku begini. Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?" balas Varun melirik Shiny sebentar dengan tangan kiri terangkat di atas bahu Shiny. Shiny yang memeluk Varun dari samping menggeleng kuat, "Memang aku tidak boleh memeluk kamu?" Mama Soni menghampiri Khyati yang duduk sendirian di tepi kolam renang dengan membiarkan kakinya terendam. "Ada apa, sayang? Kenapa kamu duduk sendirian disini?" tanya Mama Soni setelah melakukan hal yang sama seperti Khyati. "Mama terlalu keras pada Kak Shiny. Mama tidak memikirkan perasaannya," ujar Khyati menatap kosong ke depan. "Apa maksud kamu?" Khyati mengalihkan pandangannya pada Mama Soni, "Khyati tahu Mama mengirimkan surat cerai pada Kak Shiny." "Terus?" "Mama mendesak Kak Shiny kan? Tanpa mau mengerti perasaannya ketika Mama melontarkan perkataan pedas?" "Mama hanya mendesaknya dan sama sekali tidak melontarkan perkataan pedas," kilah Mama Soni. "Jangan berbohong, Ma. Khyati mendengar semuanya." "Oke, terus kamu mau apa, hem?" "Khyati mau Mama jangan mendesak Kak Shiny untuk mendapatkan tanda tangan Kak Varun. Biarkan Kak Shiny menjalankan tugasnya dengan baik, Ma." "Mama sudah mendapatkan wanita baik untuk Varun dan segera mungkin Mama harus membuat keduanya berpisah," ucap Mama dengan tenangnya pergi meninggalkan Khyati. "Ma, itu namanya tidak adil! Mama meminta Kak Shiny untuk mendapatkan tanda tangan tanpa sepengetahuan Kak Varun!" ucap Khyati menunjang air dengan kesal. To Be Continued... 1950 kata Sabtu, 17 April 2021 linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD