?17

2292 Words
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕ SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕ JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕ DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕ MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕ HAPPY READING ❕ Keesokan harinya... Varun berusaha mencari ide untuk memulai percakapan dengan Shiny. Tidak, sebenarnya Varun sudah berapa kali mengajak Shiny bicara. Namun, Shiny mengabaikan Varun begitu saja. "Kamu kenapa, sih?" ucap Varun mulai habis kesabaran. Varun menarik lengan Shiny agar mendekat padanya. Lagi dan lagi Shiny tidak mengacuhkan Varun. "Apa masalah kamu? Kenapa di saat aku ajak bicara hanya diam saja?" ucap Varun kesal dengan kediaman Shiny. "Karena pertanyaan kamu aneh. Kamu bertanya aku sudah makan apa belum? Sedangkan kita berada di satu atap dan kamu masih bertanya sesuatu yang jawabannya sudah kamu ketahui," balas Shiny tak kalah kesal. "Lagian kamu susah banget diajak bicara. Tinggal jawab 'iya' apa susahnya, sih?" balas Varun tak mau kalah. Shiny membuang napasnya kasar, "Masih pagi Varun. Jangan mengajakku bertengkar." "Aku belum selesai bicara," ucap Varun menahan lengan Shiny yang akan pergi. "Sejak tadi kamu terus yang bicara. Kenapa belum selesai?" ucap Shiny sedikit terpancing. "Aku minta maaf," ucap Varun membawa Shiny ke dalam pelukannya. "Maaf karena selalu membuat kamu kesal. Maaf karena terlalu mengekang kamu. Aku hanya tidak mau kamu berpaling ke pria lain. Aku takut kamu pergi," lanjut Varun lirih. Shiny menutup matanya. Ia berusaha tidak mengeluarkan air mata. Namun, air bening itu terjatuh tanpa diminta. 'Bahkan di saat aku salah, kamu yang meminta maaf. Aku memang wanita yang buruk untuk kamu. Karena aku, kamu jadi menyalahkan diri sendiri,' balas Shiny di hati. Dengan gerakan lambat, Shiny mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan Varun. "Aku yang salah Varun. Seharusnya aku yang meminta maaf. Hanya karena masalah kecil kita jadi bertengkar," ucap Shiny dengan suara bergetar. "Aku tidak pernah menyalahkan kamu. Semuanya memang karena aku. Kalau saja aku tidak-," Shiny melepaskan pelukannya dan segera meletakkan jari telunjuk tepat di bibir Varun. Shiny menggeleng dengan air yang mengalir deras melewati pipinya. "Baiklah kalau kamu menyalahkan diri terus. Aku akan maafkan kamu dengan satu syarat," ucap Shiny mengusap pipinya. "Kamu harus ikut aku ke swalayan. Tadi pagi aku membuka kulkas dan semua bahan sudah habis," ucap Shiny berakhir mengadu. "Kamu baru saja menangis dan sekarang meminta aku ikut ke swalayan? Apakah kamu sakit?" ucap Varun dengan tenangnya menempelkan tangan di kening Shiny. "Aku serius Varun," balas Shiny berdecak. "Baiklah, aku akan ikut kamu belanja. Apakah kamu puas sekarang?" ucap Varun membuat Shiny tersenyum lebar. "Sangat puas. Baiklah, aku akan bersiap dahulu," ucap Shiny berjalan ke lemari pakaian, sedangkan Varun menyempatkan dirinya berkutik dengan laptop sebelum keduanya pergi ke swalayan. Kediaman Fadillaisyah... Seperti janjinya pada Tasheen, Janah menjemput Tasheen di pagi hari. Kini keduanya berada di dalam mobil menuju tempat perbelanjaan. Sebelum itu, Janah sempat melihat wajah lesu Ayah Sachin saat berpamitan. Sepertinya Bunda Pari mengikuti semua perkataan Janah. Janah berhasil membuat Ayah Sachin kesal melalui Bunda Pari. "Sekarang kamu boleh mengambil apapun. Bunda yang akan membayar semuanya," ucap Janah ketika keduanya sampai di tempat perbelanjaan. "Apapun? Bunda tidak berbohong kan?" "Apakah kamu melihat kebohongan di mata Bunda?" Tasheen menggeleng lucu, "Tidak, tapi Mama baru belanja dan di kulkas banyak sekali makanan. Kalau Tasheen beli makanan lagi nanti Mama bisa marah." Janah tidak menjawab. Ia membawa Tasheen menuju tempat perkumpulan cokelat, "Kalau begitu makanan yang kita beli letakkan saja di kulkas Nenek Pari. Tasheen bisa makan semuanya dengan puas. Bagaimana, hem?" "Tidak terlalu buruk," ucap Tasheen terkekeh geli. "Cokelat?" tanya Janah sambil menyodorkan beranekaragam cokelat. "Ya, Tasheen sangat suka cokelat!" ujar Tasheen dengan penuh semangat menerima cokelat dari Janah. "Kamu cari makanan sendiri, ya. Bunda mau mencari bahan dapur yang diminta Nenek," ucap Janah yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Tasheen. Kini keduanya berlawanan arah. Tasheen pergi ke tempat beranekaragam makanan, sedangkan Janah ke tempat beranekaragam bahan dapur. Bunda Pari sempat meneleponnya untuk membelanjakan bahan dapur yang sudah habis. "Semuanya sudah ada. Hanya saja tinggal kecap manis," ucap Janah lirih sembari menajamkan mata mencari tempat kecap. "Di mana kecap manisnya? Kenapa tidak kelihatan?" gumam Janah sedikit berdecak. "Ada di atas." Mendengar itu, lantas Janah menatap bagian atas. Benar saja, kecap manis itu ada di bagian atas. "Oh, iya. Baru kelihatan," balas Janah tanpa melihat lawan bicara. Janah langsung menjulurkan tangannya, namun tempatnya sangat tinggi. Bahkan ia sudah berjinjit, tapi tidak sampai juga. "Kalau tidak sampai minta bantuan orang lain. Apakah kamu lupa gunanya mulut?" ucap orang itu yang masih berdiri di samping Janah. Dia menyodorkan kecap manis itu pada Janah. Janah menerimanya dan berterima kasih dengan kepala yang terangkat. Bola mata Janah membola ketika melihat sosok itu. Kedua mata mereka saling bertemu. Pria itu mengangkat sebelah alis dengan senyuman tipisnya. "Kamu! Ish, aku pikir orang lain. Hampir saja aku mengeluarkan kata kotor," ucap Janah sedikit lega dengan pria di hadapannya. "Hai, Nona! Seharusnya kamu berterima kasih, karena aku sudah membantumu untuk mengambil kecap manis di tempat tinggi," ucap sosok itu. "Oh, hello! Aku berterima kasih karena kamu sudah menolongku, tapi aku tidak sependek itu. Lagian aku tidak menyuruh kamu untuk mengambilkannya," balas Janah sedikit sewot. Sosok itu terkekeh karena berhasil membuat Janah kesal. Ia mengangkat kedua tangannya seakan menyerah, lalu melipatnya lagi di depan d**a. "Baiklah, aku mengalah," ucap sosok itu sembari memperhatikan gaya pakaian Janah sedikit berbeda dengan tangan yang mengelus dagu. "Ada apa? Kenapa kamu menatapku lekat begitu?" tanya Janah mengangkat sebelah alisnya. Sosok itu menggeleng pelan, "Tidak, hanya sedikit kaget melihat gaya berpakaian kamu yang sekarang." Janah tersenyum getir, "Sangat aneh bukan? Biasanya aku menggunakan pakaian terbuka dan sekarang lihatlah." "Semuanya tertutup, tapi untung saja aku menolak menggunakan jilbab," lanjut Janah menghantarkan kerutan dari sosok itu. "Menolak? Jadi kamu-," ucap Vishal menggantungkan perkataannya. "Ayolah, Vishal. Aku pulang bukan berarti langsung berubah menjadi gadis baik kan? Masih banyak perilaku buruk yang tidak bisa aku buang secepat membalikkan telapak tangan," ucap Janah. Sosok itu, Vishal mengangguk paham, "Baiklah, Nona. Aku mulai mengerti sekarang. Hem, bagaimana dengan nama panggilan baru? Aku baru sadar lho kamu memanggilku dengan nama depan. Apakah kamu tidak sadar dengan semua perubahan yang ada di diri kamu?" Janah membuang napasnya pelan, "Sudahlah, kita bicaranya sambil menikmati secangkir teh saja. Tidak enak bicara di tempat keramaian. Banyak orang yang berlalu langlang." "Baiklah, bagaimana dengan restauran di depan sana?" ucap Vishal bertanya pada Janah. "Hem, tidak terlalu buruk. Oke, kita ke sana sekarang?" "Kalau kamu sudah siap berbelanja tidak masalah." "Semua ini adalah bahan dapur yang dititipkan Bunda padaku. Aku hanya membelinya saja." "Bersama siapa kamu datang ke sini?" Mata Janah membulat sempurna ketika teringat sesuatu. Hampir saja ia melupakan Tasheen yang pergi bersamanya. Tapi di mana keberadaan Tasheen sekarang? "Oh, iya. Aku sampai lupa. Aku pergi bersama-," "BUNDA!" seru Tasheen berlari kecil menghampiri Janah dengan menenteng satu keranjang yang penuh jajanan. Panggilan itu membuat tanda tanya besar di kepala Vishal, "Bunda? Sejak kapan Janah punya anak?" "Sayang, kamu sudah selesai belanjanya?" tanya Janah sambil merapikan rambut Tasheen yang berantakan. Tasheen mengangguk kilat. Tidak sengaja ekor mata Tasheen melihat sosok asing bersama Janah, "Bunda, dia siapa?" "Sayang, Paman ini adalah sahabat Bunda. Namanya Vishal Avriandi. Kamu bisa memanggilnya Paman Vishal. Oh, ya, Vishal. Tasheen adalah anak tunggal Teja dan Namish sekaligus keponakan ku," ucap Janah saling memperkenalkan keduanya dengan baik. Tasheen mengangguk singkat, "Terus, kenapa dia ada disini bersama Bunda? Bukankah kita pergi hanya berdua?" Keduanya tersenyum tipis mendengar perkataan jutek Tasheen. Janah baru teringat dengan satu fakta tentang sifat jutek Tasheen ketika berhadapan dengan orang asing. "Sayang, bukankah tempat ini bebas diinjak semua orang?" ucap Janah. "Iya, kenapa bisa kebetulan?" ucap Tasheen. Vishal menurunkan tubuhnya dan menyeimbangkan tinggi keduanya, "Itu namanya jodoh." "Jodoh?" ulang Tasheen. Vishal mengangguk, "Iya, jodoh. Kita di pertemukan dalam satu tempat tanpa kita ketahui." "Benarkah? Apakah Bunda termasuk jodoh kamu? Kan Bunda pergi bersama Tasheen," ucap Tasheen dengan polosnya. "Kamu pintar banget, sih. Paman jadi gemas dengan kamu," ucap Vishal mencubit gemas pipi chubby Tasheen. "Tasheen, apakah kamu mau ice cream?" tanya Janah mengubah topik pembicaraan. "Ice cream? Sangat mau!" ucap Tasheen dengan penuh semangat menarik tangan Janah. "Sayang, belanjaan kamu," ucap Janah melihat keranjang Tasheen tertinggal di belakang. "Tidak, biarkan saja sahabat Bunda yang membawanya," balas Tasheen dengan tenang. "Sayang, jangan begitu dong. Itukan belanjaan kamu masa sahabat Bunda yang membawanya," ucap Janah merasa tidak enak dengan Vishal. "Tidak masalah Janah. Aku sama sekali tidak keberatan membawa belanjaan Nona manis," ucap Vishal membuat Tasheen mendengus sebal. "Jangan memanggilku manis. Aku tidak suka," protes Tasheen makin jutek. "Maaf, ya, Vishal. Aku jadi merepotkan mu," ucap Janah. "Bunda terlalu payah. Hanya karena aku menyuruhnya, Bunda langsung meminta maaf," protes Tasheen untuk sekian kalinya. Setelah itu, ketiganya berpisah. Tasheen menunggu Janah dan Vishal yang lagi menyelesaikan pembayaran. Tidak lama kemudian, pesanan datang ke meja mereka. Tasheen langsung menyantap ice creamnya dan tidak peduli dengan apa yang sedang mereka bahas. "Aku tidak menyangka lho kalau yang menyabotase mobil Rrahul adalah Khyati," ucap Vishal membuka pembicaraan. Janah mengangkat pandangannya pada Vishal yang duduk di seberangnya, "Bukan kamu saja, aku juga. Bahkan yang lainnya juga tidak menyangka. Bayangkan saja ketika teman yang sudah kita anggap sebagai saudara malah mengkhianati kita tanpa berperasaan." "Kamu tidak akan mencari tahu lagi?" tanya Vishal membuat Janah menatapnya bingung. "Apa maksud kamu?" "Ayolah, Janah. Khyati tidak akan melakukan hal b***t seorang diri. Bisa saja ada orang lain yang membantunya." "Aku meragukan seseorang." "AYAH!" seru Tasheen membuat keduanya tersentak di tempat. Tasheen turun dari tempat duduk dan berlari menghampiri sosok Ayah yang dipanggilnya. "Assalamu'alaikum, Ayah. Kita berjodoh," ucap Tasheen penuh semangat. Tasheen naik ke pelukan Ayah dan tak lupa dengan kecupan bertubi-tubi yang ia berikan untuk sang Ayah. "Wa'alaikumsalam, princessnya Ayah. Jodoh? Siapa yang mengatakan itu padamu?" ucap Ayah dengan bingung. Tasheen menoleh ke belakang, lalu menunjuk sosok Vishal, "Dia yang mengatakan itu." "Apa saja yang sudah ia katakan pada princess Ayah?" "Tentang jodoh. Ketika kita di pertemukan dalam satu tempat tanpa kita ketahui, maka kita akan berjodoh." Ayah mengangguk mengerti, lalu berdeham, "Apakah kamu mengenal dirinya?" "Dia adalah sahabat Bunda." "Bunda?" Tasheen mengangguk ricuh, "Iya, Bunda Janah. Kakaknya Mama, Ayah. Jangan bilang Ayah sudah melupakan Bunda." "Ah, sudahlah. Ayo kita bergabung dengan Bunda!" lanjut Tasheen ketika melihat kediaman Ayah. "Tapi-," "VARUN!" Keduanya sontak menoleh ke belakang. Suara itu bukan berasal dari tempat duduk Janah dan Vishal, melainkan dari pintu masuk restauran. "Oh, Ayah bersama Tante Shiny. Ya sudah suruh dia ikut bersama kita." "Hai, Tasheen! Kamu bersama siapa kesini?" ucap Shiny menyapa Tasheen. "Hai juga Tante Shiny! Tasheen bersama Bunda," balas Tasheen ketika sudah turun dari gendongan Varun. "Bunda disini? Kebetulan sekali." "Apanya yang kebetulan?" tanya Varun. "Tidak, hanya masalah perempuan. Apakah aku bisa bicara sebentar dengan Janah, Varun?" "Bunda tidak sendiri. Bunda bersama sahabat jauhnya. Mereka lagi bicara panjang. Tasheen saja tidak mengerti dengan apa yang mereka katakan. Menyabotase, b***t, bahkan mereka menyebut-," "Varun, Shiny. Kalian ada disini juga?" ucap Janah menghampiri ketiganya. "Iya, kami baru saja belanja perlengkapan dapur sekalian makan di luar," balas Shiny. "Apakah dia sahabat kamu?" tanya Shiny pada Janah. "Iya, dia baru saja pindah ke sini. Namanya Vishal. Vishal, mereka adalah Varun dan Shiny, Kakak Iparku," ucap Janah. "Vishal," ucap Vishal menyodorkan tangannya pada Varun. "Varun, suaminya Shiny," balas Varun. Vishal mengangguk paham. Vishal menyodorkan tangannya pada Shiny, namun Shiny mengatupkan kedua tangannya di depan d**a. "Shiny," jawab Shiny tersenyum tipis. "Hem, oke," balas Vishal menarik tangannya kembali. "Kalian ingin makan? Bagaimana gabung bersama kami saja? Kelihatannya tidak ada lagi tempat duduk yang kosong," ucap Janah. "Apakah kami tidak mengganggu kalian?" tanya Varun. "Tidak, iya kan Janah?" balas Vishal membuat Janah mengangguk. "Ayo, Ayah! Kita akan makan bersama," ucap Tasheen penuh semangat. Saat ini, mereka menyantap makanan masing-masing dengan suara sendok dan garpu yang saling beradu ke piring. Tidak ada satupun yang berani membuka suara ketika makan. "Aku mengangkat telepon dahulu," ucap Varun ketika ponselnya memecah keheningan yang ada. Janah memperhatikan Vishal yang sejak tadi mencuri pandangan pada Shiny, 'Kenapa aku merasa Vishal menatap Shiny begitu lekat? Apakah mereka saling kenal?' "Bunda, Tasheen mau ke kamar mandi," ucap Tasheen membuat Janah tersedak dengan minumannya. "Apa yang kamu pikirkan, Janah?" tanya Vishal langsung menggeleng kepala ketika tersadar. "Hem, tidak. Aku dan Tasheen permisi dahulu," ucap Janah bangkit dari duduk. Keheningan muncul kembali ketika mereka hanya berdua saja. Shiny berusaha membuat dirinya senyaman mungkin, walaupun ia sedikit risih dengan tatapan Vishal. Vishal berdeham sebentar, ia mulai membuka percakapan, "Apakah dia benaran suamimu?" Mendengar pertanyaan itu, Shiny menurunkan sendoknya kembali, "Apakah aku perlu mengulangnya?" "Pantes," gumam Vishal membuat kerutan dari Shiny. "Apa maksud kamu?" Vishal menyandarkan punggungnya, "Pantes saja ketika di hari pernikahan kita, kamu membatalkan semuanya. Ternyata ada pria yang lebih kaya dariku." "Kamu sudah tahu alasan aku membatalkan pernikahan yang seharusnya tidak terjadi." "Apa maksud kamu? Bukankah kamu mencintai ku dan berjanji akan hidup bersama ku untuk selamanya?" ucap Vishal. "Aku mencintai kamu karena paksaan dari keluarga kamu. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk menikah dengan pria jahat seperti kamu, Vishal," ucap Shiny begitu tenang. "Satu lagi yang harus kamu ingat, penyebab kedua orang tuaku tiada adalah kamu. Hanya karena aku lari dari pernikahan, kamu membunuh kedua orang tuaku," lanjut Shiny. "Bagaimana aku tidak melakukan itu? Bayangkan saja, ketika orang yang kita cinta pergi meninggalkan kita di hari bahagianya. Semua ini bukan hanya tentang aku dan kamu, tapi keluargaku juga. Keluargaku yang menanggung malu karena sifat kekanakan kamu." Shiny terbungkam. Shiny memilih menutup mulutnya rapat-rapat dari pada sebuah rahasia terbongkar. 'Karena kamu sakit, Vishal. Kamu terlalu terobsesi padaku. Kamu selalu mengekangku. Aku takut dengan penyakit kamu yang satu itu,' batin Shiny. "Kamu tenang saja Shiny. Aku tidak akan pernah lagi mengganggu kehidupan kamu, karena aku sudah ada penggantinya," ucap Vishal sebelum Janah dan Tasheen datang bersamaan dengan Varun yang baru saja selesai teleponan. To Be Continued... 2245 kata Kamis, 15 April 2021 linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD