?16

1975 Words
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕ SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕ JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕ DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕ MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕ HAPPY READING ❕ Di kediaman Irsyad... Khyati membuka pintu kamarnya dengan pandangan kosong. Ia langsung menjatuhkan dirinya di ranjang setelah melepaskan tas selempang dari bahu. "Dengar, Khyati. Aku benci penghianat seperti kamu. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau memaafkan kamu. Tidak ada sahabat baik melakukan penghianatan. Kamu adalah pembunuh!" Percakapan terakhir dirinya dengan Janah masih bermain di telinganya. Tidak pernah terpikirkan oleh Khyati kalau Janah akan membencinya. Khyati hanya ingin membuat semuanya membaik, namun salah di mata mereka. "Aku tidak tahu pada siapa aku akan mengeluh. Hanya kamu Janah. Orang yang mau mendengar semua keluh kesah ku. Namun, semuanya tidak indah seperti dahulu. Aku minta maaf. Semua ini aku lakukan hanya untuk melindungi keluarga ku. Mereka dalam bahaya Janah. Dia mengancam ku, hiks!" "Semuanya salah ku! Kalau saja aku tidak memaksa Janah bersama Kak Varun, keluarga ku pasti tidak dalam bahaya, hiks!" isak Khyati menumpahkan semua amarahnya pada barang-barang di sekitarnya. Khyati menumpukan tangannya pada meja rias. Ia menatap pantulan dirinya melalui cermin itu. Saat ini Khyati benar-benar hancur. Seketika itu, sebuah memori bermain di otaknya kembali. Flashback On : Di suatu hari, keduanya berdiri di atas rumput taman dekat Vila yang sedang mereka sewa. "Kamu tahu kalau aku cinta sama Janah. Kamu sudah berjanji akan membantu ku untuk mendapatkan hati Janah. Tapi, kenapa kamu membiarkan mereka punya hubungan? Aku tidak menyangka kalau sahabatku sendiri bisa berkhianat seperti ini. Kalian semua menusukku dari belakang!" ucap sosok itu tak menyangka. "Maaf, aku tidak bisa melihat Janah terusan sedih. Janah mencintai Rrahul dan bukan kamu. Sebaiknya kamu lupakan saja rasa cinta itu di hati kamu," ucap Khyati merasa bersalah. "Wow, Khyati!" Sosok itu menepuk tangannya, lalu berkata, "Kamu pikir melupakan seperti membalikkan telapak tangan?" Ia memperagakannya dengan telapak tangan yang terbuka dan tertutup, "Kamu bisa mengatakan itu, karena kamu sama sekali tidak tahu apa yang aku rasakan! Kamu juga tidak pernah mencintai seseorang kan?! Makanya itu, kamu mudah sekali mengatakan melupakan!" "Jadi aku harus apa?! Semuanya sudah terlanjur! Aku tidak tahu harus melakukan apa?!" ucap Khyati dengan kesal. "Kamu tidak perlu melakukan apapun, karena aku yang akan melakukannya seorang diri," ucap sosok itu dengan senyuman misteriusnya. "A-pa yang akan kamu lakukan?" tanya Khyati sedikit waspada. Sosok itu berjalan melewati Khyati. Kini ia berada tiga langkah di depan Khyati. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Khyati dengan senyuman. "Aku akan menghilangkan Rrahul dari pandangan Janah. Setelah itu, aku akan datang untuk penggantinya," ucap sosok itu. Khyati mengikis jarak di antara keduanya. Ia mencengkeram lengan sosok itu. "Kamu gila?!" "Ya, aku gila karena Janah! Aku tidak akan pernah melepaskan Janah, Khyati! Bahkan aku rela jadi pembunuh hanya untuk Janah! Aku akan menjauhkan semua pria yang berada di hati Janah. Hanya aku seorang yang ada di hati Janah," ucapnya dengan ketawa menakutkan. "Dia sahabat kamu! Jangan melakukan itu padanya!" ucap Khyati berusaha menyadarkan sosok itu. Seketika itu, dia menghentikan ketawanya. Sosok itu menatap Khyati dengan tajam, "Sahabat? Terus, apa peduli ku? Mau dia sahabat atau apapun itu, aku akan tetap menyingkirkan dirinya! Asalkan Janah ada disampingku!" "Aku tidak kenal kamu. Kamu yang asli bukan begini. Kenapa kamu berubah hanya karena cinta?" ucap Khyati tak habis pikir. "Aku yang asli memang begini Khyati. Kamu saja yang terlalu bodoh dengan tampang muka baikku? Sejak awal, aku mencintai Janah! Tapi karena Rrahul, aku harus kehilangan Janah! Sekarang tidak lagi, aku akan memberikan pelajaran pada pria itu!" ucap sosok itu di balik topeng yang sebenarnya. Flashback Off : "Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh! Khyati bodoh! Hikshiks!" ucap Khyati di balik isakannya. Khyati menghentikan gerakan tangannya yang memukul meja rias. Ia melihat belahan jemarinya yang sudah memerah. "Ya Allah, Khyati tidak mau kejadian Rrahul terjadi pada Kak Varun! Khyati tidak mau, hiks! Khyati tidak mau kehilangan Kak Varun. Khyati harus menjauhkan Janah dari Kak Varun. Khyati tidak mau kalau ia melihat Janah bersama Kak Varun. Khyati tidak mau." Saat itu juga percakapan keluarganya bermain di telinganya. Percakapan ketika Shiny mengatakan kalau ia tidak bisa memberikan keturunan. Percakapan ketika Varun mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Percakapan ketika Mama Soni mengatakan kalau ia benci menantu benalu tanpa memberikan keturunan. Percakapan ketika Papa Amar berusaha menyadarkan Mama Soni dengan semua perkataannya. Di hari itu, Khyati masih tinggal di rumah Varun. Semuanya hancur ketika pertengkaran hebat itu terjadi. Kini hanya tinggal lah penyesalan di diri Khyati. Seharusnya Khyati menerima Shiny dengan lapang d**a. Bagaimana pun, Shiny adalah hidup Varun. Tanpa Shiny, Varun tidak bisa menjadi pribadi yang baik. Dengan egoisnya, Khyati terang-terangan mengatakan ingin melihat Varun bersama Janah di depan Shiny. Tubuh Khyati merosot dengan tangan yang menutup muka. "Hiks, aku bukan pembunuh! Aku tidak membunuh Rrahul, hiks! Aku egois menginginkan Janah bersama Kak Varun! Maafkan aku, Shiny. Hikshiks!" Malam harinya... Mama Soni mencampakkan sebuah kertas di atas meja. Mama Soni menaikkan atensinya pada Shiny yang baru saja bangun dari duduknya. "Apa ini, Ma?" tanya Shiny takut ketika melihat tampang muka Mama Soni yang dingin. Mama Soni berdecak saat Shiny menyebut dirinya Mama, "Saya bukan Mama kamu! Mulai detik ini sampai seterusnya-." "Saya tidak mau mendengar kata Mama keluar dari mulut kamu! Saya tidak sudi mendengar kata itu dari kamu!" lanjut Mama Soni dengan tajam. Satu tetes air bening terjatuh dari kelopak mata Shiny. Ia mulai menundukkan kepalanya. "Maaf, Shiny tidak akan mengulanginya lagi," ucap Shiny begitu menyakitkan. Begitu pula dengan sakit yang selama ini ia rasakan. Kenapa sakit itu datang secara bersamaan? Shiny berusaha menahan sakit di perutnya. "Bagus! Sekarang saya tidak mau tahu. Kamu harus bisa mendapatkan tanda tangan Varun tanpa sepengetahuan Varun. Jangan katakan kalau saya yang menyuruh kamu melakukan itu. Berkas itu adalah surat perpisahan. Segera mungkin kamu mendapatkan tanda tangan Varun. Saya tidak mau menunggu lama," ucap Mama Soni dengan menekan kata terakhirnya. Shiny mengangkat kepala. Ia menatap Mama Soni yang tersenyum remeh. Shiny mengusap pipinya, lalu tersenyum palsu pada Mama Soni. "Shi-ny akan berusaha mendapatkan tanda tangan Varun. Maaf kalau selama ini Shiny hanya menjadi benalu di dalam keluarga kalian," ucap Shiny lirih ketika mengucapkan 'kalian'. "Bagus kalau kamu tahu diri. Sekarang kamu keluar dari rumah saya. Saya tidak mau kamu lama-lama menginjak lantai saya. Nanti bisa kotor lagi," ucap Mama Soni tanpa perasaan. Shiny menatap teduh mata Mama Soni. Shiny berusaha membuat Mama Soni kasihan sedikit saja padanya. Benar sekali, Mama Soni menatap balik Shiny dengan terluka. Namun, segera Mama Soni singkirkan dengan sikap egoisnya. "PERGI DARI SINI!" ucap Mama Soni dengan lantang. Shiny terkejut. Ia tersenyum tulus pada Mama Soni. "Shiny pulang dahulu. Assalamu'alaikum, Shiny titip salam untuk Papa dan Khyati," ucap Shiny berlalu pergi meninggalkan Mama Soni seorang diri. "Mama apaan, sih?! Kenapa Mama kasar begitu pada Shiny?" ucap Papa Amar yang keluar dari persembunyiannya. Sejak tadi Papa Amar memang melihat keduanya dari kejauhan. Percuma kalau disamperin, Mama Soni akan tetap pada pendiriannya. "Papa tidak perlu membelanya. Dia juga udah pergi dari sini," ucap Mama Soni meninggalkan Papa Amar sendirian. "Tinggal aja terus!" ucap Papa Amar kesal. Khyati menutup pintu kamarnya kembali. Ia berlari kecil ke balkon. Dari atas, Khyati dapat melihat Shiny sedang masuk ke mobil dengan tangan yang sibuk mengusap pipinya. "Aku tidak akan membiarkan Kak Varun menandatangani surat itu. Aku akan berusaha menghalangi rencana Mama dan Kak Shiny. Tidak, semua ini adalah rencana Mama," ucap Khyati memandang jauh mobil yang dikendarai Shiny. Varun bangun dari duduknya ketika mendengar suara mobil Shiny. Varun segera menempatkan dirinya di balik pintu masuk. Shiny yang baru saja membuka pintu langsung terkejut melihat Varun berdiri di sana. "Masih jam 11 malam, kok baru pulang?" ucap Varun dengan kalimat sindirannya. Shiny mengalihkan atensinya ke semua arah asalkan tidak dengan Varun. Shiny akan pergi, namun Varun menahan lengannya. "Punya mulut kan? Kenapa tidak menjawab pertanyaan ku?" tanya Varun. "Aku lelah. Lepaskan aku," ucap Shiny lirih. "Kamu belum menjawab pertanyaan ku," ucap Varun. "Aku dari rumah teman Varun. Sudahkan? Aku mau membersihkan diri dahulu," ucap Shiny berusaha melepaskan cengkeraman Varun. "Jawab yang jujur," ucap Varun berusaha menjaga nada bicaranya. "Aku sudah menjawabnya. Apa lagi yang harus aku jawab?" "Aku tahu kamu bukan dari rumah teman, tapi dari rumah Mama kan?" ucap Varun tepat sasaran. "Sudahlah, kenapa harus membahas masalah ini di malam hari? Seperti tidak ada pekerjaan saja," ucap Shiny acuh dan meninggalkan Varun di lantai bawah. 'Untung saja surat itu aku tinggalkan di mobil,' ucap Shiny merasa lega ketika berada di kamar. Di kediaman Fadillaisyah... Bunda Pari, Ayah Sachin, dan Janah mengantar Teja, Namish, dan Tasheen sampai pintu. Kini Tasheen merengek dipelukan Janah. Tasheen tidak mau jauh dari Janah. "Tasheen baru aja bertemu Bunda. Masa harus pulang, sih?" ucap Tasheen lirih. "Besok kita kesini lagi, sayang," ucap Teja berusaha membujuk Tasheen. "Tidak mau. Tasheen mau sama Bunda," ucap Tasheen kukuh. "Tasheen pulang dahulu, ya. Besok kamu bisa kesini lagi. Kita akan menghabiskan waktu bersama. Bagaimana, hem?" ujar Janah ikutan membujuk Tasheen. "Bunda jemput, ya?" Janah mengangguk, "Iya, sayang. Bunda akan menjemput kamu pagi. Jadi kita bisa menghabiskan waktu lama. Kamu setuju?" "Sangat setuju!" balas Tasheen dengan senang. Tasheen mencium habis wajah Janah sampai membuat yang lainnya terkekeh geli. "Tasheen pulang. Assalamu'alaikum," ucap Tasheen setelah berada di dalam mobil. Namish membunyikan klakson sebelum mengendarai mobilnya. "Wa'alaikumsalam," balas ketiganya, lalu masuk ke dalam. "Sudah? Apa yang akan kita lakukan? Kenapa masih berdiri di sini?" ucap Ayah Sachin ketika mereka berhenti di ruang tamu. "Tidur. Bunda tidur sama Janah, ya. Janah mau dipeluk sama Bunda malam ini," ucap Janah bergelayut manja pada Bunda Pari. Ayah Sachin mengernyit, "Terus, bagaimana dengan Ayah?" "Ayah tidur sendiri lah. Kalau tidak Ayah tidur sama Bik Lela sana," ucap Janah langsung membawa Bunda Pari ke kamarnya. "Janah, awas kamu, ya!" ucap Ayah yang kini tinggal seorang diri. "Kamu sama jahilnya seperti Ayah," gemas Bunda Pari masih dengan kekehannya. "Ayah itu perlu di kasih pelajaran Bunda. Jangan Bunda terus dong yang mengalah. Bunda harus sedikit tegas pada Ayah," ucap Janah membuat Bunda mengernyit. "Apa kata teman Bunda ketika mereka mengetahui Nyonya Fadillaisyah takut pada Tuan Fadillaisyah si muka tembok? Habis citra Bunda di hadapan teman Bunda," jelas Janah berusaha mengompor otak baik Bunda. "Kan memang sudah kewajiban kita sebagai istri bersikap baik pada suami, sayang. Kamu juga akan seperti Bunda jika kamu memiliki suami," ucap Bunda dengan nada tenangnya. "Iya juga, sih. Tapi kan tidak harus mengalah terus Bun? Apa ketika Ayah bersama wanita lain Bunda akan mengalah dan menutup mulut? Tidak kan?" ucap Janah. Bunda mendudukkan dirinya di samping Janah ketika keduanya sampai di kamar. "Janah akan kasih tahu sesuatu pada Bunda," ucap Janah membetulkan duduknya yang tidak nyaman. "Ada di mana kita akan baik pada orang lain. Ada juga di saat kita harus jahat balik pada orang itu. Tidak semua orang memiliki sikap baik. Kita tidak tahu bagaimana sikap asli mereka. Bisa saja mereka ada niat jahat tanpa sepengetahuan kita." ucap Janah dengan bijak. Bunda Pari tersenyum haru. Ini adalah pertama kali Janah bicara serius pada Bunda Pari. "Bunda mengerti maksud kamu. Apakah Bunda harus lebih tegas pada Ayah?" ucap Bunda Pari. Janah mengangguk semangat, "Ya, harus tegas. Biar Ayah tidak berani main di belakang Bunda." "Baiklah, mulai besok Bunda akan lebih tegas lagi dari Ayah," final Bunda Pari membuat Janah tersenyum penuh arti. 'Besok pagi permainan akan dimulai. Kita lihat saja nanti sampai mana Ayah tahan dengan sikap tegas Bunda?' batin Janah berkata. To Be Continued... 1860 kata Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR) Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI) Janah Helly Fadillaisyah (HELLY SHAH) Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA) Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH) Tasheen Olina Putri Irsyad (TASHEEN SHAH) Khyati Tuzzahra Irsyad (KHYATI MANGLA) Soni Trisnawati Irsyad (SONICA HANDA) Shalini Isna Irsyad (SHALINI KAPOOR SAGAR) Pari Eileen Fadillaisyah (PARINEETA BORTHAKUR) Nikita Febrianti (NIKITA SHARMA) Sabtu, 30 Januari 2021 Orang yg membuat Janah balas dendam pada Ayah Sachin. linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD