JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕
SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕
JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕
DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕
MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕
HAPPY READING ❕
Kediaman Fadillaisyah...
10 menit yang lalu, Janah dan Tasheen baru saja sampai di rumah. Kini keduanya berada di dalam kamar Janah.
"Bunda, Tante Shiny sakit, ya?" ucap Tasheen mengalihkan atensi Janah pada ponsel.
"Kenapa kamu mengatakan itu?" tanya Janah.
"Maafkan, Tasheen. Soalnya, Tasheen tidak langsung mengikuti perkataan Tante Shiny. Tasheen penasaran dengan perkataan Tante Shiny. Jadinya, Tasheen mendengar semua percakapan kalian," ucap Tasheen.
Janah meletakkan ponselnya, lalu mencondongkan tubuhnya menghadap Tasheen, "Kamu tahu semuanya?"
Tasheen mengangguk. Janah berkata, "Bunda mau kamu berjanji. Jangan sampai sakitnya Tante Shiny didengar orang lain, termasuk keluarga kita."
"Tasheen berjanji akan menyimpan rahasia ini. Kalau Tasheen lupa, Bunda ingatkan lagi, ya?" ucap Tasheen bercanda.
Keduanya terkekeh. Janah mencolek hidung mancung Tasheen dengan gemas, "Kamu nakal, ya."
"Bunda, Tante Shiny benaran mau menyerahkan Ayah pada Bunda?" ucap Tasheen.
"Kamu terlalu pintar, ya. Bunda sampai bingung, bagaimana caranya Bunda menjelaskan semuanya pada kamu," ucap Janah lesu.
"Tasheen mengerti Bunda. Tasheen hanya bertanya saja. Tidak tahu, Bunda berbohong pada Tasheen," ucap Tasheen sambil memainkan jemari lentik Janah.
"Hem, begitu, ya? Jadi kamu tidak percaya pada Bunda?" ucap Janah berlagak merajuk.
"Bu-kan," balas Tasheen gugup.
Tasheen naik ke pangkuan Janah. Tasheen memeluk Janah erat.
"Bunda, jangan marah. Tasheen hanya mengetes Bunda," ucap Tasheen lirih.
"Maaf, Bunda," ucap Tasheen kian lirih saat tidak mendapatkan respons dari Janah.
"Sudah, Bunda hanya bercanda. Bunda tidak marah sama kamu," ucap Janah membawa Tasheen ke dalam pelukannya.
Janah bangkit dan mulai memacu langkahnya ke lantai dasar dengan Tasheen di gendongannya.
"Bunda, kita kapan ke rumah Ayah? Tasheen rindu Ayah," ucap Tasheen dengan cemberut.
"Kamu akan ke rumah Ayah bersama Mama dan Papa," balas Janah membuat Tasheen suram.
"Tasheen maunya sama Bunda," ucap Tasheen.
"Maaf, sayang. Bunda tidak bisa," ucap Janah tak enak hati.
"Kenapa? Bunda takut ditagih jawaban sama Tante Shiny?"
"Sttt, kamu bicaranya pelan-pelan saja. Jangan sampai yang lainnya tahu, sayang," ucap Janah memperingatkan Tasheen.
Tasheen cengengesan. "Maaf, Bunda. Jadi benar Bunda takut ditagih jawaban?"
Alih-alih menjawab, Janah mengangguk.
"Kenapa tidak mengatakan 'iya' saja?" tanya Tasheen.
"Sayang, Bunda dan Ayah tidak saling mencintai."
"Ayah mencintai Bunda," ucap Tasheen kukuh.
"Dahulu dan bukan sekarang," balas Janah tak mau kalah.
"Bukankah perasaan akan tumbuh, jika kita selalu bersama?" ucap Tasheen membuat Janah terbungkam.
Janah menatap takjub Tasheen. Tidak pernah terpikirkan oleh Janah memiliki keponakan yang pikirannya tinggi.
"Kamu masih kecil. Jangan terlalu mengharapkan Bunda dan Ayah. Kami tidak akan pernah bersatu, sayang," ucap Janah berusaha membuat Tasheen mengerti.
Tampang muka Tasheen lesu, ia meletakkan dagunya di bahu Janah.
'Padahal Tasheen pengin Bunda sama Ayah menikah,' batin Tasheen berbicara.
Bunda Pari memperhatikan Tasheen yang hanya mengaduk makanannya. Seketika itu, Bunda Pari mengalihkan atensinya pada Janah yang tidak jauh beda dari Tasheen.
"Ada apa Tasheen? Kenapa makanannya kamu aduk doang? Apakah makanannya tidak enak?" ucap Bunda Pari.
"Ah, tidak Nenek. Makanannya enak, tapi-,"
"Apakah ada yang kamu pikirkan, sayang?" ucap Ayah Sachin ikutan nimbrung.
"Tasheen menunggu Mama dan Papa. Kenapa mereka lama sekali datangnya?" ucap Tasheen cemberut.
Keduanya terkekeh. Suara familier langsung menghentikan kekehan keduanya, "Kami disini!"
"Assalamu'alaikum, maaf telat. Jakarta terlanda kemacetan," ucap Teja dengan Namish yang di sampingnya.
Tasheen langsung berlari pada Teja dan Namish. Tasheen ingin memeluk Teja, namun Namish langsung menarik Teja agar menjauh dari Tasheen.
"Tasheen mau peluk Mama," ucap Tasheen merengek.
"Sebentar, sayang. Kami baru saja dari luar. Kami akan membersihkan diri dahulu," ucap Namish langsung membuat Tasheen mengerti.
"Tasheen, habiskan dahulu makanan kamu!" ucap Bunda Pari dari ruang makan.
"Iya, Nenek!" balas Tasheen dan berlari kecil menghampiri ketiganya.
"Kamu memikirkan apa Janah? Kenapa ikutan melamun seperti Tasheen?" ucap Bunda Pari.
"Em, tidak. Janah lagi memikirkan tawaran dari teman Janah," ucap Janah pelan, lalu mulai menghabiskan makanannya.
Kini keempatnya melanjutkan acara makannya dengan Tasheen yang sesekali menatap Janah.
'Bunda pasti memikirkan perkataan Tasheen. Tasheen berharap, Bunda mau menerima tawaran dari Tante Shiny. Apakah aku harus mengatakan semuanya pada Ayah? Tapi, aku sudah berjanji pada Bunda. Aku tidak mau membuat kepercayaan Bunda hilang. Aku akan tetap menjaga rahasia ini. Sampai Bunda menerima tawaran Tante Shiny.' ucap Tasheen di hati.
Teja memperhatikan Janah yang hanya diam. Tidak biasanya sang Kakak tahan menutup mulut selama ini. Sudah hampir 2 jam kedatangan mereka di rumah besar Fadillaisyah. Namun, Janah belum juga membuka mulutnya. Alih-alih menjawab, Janah hanya tersenyum, mengangguk, menggeleng, dan berdeham sampai membuat semuanya jengah.
"Kamu kenapa, Kak? Kamu mogok bicara? Kenapa hanya diam saja?" ucap Teja dengan segala kebingungannya.
"Janah permisi ke kamar dahulu. Janah tidak enak badan," dusta Janah langsung pergi meninggalkan yang lainnya.
'Bunda marah sama Tasheen?' tanya Tasheen di hati.
Sampai di kamar, Janah menjatuhkan dirinya di ranjang. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Janah menaruh bantal sapi berwarna kulit di sela-sela kedua pahanya yang tertekuk. Janah mulai membenamkan kepalanya di atas bantal sapi itu.
Flashback On :
Ketika meletakkan semua piring kotor di wastafel. Ponsel Janah berbunyi pertanda panggilan masuk. Janah langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari Niku.
"Maaf, Janah. Aku tidak tahu kamu akan percaya dengan perkataan ku atau tidak. Karena aku pun juga tidak percaya dengan perkataan ku sendiri," ucap Niku di telepon.
"Katakan semuanya Niku," ucap Janah.
"Biang masalah kecelakaan Rrahul adalah orang suruhan Khyati. Awalnya aku tidak percaya, tapi Khyati mengakui semuanya," ucap Niku membuat Janah mengepalkan tangannya.
"Aku sudah tahu," ucap Janah.
"Kamu sudah tahu? Kenapa minta kami mencari tahu lagi?" tanya Niku bingung.
"Aku hanya ingin memastikannya kembali," ucap Janah.
"Apakah kamu juga tahu alasan Khyati melakukan semua ini?" tanya Niku lagi.
"Khyati mau aku menikah dengan Varun. Kamu tahu kan? Aku tidak mencintai Varun. Aku hanya akan mencintai Rrahul. Lagian, Varun sudah punya istri. Namanya Shiny, dia adalah wanita yang kuat. Tapi satu fakta membuat semuanya hancur. Shiny memiliki penyakit dan dia juga mau aku bersama Varun. Semua orang tidak tahu tentang penyakit Shiny kecuali aku. Khyati sampai mengancam aku, kalau aku tidak menikah dengan Varun, Khyati akan melakukan sesuatu pada orang yang aku cinta. Kamu tahu kan siapa yang aku cinta? Rrahul, Niku. Saat itu, aku merasa Khyati hanya menakutiku agar bisa bersama Varun. Ternyata aku salah mengenal Khyati. Dia lebih busuk dari yang aku kenal, Niku," ucap Janah mengeluarkan semua kekesalannya pada Niku.
"Maafkan aku yang tidak bisa berbuat apapun. Aku disini bersama mereka, tapi sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Aku merasa menjadi sahabat yang buruk. Maafkan aku, Janah," ucap Niku lirih.
"Tidak, Niku. Semuanya salah Khyati yang memiliki sifat egois. Dia rela melakukan apapun demi keinginannya terkabul," ucap Janah.
"Aku yakin, Khyati tidak seorang diri melakukan ini. Pasti ada orang di balik kebusukan Khyati. Coba kamu tanyakan baik-baik pada Khyati. Mana tahu dia mau berkata jujur," ucap Niku.
"Aku muak mendengar namanya sekarang. Apalagi ketika aku berhadapan dengan dirinya? Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah aku lakukan lagi, Nik," ucap Janah memohon.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa kamu. Aku masih ada masalah disini, sekarang kamu harus merelakan Rrahul. Dia sudah tenang di alam sana," ucap Niku.
"Sebisaku akan melupakan dirinya," ucap Janah berakhir memutuskan sambungan.
Flashback Off :
Janah sudah menangis tersedu-sedu. Ia tidak percaya semua ini. Ditinggalkan sama orang yang dicinta membuat seorang Janah hancur. Rrahul sudah ia anggap sebagai hidupnya. Mereka juga sudah banyak menyimpan kenangan dan mengharapkan sesuatu di masa depan. Tapi, mengapa Tuhan begitu cepat mengambil Rrahul dari Janah?
"Aku benci kamu, Khyati! Bisanya kamu cuma membuat semuanya hancur! Kamu adalah orang yang pertama kali menusuk aku dari belakang! Hikshiks!"
Janah mengangkat wajahnya dari bantal. Ia mengusap pipinya yang basah. Janah mencari letak ponselnya, ia segera mengirimkan pesan pada Khyati.
Khyati
|Aku mau bertemu kamu. Aku tunggu di tempat biasa. 15 menit lagi, kamu harus sampai di sana. Kalau terlambat, aku akan pulang.| 17.59
Janah memalingkan wajahnya dari Khyati. Ia tidak sedikit pun mau menatap Khyati.
"Ada apa Janah?" tanya Khyati pada Janah yang hanya diam saja.
"Aku sudah tahu kalau kamu adalah biang penyebab tiadanya Rrahul," ucap Janah.
"Kamu sudah tahu? Terus, kenapa masih mau bertemu sama aku?" ucap Khyati memancing.
Janah mengalihkan atensinya pada Khyati, "Aku hanya tidak habis pikir dengan sikap kamu yang semena ini. Sudah merasa mahir sampai menusuk aku dari belakang?"
"Maafkan aku, Janah," ucap Khyati dengan menundukkan kepalanya.
"Apakah dengan aku memaafkan kamu cintaku kembali? Tidak kan," ucap Janah.
Janah merekatkan kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja. Janah mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Dengar, Khyati. Aku benci penghianat seperti kamu. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau memaafkan kamu. Tidak ada sahabat baik melakukan penghianatan. Kamu adalah pembunuh!"
Janah mondar-mandir di dalam kamar. Ia belum juga mendapatkan siapa orang yang bekerja sama dengan Khyati. Janah sempat bertanya pada Khyati, namun Khyati mengatakan seorang diri. Janah memang bodoh. Tidak ada penjahat yang mau mengaku.
"Apa jangan-jangan Shiny? Tapi, bukankah Shiny baru saja menjelaskan semuanya padaku? Tidak mungkin Shiny melakukan itu. Lalu, Varun? Apakah Varun yang bekerja sama dengan Khyati? Bukankah Varun menyukaiku? Dengan cara memisahkan aku dan Rrahul, dia akan bersamaku? Tapi, kenapa pikirannya pendek begitu? Ah, kenapa semuanya membuat ku pusing?!"
"Bantu hamba, Ya Allah. Berikan hamba petunjuk. Hanya ingin membuktikan satu masalah aja sudah membuat ku pusing. Apalagi masalah yang akan datang?"
Bunda Pari menghampiri Janah yang masih mondar-mandir. Ia menahan bahu Janah membuat si pemilik bahu tidak bisa bergerak sedikit pun.
"Bunda," ucap Janah membola kedua matanya.
"Kenapa kamu seperti orang yang lagi kebingungan begitu?"
"Janah mau tanya sama Bunda. Apa yang akan Bunda lakukan ketika sahabat Bunda menusuk Bunda dari belakang?" ucap Janah.
"Bunda akan cari tahu apa alasan dia melakukan itu," ucap Bunda.
"Kalau Bunda sudah tahu alasannya?" tanya Janah.
"Bunda akan berpikir positif. Bisa saja ada sesuatu yang memaksakan dirinya berbuat seperti itu," ucap Bunda.
"Janah juga sedang memikirkannya," ucap Janah.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Bunda.
"Janah masih memikirkan siapa yang membantu Khyati melakukan itu," ucap Janah tanpa sadar.
"Apakah maksud kamu Khyati kita?"
Janah tersadar dengan perkataannya. Ia mulai mencari alasan yang tepat agar Bunda tidak curiga padanya.
"Ah, bukan Khyati kita, Bun. Khyati sahabatnya Janah," ucap Janah dusta.
Memang Khyati adalah sahabat Janah. Namun, mereka tidak tahu kalau Khyati sahabat Janah adalah Khyati Tuzzahra Irsyad.
To Be Continued...
1680 kata
Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR)
Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI)
Janah Helly Fadillaisyah (HELLY SHAH)
Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA)
Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH)
Tasheen Olina Putri Irsyad (TASHEEN SHAH)
Khyati Tuzzahra Irsyad (KHYATI MANGLA)
Soni Trisnawati Irsyad (SONICA HANDA)
Shalini Isna Irsyad (SHALINI KAPOOR SAGAR)
Pari Eileen Fadillaisyah (PARINEETA BORTHAKUR)
Nikita Febrianti (NIKITA SHARMA)
Minggu, 24 Januari 2021
Mau Varun dan Shiny baikan gak?
linar_jha2