?14

1696 Words
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕ SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕ JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕ JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕ DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕ MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕ HAPPY READING ❕ Di bandara Soekarno... Janah mengedarkan atensinya ke setiap tempat. Ia mencari sosok yang baru saja fotonya dikirim Teja. Pertemuan ini memang pertama kali buat Janah dan Tasheen. Namun, Tasheen sudah mengenal jauh sosok Janah melalui Teja yang selalu membicarakannya. Tidak jauh dari loket pesawat terdapat seorang gadis kecil yang rambutnya dikepang dua sedang memainkan kakinya di udara. Dia sedang duduk di bangku samping loket dengan seorang wanita paruh baya yang tidak diketahui Janah. Janah memicingkan matanya agar yang ia lihat tidak salah. Janah memastikannya lagi dengan melihat sosok yang sama di dalam ponsel. Ketika Janah ingin mengangkat wajahnya seseorang sudah memeluk kedua kakinya. Janah menahan tubuh Tasheen agar tidak kehilangan keseimbangan. Janah mulai menurunkan tubuhnya dan menyamakan tinggi mereka. "Kamu mengenal saya?" tanya Janah takjub pada sosok Tasheen. Padahal ini adalah hari pertama mereka akan saling mengenal. Namun, Janah dibuat kaget ketika Tasheen memeluknya seerat ini. Seakan mereka sudah terbiasa bertemu. Tasheen mengangguk, "Bunda Janah bukan? Mama selalu menceritakan Bunda pada Tasheen." Janah tersenyum sambil mengelus sayang surai hitam dan panjang Tasheen. "Manis sekali," gemas Janah pada kedua pipi Tasheen. "Uh, Bunda! Tolong, jangan katakan manis padaku," ucap Tasheen dengan cemberut. Janah mengernyit, "Why?" "I don't like it," balas Tasheen. Seketika senyuman lebar Janah menghilang. Sebuah memori bermain di otaknya kembali. "Baiklah, kamu tidak manis. Ayo, kita pulang sekarang!" ucap Janah yang tidak mau berlama-lama dengan memori itu. Tasheen mengangguk dan menyambut hangat tangan Janah. Kini keduanya berjalan sambil membicarakan aktivitas Tasheen di luar kota. Sampai Tasheen membocorkan rahasia yang tidak pernah Janah ketahui. "Tasheen pikir Bunda menikah dengan Ayah," ucap Tasheen menatap Janah yang lebih tinggi darinya. "Ayah? Ayah siapa, sayang?" tanya Janah dengan kebingungannya. Tasheen menepuk dahinya. Apakah Bundanya ini sudah melupakan Ayahnya? "Bunda tidak lupakan dengan Ayah Varun?" ucap Tasheen sedikit waspada. Ia hanya takut Bundanya lupa pada Ayahnya. Tidak pernah terpikirkan oleh otak Tasheen. "Jadi maksud kamu, Bunda menikah dengan Varun? Em, maksudnya Ayah Varun?" tanya Janah merasa aneh ketika ia menyebut Varun dengan sebutan Ayah. Tasheen mengangguk, "Soalnya Mama sering menceritakan Bunda dan Ayah. Sejak kecil Ayah dan Bunda selalu bersama. Bahkan Ayah mati-matian melindungi Bunda dari jahatnya dunia." "Ka-mu yakin Mama menceritakan semuanya tentang Bunda dan Ayah?" ucap Janah sedikit tak percaya. Tasheen mengangguk semangat, "Bukan sampai di situ saja. Mama juga pernah menceritakan bagaimana Ayah ingin memiliki Bunda. Namun, Bunda sudah pergi jauh dari Ayah. Saat itu, Ayah merasa sedih. Sampai Grandma Soni membawa Tante Shiny ke rumah dan memperkenalkannya sebagai calon. Kalau waktu itu Tasheen sudah lahir, Tasheen akan menghentikan Bunda pergi dan menyatukan kalian berdua. Tasheen juga sama sedihnya seperti Ayah, Bunda. Kenapa Bunda harus pergi meninggalkan Ayah? Padahal Ayah sayang lho sama Bunda." Janah terdiam ketika Tasheen berkata panjang. Sungguh, ia tidak menyangka kalau anak sekecil ini cepat sekali tangkap dengan perkataan orang tua. Bahkan semuanya ia jelaskan dengan lengkap. Janah juga tidak pernah mengira kalau rasa itu tumbuh di hati Varun. Waktu itu di pikiran Janah hanya ingin pergi dari Bunda Pari dan Ayah Sachin yang seperti musuh dalam keluarga. Tasheen yang melihat Janah seperti patung berjalan segera menyadarkannya. "Kenapa melamun, Bunda? Apa yang Bunda pikirkan, hem?" tanya Tasheen sedikit khawatir. "Em, tidak. Bunda kebelet pipis. Kita ke kamar mandi dahulu, ya?" ucap Janah. Bukan hanya alasan, karena Janah memang ingin menuntaskan panggilan alam kecil itu. Tasheen mengangguk, ia menatap orang yang selama ini menjaganya di luar kota. "Bik Iyem tidak usah ikut. Bik Iyem tunggu kami di mobil aja," ucap Tasheen dengan suara imutnya. "Eh, tapi Nona-," "Tidak masalah, Bik. Ini kunci mobil saya. Bibik tunggu di dalam aja," ucap Janah menyodorkan kunci mobil setelah merogoh tas selempangnya. "Em, baik Nyonya. Barang Non Tasheen biar Bik Iyem aja yang bawa," ucap Bik Iyem tanpa menunggu jawaban langsung mengambil alih barang milik Tasheen. Bik Iyem menundukkan tubuhnya sebelum benar-benar hilang dari pandangan keduanya. Janah dan Tasheen memacu langkahnya kembali menuju salah satu toilet di bandara Soekarno. Dengan perlahan, Shiny berdiri dengan bantuan dinding kamar mandi. Hampir 15 menit ia berdiam di kamar mandi. Baru saja sampai di bandara, Shiny langsung mencari kamar mandi ketika perutnya merasakan perih. Masalah ini memang bukan pertama kalinya terjadi pada Shiny. Masalah ini malahan untuk kesekian kalinya sebelum ia mengetahui penyakit ganas yang tumbuh di tubuhnya. Mungkin ini adalah salah satu dari penyakitnya itu. Dengan gerakan lambat, Shiny mencuci wajahnya yang mulai pucat. Ia mengambil lip gloss di dalam tas selempangnya dan mulai memoleskannya pada bibir pucatnya. Sama halnya dengan Shiny, Janah menatap lurus cermin di hadapannya dengan tangan yang menumpu di setiap sisi. Semua perkataan Tasheen terngiang-ngiang di telinganya. Janah menutup matanya, lalu membukanya kembali. Janah mulai membasuh wajahnya dan mengeringkannya dengan tisu di kamar mandi. "Aku baru saja kehilangan Rrahul. Aku tidak mau memikirkan masalah ini. Mungkin saja rasa itu sudah hilang dari hati Varun." "Semangat Janah! Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Varun masih milik Shiny. Aku tahu betapa cintanya Varun terhadap Shiny." Setelah mengatakan itu, Janah keluar dari kamar mandi. Bersamaan dengan Janah yang keluar, Shiny juga keluar dari kamar mandi sebelah. "Janah!" seru Shiny membuat atensi Janah mencari sumber suara. "H-hai Shiny! Kamu disini?" ucap Janah mendadak kikuk. "Iya, aku sengaja menyusul kamu," ucap Shiny menghantarkan kerutan di kening Janah. "Em, ada yang ingin aku katakan. Bisakah kita mencari tempat yang sedikit nyaman?" lanjut Shiny seakan mengerti dengan kerutan di kening Janah. "O-oh, baiklah. Bagaimana dengan secangkir teh? Kamu bisa mengatakan semuanya ketika kita berada di kafetaria seberang sana," usul Janah. Shiny mengangguk kilat. Di pikirannya sekarang adalah semua keinginannya yang harus tercapai. Kafetaria... Dua cangkir teh sudah ada di hadapan keduanya. Janah menunggu Shiny yang akan mengangkat suara sambil sesekali menyeruput tehnya. Janah mengikuti atensi Shiny yang mengarah pada Tasheen. "Em, Tasheen," ujar Shiny pertama kali mengangkat suara saat mereka berada di kafetaria. "Iya, Tante. Ada apa?" balas Tasheen. "Tante tadi mampir ke swalayan. Tante membeli makanan yang banyak. Bisakah kamu mengambilnya di mobil Tante? Kita akan memakannya bareng," ucap Shiny. "Baiklah. Tasheen akan mengambilnya," ucap Tasheen dengan tangan yang menerima kunci mobil. "Mobilnya ada di paling ujung, sayang. Mobil yang berwarna merah," ucap Shiny dan Tasheen mulai menjauh dari keduanya. Janah berdeham singkat untuk mengambil atensi Shiny yang masih menatap Tasheen. "Apakah ada yang serius sampai kamu membuat alasan agar Tasheen tidak dapat mendengar?" tanya Janah. "Banyak sekali yang ingin aku katakan padamu sampai aku tidak tahu ingin mengatakan yang mana dahulu," ucap Shiny membuat Janah menatap kosong gelas yang berisi teh tinggal separuh. Kini keduanya terdiam sampai akhirnya Shiny yang mengangkat suara. Shiny tersenyum, lalu menggenggam hangat tangan kanan Janah yang berada di atas meja. "Menikahlah dengan suamiku," ucap Luthfiyana Shiny Nabilah. Dia adalah wanita yang rela menyerahkan suaminya pada wanita lain. Dia bukanlah wanita sempurna yang banyak orang katakan. Dia hanyalah wanita lemah yang tidak akan pernah bisa memberikan keturunan pada suaminya. Janah menatap bingung Shiny, "A-pa maksud kamu?" "Aku mau kamu menikah dengan Varun," ulang Shiny. Janah melepaskan tangan Shiny yang menggenggam tangannya, "Ka-mu gila Shiny?" "Aku mohon Janah," ucap Shiny dengan tatapan sendunya. "Bagaimana bisa kamu menyuruh aku menikah dengan Varun, sedangkan kamu masih berstatus istri Varun? Aku tidak mau dikatakan orang ketiga yang merusak hubungan kalian," ucap Janah. "Jadi kamu akan menerima keinginanku ketika kami berpisah?" pancing Shiny. "Tidak, Shiny. Aku tidak bermaksud seperti itu." "Aku tahu Janah. Lagian-," Janah mengangkat sebelah alisnya. Shiny mulai membuka mulut kembali. Namun, suara ponsel Janah menghancurkan semuanya. "Sebentar," ucap Janah dan mukak fokus pada ponselnya. Niku❣ |Kami mendapatkan sesuatu, Jan. Rrahul tiada bukan karena kecelakaan. Tapi, ada orang yang mengeroyok Rrahul ketika pembalapan kemarin terjadi. Bukan cuma itu, mereka juga sempat menyabotase mesin mobil Rrahul. Maaf, Jan. Kami belum bisa menemukan pelakunya.| 15.57 |Cari tahu siapa pelakunya. Jangan biarkan dia lepas." 15.57 |Kami akan berusaha mencari pelakunya. Kamu baik-baik aja kan?| 15.57 |Jauh kata baik. Sudahlah, kalian fokus saja dengan apa yang aku katakan.| 15.58 'Siapa pun pelakunya. Aku tidak akan tinggal diam,' batin Janah berkata. "Apakah terjadi sesuatu?" tanya Shiny mengalihkan atensi Janah pada ponsel. "Em, tidak. Maaf, Shiny. Aku tidak bisa menjawab perkataan kamu sekarang," ucap Janah sedikit tak enak hati. "Tidak masalah Janah. Aku akan menunggu jawaban dari kamu. Aku hanya ingin membuat semuanya membaik. Percaya padaku," ucap Shiny. "Sebenarnya aku-," "Apa ada masalah?" "Aku baru kehilangan kekasihku. Jujur, aku tidak suka dengan tawaran kamu. Bukankah sebuah hubungan harus ada kepercayaan? Kenapa kamu menginginkan aku bersama Varun? Ada apa dengan kamu?" "Aku minta maaf Janah. Aku tidak bisa selamanya bersama Varun," ungkap Shiny. "Kenapa?" "Kamu tahu gejala kanker serviks?" Janah mengangguk. Ia tahu betul apa itu gejala kanker serviks. "Sekarang aku mengidap penyakit itu," ujar Shiny membuat Janah menatap tidak percaya. Shiny menggenggam tangan Janah, "Aku harap, kamu mau berjanji padaku. Jika suatu hari aku tidak ada lagi, kamu yang akan menjaga Varun. Aku mohon pada kamu, Janah." Seketika itu, dunia Janah hancur seperti terpecah dua. Janah baru saja kehilangan dan sekarang berhadapan lagi dengan masalah baru. Takdir apa yang kamu berikan, Tuhan? Tasheen yang tidak jauh dari sana membekap mulutnya. Ia mendengar jelas dan mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Ada rasa sedih di hati anak kecil itu ketika Shiny mengeluarkan semua keluh kesahnya. "Tante Shiny sakit? Tante akan menyerahkan Ayah pada Bunda? Apakah aku harus senang atau sedih?" ucap Tasheen merasa bimbang. Tasheen dari awal memang sudah curiga dengan Shiny yang ingin mengatakan serius pada Janah. Sejak tadi, ia mengumpat di balik tembok besar. Tasheen penasaran dengan apa yang ingin Shiny katakan pada Janah. Sampai ia bernekat mengabaikan perkataan Shiny tadi. To Be Continued... 1590 kata Sesuai janji, dabel apdet!! Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR) Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI) Janah Helly Fadillaisyah (HELLY SHAH) Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA) Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH) Khyati Tuzzahra Irsyad (KHYATI MANGLA) Amar Zulfatin Irsyad (AMAR SHARMA) Soni Trisnawati Irsyad (SONICA HANDA) Shalini Isna Irsyad (SHALINI KAPOOR SAGAR) Sachin Affan Fadillaisyah (SACHIN TYAGI) Pari Eileen Fadillaisyah (PARINEETA BORTHAKUR) Jum'at, 22 Januari 2021 Orang yg lagi nyari makan linar_jha2
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD