JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR❕
SEBELUM BACA JANGAN LUPA KLIK VOTE❕
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SESUDAH MEMBACA❕
JANGAN LUPA SHARE KE TEMAN-TEMAN KALIAN❕
DILARANG MENCOPY PASTE ❕❕❕
MAAF KALAU ADA YANG SALAH SAMA KATA-KATANYA❕
HAPPY READING ❕
Siang harinya...
Shiny menghampiri Varun yang berdiri di depan cermin kamar dengan kepala tertunduk. Shiny menyentuh bahu Varun membuat atensi Varun terangkat ke cermin.
"Jangan menyerah Varun. Biarkan masa lalu datang kembali. Aku tidak mau kamu melupakan masa lalu itu," ucap Shiny mengelus lembut bahu Varun.
"Bukan begitu. Ak-,"
Perkataan Varun terputus ketika Shiny membuat Varun berhadapan dengan dirinya.
"Aku tahu kamu memikirkan masa lalu," ucap Shiny dengan senyuman manisnya, sedangkan Varun hanya membalasnya dengan tatapan datar.
"Aku bahagia jika kamu dan Janah dekat kembali. Aku ingin kamu menjaga Janah seperti kamu menjaganya waktu kecil. Kamu mau kan mengabulkan semua keinginan ku?" ucap Shiny membuat Varun menutup matanya.
"Aku ingin melihat kamu dan Janah menikah. Setelah itu, kalian memiliki anak dan hidup bahagia. Kamu tahu? Aku adalah orang yang pertama akan merasakan kebahagiaan kalian. Karena aku-,"
"Diamlah, Shiny!" ucap Varun mulai habis kesabarannya.
Shiny menutup bibirnya rapat-rapat saat melihat wajah merah Varun. Bukan karena malu, melainkan merasa kesal dengan perkataan Shiny.
"Aku bukan barang yang seenaknya kamu tukar dan tawar pada semua orang," ucap Varun penuh penekanan.
"Aku tidak pernah mengatakan kamu barang. Aku hanya ingin-,"
"Hanya ingin melihat suaminya bahagia dengan wanita lain? Istri seperti apa kau?" sela Varun dengan perkataan tajamnya.
"Tidak ada istri yang ingin membagikan suaminya pada wanita lain," sambung Varun sedikit berdecak ketika melihat mata Shiny yang berkaca.
"Hanya itu yang bisa membuat kamu baik, Varun," ucap Shiny lirih.
"Aku bukan wanita sempurna seperti wanita lainnya. Aku hanya benalu tanpa bisa memberikan keturunan Varun," lanjut Shiny kian lirih.
Cengkeraman Varun di bahu Shiny mengendur. Varun menatap Shiny yang sudah menangis dengan kepala tertunduk.
"Apa maksud kamu?" tanya Varun tidak suka basa-basi.
Shiny mengangkat kepalanya dan menatap lekat Varun.
"A-ku man-dul dan ti-tidak akan pernah bi-sa memberikan keturunan padamu, hiks!" isak Shiny membuat tatapan Varun teduh kembali.
"Sttt, tenanglah. Aku tidak masalah jika kamu tidak bisa memberikan ku keturunan. Asalkan kamu tidak pergi dariku, Shiny," ucap Varun mengelus sayang rambut Shiny setelah membawanya ke dalam pelukan.
Varun melepaskan pelukannya ketika Shiny sudah mulai baikan dari sebelumnya.
"Bagaimana dengan Mama dan Papa? Mereka mengharapkan aku untuk hamil dan memberikan mereka cucu. Aku merasa-,"
Varun langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir merah pucat Shiny, "Masalah anak, kita bisa saja mengadopsi bayi."
Shiny menjauhkan jari Varun yang berada di bibirnya. Lagi dan lagi, Varun menyela perkataan Shiny ketika ingin mengeluarkan suara.
"Mereka akan menerima semua keputusan kita. Kamu percaya padaku kan?" ucap Varun berusaha meyakinkan Shiny.
Senyuman tipis terbit di bibir Shiny, lalu memudar lagi saat suara familier bermain di telinganya.
"Mama tidak terima dengan semua keputusan kamu, Varun. Mama tidak suka dengan keputusan kamu yang ini," ucap Mama Soni dengan Papa Amar di sampingnya.
Mama Soni menghampiri keduanya membuat Papa Amar ikutan mengacu langkahnya menuju Varun dan Shiny.
"Ma, bukankah sama aja jika Shiny hamil dan mengadopsi bayi?" ucap Varun dengan tangan yang merangkul bahu Shiny.
"Apanya yang sama Varun? Jelas sangat berbeda. Mama mau bayi dari rahim Shiny, bukan mengadopsinya dari panti asuhan," ucap Mama Soni membuat Varun dan Shiny bertatapan.
"Mama sudah tahu kan kalau Shiny-,"
"Terus kalau Shiny mandul, Mama akan diam? Tidak, Mama benci dengan menantu yang tidak bisa memberikan keturunan pada kita," sela Mama Soni pada perkataan Varun.
"Ma, tolong jangan egois. Semua ini sudah takdir kita," ucap Varun masih kukuh membantah perkataan Mama.
"Kita bisa saja mengelak dari takdir, jika kita berusaha," ucap Mama Soni.
"Apa maksud Mama?" tanya Varun dengan Shiny yang masih setia menatap Varun dari samping.
"Mama mau kamu menikah lagi dan ceraikan wanita ini!" ucap Mama Soni mutlak dan membuat ketiganya mematung seperti disambar petir.
"Ma, kita bisa membicarakan semuanya dengan kepala dingin. Jangan mengambil keputusan yang akhirnya menyesal," ucap Papa Amar berusaha menyadarkan Mama Soni.
"Tidak, Pa. Wanita ini-," ucap Mama Soni sengaja mengambangkan perkataannya sambil menunjuk Shiny yang menunduk dengan isakannya.
"Dia hanya wanita benalu tanpa bisa memberikan keturunan pada kita!" ucap Mama Soni dengan suara lantangnya.
"Udah kan? Sekarang biarkan kami berdua. Mama bisa pergi dari sini," ucap Varun dengan tenang seakan tidak terjadi sesuatu.
"Mama tidak pernah mengajarkan kamu membantah perkataan orang tua. Sekarang hanya karena wanita benalu ini-"
Lagi dan lagi, Mama mengambangkan perkataannya. Ia mulai bicara kembali, "Kamu menjadi pribadi yang buruk! Mama menyesal membawa wanita benalu ini di tengah-tengah keluarga kita!"
"Ma! Dia punya nama! Jangan suka hati Mama mengubah namanya!" ucap Varun dengan suara lantangnya.
"Varun, kamu-," ucap Mama terputus seakan tidak percaya dengan Varun di hadapannya.
"Mama yang berulah. Jadi tolong jangan salahkan Shiny," ucap Varun membawa Shiny ke kamar dan meninggalkan Mama Soni yang memanggil namanya.
"MAMA AKAN MENGURUS SURAT PERPISAHAN KALIAN, VARUN!" ucap Mama Soni kesal pada Varun yang mengabaikannya.
"Ma, sudahlah. Kita bisa membicarakan semuanya dengan kepala dingin," ucap Papa Amar berusaha menenangkan Mama Soni.
Namun, Mama Soni pergi begitu saja meninggalkan Papa Amar yang mengelus dadanya.
"Mama dan anak memang keras kepala. Aku harus bersabar lagi menghadapi keduanya," gumam Papa Amar yang akhirnya memacu langkahnya pada Mama Soni.
Di kediaman Fadillaisyah...
Bunda Pari yang mendengar suara langkah hak langsung menurunkan majalah wanita. Ia menatap Janah yang sudah rapi dengan pakaiannya.
"Kamu mau kemana?" tanya Bunda Pari dengan Janah yang sedikit merapikan ujung bajunya.
"Janah mau menjemput Tasheen di bandara," ucap Janah.
"Tasheen pulang? Kenapa tidak mengabarkan Bunda dahulu?" ucap Bunda Pari.
"Teja menelepon Janah. Teja menyuruh Janah yang menjemput Tasheen," ucap Janah menjelaskan.
Bunda Pari ingin membuka mulutnya kembali. Namun, Janah langsung menyelanya.
"Teja ada urusan begitu pula dengan Namish. Janah pergi dahulu. Assalamu'alaikum," ucap Janah seakan mengerti dengan isi pikiran Bunda Pari.
"Wa'alaikumsalam," ucap Bunda Pari bersamaan dengan Ayah Sachin yang baru saja turun dari lantai dua.
"Jangan mampir lagi. Setelah itu, kamu langsung pulang," lanjut Ayah Sachin membuat Janah membalasnya dengan dehaman.
"Tidak baik perkataan orang tua dibalas begitu," tegur Ayah Sachin, lalu duduk di samping Bunda Pari.
"Iya, Ayah. Sudah kan? Janah pergi dahulu. Tasheen kasihan sudah menunggu Janah lama," ucap Janah mulai jengah.
"Hati-hati, sayang," ucap Bunda Pari ketika Janah mulai menjauh dari keduanya.
Atensi Bunda Pari mengarah pada Ayah Sachin, lalu mencubit pinggang Ayah Sachin.
"Apa, sih, Bun? Kok Ayah dicubit, hem?" gerutu Ayah Sachin.
"Ayah ini jahat banget, sih. Kasihan Janahnya diketusin terus," gerutu Bunda Pari balik.
"Biar anaknya sadar dengan kesalahannya. Kalau dibaikin terus akan kian menjadi, Bun," balas Ayah Sachin dengan tenang.
Varun mendengus sebal dengan Shiny yang masih bercekcok dengan dirinya. Masalah Mama Soni memang tidak sampai di situ. Sampai di kamar, Shiny langsung menceramahi Varun yang tidak boleh membantah perkataan Mama Soni. Bagaimana tidak membantah, jika Mama Soni menginginkan Varun berpisah dengan Shiny? Padahal hanya karena-,
"Aku tahu Varun. Mama sama dengan Mama yang lainnya. Ia menginginkan yang terbaik untuk kehidupan anaknya. Aku mohon kamu mengerti sedikit saja tentang perasaan Mama," ucap Shiny.
"Kamu menyuruh aku mengerti perasaan Mama?" tanya Varun dengan wajah tenangnya.
"Apa yang sudah aku lakukan selama ini? Aku mengikuti semua perkataan Mama. Dari keinginan Mama yang memperkenalkan kamu pada yang lainnya sampai Mama menyuruh aku menikah dengan kamu. Apa semua itu tidak cukup?" ucap Varun lepas kendali.
"Jadi kamu terpaksa menikah dengan aku?" ucap Shiny yang mengambil kesimpulan sendiri.
"A-pa yang kamu pikirkan. Aku tidak mengatakan itu," ucap Varun merasa keadaan yang kian memburuk.
Shiny menepis tangan Varun, "Aku tidak mau masalah ini lebih panjang. Aku tidak mau kita berantem. Aku mau kamu ingat semua janji yang sudah kamu buat dengan aku."
Setelah mengatakan itu, Shiny keluar dengan tas selempangnya. Shiny mengabaikan Varun yang memanggil namanya.
"Shiny, kamu mau kemana?!" tanya Varun yang sibuk menuruni anak tangga.
Namun di luar, Varun kalah dengan Shiny yang sudah mengendarai mobilnya. Varun ingin masuk ke mobil, tapi ponselnya menggagalkan dirinya yang akan mengejar Shiny.
Dengan berdecak, Varun merogoh kantong celananya. Ia mengangkat panggilan dari sekretarisnya.
"Ada apa?" tanya Varun langsung.
"Maaf, Tuan. Sepuluh menit lagi Tuan ada rapat," lapor sekretaris Varun.
Setelah itu, Varun meremas ponselnya. Ia melampiaskan amarahnya pada mobilnya.
"Sial! Kenapa semuanya menjadi kacau?!" cerca Varun menatap tajam ponselnya dan tanpa perasaan ia membanting ponsel itu.
Pekerja di rumah Varun dari pembantu, sopir, pembersih kebun, dan lain-lain sampai mengumpat di balik pintu ketika melihat Tuan mereka mengamuk seperti ini. Tidak biasanya Varun mengamuk sampai begini dan semuanya hanya karena Shiny. Shiny memang membawa dampak yang begitu dahsyat untuk Varun. Semuanya berubah sekejap mata.
Shiny menurunkan ponselnya yang baru saja menerima telepon dari Teja. Bukan Teja yang menelepon melainkan Shiny. Ia bertanya pada Teja tentang keberadaan Janah sekarang. Banyak yang ingin Shiny katakan pada Janah.
"Maaf, Varun. Aku harus mengatakan semuanya pada Janah. Aku tidak mau menunggu lama lagi. Hidupku hanya ada di tangan Allah. Aku tidak mau terlambat mengatakan semuanya. Keinginan ku harus tercapai begitu pula dengan keinginan Khyati. Aku hanya ingin melihat Khyati tersenyum padaku untuk terakhir kalinya. Dengan membawa Janah padamu akan membuat Khyati bahagia, Varun," ucap Shiny lirih.
Shiny berusaha menahan air matanya, namun tanpa diminta air matanya keluar begitu saja.
Wanita mana yang tidak sedih ketika orang yang kita cinta dibagi pada wanita lain? Namun, Shiny tidak boleh egois. Ia diciptakan hanya untuk mengikuti takdir yang Allah berikan padanya.
"Aku hanya tidak ingin kalian semua merasa bersalah. Tapi, aku tidak tahu dari mana aku harus mengatakan semuanya. Semua ini berjalan begitu cepat bagaikan es di bawah teriknya matahari. Semua ini salahku yang tidak menginginkan mereka tahu, hiks!"
Di bandara Soekarno...
Janah mengedarkan atensinya ke setiap tempat. Ia mencari sosok yang baru saja fotonya dikirim Teja. Pertemuan ini memang pertama kali buat Janah dan Tasheen. Namun, Tasheen sudah mengenal jauh sosok Janah melalui Teja yang selalu membicarakannya.
To Be Continued...
1605 kata
Sebenarnya bagian ini adalah bagian terpanjang, tapi.. Ada tapinya gays..
Ceritanya author potong jadi dua. Soalnya kepanjangan hampir 3k kata. Jadi author dabel apdet!!
Responnya dong, hiks!. Seenggaknya vote doang, ok! Pembacanya banyak, tapi yg vote cuma satu njir!. Menyesakkan sekali hidupmu tor! Au ah gelap! Kek hati.
Oke, siyu gaes..
Hadriansyah Varun Irsyad (VARUN KAPOOR)
Luthfiyana Shiny Nabilah (SHINY DOSHI)
Janah Helly Fadillaisyah (HELLY SHAH)
Davino Namish Irsyad (NAMISH TANEJA)
Ralyn Teja Fadillaisyah (TEJASSWI PRAKASH)
Khyati Tuzzahra Irsyad (KHYATI MANGLA)
Amar Zulfatin Irsyad (AMAR SHARMA)
Soni Trisnawati Irsyad (SONICA HANDA)
Shalini Isna Irsyad (SHALINI KAPOOR SAGAR)
Sachin Affan Fadillaisyah (SACHIN TYAGI)
Pari Eileen Fadillaisyah (PARINEETA BORTHAKUR)
Jum'at, 22 Januari 2021
Orang yg membuat Varun dan Shiny bertengkar.
linar_jha2