Kalau sama pria ini mah aku ngalah. Lihatlah tatapan matanya itu. Membuat aku mau bergerak saja serba salah.
"Apalagi yang kamu tunggu Dis? Cepat masuk ke dalam. Tukar baju kamu dan jangan lupa, cuci mulut kamu itu. Ibu malu lihatnya. Masih ada bekas es krimnya."
"Baik Bu."
Aku berjalan pelan menuju kamar ku yang ada di lantai atas. Masih terdengar ayah dan ibu mengajak dosen killer itu untuk duduk dan bercerita.
"Maaf Al, Kamu pasti kaget melihat kelakuan dan sifat anak kami. Disha anaknya memang begitu. Kamu jangan kaget yah."
Harusnya yang kaget tuh aku. Bukan dosen killer itu.
Bagaimana aku harus berkelakuan baik di depannya. Sedangkan semua sifat dan kelakuan ku dia sudah tau. Aku harus bagaimana sekarang.
Aku sudah mengatakan setuju dengan perjodohan ini. Kalau menolak lagi, ayah dan ibu bakalan malu. Dan, aku tidak akan sanggup melihat wajah kedua orang tua yang menatap ke arah ku dengan tatapan kecewa. Kalau begini mau tidak mau, dengan terpaksa menerima perjodohan ini. Aku sangat tidak menyangka dosen killer itu yang akan menjadi Suamiku nanti.
"Hentikan apa yang ada di pikiran kamu itu!Jangan pernah kamu batalkan perjodohan ini lagi. Saya tidak ingin membuat ibu saya kecewa."
Astagfirullah. Aku sangat kaget melihat dosen killer ini berdiri di tengah-tengah pintu kamarku. Dan lagi kok bisa dia menebak apa yang aku pikirkan.
" Sejak kapan bapak berdiri di situ?"
"Sejak kamu sibuk memikirkan ingin membatalkan lagi perjodohan ini. Dan satu lagi, saya bukan bapak kamu atau bapak dosen kamu! saya adalah calon suami kamu. Jadi mulai saat ini, detik ini. Panggil dengan nama saya, KENZO!"
Seketika aku langsung menelan air liurku. Berhadapan sama manusia satu ini selalu membuat ku takut. Tatapan mata yang sangat tajam membuat ku merasa di sekitarku terasa sangat dingin..Hiii.. Dasar dosen killer.
Dan tadi dia menyuruhku memanggilnya Kenzo? iyah Kenzo si manusia Kutub Utara.
"Cepetan! ibu memanggil kamu untuk segera turun!"
Dan sekarang dia sudah memanggilku ibuku dengan sebutan ibu juga. Wow..
" Tunggu dulu! Sejak kapan bapak tau kita di jodohkan? sudah lama atau baru saja?
"Apa itu penting?"
" Yah sangat penting lah. Berarti selama ini bapak memang sengaja ngikutin saya kan?"
"Memang apa untungnya bagi saya ngikutin kamu. Saya juga punya pekerjaan dan kesibukan yang sangat padat. Tentang perjodohan ini. Saya sudah tau sejak lama. Sejak saya masih kuliah di luar negeri. Saya sampai bosan tiap minggu dikirimin foto kamu di hp saya. Ternyata benar, foto bisa sangat menipu! Dan lagi saya sudah mengatakan pada kamu untuk memanggil saya KENZO!! jika kamu salah memanggil nama saya lagi, kamu akan dapatkan hukumannya!"
"Memangnya kamu akan memberikan saya hukuman apa? Kamu tidak akan berani macam-macam di rumah saya. Tepatnya di dalam kamar saya."
Aku mengira dia takut dengan kata-kataku tadi. Ternyata tidak ..Dengan sangat santai dia secara perlahan berjalan masuk ke dalam kamarku. Aku yang melihatnya pun pelan-pelan mengundurkan diriku. Terus undur dan berhenti di tembok kamar. Duh mampus!! mau lari ga bisa. Dia sudah berdiri di depanku. Dia mendekat dan tangannya di taruh di tembok kamarku. Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik.
"Coba saja kamu panggil saya bukan dengan panggilan yang saya suruh. Saat itu saya akan langsung menghukum mu dengan cara yang paling saya suka, Apa kamu ingin. mengetahuinya? Aku akan mencium bibirmu Ayudisha."
Sekuat tenaga aku langsung mendorongnya. Apa mau menciumku!! jangan mimpi!! Tanganku menyentuh dadanya yang lebar dan sangat berotot. Manusia ini sangat rajin olahraga. Astaga, Kok aku tiba-tiba mengaguminya.. Sadar.. sadar.
"Kamu itu gila yah! Enak saja mau cium-cium! Belum juga jadi suami istri."
" Ohh.. oke..saya akan bicara kepada orang tua kita agar secepatnya menikah kan kita! Dan seminggu lagi, akan aku pastikan kamu menjadi istriku."
"Uhhh..dasar cowok nggak laku-laku! Segitu ingin sekalinya menikahiku!"
Aku tertawa mengejeknya agar dia marah dan ikut membatalkan perjodohan dan rencana pernikahan kami.
" Itu kamu tau sejelek apa kamu di mataku. Karena kasihan sama kamu yang nggak laku-laku. Makanya aku setuju saja mau di jodohkan dan di nikahkan sama kamu!"
Ih, dasar dosen killer. Apa? terpaksa? yang ada aku yang terpaksa mau di jodohkan sama dia. Nyebelin banget sih jadi cowok.
Emang sih cakep, tapi kalau bicara suka nyakitin hati. Bisa-bisa sesudah menikah aku makan hati terus. Di lihat dari wajahnya yang sedekat tadi. Memang aku akui dia sangat-sangat sempurna! Sadar Disha! Ya Tuhan. Jangan sampai aku terpesona dan tertipu dengan wajahnya.
"Apalagi yang kamu tunggu! Ayo ke bawah. ibu sudah menunggu. Ingat dan ikuti peraturan saya Ayudisha! Tapi kalau kamu tidak mengikuti dan melanggarnya. Kamu akan tau akibatnya. Kamu pasti tau kan apa yang akan saya lakukan terhadap kamu?"
Dasar Cowok, pria killer!! Setelah dia turun. Aku cepat-cepat mencari jepitan rambutku dan segera turun ke bawah. Aku takut jika nanti dia kembali lagi ke kamarku. Ya Tuhan.. Pertunangan ku di batalkan gara-gara Mas Radit selingkuh. Dan sekarang aku malah di jodohkan dengan manusia kutub utara ini. Setelah menikah nanti bagaimana lah nasib dan hidupku bersamanya.. Belum apa-apa saja aku sudah harus mengikuti peraturannya.
"Kok lama banget sih di atas Dis.. Sampai Al ke atas lagi panggilkan kamu. Kamu tidur? Maaf yah, Al. Disha itu kalau sudah tidur sangat susah di bangunin."
"Disha tidak tidur ibu. Disha tadi lagi lihat hasil lukisan murid-murid yang di bawa pulang."
Tidak mungkin kan aku jujur pada ibu, kalau manusia kutub utara itu bicara panjang lebar kepadaku. Lihatlah wajahnya. Dengan siapapun bisa dia tersenyum. Tapi kalau denganku. Beghh, wajahnya langsung datar. Tidak ada senyuman yang dia perlihatkan.
"Bagaimana Al, Kemarin ibu kamu sudah ada beritahu kamu ga rencana kami para orang tua?'
" Alhamdulillah sudah Om.
"Oia kampus tempat kamu ngajar itu sama dengan kampus tempat Disha kuliah dulu."
Bukan cuma tempat dia kerja pah, tapi sekalian kampus itu punyanya dia. Ingin ku katakan begitu di hadapan ayahku. Tapi melihat sorot mata si manusi Kutub itu aku urungkan lagi niatku memberitahu ayah.
"Iyah kah, Om? Disha ambil jurusan apa?"
"Jurusan seni. Tapi Disha agak telat sih karena skripsinya lambat di setujui oleh dosen pembimbingnya. Kata Disha dosennya itu killer. Pemarah, kepala botak dan perutnya buncit. Iya kan Dis, kamu pernah cerita begitu kok?"
Mampus! Kok ayah ingat kata dan ucapan ku waktu itu. Duhh, Ikutkan hati ingin ku tutup saja mulut ayah biar tidak membahas lagi masa-masa kuliah. Si manusia kutub langsung memegang perutnya dan mengusap kepalanya ke belakang. Kayanya dia merasa deh.. Aku yang ingin ketawa tidak jadi, karena melihat dia yang seketika memandangku.
"Oh.. Wuihh dosen yang mana yah tuh om? ngeri amat sampai di juluki killer! Kepala botak dan perut buncit."
Dia berbicara pada ayah tapi tatapan matanya memandangku dengan sorot yang sangat membuat ku ingin segera pergi dari sini.
" Iyah kan Dis? Dosen siapa namanya Dis? Ayah lupa karena kamu jarang sebut namanya. Cuma yang selalu kamu bilang Dosen killer."
"Siapa yah?Disha lupa he.. he.. he.. Ayah, Ga usah bahas tentang kuliah Disha yang dulu lah. Kan sudah lewat juga. Bahas yang lain saja."
"Iyah deh... ke topik utama aja.. kamu kan sudah ketemu anak Om nih, Menurut kamu bagaimana Al? Apa kamu ingin tetap seperti rencana kami, atau kamu mau ini di batalkan saja? Karena bagaimanapun nanti yang menjalani kan kalian berdua. Walaupun kami sudah kembali menjodohkan kalian, tapi jika saat ini kamu punya kekasih atau pilihan yang lain kami tidak masalah. Karena kami juga pernah menolak perjodohan ini jadi kami mengerti. Om cuma tidak mau kamu terbebani dengan keinginan kami para orang tua."
Harusnya ayah bertanya itu kepada ankmu ini. Buka kepada si manusi kutub...Aku ini yang merasa terbebani ayah ku tersayang.
"Tidak Om. Saya tetap ikut sama pilihan para orang tua. Justru saya malah inginnya perjodohan ini di cepat kan saja. Maksud saya acara pernikahannya. Nanti sepulang saya dari sini saya akan menyuruh kedua orang tua saya naik melamar secara resmi."
Seketika mataku melebar! Ini gila! Sangat gila! ishh.. Dia benar-benar mengatakan apa yang dia ucapkan tadi di kamarku! Kalau begini aku bakalan jadi menikah dengannya. Padahal tadi aku berharap, sangat berharap malah. Saat ini giliran dia yang menolak perjodohan ini. Tapi malah sekarang sebaliknya. Dia juga ingin pernikahannya di segerakan.
Dasar manusia kutub utara. Apa dia tidak tau bagaimana perasaan ku terhadapnya? Main bicara saja acara nikahnya di segerakan. Aku ga mau menikah dulu. Tapi melihat ayah dan ibuku yang sepertinya sangat mendukung keputusan si manusia kutub utara ini.
" Wuihhh.. Bagus.. Bagus dan hebat! Kamu memang anak yang berbakti sama orang tua. Jawaban kamu yang tegas dalam mengambil sebuah keputusan sangat hebat. Jauh sekali berbeda dengan ayahmu yang sukanya bicara nggak serius ha.. ha.. ha.. Baik, akan Om tunggu telfon dari kedua orang tuamu!"
"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu om, tante."
"Baiklah. Sampaikan salam kami kepada kedua orang tuamu yah Al. Hati-hati kalau berkendara tuh!"
" Baik Om. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Dis, Sana hantar Al sampai ke mobilnya. Kamu sama calon suami sendiri kok begitu?"
" Ishh.. Dia bisa bu berjalan sendiri ke mobilnya. Dari sini ke mobilnya itu sangat dekat. Ngapain pakai di hantar segala?"
"Nih anak! Cepat!"
Mata ibu langsung melotot melihatku. Aku pun segera berdiri dan ikut berjalan di belakang si manusia kutub utara itu. Tiba-tiba dia berhenti berjalan, dan itu membuatku langsung menabrak belakang punggungnya. Aduh, jidatku jadinya sakit kan.
Seperti menabrak batu es! Seketika aku memandang ke punggungnya yang lebar dan keras itu. Apa aku akan kedinginan jika menyentuhnya. Ya ampunn.Sadar Dis! Ingat, jangan terpesona Disha! jaga batas!
"Aduh,.kenapa berhenti sih? Sakit tau ga jidatku terantuk punggung kamu!"
" Kamu itu kalau jalan hati-hati. Asal jalan ga lihat dulu ke depan! Yah jelas saya berhenti. Ini sudah di samping mobil saya. Kamu itu yang ngapain ikut terus di belakang? kamu mau ikut ke rumah saya?"
"Siapa yang mau ikut! Ga ada yang mau ikut sama kamu.
" Nanti juga kamu bakalan ikut dengan saya Ayudisha.. Ingat, Sebentar lagi kamu akan menjadi istri saya!. Dan setelah kita menikah, saya ingin kita menempati rumah yang sudah saya sediakan buat kita tinggali!! seorang istri itu ikut kemanapun suaminya pergi. Kecuali ada hal yang tidak bisa di ungkapkan, baru kamu akan ku tinggalkan di rumah. Mengerti?"
Tidak tau kenapa aku pun mengangguk-anggukkan kepalaku tanda mengerti. Dasar tukang paksa. Manusia kutub utara.