Sentuhan Naka

917 Words
Dua hari berlalu begitu saja. Tubuh Shinta kini sudah jauh lebih segar. Demamnya turun sepenuhnya, hidungnya tak lagi tersumbat, dan tenaganya pun perlahan kembali pulih. Namun yang paling berubah bukan sekadar kesehatannya — melainkan cara pandangnya terhadap sosok Pak Naka. Setiap kali ponselnya berdering, setiap kali pesan masuk dari nama itu, jantungnya kini berpacu bukan lagi karena segan sebagai bawahan, melainkan karena getaran halus yang mulai terasa nyata di dadanya. Pagi hari saat ia kembali melangkah masuk ke gedung perkantoran, langkahnya terasa sedikit berbeda. Ada rasa gugup yang menyelinap di sela rasa rindu yang tak disangka-sangka. Begitu sampai di depan ruangan direktur, Shinta menarik napas panjang sebentar, lalu mengetuk pintu pelan. "Masuk." Suara berat yang sudah begitu dikenalnya terdengar dari balik pintu. Shinta mendorong pintu perlahan, melangkah masuk dengan wajah yang sedikit tertunduk malu. Naka sedang berdiri membelakangi pintu menatap jendela besar. Saat mendengar langkah kaki itu, ia berbalik perlahan. Tatapan matanya yang biasanya tajam kini melembut seketika begitu jatuh pada sosok perempuan yang berdiri tak jauh dari sana. "Sudah sehat?" tanyanya pelan, namun nadanya terdengar begitu dalam seakan memeriksa sesuatu yang paling berharga di dunianya. Shinta mengangguk pelan sambil meremas ujung tas tangannya. "Sudah, Pak. Maaf kemarin meninggalkan pekerjaan." Naka melangkah mendekat perlahan. Setiap langkahnya terasa tenang namun membuat napas Shinta seakan tertahan. Ia berhenti tepat di hadapan perempuan itu, berdiri cukup dekat hingga Shinta bisa mencium samar aroma wangi khas tubuhnya yang selalu membuat kepalanya sedikit pening. "Pekerjaan bisa menunggu," ucap Naka rendah sambil menatap lurus ke dalam manik mata Shinta. "Tapi kamu... aku tidak sabar menunggumu pulih." Wajah Shinta seketika memerah merona hingga ke pangkal telinga. Ia berusaha memalingkan wajah sedikit, namun tangan Naka bergerak lebih dulu. Ibu jarinya menyentuh pelan sudut pipi Shinta, mengusapnya lembut dengan sentuhan yang begitu halus namun membuat seluruh tubuh perempuan itu seakan melemas. "Pipi kempes sedikit..." gumam Naka pelan, matanya menatap bibir mungil itu sesaat sebelum kembali menatap matanya. "Besok jangan lupa makan yang banyak. Aku tidak suka melihatmu kurus begini." Sentuhan itu, tatapan itu, jarak yang terasa begitu dekat... membuat lutut Shinta terasa tak bertulang. Ia bisa merasakan hangatnya napas Naka yang memburu pelan di wajahnya. Tatapan mata laki-laki itu kini tak lagi menyembunyikan apa pun. Ada kerinduan yang mendalam, ada kekaguman yang tak disembunyikan, dan ada kilatan gelap yang membuat jantung Shinta berpacu liar. "P-Pak..." suaranya tercekat nyaris tak terdengar. "Bapak..." Naka tersenyum tipis, senyum yang terasa begitu memikat sekaligus menantang. Jemarinya turun perlahan dari pipi, menyentuh pelan garis rahang, lalu berhenti tepat di bawah dagu Shinta, mengangkatnya sedikit hingga tak ada alasan bagi perempuan itu untuk menunduk lagi. "Kenapa selalu malu begitu?" bisiknya semakin merendah, wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka hampir saling bersentuhan. "Padahal kemarin saat di telepon... suaramu terdengar begitu manja. Membuatku hampir saja menyetir ke apartemenmu tengah malam hanya untuk melihatmu." Shinta menahan napas. Matanya membelalak tak percaya mendengar pengakuan itu. Tatapan mata Naka kini turun perlahan menatap bibirnya yang sedikit terbuka menahan napas. Ibu jarinya mengusap pelan bibir bawah Shinta dengan sentuhan yang begitu halus namun terasa membakar kulitnya. "Begitu ingin aku memelukmu..." bisik Naka parau, suaranya terdengar berat dan penuh getaran yang membuat bulu kuduk Shinta seketika meremang. "Begitu ingin aku menciummu sekarang... agar kamu tahu betapa aku merindukanmu dua hari ini." Shinta menutup matanya rapat-rapat, napasnya memburu tak beraturan. Seluruh tubuhnya terasa panas merona. Ia tak menolak. Tak pula menjauh. Karena di lubuk hatinya yang terdalam... ia pun menginginkan hal yang sama. Merasakan isyarat yang diberikan perempuan itu, Naka tersenyum tipis di sela hening. Ia tidak langsung mencium bibirnya. Alih-alih, ia mendekatkan bibirnya tepat di tepi telinga Shinta, menyisakan sentuhan napas hangat yang membuat seluruh tubuh perempuan itu menggigil halus. "Kamu tahu, Shinta..." bisiknya pelan namun begitu jelas terdengar di telinga yang sensitif itu. "Setiap kali melihat bibirmu yang merah merona begini... aku rasanya ingin segera mengecupnya habis. Membuatmu memanggil namaku bukan sebagai Pak Naka... melainkan dengan panggilan yang jauh lebih manja dan milikku seorang." Tangan Naka perlahan melingkar di pinggang ramping itu, menarik tubuh Shinta semakin rapat menempel pada tubuh kekarnya. Shinta merasakan detak jantung Naka yang berpacu sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri. Tangan besar itu merambat naik perlahan dari pinggang, menyentuh punggungnya dengan sentuhan yang penuh kekaguman sekaligus kepemilikan yang tak bisa ditolak. "Dan setiap kali kamu menatapku dengan mata bersinar begitu..." lanjut Naka sambil kembali menatap wajahnya lekat-lekat, jarinya kini memainkan pelan helaian rambut yang jatuh menutupi pipi Shinta. "...aku rasanya ingin mengurungmu di ruangan ini seharian. Tidak membiarkan siapa pun melihat senyummu yang begitu memikat itu selain aku. Kamu milikku, Shinta. Sadarilah itu. Sejak lama hatiku sudah memilihmu." Shinta membuka matanya perlahan. Menatap manik mata Naka yang begitu dalam dan penuh gairah yang tertahan. Ia melihat betapa sulitnya laki-laki itu menahan diri di hadapannya. Dan kesadaran itu justru memberinya keberanian yang tak disangka-sangka. Dengan napas yang masih terasa berat, Shinta mengangkat kedua tangannya perlahan, meletakkannya di d**a bidang Naka yang terasa memanas. "Kalau begitu..." suaranya bergetar pelan namun mantap. "Kalau Bapak menginginkannya... mengapa belum melakukannya?" Naka terdiam seketika. Menatap bibir mungil itu yang kini terbuka menantang. Ada keraguan yang lenyap seketika dari tatapannya. Perlahan, tanpa lagi menahan diri, ia menunduk pelan menyatukan bibir mereka dalam kecupan yang lembut namun penuh gairah yang tertahan sekian lama. Tangan di pinggang Shinta mempererat pelukannya, menekan tubuh perempuan itu semakin rapat hingga tak ada lagi celah yang tersisa. Dan saat itu... Shinta menyadari sepenuhnya. Bahwa di balik sikap tegas dan wibawanya, Pak Naka adalah laki-laki yang memendam rasa begitu dalam sekaligus hasrat yang hanya hembuskan untuknya seorang saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD