Semakin Nikmat

1774 Words
Ciuman itu baru saja usai, namun napas mereka masih beradu berat dan hangat. Shinta memejamkan matanya rapat-rapat, d**a naik turun tak beraturan. Sensasi lembut dan panas yang tertinggal di bibirnya seakan membakar kesadaran. Saat membuka mata perlahan, ia mendapati Naka masih menatapnya lekat-lekat, napasnya sama berat, manik matanya gelap dan dalam menyembunyikan gairah yang baru saja terlepas sedikit saja. Jantung Shinta berpacu liar. Tatapan mata laki-laki itu begitu menguasai, begitu memilikinya seutuhnya. Dan di detik itu, tiba-tiba rasa takut menyergap hatinya. Takut ini hanya momen sesaat. Takut kalau Naka hanya terbawa suasana lalu kembali bersikap seperti atasan dinginnya besok pagi. Takut kalau ia akan kehilangan perhatian dan kehangatan ini begitu saja. Rasa takut itu justru melahirkan keberanian yang tak disangka-sangka. Daripada diam menunggu kepastian yang entah kapan datangnya, Shinta memilih melangkah lebih dulu. Ia tak mau menyesal kemudian. Tangan kecilnya yang tadi masih gemetar kini perlahan naik, menyusuri d**a bidang Naka yang terasa panas di balik kemeja rapi itu. Jemarinya menyentuh kancing paling atas yang terbuka, lalu perlahan merambat naik melingkar di leher kekarnya. Tubuhnya ikut maju mendekat, menyisakan jarak nyaris tak ada di antara mereka. Wajahnya mendongak menatap tajam ke manik mata Naka, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum yang malu-malu namun berani. "Pak..." suaranya terdengar lembut namun penuh getaran yang sengaja dibuat menjalar ke seluruh tubuh laki-laki di hadapannya. "Tadi Bapak bilang... ingin menciumku?" Naka mengerjap pelan. Ia sedikit tertegun melihat perubahan tatapan mata Shinta yang mendadak berani menatapnya lurus tanpa lagi menunduk malu. Jemarinya yang menyentuh kulit lehernya membuat napasnya tercekat pelan. "Ya..." jawab Naka parau, suaranya terdengar berat. "Dan aku baru saja melakukannya." Shinta tersenyum tipis. Ia menarik sedikit ujung bibir bawahnya, lalu perlahan berjinjit sedikit mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka nyaris bersentuhan kembali. Matanya tak lepas menatap manik mata Naka yang perlahan melebar terkejut. "Kalau begitu..." bisik Shinta pelan tepat di bibir Naka, napas hangatnya menyapu lembut. "Jangan cuma sekali saja. Kalau Bapak menginginkanku... miliki aku sepuasnya sekarang. Jangan tahan-tahan lagi." Naka tersentak pelan. Matanya menatap lekat wajah perempuan itu seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun belum sempat ia menyahut, bibir lembut itu kembali menempel menyentuh bibirnya. Kali ini bukan ciuman penurut yang pasrah menunggu. Shinta menciumnya perlahan namun sengaja, bibirnya bergerak lincah membelai lembut bibir Naka, sesekali menggigit pelan ujung bibir bawahnya lalu menyedotnya perlahan seakan tak ingin melepaskan sedikit pun. Tangan di lehernya semakin menarik wajah Naka mendekat, memperdalam sentuhan itu dengan berani seakan ingin menyampaikan satu hal — ia tak mau melepaskan. Ia tak mau kehilangan. Naka mendesis pelan di sela ciuman itu. Kesabarannya yang sedari tadi ditahan perlahan runtuh seketika. Tangan besarnya yang semula hanya menahan pinggang ramping itu kini tiba-tiba mempererat pelukan, menekan tubuh Shinta sepenuhnya menempel pada tubuh kekarnya hingga tak ada lagi celah yang tersisa. Balasan ciumannya kini tak lagi lembut dan hati-hati. Ia menciumnya dalam, lapar, penuh kepemilikan yang tak bisa lagi disembunyikan, seakan ingin menelan utuh keberanian manja perempuan itu. Shinta sedikit berusaha bernapas saat Naka sesaat melepaskan ciumannya namun wajahnya tetap menempel dekat. Matanya menatap mata Naka yang tampak gelap dan memancarkan gairah yang memuncak. Bibirnya yang kini tampak merah merona dan sedikit bengok justru tersenyum miring menantang. Tangannya turun perlahan menyusuri d**a bidang itu, lalu berhenti tepat di sana, jemarinya memainkan kancing kemeja dengan sengaja. "Kenapa berhenti, Pak..." bisiknya pelan, bibirnya menyapu sudut bibir Naka lalu turun mencium rahang tegas itu pelan. "Bapak takut? Atau... Bapak ragu padaku?" Naka mendesah berat. Tangannya mencenggam lembut dagu Shinta, memutar kembali wajahnya agar menatapnya lekat-lekat. Matanya menatap tajam namun penuh emosi yang meluap-luap. "Shinta..." suaranya terdengar serak dan berat hingga membuat lutut perempuan itu lemas. "Kamu tahu apa yang kamu lakukan? Menantangku begitu... kamu tahu bahayanya?" Shinta justru tersenyum semakin manja dan berani. Ia menggeleng pelan, lalu mendekatkan bibirnya tepat di telinga Naka, berbisik lembut namun tegas: "Aku tidak takut bahaya, Pak. Aku hanya takut... Bapak akan pergi meninggalkanku sebelum aku sempat memastikan kalau aku benar-benar milik Bapak. Jadi..." tangannya kembali menarik kerah kemeja Naka mendekat, matanya menatap bibir lelaki itu penuh janji manis. "...kalau aku terlalu berani hari ini... mohon maklumi saja ya. Aku hanya takut kehilangan Bapak." Kalimat terakhir itu terucap begitu tulus, lembut namun menyentuh hati sedalam-dalamnya. Tatapan mata Shinta yang semula penuh gairah kini perlahan menampakkan ketakutan yang selama ini ia sembunyikan. Ketakutan menjadi pihak yang dicampakkan. Ketakutan ditinggalkan begitu saja. Ketakutan bahwa perasaannya mungkin hanya sesaat bagi Naka. Melihat kilat kesedihan samar di mata perempuan itu, hati Naka seketika terasa luluh. Ia kembali menangkup kedua pipi Shinta dengan penuh kelembutan, menatapnya dalam-dalam seakan ingin menanamkan kata-katanya langsung ke dalam hati perempuan itu. "Kamu tidak akan pernah kehilanganku, Shinta." Ucapnya mantap dan tegas. "Dengar baik-baik. Mulai detik ini... aku bukan lagi sekadar atasanmu. Aku laki-lakimu. Dan kamu... kamulah satu-satunya perempuan yang kumiliki. Jangan pernah takut. Jangan pernah merasa takut kehilangan. Karena justru akulah yang setiap hari takut kehilanganmu." Naka kembali menciumnya, kali ini penuh janji yang tak terucap, lembut namun begitu meyakinkan seakan ingin membuktikan setiap kata yang barusan terucap. Tangannya kini mengusap punggung Shinta dengan penuh kasih sayang, sesekali merambat turun ke pinggang lalu kembali naik membelai rambutnya, seakan tak cukup menyentuh. Dan Shinta... perlahan rasa takutnya luluh sepenuhnya, berganti menjadi rasa percaya yang tumbuh semakin kuat. Ia membalas pelukan itu erat, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam dekapan laki-laki yang kini resmi menjadi pelabuhan hatinya. Saat akhirnya mereka melepaskan pelukan perlahan, napas mereka masih terasa berat dan wajah keduanya tampak memerah merona. Naka menatap Shinta dengan pandangan yang tak lagi disembunyikan dari siapa pun. Ia merapikan rambut yang sedikit berantakan di dahi perempuan itu, lalu mengecup keningnya lembut. "Tapi mulai sekarang..." bisik Naka sambil tersenyum tipis namun matanya masih memancarkan sisa gairah yang belum sepenuhnya reda. "Jangan berani-berani menatapku begitu di kantor, Shinta. Kamu tidak tahu... betapa sulitnya aku menahan diri agar tidak menciummu tepat di meja kerjaku setiap kali kamu tersenyum nakal seperti tadi." Wajah Shinta seketika memerah padam kembali. Ia menunduk malu namun sudut bibirnya tak bisa menahan senyum bahagia yang merekah. Ternyata... ia tak perlu takut kehilangan. Karena ternyata, rasa yang dimilikinya ternyata sama besarnya dengan rasa yang dimiliki laki-laki di hadapannya. Keringat halus mulai bermunculan di pelipis Naka saat ia perlahan menindih tubuh mungil Shinta di atas sofa kulit yang luas itu. Kedua sisi tubuh perempuan itu terkunci rapat di antara lengan kekarnya, tak memberi celah sedikit pun untuk menjauh. Napas mereka beradu hangat, saling menyapa di udara yang mendadak terasa begitu panas dan sempit. Shinta mendongak menatapnya, napasnya sudah terengah halus, matanya berbinar basah memancarkan keinginan yang tak lagi disembunyikan. Tangan besar Naka merambat perlahan turun dari bahu, menyusuri lengan halus itu hingga ke pinggang, lalu tanpa ragu sedikit pun, jemarinya menyentuh tepi rok yang menutupi paha putih mulus Shinta. Perlahan namun pasti, ia mengangkat kain itu semakin tinggi, menyingkapnya hingga memperlihatkan kulit yang lembut dan bersih, membuat pandangan mata Naka semakin gelap dan penuh api yang tak lagi bisa dibendung. "Kamu memang nakal sekali..." bisik Naka parau, suaranya terdengar berat dan bergetar tepat di telinga Shinta. "Membuatku tak lagi sanggup menahan diri..." Shinta tak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melengkungkan punggungnya sedikit, mendekatkan tubuhnya lebih erat lagi ke arah Naka, membiarkan tak ada jarak sedikit pun di antara mereka. Saat Naka perlahan menggesekkan tubuhnya ke tubuh Shinta, menyatukan lekuk dan kehangatan itu di balik pakaian yang tersisa, seketika desahan halus lolos dari bibir Shinta. Matanya terpejam rapat, bibirnya sedikit terbuka, wajahnya memerah padam namun justru terlihat semakin menggoda dan seksi di bawahnya. "Mmm..." rintihnya pelan, napasnya terasa memburu. Gesekan itu terasa begitu nikmat, membakar seluruh kesadaran mereka berdua. Naka mendesis pelan, menahan napas sejenak saat merasakan kelembutan dan kehangatan itu menyambutnya. Ia menggerakkannya perlahan, menambah tekanan sedikit demi sedikit, mendengar setiap desahan halus yang keluar dari bibir Shinta. Melihat wajah perempuan itu yang tampak begitu terbuai, begitu menikmati sentuhannya, membuat hasrat di d**a Naka semakin meluap tak terkendali. Tangan besarnya kini merambat semakin berani, menyentuh dan membelai setiap lekuk tubuh yang terasa semakin mendekapnya dengan penuh kerinduan. "Begitu enak, Sayang..." bisik Naka di sela napasnya yang memburu berat, gerakannya semakin terasa dan semakin nikmat bagi keduanya. "Kamu terasa begitu milikku... begitu pas..." Shinta hanya bisa memejamkan matanya rapat, tangannya mencenggam erat bahu Naka, kakinya perlahan melingkar di pinggang laki-laki itu, meminta lebih, mendesah semakin panjang dan halus seiring setiap sentuhan yang mereka rasakan bersama. Wajahnya tampak membasahi keringat halus, bibirnya merah merona dan sedikit bengkak, tatapan matanya sayu namun penuh keinginan yang begitu nyata. Pemandangan itu sungguh membakar kesabaran Naka hingga hampir tak tersisa sedikit pun. Ia siap melangkah lebih jauh, menyatukan mereka sepenuhnya saat— Kriing... kriing... Suara dering telepon di atas meja kerja memecah kesunyian ruangan itu nyaring dan tajam. Naka menghentikan gerakannya seketika. Napasnya masih terengah berat, dadanya naik turun menahan gairah yang baru saja memuncak. Ia mengerjap pelan, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang hampir lenyap sepenuhnya. Shinta pun membuka matanya perlahan, masih tampak linglung dan terbuai, napasnya masih tersengal halus, menatap wajah Naka dengan tatapan yang masih meminta lebih. Telepon itu terus berdering. Naka menatap layarnya sekilas, lalu kembali menatap wajah Shinta yang masih memerah dan tampak begitu menggoda di bawah tubuhnya. Dengan susah payah, ia menarik sedikit tubuhnya, namun tak sepenuhnya bangkit. Ia menangkup pipi Shinta yang masih terasa panas, menatap mata perempuan itu dalam-dalam dengan napas yang masih memburu berat. "Telepon dari kantor pusat..." bisik Naka parau, suaranya masih terdengar berat dan penuh sisa hasrat yang belum terpuaskan. Ia menurunkan kembali rok Shinta perlahan, merapikannya seadanya, lalu menatap bibir perempuan itu yang masih basah dan merah merona. "Aku harus menjawabnya sekarang..." Shinta mengerjap pelan, baru sepenuhnya sadar. Ia tampak kecewa namun tak berani berkata apa-apa, hanya menatap Naka dengan mata yang masih berkaca-kaca dan bibir yang masih sedikit cemberut manja. Naka tersenyum tipis melihat ekspresi itu. Ia kembali mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka hampir bersentuhan, lalu berbisik pelan namun penuh janji yang tegas dan mendalam: "...Nanti malam aku ke apartemenmu." Kalimat itu terasa begitu jelas dan penuh makna yang tak perlu dijelaskan lebih lanjut. Mata Shinta seketika berubah. Kekecewaannya lenyap seketika, berganti menjadi senyum tipis yang perlahan merekah di bibir merahnya. Senyum yang terlihat begitu manis namun sekaligus terlihat menggoda dan penuh arti. Ia mengangguk pelan, lalu perlahan mengangkat tangannya, menyentuh wajah Naka dengan sentuhan lembut namun penuh janji yang sama. "Tunggu aku, ya..." bisik Shinta pelan, suaranya terdengar lembut dan binal sekaligus, membuat Naka kembali menahan napas seketika. Naka mengecup keningnya sekilas dengan cepat namun penuh kehangatan, lalu perlahan bangkit berdiri. Sebelum beranjak menjawab telepon, ia menatap Shinta sekali lagi, menatap senyum nakal yang masih tersungging di bibir perempuan itu, dan dalam hati ia sudah berjanji — malam nanti tak akan ada yang bisa mengganggu mereka berdua lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD