Rapat yang berlangsung hampir tiga jam akhirnya selesai juga. Begitu melangkah keluar dari gedung, Shinta langsung mengembuskan napas panjang, seolah melepaskan segala rasa lelah yang menumpuk.
“Akhirnya terasa lega sekali rasanya.”
Naka yang berjalan di sampingnya melirik sekilas dengan tatapan lembut. “Lelah sekali?”
“Sedikit saja,” jawab Shinta sambil tersenyum tipis.
“Sedikit atau banyak?” goda Naka pelan.
Shinta tertawa kecil. “Bapak ini suka sekali menanyakan hal yang sama ya.”
“Karena jawabanmu selalu berubah-ubah tergantung suasana hatimu,” balas Naka santai.
“Ya wajar saja, kan tergantung situasinya,” ujar Shinta.
Naka mengangguk perlahan. “Kalau saat ini bagaimana? Lelahnya masih terasa berat?”
“Masih terasa lelah… tapi di sisi lain juga terasa sangat senang,” jawab Shinta dengan tulus.
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena presentasinya berjalan lancar dan memuaskan, bukan?”
“Itu semua berkat kerja kerasmu juga,” sahut Naka memuji.
Shinta segera menggeleng. “Bukan hanya saya saja. Ini hasil kerja sama tim. Tanpa bimbingan dan arahan Bapak, kami mungkin tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu sebaik ini.”
Naka hanya tersenyum melihat kerendahan hati wanita itu.
Mobil yang akan menjemput mereka sudah terparkir rapi di depan pintu keluar. Sopir segera turun dan membukakan pintu.
“Pak, langsung kembali ke hotel saja?” tanya sopir itu.
Naka melirik jam tangannya sebentar. Jarum jam baru menunjukkan pukul dua siang. Ia lalu menoleh menatap Shinta.
“Masih ada jadwal penting yang harus diselesaikan hari ini?”
Shinta membuka tablet kecil yang selalu ia bawa, lalu mengecek daftar kegiatannya. “Tidak ada lagi, Pak. Klien tadi juga sudah menyampaikan bahwa penandatanganan kontrak baru akan dilakukan besok pagi.”
Naka mengangguk pelan. “Kalau begitu… kita langsung kembali saja?”
Shinta balik menatapnya dengan sedikit rasa penasaran. “Memangnya ada rencana lain?”
“Sayang sekali rasanya,” jawab Naka sambil tersenyum tipis.
“Sayang apa, Pak?”
“Sudah jauh-jauh datang ke Bali, tapi waktunya hanya dihabiskan di dalam ruangan rapat dan kamar hotel saja. Terasa kurang lengkap rasanya.”
Shinta tertawa kecil mendengarnya. “Jadi Bapak ingin berkeliling sebentar menikmati suasana?”
“Boleh saja kalau kamu juga bersedia.”
“Benarkah boleh?”
“Tentu saja.”
Shinta terlihat ragu sejenak. “Tapi… nanti dikira perjalanan dinas ini malah berubah menjadi liburan pribadi saja bagaimana?”
Naka tersenyum lebih lebar. “Tenang saja. Klien sendiri yang menyarankan agar kami menyempatkan waktu sejenak untuk menikmati keindahan pulau ini. Anggap saja sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras kita selama ini.”
Mendengar penjelasan itu, wajah Shinta langsung berseri-seri. “Kalau begitu, saya ikut dengan senang hati.”
“Baguslah kalau begitu.”
Empat puluh menit kemudian, mereka berjalan santai menyusuri kawasan wisata yang ramai namun tetap terasa asri. Berderet toko oleh-oleh dan kafe dengan arsitektur khas Bali berdiri rapi di sepanjang jalan. Suara musik tradisional terdengar samar dari kejauhan, menambah suasana yang terasa damai dan menenangkan.
Shinta terus menoleh ke kanan dan kiri, matanya berbinar menikmati pemandangan di sekitarnya.
“Wah, rasanya sungguh menyenangkan sekali berjalan seperti ini.”
Naka memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil berjalan santai. “Kenapa terasa begitu menyenangkan?”
“Lucu rasanya melihat Bapak yang biasanya sibuk terus, ternyata mau juga meluangkan waktu berjalan kaki seperti ini,” jawab Shinta jujur.
“Memangnya saya terlihat seperti orang yang jarang berjalan kaki?”
“Biasanya Bapak selalu terlihat sibuk: naik mobil, naik lift, lalu langsung masuk ke ruang kerja. Jarang sekali terlihat berjalan santai menikmati suasana luar,” jelas Shinta dengan nada sopan.
Naka tertawa pelan mendengar gambaran itu. “Berarti citra saya di matamu terasa kaku sekali ya?”
“Bukan berarti buruk, Pak,” cepat Shinta membela diri.
“Lalu bagaimana?”
“Terasa sangat disiplin, serius… dan memang terlihat sedikit kaku.”
Shinta segera menutup mulutnya dengan kedua tangan, terlihat khawatir telah berbicara terlalu terus terang. “Maaf, Pak… saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Bapak.”
Namun Naka justru tersenyum hangat. “Tidak apa-apa. Justru saya senang mendengarnya secara jujur.”
“Bapak tidak merasa tersinggung mendengarnya?”
“Memangnya saya sekaku itu di matamu?” tanya Naka sambil tersenyum geli.
Shinta berpikir sejenak sebelum menjawab dengan lembut. “Kalau jujur… lumayan juga rasanya.”
Naka menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Jujur sekali kamu ini.”
“Itu salah satu kelebihan yang Bapak sendiri katakan perlu saya miliki, bukan?”
“Memang benar sekali. Jangan takut untuk berbicara apa adanya,” jawab Naka dengan nada bangga.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan suasana yang semakin santai. Tak lama kemudian, aroma harum rempah dan daging panggang yang khas mulai tercium menguar. Bau sate lilit yang lezat itu langsung menyapa indra penciuman mereka.
Perut Shinta pun berbunyi pelan, cukup jelas terdengar di antara suara keramaian.
Naka langsung menoleh sambil menahan senyum. “Lapar juga rupanya?”
Shinta segera menutupi wajahnya dengan telapak tangan, terasa sedikit malu. “Pak… jangan dibahas ya…”
“Sudah terdengar jelas, bagaimana bisa tidak dibahas?” goda Naka lembut. “Ayo kita cari tempat untuk mencicipi sedikit jajanan khasnya.”
“Tapi tadi baru saja makan siang, Pak,” bantah Shinta pelan.
“Itu sudah dua jam yang lalu. Sudah cukup lama juga,” jawab Naka santai. “Lagipula saya sendiri juga mulai merasa lapar setelah berjalan cukup jauh.”
Shinta akhirnya tertawa lepas, rasa malunya perlahan hilang. “Kalau begitu, baiklah.”
Mereka pun berhenti sejenak untuk membeli beberapa jajanan khas Bali. Saat menggigit sate lilit yang masih hangat, Shinta memejamkan matanya sejenak menikmati rasanya yang lezat.
“Enak sekali rasanya… sungguh berbeda rasanya dengan yang biasa saya temukan di kota,” ujarnya dengan nada puas.
“Segitunya rasanya?”
“Cobalah sendiri, Pak. Pasti Bapak juga akan suka.”
Naka mencoba sedikit dari satu tusuk sate itu. Setelah mengunyah perlahan, ia mengangguk setuju. “Benar juga, rasanya sangat lezat dan memiliki cita rasa yang khas.”
“Kan sudah saya katakan,” sahut Shinta tersenyum senang.
Melihat ekspresi wajah Naka yang biasanya terlihat serius dan datar kini terasa lebih santai dan rileks, membuat hati Shinta ikut terasa tenang dan bahagia.
Namun suasana berubah perlahan. Langit yang tadi cerah ceria kini mulai tertutup awan kelabu yang semakin tebal. Angin pun berhembus lebih kencang, membawa hawa yang terasa sedikit lebih dingin.
Shinta segera mendongak menatap langit. “Pak, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.”
Naka ikut melihat ke atas, lalu mengangguk setuju. “Sepertinya benar sekali.”
Belum sempat mereka bergerak mencari tempat berteduh, tiba-tiba rintik air hujan turun dengan derasnya tanpa aba-aba. Dalam sekejap saja air hujan turun membasahi jalanan.
“Pak, cepat!” seru Shinta sambil tertawa terkejut.
“Lari sebentar saja!”
Shinta segera menutupi kepalanya dengan tasnya, tertawa melihat hujan yang turun begitu tiba-tiba. “Deras sekali rasanya hujannya ini!”
“Ke sana ada tempat berteduh!” tunjuk Naka ke arah sebuah halte kecil di seberang jalan.
Mereka berjalan cepat sambil menghindari guyuran air hujan. Karena jalanan mulai terasa licin, kaki Shinta hampir tergelincir dan kehilangan keseimbangannya.
“Aduh!”
Secara refleks, tangan Naka segera menangkap pergelangan tangan Shinta dengan erat namun lembut, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Hati-hati, jalannya sudah licin,” ucap Naka dengan nada khawatir namun tenang.
“Terima kasih banyak, Pak… hampir saja terjatuh,” jawab Shinta sambil mengatur napasnya.
Akhirnya mereka berhasil sampai di bawah atap halte itu. Meskipun sudah berteduh, pakaian dan rambut mereka sebagian sudah terasa basah terkena air hujan. Rambut Shinta yang basah sedikit menempel di pipinya, membuatnya terlihat lebih sederhana namun tetap lembut.
Ia mengusap wajahnya dengan tangan sambil tersenyum. “Padahal tadi cuacanya terlihat sangat cerah sekali, tiba-tiba berubah menjadi begini.”
Naka mengeluarkan selembar sapu tangan yang bersih dari saku jasnya, lalu menyodorkannya ke arah Shinta. “Ini gunakanlah untuk mengeringkan sedikit wajah dan rambutmu.”
Shinta menerimanya dengan hati-hati. “Terima kasih, Pak. Tapi nanti sapu tangannya menjadi basah dan kotor karenaku.”
“Tidak apa-apa, itu hal yang sepele saja,” jawab Naka lembut.
“Benarkah tidak keberatan?”
“Tentu saja tidak.”
Shinta mulai mengeringkan wajah dan lehernya perlahan. Beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai merasakan hawa dingin yang masuk, membuatnya bersin pelan.
“Hasyii…”
Naka langsung menoleh dengan tatapan yang semakin terlihat khawatir. “Sudah mulai terasa kedinginan bukan?”
“Tidak apa-apa, Pak… hanya sedikit saja,” jawab Shinta berusaha tersenyum.
“Jangan berbohong. Sudah bersin begitu berarti tubuhmu sudah mulai menahan dinginnya udara,” ujar Naka lembut namun tegas.
“Benar hanya sedikit saja. Biasanya memang begini rasanya kalau kehujanan sebentar.”
“Hasyii…” Sekali lagi Shinta bersin.
“Nah, sudah terbukti kan,” kata Naka sambil menghela napas panjang. “Ayo kita segera bergerak lagi.”
“Mau ke mana lagi, Pak? Hujannya masih sangat deras begini.”
“Kita cari tempat membeli minuman hangat dan obat-obatan ringan, agar tidak sampai terserang demam nantinya.”
“Tidak perlu repot-repot begitu, Pak. Ini hanya bersin biasa saja kok.”
“Lebih baik mencegah daripada mengobati nanti. Tidak mau kan tubuhmu terasa sakit saat kita harus bekerja lagi besok?”
Shinta menatap wajah Naka dengan perasaan yang semakin hangat. Nada bicaranya tetap tenang dan lembut seperti biasa, namun di balik tatapan matanya terlihat perhatian yang tulus dan mendalam.
Tanpa sadar, rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya perlahan terasa hilang tergantikan oleh rasa hangat yang menjalar perlahan hingga ke dalam hatinya.
“Pak Naka benar-benar sangat perhatian sekali ya… rasanya sungguh menyentuh hati,” gumam Shinta pelan, cukup terdengar oleh Naka.