Membela Shinta

1286 Words
Tepat pukul sembilan pagi, mobil yang ditumpangi Naka dan Shinta memasuki halaman kantor pusat perusahaan klien. Gedung kaca setinggi dua puluh lantai itu berdiri megah di tengah Kota Denpasar. Di halaman depan, terlihat beberapa karyawan lalu-lalang membawa map dan laptop menuju tempat kerja masing-masing. Di dalam mobil, Shinta menarik napas panjang secara perlahan. "Pak..." panggilnya pelan. "Hm?" sahut Naka yang sedang membaca jadwal rapat di tabletnya. "Saya merasa deg-degan sekali," jawab Shinta jujur. Naka menoleh sekilas ke arahnya. "Kenapa?" "Ini kan klien yang cukup besar." Naka lalu menutup tabletnya dan menatap Shinta dengan tenang. "Kamu sudah menyiapkan semua materi yang dibutuhkan?" "Sudah, semuanya lengkap." "Dan kamu sudah hafal seluruh data dan isinya?" "Saya sudah hafal betul, Pak." "Kalau begitu, tidak ada yang perlu ditakutkan," ujar Naka meyakinkan. Shinta tersenyum tipis. "Benar juga ya." Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju lobi. Begitu masuk, seorang petugas wanita berseragam langsung menyambut mereka dengan ramah. "Selamat pagi, Pak Naka." "Pagi," jawab Naka singkat. "Ruang rapat sudah disiapkan dan siap digunakan." "Terima kasih." Keduanya melanjutkan perjalanan menuju lantai lima. Begitu pintu ruang rapat terbuka, terlihat beberapa orang sudah duduk mengelilingi meja panjang. Ada Direktur Utama, beberapa manajer, serta kepala divisi yang terkait dengan proyek tersebut. "Selamat pagi semuanya," sapa Naka. "Selamat pagi, Pak Naka," jawab mereka serentak sambil berdiri menyambut. Naka menyalami satu per satu orang yang hadir, sedangkan Shinta mengikuti di belakang sambil membagikan salinan materi presentasi kepada setiap peserta. Saat itulah, salah seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun memandang Shinta dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namanya Andre, Manajer Operasional dari perusahaan klien tersebut. Tatapannya membuat Shinta merasa sedikit tidak nyaman. Andre tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Naka. "Pak Naka..." "Iya?" "Ini sekretaris Bapak?" "Benar." Andre mengangguk pelan. "Masih terlihat sangat muda sekali." Shinta hanya membalasnya dengan senyum sopan. "Selamat pagi, Pak." "Pagi," jawab Andre dengan nada suara yang terdengar datar. Ia kembali menatap Naka dan melanjutkan ucapannya. "Terus terang, saya selama ini mengira tugas seorang sekretaris hanya sebatas mencatat jalannya rapat dan menyajikan minuman atau kopi saja." Suasana ruangan mendadak menjadi hening. Beberapa peserta rapat saling berpandangan seolah menunggu kelanjutan pembicaraan. Shinta tetap berdiri dengan tenang, meski kalimat itu terasa cukup menusuk, ia memilih untuk tetap diam. Namun Andre belum selesai berbicara. "Untuk pembahasan proyek sebesar ini, sebaiknya hanya orang yang benar-benar memahami materi dan detailnya saja yang ikut hadir dalam rapat," ucapannya dengan nada yang jelas ditujukan kepada Shinta. Seorang direktur yang duduk di ujung meja tampak berdeham pelan mencairkan suasana yang mulai terasa canggung. Shinta menarik napas panjang, lalu menenangkan diri dalam hati: Tenang saja, jangan terpancing emosi. Sementara itu, Naka yang sejak tadi sibuk membuka dan menyalakan laptopnya perlahan menghentikan kegiatannya. Ia menutup laptop itu dengan tenang, dan suara klik yang terdengar justru membuat seluruh ruangan menjadi semakin sunyi. Naka menatap Andre dengan tatapan datar namun tegas. "Pak Andre..." "Iya?" "Sebelum Bapak menilai kemampuan seseorang hanya dari jabatannya..." ia berhenti sejenak, "...sebaiknya lihat dulu apa yang bisa ia kerjakan." Andre tersenyum kecil seolah tidak merasa bersalah. "Saya hanya menyampaikan pendapat saya saja." "Dan saya juga akan menyampaikan kenyataannya," jawab Naka tetap tenang namun mantap. "Seluruh materi presentasi yang akan kita bahas hari ini, mulai dari awal hingga akhir, disusun oleh sekretaris saya." Beberapa orang yang hadir langsung saling berpandangan karena terkejut mendengarnya. Andre mengernyitkan dahi bingung. "Maksud Bapak?" "Analisis kondisi pasar, laporan keuangan, perhitungan perkiraan keuntungan, hingga jadwal pelaksanaan dan pengawasan proyek—semuanya dikerjakan bersama tim di bawah koordinasi langsung Shinta." Shinta sendiri sampai merasa sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Naka akan mengatakannya secara gamblang di hadapan semua orang. Naka melanjutkan ucapannya dengan nada yang tetap tenang namun tegas. "Kalau Bapak meremehkannya hanya karena jabatannya sebagai sekretaris..." ia tersenyum tipis, "...berarti Bapak baru saja meremehkan orang yang paling memahami seluk-beluk proyek ini." Suasana kembali sunyi sejenak. Andre terdiam dan tidak menemukan kata-kata untuk membalas. Sementara itu, Direktur Utama justru tersenyum penuh rasa ingin tahu. "Kalau begitu, hal ini menjadi menarik untuk disimak," ujarnya. Ia lalu menoleh menatap Shinta. "Mbak Shinta..." "Iya, Pak?" "Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan." "Silakan saja, Pak." "Jika proyek ini berjalan selama enam bulan, berapa persen perkiraan peningkatan efisiensi operasional di perusahaan kami?" Shinta tidak perlu membuka catatan atau laptop. Ia sudah hafal seluruh datanya. "Dengan sistem yang kami tawarkan, peningkatan efisiensi operasional diperkirakan berada di kisaran delapan belas hingga dua puluh dua persen." "Kalau nanti target penjualan meningkat pesat, apakah sistem ini masih mampu menanganinya?" "Kapasitas sistem ini masih mampu menampung kenaikan aktivitas hingga tiga puluh persen tanpa perlu menambah perangkat server baru." "Bagaimana dengan biaya pemeliharaan pada tahun kedua?" "Biayanya akan turun sekitar lima belas persen, karena sebagian besar lisensi perangkat lunak sudah termasuk dalam paket pembayaran awal." Jawaban yang lugas dan jelas itu membuat beberapa manajer mulai mencatat poin-poin penting. Sementara Andre kini benar-benar diam dan hanya mendengarkan. Direktur Utama kembali mengajukan beberapa pertanyaan lain, dan semuanya dijawab oleh Shinta dengan tenang dan percaya diri. Bahkan sesekali ia menjelaskan grafik serta alur pelaksanaan proyek dengan rinci dan mudah dimengerti. Setelah berlangsung hampir satu jam, sesi presentasi dan tanya jawab pun selesai. Ruangan dipenuhi suara tepuk tangan dari semua peserta rapat. Direktur Utama berdiri dan tersenyum puas. "Presentasi yang sangat baik dan memuaskan. Terima kasih atas penjelasannya." Ia lalu menoleh ke arah Andre. Andre menghela napas panjang, lalu ikut berdiri dari tempat duduknya. "Mbak Shinta..." "Iya, Pak?" "Saya mohon maaf atas sikap dan ucapan saya tadi." Shinta tersenyum ramah. "Untuk apa minta maaf, Pak?" "Saya salah menilai kemampuan Bapak. Saya mengira Bapak hanya ikut mendampingi saja." Shinta terkekeh kecil mendengarnya. "Memang benar saya tugasnya mendampingi Pak Naka, Pak. Tapi ternyata tugas itu tidak hanya sebatas itu saja," jawabnya santai. Semua orang yang hadir ikut tertawa kecil. Suasana yang sempat tegang tadi pun berubah menjadi lebih hangat dan akrab. Setelah rapat selesai, Naka dan Shinta berjalan keluar menuju lobi. Begitu pintu lift tertutup rapat, Shinta akhirnya mengembuskan napas panjang yang terasa menyesakkan di dadanya. "Pak..." "Hm?" "Tadi saya sempat berpikir, Bapak akan diam saja dan membiarkan begitu saja." Naka menoleh menatapnya. "Kenapa harus diam?" "Karena beliau adalah klien kita, Pak." "Meski begitu, klien tetap harus bisa menghargai orang lain dan tidak sembarangan meremehkan kemampuan seseorang," jawab Naka tegas. Shinta tersenyum tulus. "Terima kasih banyak ya, Pak." "Saya tidak sedang membelamu semata-mata," ujar Naka tenang. Shinta mengernyit bingung. "Lho? Maksudnya?" "Saya hanya menyampaikan kenyataan yang sebenarnya." Kalimat sederhana itu membuat Shinta terdiam sejenak. Entah kenapa, dadanya terasa hangat dan nyaman. Jarang sekali ia menemukan atasan yang menghargai kemampuan bawahannya sebaik itu. Mereka pun keluar dari gedung. Angin pagi berembus pelan membawa udara segar. Naka melirik jam tangannya. "Jam makan siang masih lama memang." "Iya, masih sekitar dua jam lagi." "Tapi perut saya sudah terasa lapar," ujar Naka sambil tersenyum tipis. Shinta ikut tertawa mendengarnya. "Jadi Bapak mau mengajak saya makan, ya?" "Iya." "Sebagai hadiah karena presentasi hari ini berjalan lancar dan sukses?" Naka menggeleng pelan. "Sebagai hadiah karena sekretaris saya telah bekerja dengan sangat baik dan membuktikan kemampuannya." Shinta menundukkan kepala sedikit, berusaha menyembunyikan senyum yang mekar di wajahnya. "Terima kasih banyak, Pak." "Jangan terlalu dipikirkan lagi ucapan Pak Andre tadi." "Kenapa begitu?" "Karena mulai hari ini..." Naka membukakan pintu mobil untuk Shinta, "...saya yakin tidak akan ada lagi orang yang berani meremehkan kemampuanmu." Shinta menatap wajah pria itu selama beberapa detik, lalu tersenyum tulus. "Semoga saja begitu, Pak." "Kalau masih ada yang berani berbuat begitu lagi..." Naka ikut tersenyum, "...biar saya yang mengurusnya." Shinta terkekeh geli mendengarnya. "Pak Naka..." "Hm?" "Ternyata Bapak juga terlihat sangat seram dan tegas kalau sedang membela orang lain." "Seram?" "Iya." "Tapi..." Shinta tersenyum malu, "...rasanya sangat aman dan nyaman punya bos seperti Bapak." Untuk pertama kalinya hari itu, senyum di wajah Naka terlihat mekar lebih lebar dan terasa lebih hangat daripada biasanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD