Sepagi ini

3314 Words
Pukul enam pagi tepat. Sinar matahari mulai mengintip lembut dari balik cakrawala, menyelinap masuk melalui celah tirai jendela besar kamar hotel yang menghadap langsung ke arah hamparan hijau dan kota Bali yang mulai terbangun dari tidurnya. Udara pagi yang sejuk dan segar khas pulau dewata itu terasa begitu menyejukkan, berbeda jauh dengan hiruk-pikuk serta panas kota Jakarta yang biasanya mereka temui setiap hari. Shinta sudah selesai mandi sejak setengah jam yang lalu. Rambut panjangnya yang hitam pekat sudah dikeringkan dengan rapi, terurai indah jatuh menutupi sebagian bahu rampingnya. Ia berdiri sejenak di depan cermin besar di sudut kamar, menatap pantulan dirinya sendiri. Pagi ini ia mengenakan setelan yang sederhana namun tetap terlihat rapi dan berwibawa: sebuah blouse berwarna putih bersih dengan potongan yang sopan, dipadukan dengan rok panjang berwarna krem yang jatuh pas di bawah lutut, serta sepatu hak rendah yang nyaman untuk bergerak seharian penuh mengikuti jadwal kerja yang padat. Ia merapikan sedikit kerah bajunya, memastikan tidak ada yang berantakan sedikit pun. Pagi di Bali rasanya memang selalu berbeda. Segalanya terasa lebih lambat, lebih tenang, dan damai. Matahari baru saja naik perlahan, memancarkan cahaya keemasan yang lembut menyinari permukaan gedung-gedung rendah dan pepohonan hijau yang rimbun. Dari balik kaca jendela kamar hotelnya, pemandangan kota yang mulai hidup itu terasa begitu menenangkan hati. Shinta menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis sendiri. "Enak juga rasanya bangun pagi begini..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Benar-benar pagi yang damai. Semalam ia bisa tidur dengan sangat nyenyak, jauh lebih nyenyak dibandingkan malam-malam biasanya saat berada di Jakarta. Tidak ada rasa canggung yang mengganjal di hati, tidak ada rasa khawatir atau gelisah yang membuatnya sulit terlelap. Semua itu karena satu alasan yang pasti: Pak Naka benar-benar pindah ke hotel lain seperti yang pernah ia katakan sebelumnya. Ia tidak memaksakan diri untuk tetap tinggal di sini demi alasan apa pun, dan itu menunjukkan betapa besarnya rasa hormat pria itu terhadap ruang pribadi dan kenyamanan orang lain, termasuk dirinya yang hanya seorang sekretaris. Memikirkan hal itu membuat Shinta kembali tersenyum kecil. Jarang sekali ia menemukan seorang atasan yang memiliki sifat seperti Pak Naka. Di mata banyak orang, mungkin pria itu terlihat dingin, kaku, terlalu tegas, dan sulit didekati. Namun bagi Shinta yang sudah bekerja cukup lama bersamanya, ia tahu betul bahwa di balik sikap dingin dan ketegasannya itu, tersembunyi jiwa yang sangat menghargai batasan, sangat bertanggung jawab, dan sangat berhati-hati dalam memperlakukan orang lain. Tiba-tiba ponsel yang ada di meja samping tempat tidurnya bergetar pelan, memecah lamunan paginya. Sebuah pesan masuk. Nama pengirim yang tertera di layar membuat jantungnya sedikit berdegup lebih cepat: Pak Naka. Shinta langsung meraih ponsel itu dengan cepat, lalu membuka pesan tersebut. Pak Naka: Saya sudah ada di lobi hotel. Mata Shinta langsung terbelalak kaget. Jantungnya berdegup makin kencang. "Hah? Sudah di lobi?!" serunya kaget sendiri, matanya melirik cepat ke arah jam dinding yang ada di sudut kamar. Baru saja pukul enam lewat lima belas menit. Padahal jadwal yang disepakati tadi malam adalah pukul enam tiga puluh atau setengah tujuh. Pria itu datang lebih awal sekali. Tanpa membuang waktu lagi, Shinta langsung mengetik balasan dengan tangan yang sedikit bergerak cepat karena terburu-buru. Shinta: Pak, maaf sekali, saya baru bersiap dan mau turun sekarang. Mohon tunggu sebentar ya Pak. Hanya berselang beberapa detik, balasan masuk kembali. Pak Naka: Tidak apa-apa, Shinta. Santai saja. Saya menunggu di sini. Membaca pesan itu, Shinta langsung bergegas mengambil tas kerja yang sudah siap di kursi, memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal, lalu berjalan tergesa menuju pintu keluar kamar. "Astaga... Pak Naka ini benar-benar tepat waktu bahkan lebih awal dari waktu yang ditentukan," gumamnya sambil mengunci pintu kamar dengan rapi lalu berjalan menuju lift. Suasana di lobi hotel pagi itu masih cukup sepi dan tenang. Hanya ada beberapa tamu yang terlihat sedang duduk santai atau baru saja selesai sarapan pagi di sudut ruangan yang nyaman. Begitu pintu lift terbuka dan Shinta melangkah keluar, matanya langsung menyapu seluruh ruangan luas itu. Dan dalam sekejap, ia langsung menemukan sosok yang dicarinya. Sulit sekali rasanya untuk tidak menemukan Pak Naka di antara keramaian yang sedikit itu. Pria itu duduk dengan tenang dan santai di sebuah sofa empuk yang berada tepat di dekat jendela besar yang menghadap ke taman depan hotel. Ia sedang sibuk menatap layar tablet yang ada di tangannya, seolah sedang memeriksa sesuatu yang penting. Pagi ini, Pak Naka tidak mengenakan setelan jas formal lengkap seperti biasanya. Ia hanya mengenakan kemeja berwarna biru muda yang lengan panjangnya digulung sedikit hingga siku, membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai, lebih muda, dan jauh lebih hangat dibandingkan kesan dingin dan kaku yang biasa ia tampilkan di kantor. Wajahnya yang tampan dan berwibawa itu terlihat semakin menawan di bawah cahaya matahari pagi yang masuk melalui kaca jendela. Tak heran jika beberapa tamu wanita yang ada di sana beberapa kali terlihat melirik ke arahnya dengan pandangan yang penuh kekaguman. Shinta menarik napas panjang sebentar untuk menenangkan diri, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang tetap tenang dan sopan. "Selamat pagi, Pak Naka," sapa Shinta lembut begitu ia berdiri tepat di hadapan pria itu. Pak Naka perlahan mengangkat kepalanya, menatap wajah Shinta sejenak dengan pandangan yang tajam namun tenang, lalu menutup tabletnya dan meletakkannya di meja kecil di sebelahnya. "Pagi, Shinta," jawabnya singkat namun nada bicaranya terdengar lembut. Shinta pun duduk di sofa yang ada tepat di seberang tempat duduk atasan itu. "Pak, maaf ya kalau saya membuat Bapak menunggu. Dan... kenapa Bapak datang sepagi ini? Padahal jadwal kita masih ada waktu lagi dua puluh menit," tanya Shinta dengan nada penasaran dan sedikit rasa bersalah. Pak Naka terlihat berpikir sejenak, lalu menjawab dengan nada santai yang biasa ia gunakan, seolah jawabannya adalah hal yang paling wajar di dunia ini. "Takut sekretaris saya diculik orang di Bali ini," ucapnya datar namun ada sedikit nada bercanda yang terselip di ujung kalimatnya. Shinta langsung tertawa kecil mendengar jawaban itu. "Pak... Bapak ini ada-ada saja," jawabnya sambil menggelengkan kepala tak percaya. "Memang benar. Bali ini tempatnya ramai sekali, banyak orang asing, banyak turis dari berbagai negara yang datang dan pergi. Siapa yang tahu kan?" tambah Pak Naka dengan wajah tetap serius. "Benar juga sih, banyak orangnya," sahut Shinta ikut menanggapi. "Dan kalau sampai kamu hilang atau pergi ke mana-mana tanpa ada yang menjaga, siapa yang akan mengurus jadwal kerja saya nanti?" tambahnya lagi santai. Shinta kembali menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Kalau sampai saya hilang begitu saja, Bapak cari saja sekretaris lain yang lebih baik dan lebih cekatan dari saya," jawabnya dengan nada bercanda. Pak Naka langsung mengernyitkan dahinya mendengar ucapan itu, menatap tajam ke arah Shinta. "Cari yang lain?" tanyanya menekan kata-katanya. "Iya, Pak. Cari sekretaris baru yang lebih pintar dan lebih rajin," jawab Shinta santai. "Repot," jawab Pak Naka singkat dan tegas. Shinta tertawa kecil bingung. "Kenapa repot, Pak? Kan gampang saja, tinggal buka lowongan kerja, pasti banyak yang mendaftar," tanyanya lagi. Pak Naka berdiri perlahan dari duduknya, memberi isyarat bahwa mereka sebaiknya berjalan menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Shinta pun ikut berdiri bersamanya. Saat mereka berjalan beriringan menyusuri lorong yang luas, pria itu kembali bersuara dengan nada yang rendah namun jelas terdengar olehnya. "Repot sekali kalau harus mulai dari awal lagi. Karena saya sudah terbiasa bekerja dengan kamu, Shinta," ucapnya santai seolah itu adalah hal yang paling biasa saja. Kalimat itu terdengar begitu sederhana dan polos. Namun entah mengapa, mendengarnya langsung dari mulut Pak Naka membuat pipi Shinta terasa panas seketika, dan jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia membuang muka sedikit ke arah lain berusaha menyembunyikan rasa salah tingkah yang tiba-tiba muncul itu. Suasana di ruang makan utama hotel pagi itu cukup ramai namun tetap teratur dan nyaman. Aroma harum kopi yang baru diseduh, roti panggang mentega, serta berbagai masakan khas Bali dan internasional yang menggugah selera memenuhi seluruh ruangan. Begitu mereka masuk, perut Shinta tiba-tiba berbunyi pelan karena lapar. Untung saja suaranya cukup halus, atau setidaknya itulah yang ia pikirkan dalam hati. Namun sayangnya, Pak Naka yang berjalan tepat di sebelahnya sepertinya mendengar suara itu dengan jelas. Pria itu langsung melirik ke arah Shinta dengan sudut matanya, lalu tersenyum tipis. "Kamu lapar sekali rupanya, Shinta?" tanyanya lembut. Shinta langsung menunduk malu, wajahnya memerah sedikit. "Sedikit saja kok, Pak," jawabnya berusaha membela diri. "Sedikit atau sangat lapar?" tanya Pak Naka lagi dengan nada menyelidik. "Kok Bapak suka sekali menanyakan hal-hal yang begitu sih," jawab Shinta sambil tersenyum malu-malu. Pak Naka tertawa kecil, suara tawanya terdengar rendah dan lembut. "Karena jawaban-jawabanmu itu selalu terdengar lucu dan jujur sekali," jawabnya santai. Mereka pun berjalan menuju meja prasmanan masing-masing untuk mengambil makanan. Shinta memilih menu yang cukup lengkap: sepiring nasi goreng spesial yang harum, dua butir telur dadar yang empuk, serta beberapa potong buah-buahan segar seperti pepaya dan semangka. Sementara itu Pak Naka hanya mengambil piring yang berisi omelet telur yang lembut serta secangkir kopi hitam panas tanpa gula. Setelah selesai mengambil makanan, mereka duduk berhadapan di sebuah meja yang cukup jauh dari keramaian agar bisa makan dengan tenang. Begitu duduk, Pak Naka kembali menatap piring milik Shinta yang penuh dengan makanan. "Kamu makan cukup banyak juga rupanya hari ini," komentarnya pelan. Shinta langsung membela diri dengan cepat. "Kan saya lapar sekali, Pak. Perjalanan panjang kemarin, dan bangun pagi-pagi begini pasti butuh tenaga lebih banyak," jawabnya sedikit defensif. "Tidak ada yang melarangmu makan banyak kok, Shinta. Justru bagus," jawab Pak Naka santai sambil menyesap kopinya. "Tapi saya takut Bapak menilai saya orangnya rakus atau tidak bisa menjaga diri," jawab Shinta jujur. "Siapa yang akan menilai kamu begitu?" tanya Pak Naka bingung. "Ya... Bapak sendiri lah," jawab Shinta sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. Pak Naka kembali tertawa kecil mendengar itu. "Kalau begitu biarkan saya yang menilai kamu sekarang," ucapnya santai. "Nah kan... betul kan dugaan saya," sahut Shinta pasrah. "Penilaian saya: bagus sekali. Makanlah yang banyak dan kenyang, supaya sehat dan kuat bekerja seharian ini," ucap Pak Naka dengan pandangan yang tulus. Shinta langsung terdiam mendengar ucapan itu. Ia menunduk menatap makanannya. Kenapa pujian sederhana dan nasihat yang begitu biasa saja dari mulut pria ini bisa terasa begitu hangat, menyentuh hati, dan membuatnya merasa sedikit bingung serta salah tingkah? Saat mereka sedang asyik menikmati sarapan masing-masing dengan tenang, seorang pelayan hotel yang ramah datang menghampiri meja mereka membawa teko berisi kopi panas tambahan untuk disajikan. "Selamat pagi, Pak, Bu. Wah, pagi sekali rupanya sudah bangun dan sarapan ya," sapa pelayan itu dengan sangat ramah dan sopan. Shinta tersenyum sopan membalas sapaan itu. "Iya, selamat pagi juga, Mas." Pelayan itu meletakkan teko kopi dan menuangkan secukupnya ke cangkir Pak Naka, lalu kembali berbicara dengan nada yang sangat akrab dan senang. "Jarang sekali lho saya melihat pasangan tamu yang sarapan pagi dengan penampilan yang serasi, rapi, dan tenang seperti Bapak dan Ibu berdua ini. Pasti masih sangat bahagia sekali ya, apalagi sepertinya masih masa-masa indah pengantin baru yang sedang berbulan madu di Bali ini," ucap pelayan itu panjang lebar dengan penuh senyum. Suasana di meja itu seketika berubah hening total. Sendok yang sedang dipegang Shinta terhenti di udara, begitu juga dengan gerakan tangan Pak Naka yang sedang memegang cangkir kopinya. Keduanya terdiam serentak mendengar asumsi yang salah besar itu. Pelayan itu sama sekali belum sadar bahwa ia telah salah paham besar. Ia masih berdiri di sana dengan wajah tersenyum puas dan ramah. Shinta yang merasa sangat malu dan kaget itu langsung tersedak sedikit makanan yang baru saja ditelannya hingga batuk-batuk keras. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Pelayan itu langsung panik dan kaget melihat reaksi itu. "Aduh! Maaf sekali Bu! Maaf saya tidak sengaja!" serunya khawatir. Pak Naka yang duduk di hadapannya langsung bereaksi cepat. Ia segera menyodorkan segelas air putih yang ada di meja ke arah Shinta dengan gerakan yang sigap dan lembut. "Pelan-pelan minum dulu, Shinta. Tenang saja," ucapnya lembut. Shinta menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu meminumnya beberapa teguk panjang hingga rasa sesak di tenggorokannya hilang. Wajahnya sudah memerah padam karena rasa malu yang luar biasa. "Saya... saya tidak apa-apa, Mas. Terima kasih," ucapnya kepada pelayan itu sambil berusaha menenangkan diri. Pelayan itu terlihat bingung dan sedikit heran. "Loh? Kenapa Bu? Apa ada yang salah?" tanyanya polos. Shinta buru-buru menjelaskan dengan suara yang sedikit bergetar karena masih malu. "Maaf Mas, sepertinya ada kesalahpahaman. Kami berdua... kami bukan pasangan suami istri, bukan juga pasangan kekasih. Kami hanya rekan kerja, atasan dan bawahan yang sedang dalam perjalanan dinas bekerja," jelasnya panjang lebar berusaha meluruskan kesalahpahaman itu. "Oh... begitu rupanya," jawab pelayan itu berkedip-kedip kaget. "Bukan pasangan ya?" "Bukan sama sekali, Mas," jawab Shinta tegas. "Baiklah kalau begitu, mohon maaf sekali ya Pak, Bu atas kesalahan dan kekhilafan saya tadi," ucap pelayan itu sambil membungkukkan badan sedikit meminta maaf, lalu berjalan pergi dengan wajah yang masih terlihat bingung dan tidak percaya. Setelah pelayan itu pergi menjauh, Shinta langsung menundukkan wajahnya dalam-dalam menatap piringnya. Rasa malunya belum hilang sama sekali. "Aduh... malu sekali rasanya," gumamnya pelan. Pak Naka duduk di sana dengan tenang, kembali meminum kopinya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa yang memalukan sama sekali. "Pak Naka..." panggil Shinta pelan. "Hm?" jawab Pak Naka tanpa menoleh. "Bapak tidak merasa malu atau terganggu sama sekali dibilang begitu tadi?" tanya Shinta penasaran. "Kenapa harus merasa malu atau terganggu?" tanya Pak Naka balik dengan wajah datar. "Kan dibilang-dibilang itu... dibilang suami saya, dibilang kami pasangan, dibilang pengantin baru... itu kan masalah besar sekali, Pak," jawab Shinta dengan wajah masih merah padam. "Kenapa harus dianggap masalah besar?" tanya Pak Naka lagi santai. "Karena kita berdua kan bukan siapa-siapa, Pak! Kita cuma atasan dan bawahan biasa saja, tidak ada hubungan apa-apa selain urusan pekerjaan," jawab Shinta berusaha menjelaskan logikanya. Pak Naka mengangguk pelan seolah setuju. "Benar sekali. Memang begitu kenyataannya," ucapnya singkat. "Nah kan! Makanya itu, Pak," sahut Shinta merasa menang. "Tapi meskipun begitu, saya tetap tidak melihat ada masalah atau hal yang memalukan sedikit pun dari apa yang dikatakan orang tadi," tambah Pak Naka dengan nada tenang dan santai. Shinta hanya bisa menghela napas panjang dan menyerah. Kadang-kadang logika dan cara berpikir seorang CEO besar seperti Pak Naka memang sangat berbeda dan sulit sekali untuk dimengerti oleh orang biasa sepertinya. Setelah selesai sarapan dan berjalan keluar dari ruang makan menuju lobi kembali, tiba-tiba suara panggilan yang cukup akrab terdengar memanggil nama Pak Naka dari arah samping. "Pak Naka! Selamat pagi!" Mereka berdua serentak menoleh ke arah sumber suara itu. Ternyata itu adalah salah satu klien penting yang kemarin juga menghadiri pertemuan bisnis mereka. Seorang pria paruh baya yang ramah dan tersenyum lebar melihat keberadaan mereka berdua. "Wah, kebetulan sekali rupanya bertemu di sini pagi-pagi begini," ucap pria itu mendekat. "Selamat pagi, Pak," jawab Pak Naka dengan sopan. "Pagi juga," jawab Shinta ikut menyapa dengan hormat. Lalu mata pria klien itu beralih menatap Shinta dari ujung kepala hingga kaki, lalu kembali menatap Pak Naka dengan senyum yang semakin melebar. "Pasti ini istrinya Pak Naka yang cantik dan anggun ini ya? Sungguh serasi sekali berdua," ucapnya dengan penuh keyakinan. Seketika Shinta kembali membeku di tempatnya. Lagi-lagi... kenapa lagi dan lagi orang-orang selalu berpikir seperti itu? Pak Naka di sebelahnya terlihat berusaha keras menahan senyum agar tidak terlihat, sementara Shinta buru-buru menggelengkan kepalanya dengan kuat dan cepat. "Bukan, Pak! Bukan begitu! Saya bukan istrinya Pak Naka," jawabnya dengan cepat berusaha meluruskan hal itu. "Oh, bukan begitu rupanya?" tanya pria itu sedikit terkejut. "Bukan sama sekali, Pak. Saya hanya sekretaris yang mendampingi Pak Naka dalam perjalanan kerja ini," jelas Shinta sekali lagi. Pria itu tertawa renyah mendengarnya. "Maaf ya, saya kira istri karena terlihat sangat serasi dan dekat sekali. Kalau begitu... kalau bukan istri, berarti calon istri dong ya? Hehehe," canda pria itu dengan nada bercanda yang cukup keras. Shinta hampir saja tersedak udara lagi untuk kedua kalinya pagi itu mendengar ucapan yang lebih berani itu. "PAK!" serunya hampir berteriak karena malu luar biasa. Pria klien itu tertawa terbahak-bahak melihat reaksi gadis itu. Dan di saat yang sama, Pak Naka yang sedari tadi diam menahan diri akhirnya benar-benar tertawa lepas. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, pria itu tertawa dengan sangat terbuka, lebar, dan terdengar sangat bahagia. Suara tawanya yang hangat itu membuat hati Shinta semakin berdebar dan semakin merasa malu setengah mati. "Pak Naka... Bapak malah ikut tertawa juga," keluh Shinta dengan nada cemberut malu. "Maaf... maaf sekali, Shinta. Sungguh tidak bisa menahan tawa melihat wajahmu yang merah padam begitu," jawab Pak Naka di sela-sela tawanya yang mulai mereda. "Jelas saja Bapak senang dan tertawa melihat saya dipermalukan begitu," jawab Shinta sedikit kesal namun tetap lembut. "Sedikit saja... sedikit sekali merasa lucu saja kok," jawab Pak Naka sambil masih tersenyum lebar. "Pak Naka!" seru Shinta lagi. Saat mereka berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan sopan di depan pintu utama hotel, Shinta masih terus mengomel pelan-pelan di sepanjang jalan. "Saya benar-benar tidak mengerti sama sekali, Pak. Kenapa ya setiap orang yang melihat kita berdua selalu saja berpikir bahwa kita itu pasangan suami istri atau pacaran? Padahal kita cuma sekadar rekan kerja biasa saja," keluhnya dengan nada bingung dan kesal. Pak Naka berjalan di sebelahnya, lalu berhenti sejenak untuk membukakan pintu mobil bagian depan untuk Shinta dengan sopan. "Mungkin karena kita selalu berangkat dan pulang bersama-sama, selalu berjalan berdua, selalu duduk berdua," jawab Pak Naka santai. "Itu kan karena urusan pekerjaan saja, Pak," jawab Shinta. "Mungkin juga karena kita menginap di hotel yang sama," tambah Pak Naka lagi. "Itu juga karena tugas dinas resmi," jawab Shinta. "Atau mungkin karena kita sarapan pagi bersama seperti tadi, makan bersama, dan berbicara dengan santai," tambah Pak Naka lagi. "Itu juga karena kebetulan jadwalnya sama saja, Pak," jawab Shinta pasrah. Shinta menghela napas panjang lebar, lalu masuk duduk di dalam mobil. Pak Naka kemudian berjalan ke sisi lain dan duduk di sebelahnya. Sopir mobil langsung menjalankan kendaraan itu perlahan menuju jalan raya utama untuk berangkat menuju lokasi pertemuan bisnis berikutnya. Beberapa menit berlalu dalam perjalanan, suasana di dalam mobil menjadi tenang dan hening. Shinta duduk dengan pandangan mata menatap keluar jendela, menikmati pemandangan jalanan Bali yang indah dan hijau. Tiba-tiba Pak Naka yang duduk di sebelahnya melirik sekilas ke arahnya, lalu membuka suara dengan nada yang sangat lembut dan tenang. "Shinta..." panggilnya pelan. "Iya, Pak Naka?" jawab Shinta segera menoleh. "Kalau nanti di perjalanan ini atau di tempat pertemuan ada orang lain yang salah paham dan mengira kita berdua pasangan lagi seperti tadi pagi..." ucap Pak Naka pelan namun tegas. "Hm? Terus bagaimana, Pak?" tanya Shinta menunggu kelanjutannya. "Jangan terlalu dipikirkan atau dimasukkan ke hati ya. Biarkan saja mereka berasumsi apa saja yang mereka mau," pesan Pak Naka dengan nada yang lembut. Shinta menatap wajah pria itu bingung. "Kenapa begitu, Pak? Bukankah itu hal yang salah dan bisa menimbulkan masalah?" tanyanya. Pak Naka tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat hangat dan penuh arti. "Karena memang begitulah sifat manusia pada umumnya, Shinta. Orang-orang memang suka sekali membuat asumsi dan kesimpulan sendiri berdasarkan apa yang mereka lihat dari luar saja. Tidak perlu dipusingkan atau dipermasalahkan," jawabnya tenang. Shinta mengangguk pelan setuju. Memang benar juga kata-kata itu. Lagipula mereka memang sedang melakukan perjalanan dinas resmi bersama-sama, jadi wajar saja jika banyak orang yang melihatnya berasumsi macam-macam. Namun entah mengapa, meskipun logikanya sudah mengerti dan menerima penjelasan itu... setiap kali ia mengingat kembali kejadian-kejadian memalukan namun manis pagi ini, wajahnya kembali terasa hangat dan panas merona. Dan hal yang paling membuatnya bingung dan gelisah di dalam hati... bukanlah rasa malu karena orang-orang salah paham itu. Melainkan sebuah perasaan aneh yang muncul: ia sadar bahwa dirinya sama sekali tidak merasa keberatan atau terganggu sedikit pun setiap kali ada orang yang mengira ia dekat, berpasangan, atau memiliki hubungan khusus dengan Pak Naka. Sementara itu di kursi sebelahnya, Pak Naka duduk dengan tenang menikmati pemandangan jalanan yang bergerak di luar jendela. Di balik sikap tenang dan wajah dinginnya itu, ia berusaha keras menyembunyikan sebuah senyum kecil yang sejak tadi pagi sulit sekali hilang dari bibirnya. Hari yang panjang itu baru saja dimulai. Dan entah kenapa, bagi Pak Naka... pagi yang penuh kesalahpahaman dan kegemasan itu terasa jauh lebih indah, jauh lebih menyenangkan, dan jauh lebih berwarna daripada apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD