Bab 33

1122 Words

Jane menatap nanar pada secarik memo yang masih berada di tangannya. Bagaimanapun otaknya masih mencerna dengan baik atas maksud dari Jenie meninggalkan memo itu di atas meja riasnya, bukan mengatakannya sesaat sebelum pergi. Sikap diam Jane hanya bertahan sesaat saja karena akhirnya dia memahami bahwa apa yang dilakukan Jenie—membawa ponsel yang salah—adalah sebuah kesengajaan. Dia tak ingin membuat Jane menerima telpon dari siapapun untuk alasan apapun. “Jen, ada apa? Kenapa kamu merahasiakan semuanya?” gumam Jane lirih yang langsung memasukkan memo itu ke dalam laci meja rias kemudian menyambar kuncil mobil dan tas yang tergeletak begitu saja di atas meja rias. Jane melangkahkan kakinya dengan cepat, semua perasaan berkecamuk di dalam hatinya, terutama rasa takut dan khawatir. Dia ba

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD