Bab 4

1131 Words
Pagi menjelang dan mentari masuk melalui celah jendela yang terbuka. Semua pelayan di rumah Ibu Sofia telah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tiba-tiba semua dikejutkan dengan langkah kaki seseorang dari lantai atas yang berlari dengan sangat terburu-buru. “Nyonya... Nyonya...,” teriaknya menggema ke setiap penjuru ruangan. Ibu Sofia yang sedang sarapan pagi pun segera menghentikan kegiatannya dan segera beranjak ke arah suara itu berasal. “Ada apa?” tanya Ibu Sofia dari ujung tangga. “Nona... Nona...,” kata pelayan sambil mengatur napas yang hampir habis karena berlari dengan terburu-buru. “Ada apa dengan Jenie?” tanya Ibu Sofia kaget dan khawatir bercampur menjadi satu. “Nona tidak ada di kamarnya, Nyonya.” “Tidak ada di kamar? Bagaimana bisa?” “Saya tidak tahu Nyonya, tirai kamar dan jendela terbuka. Saya sudah cari ke kamar mandi tapi Nona tak ada di sana.” “Semuanya cari Jenie sampai ketemu dan tinggalkan pekerjaan kalian!” Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, para pelayan langsung menghentikan semua pekerjaannya dan mencari Jenie ke setiap sisi rumah. Kabar menghilangnya Jenie benar-benar telah membuat kediaman Ibu Sofia menjadi sangat sibuk untuk mencarinya. Setiap ruangan, setiap sudut, di telusuri hanya untuk mencari sosok Jenie, tapi dia tak ada di dalam rumah sama sekali. Pencarian berlanjut dengan mengitari halaman rumah yang cukup luas, tapi sayang dimana pun tak ditemukan keberadaan Jenie. Ibu Sofia terlihat sangat khawatir dan tak henti-hentinya menangis. Dia sangat terpukul karena baru saja dia kehilangan putrinya, dan sekarang harus menghadapi kenyataan bahwa putri yang lainnya menghilang dari rumah. Ibu Sofia berlari ke kamar putri kembarnya, dia masih berharap bahwa pelayan salah melaporkan dan Jenie ada di dalam kamarnya sambil meringkuk di pojok tempat tidurnya. Betapa terkejutnya Ibu Sofia saat memasuki kamar putrinya. Kamar yang biasanya tertata dengan rapi, kini berantakan bagai kapal pecah. Buku, pakaian dan beberapa photo berserakan di atas lantai dan tempat tidur. Dia masih berpikir entah kapan semua ini terjadi karena beberapa hari ini kamar putrinya dalam keadaan gelap dan tak ada sedikit pun cahaya yang masuk. Ibu Sofia memunguti baranh-barang putriny dan membereskannya ke tempatnya semula. Derai air mata Ibu Sofia tak henti mengalir saat melihat photonya bersama kedua putri kembarnya. Mereka terlihat sangat bahagia saat berlibur bersama dua bulan lalu. “Kamu terlalu cepat meninggalkan kami, Jane,” gumam Ibu Sofia sambil mengelus photo yang ada di tangannya. “Nyonya...maaf,” kata seorang pelayan saat melihat Ibu Sofia tengah menangis sambil memandang photo kedua putrinya. “Ada apa? Apakah Jenie sudah ditemukan?” “Maaf, Nyonya, sepertinya Nona Jenie tak ada di rumah atau di halaman.” “Apa kalian yakin?” “Sangat yakin, Nyonya, kami sudah mencarinya ke mana-mana dan Nona Jenie tak ada di mana pun.” “Ya Tuhan Jenie, di mana kamu, Nak?” Tangisan Ibu Sofia semakin deras membasahi pipinya. Pikirannya benar-benar kalut dengan semua keadaan yang menimpa putrinya. Setelah kepergian suaminya 6 tahun silam, Ibu Sofia bertanggung jawab atas semua bisnis dan tentu saja atas kedua putrinya juga. Baginya, putrinya adalah harta yang paling berharga di antara semua harta yang dimilikinya saat ini. Kenyataan ini membuat Ibu Sofia semakin terpukul dan terpuruk. Dia tak henti mwnangis dan memanggil nama Jenie hingga akhirnya dia jatuh pingsan. Beberapa pelayan segera memindahkan Ibu Sofia ke kamarnya dan memanggil dokter keluarga untuk memeriksa keadaan Ibu Sofia. “Jenie... Jenie...,” kata Ibu Sofia mengigau memanggil nama putrinya. “Tolong panggilkan, Jenie,” kata dokter kepada pelayan. “Nona Jenie... Nona Jenie hilang, Dok, dari tadi pagi,” kata pelayan. Mendengar perkataan pelayan dokter hanya dapat menghela napas dalam. Sebagai dokter keluarga dan sahabat alamrhum suami Ibu Sofia, Dokter Wiryawan sangat mengetahui dan memahami bagaimana keadaan yang di alami oleh mereka. “Kalau sudah siuman, tolong berikan obat ini kepada Ibu Sofia dan tolong terus cari Jenie sampai ketemu,” kata Dokter Wiryawan. “Baik, Dok,” kata pelayan. Dokter Wiryawan meninggalkan rumah Ibu Sofia. Ada rasa sedih di dalam hatinya mengetahui bagaimana terpukulnya Ibu Sofia atas kepergian Jane dan peristiwa menghilangnya Jenie. Dia masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang. *** Malam menjelang dengan sangat cepatnya. Ibu Sofia telah siuman walau masih terbaring lemah di tempat tidurnya. Dia masih saja menangis dan menangis membayangkan nasib putrinya yang sekarang entah berada dimana. Rasanya hidupnya tiada arti tanpa hadirnya putri yang sangat di sayanginya. Tak ada makanan yang masuk ke dalam perut Ibu Sofia sejak dia siuman. Ibu Sofia menolak untuk makan sebelum mengetahui keberadaan putrinya. Ibu Sofia sampai mengerahkan banyak orang hanya untuk mencari keberadaan Jenie. Tapi sayang, sampai hari beranjak malam tak ada satu pun yang memberikan laporan mengenai keberadaan Jenie. Ibu Sofia terus menggenggam ponsel dan telpon rumahnya berharap akan ada seseorang yang menelpon dan mengabarkan bahwa Jenie baik-baik saja dan akan segera pulang. Tapi sayang, sampai jam menunjukkan jam 10 malam belum ada seorang pun yang menelpon dan memberikan kabar baik itu. Pikiran Ibu Sofia semakin kalut saat menyadari bahwa putrinya belum menyentuh makanan sejak 3 hari lalu. Dia beberapa kali menelpon orang-orangnya untuk bertanya ke beberapa rumah sakit mengenai keberadaan Jenie, tapi tetap saja semuanya nihil. “Kamu pergilah beristirahat!” kata Ibu Sofia pada pelayan yang sedari tadi menemaninya. “Tapi, Nyonya....” “Pergilah, saya juga akan beristirahat!” “Baiklah, Nyonya, selamat malam.” “Selamat malam, dan tolong matikan lampunya!” Sepeninggal pelayan, Ibu Sofia tak memejamkan matanya walau hanya sejenak saja. Dia masih terus mebgharapkan ada seseorang yang akan menelponnya dan mengabarkan keberadaan Jenie. Dia terus menatap layar ponselnya, tapi sayang ponselnya tak juga berbunyi. Ibu Sofia beranjak dari tempat tidurnya dan muali gelisah memikirkan keadaan Jenie. Sudah lebih dari 16 jam Jenie menghilang dan belum ada yang menemukan dia sama sekali. “Kamu di mana, Jen, tolong pulang,” gumam Ibu Sofia sambik terus berjalan mondar-mandi di dalam kamarnya yang luas. Teng teng teng Jam dinding besar di ruang keluarganya telah derdentang selama 12 kali yang menunjukkan bahwa malam telah berada di puncaknya. Tapi sampai saat ini belum ada kabar mengenai Jenie. Kembali Ibu Sofia memijit beberapa nomor telpon dan memanggilnya, namun laporan mereka semuanya sama, tak ada yang menemukan Jenie dimana pun. Wush... angin verhembus dengan kencang membelai wajah Ibu Sofia. Dia segera memeriksa jendela kamarnya, namun jendelanya tertutup rapat dan tak menunjukkan adanya celah hingga angin bisa masuk. Srreett.... terdengar langkah kaki memasuki kamar Ibu Sofia. Ibu Sofia memicingkan mata dan berusaha menangkap sosok hitam yang masuk ke dalam kamar tidurnya. “Mama jangan khawatir, Jenie ada bersamaku,” kata sosok. “Jane, kamu kah itu?” tanya Ibu Sofia, namun tak ada jawaban sama sekali. Ibu Sofia segera berjalan ke arah saklar dan menyalakan lampu kamarnya, tapi tak ada siapa pun di kamarnya, hanya dia seorang di sana. “Apakah tadi benar Jane? Tapi dia telah tiada?” gumam Ibu Sofia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD