“Jane...,” teriak Ibu Sofia.
Keringat mulai bercucuran dari tubuh dan mukanya mulai memucat. Dia masih tak percaya jika apa yang barusan di alaminya adalah sebuah mimpi.
Ibu Sofia menatap jam yang berada di dinding. Betapa kagetnya dia saat jam menunjukkan pukul 01.15. Berulang kali Ibu Sofia mengusap wajahnya yang masih saja bercucuran keringat. Dia masih merasa bahwa apa yang baru saja di alaminya bukanlah sebuah mimpi, tapi nyata. Tapi dia pun tak dapat mengatakan bahwa itu nyata karena saat itu dia tengah tertidur.
Ibu Sofia mengambil ponsel yang berada di meja samping tempat tidurnya. Kembali, dia merasa kecewa saat tak ada satu pun orang yang menghubunginya. ia melakukan telpon beberapa kali kepada beberapa orang hanya untuk menanyakan perihal keberadaan putrinya, tapi semuanya nihil. Kembali Ibu Sofia teringat akan kata-kata Jane dalam mimpinya.
“Jenie bersamaku.”
Ibu Sofia segera beranjak dari tempat tidurnya dan mengganti pakaian yang dia kenakan. Ia memakai sebuah celana kulot yang di padukan dengan kaos berlengan panjang berwarna peach dan di lapisi baju rajut berwarna brown. Dengan tergesa, Ibu Sofia melewati koridor rumah yang masih sepi. Langkah kakinya terdengar menggema di setiap penjuru ruangan. Dengan langkah yang lebar dan sedikit berlari, Ibu Sofia menuruni tangga yang berada di rumahnya. Tak ada satu orang pun yang mendengar langkah kaki Ibu Sofia.
Ceklek... Ibu Sofia membuka pintu depan rumahnya. Langkahnya tak sedikit pun goyah, dia terus berjalan keluar rumah dan mulai merasakan dinginnya angin malam yang berhembus menusuk tulang.
Wush... angin bertiup perlahan membelai tubuh Ibu Sofia yang mulai sedikit menggigil. Tapi hal itu tak membuat Ibu Sofia mengurungkan niatnya. Ia mantap melangkahkan kakinya ke arah garasi dan memasukkan kuncil mobil ke sedan BMW hitam miliknya.
Tit... Ibu Sofia membunyikan klackson tepat saat mobilnya berada di depan gerbang hingga membuat security yang sedang berada dalam buaian mimpi seketika bangun dan melihat mobil tuannya di depan pos penjagaan.
“Nyonya, mau ke mana?” tanyanya setelah berada di samping mobil Ibu Sofia.
“Saya mau cari Jenie, kamu buka gerbangnya!”
“Tapi, Nyonya, ini masih malam.”
“Saya harus cari Jenie!”
“Biar saya temani, Nyonya.”
“Biar saya sendiri.”
“Tapi, Nyonya, saya takut Nyonya kenapa-kenapa.”
Ibu Sofia diam sejenak memikirkan semuanya secara matang. Dia tak ingin sampai salah langkah yang akan mengakibatkannya terluka.
“Baiklah,” kata Ibu Sofia sambil keluar dari balik kemudi.
Security tadi membangunkan rekannya dan memintanya untuk membukakan gerbang sebelum akhirnya dia masuk ke balik kemudi mobil BMW hitam milik Ibu Sofia. Begitu gerbang terbuka, security itu segera menjalankan mobilnya dengan perlahan meninggalkan halaman rumah keluarga Ibu Sofia yang bak istana.
“Kita mau ke mana, Nyonya?” tanyanya.
“Makam Jane.”
“Tapi ini malam, Nyonya.”
“Saya tahu, tapi bawa saya ke sana.”
Tanpa banyak bertanya, dia menjalankan mobil sesuai dengan apa yang di katakan oleh Ibu Sofia. Laju mobil yang cukup pelan membelah jalanan kota yang diselimuti dengan gelapnya malam. Tak ada yang beraktivitas di malam yang sunyi dan senyap seperti itu, semua terlelap dalam buaian mimpi.
Beberapa kali mobil BMW hitam milik Ibu Sofia berpapasan dengan mobil lainnya. Ya, hanya sedikit yang masih memecah kesunyian malam. Sesekali Ibu Sofia mengamati jalanan yang dilewati dan berharap melihat sosok putrinya, Jenie. Berkali-kali mobil terhenti hanya karena Ibu Sofia melihat gadis muda mirip Jenie, tapi ternyata dia salah lihat.
Mobil masih melaju dengan kecepatan yang sedang bahkan cenderung pelan. Tak ada kata yang terucap dari Ibu Sofia, dia hanya diam dan memperhatikan. Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil menepi di sebuah kompleks pemakaman keluarga pada jam 2.30.
Ibu Sofia melngkahkan kakinya keluar dari mobil tanpa menunggu security membukakan pintu untuknya. Langkahnya sesekali bergetar saat kembali menginjakkan kaki di area pemakaman yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Jane.
Derai air mata Ibu Sofia kembali jatuh membasahi pipinya yang mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Masih terbayang dalam ingatannya bagaimana salah satu putri kembarnya di antarkannya beberapa waktu ke tempat yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Masih terlihat jelas bagaimana wajah Jane yang di lihatnya sesaat sebelum tubuh kakunya di masukkan ke dalam peristirahatan terakhirnya.
Bruk... tubuh Ibu Sofia ambruk ke tanah saat kakinya tak lagi mampu menahan berat tubuhnya. Kakinya terlalu lemah untuk melangkahkan ke tempat dimana putri tercintanya berada. Security yang dari tadi memperhatikan Ibu Sofia segera berlari membantu Ibu Sofia berdiri dan memapahnya untuk duduk di sebuah gazebo kecil yang berada di bagiam terluar kompleks pemakaman. Gazebo ini tak pernah di huni oleh siapapun walau awalnya di peruntukkan untuk orang yang menjaga dan mengurus pemakaman, hanya ternyata orang tersebut hanya datang seminggu sekali untuk membersihkan makam.
“Terima kasih, saya bisa sendiri,” kata Ibu Sofia saat dia mulai berdiri dari duduknya.
“Nyonya yakin?”
“Saya yakin, kamu pancarkan saja lampu mobil ke arah makam Jane!”
“Baik, Nyonya.”
Security itu berlari ke arah mobil dan menyalakan lampu sorot mobil ke arah makam Jane. Tiba-tiba, dia melihat ada sosok berbaju putih tengah menelungkup di atas makam Jane dengan payung yang menaungi makam.
Dia segera berlari menghampiri Ibu Sofia yang masih berdiri di dekat gazebo. Wajahnya mulai pucat dan tak hentinya mengalihkan pandangan dari makam Jane.
“Ada apa kamu?” tanya Ibu Sofia.
“Itu...itu...,” jawabnya sambil menunjuk ke arah makam Jane.
Ibu Sofia mengikuti arah yang securitynya tunjukkan. Dia pun melihat apa yang securitynya lihat. Sosok berbaju putih yang tengah menelungkup di atas makam putrinya. Wajah Ibu Sofia mulai memucat dan tubuhnya mulai bergetar. Tidak, dia bukan takut, tapi dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Bulir-bulir mutiara bening jatuh membasahi pipi Ibu Sofia dengan deras. Jantungnya mulai berdegup kencang masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Kembali tubuhnya terduduk di telian gazebo. Kakinya terasa begitu lemah hingga tak dapat menopang tubuhnya. Matanya tak pernah bernah beralih dari sosok yang ada di atas makam Jane.
Ibu Sofia tak percaya jika semua ini terjadi pada putrinya. Putri yang selalu di sayangnya, di cinta dan berhati lembut serta baik. Berulang kali Ibu Sofia mengusap air mata yang terus jatuh tak tertahankan. Dia mencoba untuk menguatkan diri atas apa yang dilihatnya saat ini.
Perlahan Ibu Sofia kembali berdiri dan berusaha untuk menguatkan kaki dan dirinya. Berulang kali dia menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya. Kakinya mulai melangkah ke arah makam Jane, dimana sosok putih itu berada. Hatinya bergetar, air matanya kembali jatuh tak tertahankan.
Begitu sampai di samping makam Jane, Ibu Sofia langsung melihat wajah sosok putih itu. Wajah pucat yang tak lagi berdaya kini terpampang di hadapannya.
“Ini tak mungkin,” gumam Ibu Sofia.
Ibu Sofia begitu terkejut saat melihat sosok yang berada di atas makam Jane adalah Jenie. Seketika Ibu Sofia langsung memeluk tubuh Jenie yang dingin dan kaku.
“Parjo... Parjo...,” teriak Ibu Sofia memanggil security yang sedari menemaninya.
Parjo segera berlari menghampiri Ibu Sofia. Ada rasa takut di dalam dirinya saat harus berjalan ke arah Ibu Sofia. Kakinya sedikit bergetar menahan rasa takut yang ada di dalam dirinya.
“Ada... ada apa, Nya?” tanya Parjo.
“Cepat bawa Jenie ke mobil sekarang!” perintah Ibu Sofia. Dengan cekatan Parjo langsung mengangkat tubuh ringkih Jenie. Jenie begitu pucat, dingin dan kaku.
Parjo berjalan dengan cepat membawa Jenie ke mobil. Ibu Sofia mengikuti dari belakang dengan wajah yang sangat khawatir. Air mata terus jatuh membasahi wajah Ibu Sofia.
Ceklek... Ibu Sofia membuka pintu belakang mobil dan masuk ke dalam mobil. Parjo segera memasukkan tubuh Jenie ke dalam mobil dengan kepala di atas pangkuan Ibu Sofia.
“Kita ke mana, Nya?” tanya Parjo saat telah berada di belakang kemudi.
“Ke rumah sakit terdekat saja Jo, cepat ya?”
“Baik, Nya”
Parjo segera menginjak gas dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Sesekali Parjo melihat Ibu Sofia dari kaca spion. Ibu Sofia terus menangis sambil mengelus wajah Jenie yang masih saja dingin dan kaku. Dia langsung membuka sweaternya dan memakainnya pada Jenie agar tubuh Jenie sedikit hangat.
“Jen, bangun Jen,” kata Ibu Sofia.
Parjo semakin kencang menjalankan mobilnya karena khawatir akan terjadi sesuatu pada Jenie. Beberapa kali dia melihat ke jok belakang, tapi Jenie belum juga menunjukkan tanda-tanda membaik.