Setelah perjalnan yang tidak terlalu jauh, akhinya Ibu Sofia sampai di rumah sakit. Parjo segera turun dan menggendong tubuh lemah Jenie ke dalam rumah sakit. Dengan sigap beberapa orang perawat segera membantu Parjo menidurkan Jenie di atas tempat tidur.
Ibu Sofia masih terlihat begitu cemas saat tubuh lemah Jenie di bawa ke ruang UGD. Dia hanya mampu mengikuti Jenie dengan tubuhnya yang mulai kelelahan atas sakit dan kondisi psikis yang baru di alaminya. Dokter memeriksa tubuh Jenie yang semakin melemah. Ibu Sofia terus saja menggenggam tangan Jenie sambil tak henti-hentinya menangis melihat kondisi Jenie.
“Kita harus mengeluarkan darahnya kemudian menghangatkannya. Pasien sudah pada kondisi kritis,” kata dokter sambil terus memberikan beberapa intrupsi lain pada beberapa orang suster.
Ibu Sofia sedikit menjauh dan memberi ruang kepada suster untuk melakukan semua intrupsi dokter. Air matanya terus mengalir tiada hentinya.
“Putri saya kenapa, Dok?” tanya Ibu Sofia khawatir.
“Dia terkena Hipotermia, kondisinya sudah sangat kritis, telat sedikit kita kehilangan dia.”
“Ya Tuhan....”
Tubuh Jenie di bawa suster ke ruang ICU untuk segera melakukan tindakan pada Jenie yang semakin drop.
Bruk... tubuh Ibu Sofia ambruk di depan ruang ICU. Dia sudah benar-benar tal sanggup dengan semua kondisi yang di alaminya selama sebulan terakhir ini. Pertama dia harus kehilangan Jane, kemudian Jenie yang tak keluar dari kamarnya. Jenie menghilang dan akhirnya di temukan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
“Ma, biarkan Jenie bersama Jane. Jane kesepian mah,” kata Jane yang tiba-tiba telah berada di samping Ibu Sofia.
Seketika Ibu Sofia melihat ke samping. Dia melihat sosok Jane yang benar-benar menyedihkan. Tubuh kaku dan pucatnya terlihat begitu meringis kesakitan dengan isi perut terurai keluar.
“Aaaggghh...sakit mah, tolong Jane mah,” kata Jane sambil meringis.
Dari belakang Jane muncul sesosok makhluk yang sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi hitam dengan wajah yang tak beraturan dan mengeluarkan nanah serta darah. Dia terus mencambuk tubuh Jane tiada hentinya walau Jane telah meringis kesakitan.
“Ma, tolong Jane, Ma,” kata Jane lagi.
“Jane... Jane... kamu kenapa?” tanya Ibu Sofia sambil berusaha mendekat dan merengkuh tubuh Jane ke dalam pelukannya.
Semakin Ibu Sofia berusaha mendekat, semakin tubuh Jane di tarik oleh sosok hitam itu. Darah Jane membasahi lantai yang dia lewati menyisakan noda merah yang cukup banyak.
Ibu Sofia terus berlari dan berusaha menjangkau tubuh Jane yang semakin menjauh. Naluri keibuannya mengatakan bahwa dia tak rela putrinya di perlakukan seperti itu.
“Jane...,” teriak Ibu Sofia saat tubuh Jane semakin menjauh dari jangkauannya.
Bruk... tubuh Ibu Sofia terjatuh ke lantai yang penuh dengan noda darah Jane. Air matanya semakin deras mengalir, menyadari bahwa dia tak dapat menjakai putrinya.
***
“Jane...,” teriak Ibu Sofia.
“Ibu tidak apa-apa?” tanya seseorang yang berada di sampingnya.
Seketika Ibu Sofia melihat ke sampingnya dan melihat seorang suster sedang memeriksanya. Ibu Sofia mengedarkan pandangannya, dia melihat ruangan tempatnya verada berwarna putih dan sebuah infus terpasang di lengan kirinya.
“Saya...,” kata Ibu Sofia merasa kaget dengan keadaannya saat ini.
“Tadi ibu pingsan di depan ruang ICU, jadi ibu terpaksa di rawat.”
“Putri saya....”
“Dia masih di ICU dan kondisinya sudah mulai membaik. Kami sudah meminta security ibu untuk mengabari keluarga ibu.”
“Tidak maksud saya bukan Jenie, tapi Jane,”
“Jane?”
Suster itu mengerutkan kening saat mendengar Ibu Sofia menyebutkan nama Jane karena seingat dia, Ibu Sofia hanya membawa Jenie, bukan Jane.
“Iya Sus, Jane, kembaran Jenie,” kata Ibu Sofia.
“Tapi ibu hanya membawa satu putri tadi,” kata suster dengan wajah yang masih bingung.
Tiba-tiba Ibu Sofia ingat bahwa Jane telah pergi untuk selamanya meninggalkan dia dan Jenie dalam kesedihan yang sangat memilukan.
“Maaf Sus, saya lupa. Saya terbawa perasaan,” kata Ibu Sofia.
“Tidak apa-apa, Bu, saya permisi dulu, Bu, kalau Ibu butuh apa-apa, Ibu bisa pijit tombil yang ada di samping tempat tidur.”
“Baik, terima kasih, Sus.”
Sepeninggal suster, Ibu Sofia kembali termenung mengingat semua yang dia alami. Bayangan Jane yang di siksa oleh sosok hitam menyeramkan itu kembali ke dalam ingatannya. Bayangan itu begitu nyata, tapi kondisi Ibu Sofia tadi sedang pingsan.
“Apa yang terjadi padamu, Jane?” tanya Ibu Sofia dengan suara yang lirih dan nyaris tak terdengar.
Bulir-bulir bening kembali membasahi pipinya. Masih teringat dalam ingatannya bagaimana Jane begitu kesakitan menerima perlakuan yang kasar dari sosok hitam itu.
Dia mencoba memjamkan matanya namun matanya tak mau terpejam sama sekali. Bayangan akan kondisi Jane selalu menghantuinya. Walau Jane telah tiada, tapi nalurinya sebagai ibu tetap tak rela jika Jane di siksa seperti itu.
Tok.. tok... tok... sebuah ketukan di pintu membuyarkan semua pemikiran Ibu Sofia mengenai Jane. Di hapusnya air mata yang sedari tadi membasahi pipinya. Seorang perempuan cantik masuk ke dalam ruang rawat inap Ibu Sofia dengan wajah yang begitu cemas dan terburu-terburu. Dia adalah Tian, adik Ibu Sofia yang tinggal bersama Ibu Sofia.
“Kakak tidak apa-apa?” tanya Tian saat berada di samping tempat tidur kakaknya.
“Aku sudah baikan, Ti, kamu sudah melihat Jenie?”
“Sudah, Kak.”
“Bagaimana kondisinya?”
“Kata dokter dia sudah membaik dan sekarang sedang tidurlah.”
“Syukurlah.”
Ibu Sofia menarik napas dalam mendnegar kondisi Jenie yang sudah membaik. Ada rasa tenang yang mulai menjalar di dalam hatinya. Ya, Ibu Sofia tenang karena putri yang di sayangnya telah mulai membaik.
“Kakak kenapa gak ngasih tahu aku kalau kakak mau keluar?”
“Kamu sedang tidur, Ti, jadi kakak gak bangunin kamu,”
“Lalu di mana kakak menemukan Jenie?”
“Di makam Jane.”
“Apa, di makam Jane? Sedang apa dia?”