Wush... sebuah pisau melayang dan berhenti tepat di tengah-tengah photo seorang pria. Lelaki bermata biru, berhidung macung dan tentu saja berwajah tampan. Wajah indonya terlihat begitu sangat menawan dan akan membuat banyak perempuan tertarik padanya. Tak akan ada alasan bagi perempuan mana pun untuk tak tertarik pada dia yang begitu sempurna.
Tap... tap... tap... langkah kaki seorang perempuan berkaki mulus yang mengenakan sebuah high hils setinggi 12cm dan dipadukan dengan dress hitam 10cm dari lutut, memecah kesunyian sebuah ruangan yang temaram.
“Sekarang giliranmu untuk merasakan semuanya,” kata-kata itu meluncur dari bibir merahnya yang menggoda.
Perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah Jenie. Dia berpenampilan sangat cantik, dan sangat menggoda. Siapapun akan tergoda dengan penampilan Jenie malam ini.
Saat ini dia tak lagi tinggal bersama Ibu Sofia. Seminggu yang lalu dia memaksa Sang bunda untuk memberikannya izin kembali berkuliah yang artinya dia harus kembali tinggal di rumah yang biasa di tempati olehnya dan Jane selama berkuliah.
Jane dan Jenie memang berkuliah di luar kota dan mereka di fasilitasi sebuah rumah megah dengan beberapa orang pelayan di dalamnya. Ibu Sofia memastikan rumah itu senyaman dengan rumah mereka agar kedua putrinya tak kehilangan kenyamanan sebuah rumah.
Jenie mengambil pisau yang tertancap pada photo pria itu. Dia melemparkan pisau ke atas tempat tidur dan mengambil photonya. Dia menyalakan korek api yang sedari di pegangnya dan membakar photo pria itu. Dia terus memegang photo itu hingga perlahan api membakar semua bagaian photo hingga berubah menjadi abu. Jenie tak sedikit pun melepaskannya walau tangannya sedikit terbakar dan kepanasan. Baginya, luka ini tak seberapa jika dibandingkan dengan luka di hatinya karena kehilangan kembarannya, Jane.
Jenie melangkahkan kakinya dan mengambil tas dari atas tempat tidur. Sekali lagi Jenie memeriksa isi tasnya yang terdiri dari dompet dan dua benda lainnya yang menjadi benda wajib yang harus di bawanya saat ini. Ia melangkahkan kakinya keluar dati kamar dengan senyuman yang penuh arti.
“Saya pergi ke club, jangan tunggu saya pulang. Kalau kalian mau tidur, tidurlah saya bawa kunci,” kata Jenie pada pelayan dan mereka hanya mengangguk.
Kembali Jenie melangkahkan kakinya menuju garasi. Kaki indahnya melangkah memasuki sebuah Ferari merah yang terparkir di samping Ferari biru milik Jane.
“Tidak, aku tak boleh menggunakan mobilku,” batin Jenie.
Dia segera kembali ke dalam rumah dan melangkahkan kakinya memasuki sebuah kamar gelap. Kamar yang sudah hampir tiga bulan tidak lagi dihuni namun semua barang-barangnya masih terjaga kebersihan dan kerapihannya.
Jenie menyalakan lampu dan berjalan menuju meja rias yang ada di kamar itu, kamar milik Jane. Ya, di rumah ini mereka memang tidur terpisah dan memiliki privasi masing-masing.
“Aku pinjam mobilmu Jane, dan aku tahu kamu akan mengizinkannya,” kata Jenie lirih.
***
Hentakan musik keras memekakan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya. Tapi mereka yang berada di sana begitu menikmati musik yang berdentum dengan kerasnya. Lampu-lampu warna-warni menyinari setiap sudut ruangan yang ada di sana. Tidak lampu itu bukan lampu hias, tapi lampu-lampu khas diskotik.
Seorang perempuan cantik memasuki ruangan yang penuh dengan bau minuman dan hentakan musik keras. Dia terlihat kikuk namun mencoba untuk menikmati semuanya. Ia adalah Jenie, gadis yang mengenakan dress yang sangat seksi dan membuat semua mata pria tertuju pada kecantikannya dan keseksiannya.
Jenie mengangkat sedikit dagunya dan berjalan dengan angkuh menuju bar yang ada di club tersebut. Mata tajamnya mengedarkan pandangan ke semua penjuru mencari seseorang yang sangat di kenalnya.
“Vodka,” kata Jenie pada bartender.
Dia tak memperhatikan minuman yang telah tersaji di hadapannya. Matanya terus mencari sosok seseorang yang sangat di rindukannya, sangat ingin ditemuinya.
“Hai cantik, turun yuk,” kata seorang pria yang telah berdiri di samping Jenie.
Jenie menatap pria itu tajam. Dia menyelidiki pria itu yang kini perlahan mulai berlaku kurang ajar padanya. Tangan lelaki itu mulai mengelus paha Jenie yang terbuka dan tatapannya tak pernah lepas dari belahan d**a Jenie.
“Ok, why not?” kata Jenie sambil mengikuti pria itu untuk turun ke lantai dansa.
Jenie meliukkan tubuh rampingnya mengikuti hentakan musik yang menggema. Semakin lama, goyangan Jenie semakin berani hingga membuat banyak pria mendekat ke arahnya.
Tidak, ini tak membuat Jenie lengah dari apa yang sedang di carinya. Matanya masih terus mencari orang yang dia cari.
“Hai cantik,” kata seorang pria dari belakang Jenie sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Jenie.
Seketika Jenie membalikkan badannya dan melihat siapa yang ada di belakangnya. Dia ingin memastikan bahwa pria itu memang orang yang sedang dia cari.
“Michel?” gumam Jenie lirih saat melihat pria yang ada di belakangnya.
Ya, pria itu adalah pria yang sedang Jenie cari. Seorang pria yang memiliki wajah indo dengan mata biru dan hidung mancung. Tanpa ragu Jenie langsung melingkarkan tangannya pada leher Michel dan terus menggoyangkan tubuhnya.
Jenie mencoba menikmati setiap henntakan musik dan setiap goyangan yang dia lakukan. Sesekali bibirnya tersenyum menggoda Michel yang kini berada di hadapannya.
Michel Hawkins adalah teman kuliah Jenie namun mereka berbeda Fakultas. Jenie cukup mengenal Michel karena dia adalah teman dari kekasihnya. Kekasih yang begitu dicintai dan di sayangnya.
“Duduk dulu, yuk!”kata Michel di telinga Jenie, dan Jenie hanya mengangguk pelan.
Michel melingkarkan lengan kokohnya pada pinggang ramping Jenie hingga membuat beberapa pria iri melihatnya.
“Kamu cantik, Sayang,” kata Michel setelah mereka berdua duduk di pojokan.
Bau alkohol tercium begitu menyengat dari mulut Michel, menandakan bahwa dia telah sangat banyak minum. Jenie tersenyum simpul mendengar pujian Michel. Tidak, dia bukan senang dengan apa yang di katakan oleh pria itu, tapi dia senang dengan keadaan Michel yang sudah mulai mabuk. Beberapa kali Michel memaksa Jenie untuk minum, tapi Jenie selalu menolaknya dengan banyak alasan. Atau dia seperti meminumnya tapi tak meminumnya.
Jenie mendekatkan duduknya pada Michel. Ia mulai menggoda dengan mengatakan kata-kata mesra di telinga Michel hingga membuat Michel terbang ke langit ke tujuh. Sesekali Jenie mencium basah telinga Michel, dan pria itu semakin mempererat memeluk pinggan Jenie.
“Kita pergi, Honey!” kata Michel dan Jenie mengyakan ajakan Michel. Mereka beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan semua hiruk pikuk dan keramaian khas club.
Michel membawa Jenie ke sebuah mobil Mazda yang terparkir tak jauh dari mobil Ferrari milik Jane.
“Kita pergi ke surga sayang,” kata Michel sambil duduk di balik kemudi.