Bab 11

1037 Words
Jenie duduk manis di kursi penumpang yang ada di samping Michel. Dia menatap tajam ke arah pria yang tengah menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepertinya Michel menyadari bahwa dirinya sedang mabuk berat hingga tak menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. “Hanya dengan make up glamour saja matamu sudah tak mengenaliku, Mich,” kata Jenie dalam hati. Ya, make up Jenie malam ini memang glamour dan di tambah dengan kondisi Michel yang sudah mabuk berat membuat ia tak menyadari siapa Jenie. Terbukti sampai saat ini Jenie duduk di sampingnya, Michel tak menyadari siapa Jenie. Sesekali tangan Michel mengelus paha Jenie yang begitu putih dan halus. Dan Jenie membiarkannya untuk mengelus pahanya sesuka hatinya. Jenie hanya berharap bahwa semua rencana yang telah di susun dengan rapi akan berjalan dengn baik. Ia tak ingin mengali kegagalan walau hanya sedikit saja. Sesekali Jenie melihat Michel tersenyum penuh kemenangan. Dia terlihat begitu bahagia karena berhasil mengajak Jenie pulang bersama. “Berbahagialah sebentar saja, setelah ini kamu akan menyesali semuanya,” kata Jenie dalam hati. Tanpa terasa akhirnya Michel sampai juga di sebuah rumah yang begitu mewah dan megah. Rumah yang ditinggalinya seorang diri karena kedua orang tuanya tinggal di luar negeri. Michel memang memiliki dua orang pembantu rumah tangga, tapi mereka sedang izin pulang sejak tadi pagi dan baru akan kembali lusa. Michel membukakan pintu untuk perempuan yang sedari tadi bersamanya. Jenie melangkahkan kakinya dan langsung disambut dengan tangan Michel yang melingkar di pinggang Jenie dengan posesif. Michel membimbing Jenie untuk memasuki kamar pribadinya. Sebuah kamar yang begitu luas yang dindingnya  dicat dengan warna putih bersih tanpa noda. Bruk... Michel melemparkan tubuh Jenie ke atas tempat tidur. Dia segera menyusul wanitanya dengan senyum m***m yang menghiasi bibir. Tepat sebelum tubuh Michel menindihnya, Jenie berguling ke sisi lain tempat tidur. Tidak, dia bukan ingin bermain-main dengan Michel, tapi ini adalah bagian dari rencananya. “Ayolah, Baby, jangan bercanda dan menyiksaku seperti ini,” kata Michel yang sepertinya memang tak ingin berlama-lama. Jenie kembali mendekat ke arah Michel dengan senyuman yang menggoda. Dielusnya wajah Michel dengan tangannya yang lentik yang halus. “Kamu sudah tak tahan, Honey?” tanya Jenie sambil terus memainkan jemarinya. “Ya, Baby, cepatlah,” kata Meichel sambil berusaha mengelus tubuh Jenie tapi Jenie menolaknya. Tangan lentik Jenie mulai turun ke beberapa bagian tubuh Michel yang lain. Jenie membelainya dengan sangat lembut dan halus hingga membuat Michel tersiksa dengan apa yang dilakukan oleh Jenie. Perlahan tapi pasti Jenie membuka satu persatu setiap kain yang menempel pada tubuh Michel hingga akhirnya dia  polos seperti bayi yang baru lahir. “Kamu tak membuka bajumu, Baby?” tanya Michel. Jenie tak menjawab pertanyaan Michel. Dia melangkahkan kakinya dan mengambil tas yang disimpannya di atas meja yang ada di kamar Michel. Kembali ia melangkahkan kakinya dengan gemulai sambil mengeluarkan tali tambang yang sedari tadi tersimpan rapi di dalam tasnya. “Itu untuk apa, Baby?” tanya Michel. “Untuk mengikatmu!” “Kamu suka bermain kasar ya, Baby?” Jenie tak menjawabnya, dia hanya melakukan apa yang harus ia lakukan. Dia mengikat tangan Michel pada kepala tempat tidur, dan Michel menurut dengan senang hati. Setelah mengikat tangan Michel, Jenie mengambil pembersih wajah dari tasnya dan mulai membersihkan semua make up-nya. Kini wajahnya kembali seperti dirinya yang sesungguhnya. “Hallo Michel, ingat saya?” tanya Jenie. “Kamu... kamu Jenie... tapi kamu sudah meninggal,” kata Michel ketakutan. “Meninggal? Pastikan dulu siapa yang meninggal Michel!” kata Jenie sambil tersenyum “Aku yakin kamu sudah meninggal,” kata Michel yang begitu yakin. Jenie membiarkan Michel dengan semua pemikirannya. Dia kemudian mengambil pecahan kaca besar dari dalam tasnya. Pecahan kaca yang berasal dari vas bunga yang di pecahkannya di kamarnya. “Kamu mau apa, Jen?” tanya Michel ketakutan. “Tenanglah, Mich, aku hanya ingin sedikit bermain-main denganmu. Sama dengan kamu yang sudah bermain-bermain denganku,” kata Jenie dengan sebuah senyum yang menghiasi bibir indahnya. Perlahan tapi pasti tangan lentik Jenie mulai menggores perut Michel dengan pecahan kaca yang di bawanya. Darah segara mulai keluar dari goresan yang dilakukan Jenie. “Aaggghh...,” teriak Michel memenuhi kamarnya yang begitu luas. Beruntung kamar Michel kedap suara hingga tak akan ada orang yang mendengar teriakan Michel. “Sakit? Itulah yang saudara kembarku rasakan saat kalian merobek perutnya,” kata Jenie sambil terus menggores perut Michel. Darah yang keluar semakin banyak hingga membasahi tubuh Jenie. Tak ada rasa gentar dalam hatinya, ia terus merobek perut Michel dengan pecahan kaca yang dibawanya. Teriakan Michel terus memenuhi kamarnya, tapi Jenie sama sekali tak peduli. Dia hanya berpikir bahwa dirinya harus membalaskan dendamnya atas kematian saudara kembarnya. “Ampun, Jen!” kata Michel sambil menahan rasa sakit yang teramat pada perutnya. “Ampun kamu bilang? Dia memohon ampun pada kalian, tapi kalian tidak mengampuninya dan terus menyiksanya,” kata Jenie sambil semakin dalam menggores perut Michel. Perlahan tapi pasti goresan itu semakin dalam dan mulai memperlihatkan bagian dalam isi perut Michel. Semakin lama teriakan Michel semakin memudar dan tubuhnya mulai mengejang meregang nyawa. Ya, Michel mulai kehabisan darah karena luka robek yang di alaminya. Luka robek yang harus dia rasakan begitu sakit karena dilakukan tanpa obat bius, dan hanya dengan pecahan kaca, bukan dengan pisau. Jenie tak menghiraukan Michel yang tengah meregang nyawa. Dia terus merobek dan sesekali menggores wajah tampan Michel dengan pecahan kaca itu. Dia hanya ingin Michel merasakan apa yang dirasakan saudari kembarnya, bahkan lebih sakit. Michel dan kawan-kawannya merobek perut Jane dengan pisau yang tajam saat Jane pingsan karena melayani nafsu liar mereka. Tapi kini Michel merasakannya dengan kesadaran penuh. Sekali hentakan, Michel akhirnya terdiam. Dia tak lagi bergerak walau hanya sekejap. Dia telah benar-benar meninggal karena kehabisan darah. Lalu apa Jenie menghentikan aksinya? Tidak, Jenie terus merobek perut Michel hingga isi perut Michel terurai, sama seperti yang di alami oleh Jane. Tidak hanya sampai di sana, Jenie juga mengelupas wajah tampan Michel dengan pecahan kaca. Jenie sangat benci dengan wajah Michel hingga dia tak ingin siapapun mengenalinya lagi. Akhirnya... semua selesai dan sesuai dengan keinginan Jenie. Tubuh Michel bersimbah darah dengan isi perut terurai dan tentu saja dengan kulit wajah yang tersayat hingga tak ada lagi kulit yang tersisa di wajah tampannya. “Satu telah kalah, tinggal empat lagi. Bersiaplah kalian!” kata Jenie dalam hati.            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD