Tiba-tiba saja, jantung Shena berdegup dengan kencang, saat mendengar sebuah penuturan dari mulut mantan suaminya. Ke manakah pria itu akan membawanya pergi, hingga nekat membohonginya seperti ini.
"Aksa, sebenarnya kita mau ke mana?" Shena bertanya dengan penuh selidik, sambil menggoyangkan tangan pria itu. Jujur saja, ia merasa takut saat Aksa mulai mengeluarkan taringnya.
"Shena, begitu takut kah kamu padaku, sampai-sampai cemas seperti orang yang sudah diculik saja. Tenanglah, Aku hanya ingin membawamu makan malam di tempat pertama kali kita bertemu." Aksa berkata dengan santai, serta menampilkan senyuman termanisnya. Sedangkan, Shena sudah tak habis pikir dengan apa yang Aksa pikirkan. Pria itu benar-benar sudah gila, hingga menculiknya hanya untuk makan malam saja.
"Aksa, ini tidak lucu. Sebaiknya cepat turunkan aku di sini!" Shena meminta Aksa agar menghentikan mobilnya. Ia sangat benci dengan cara dibohongi seperti ini. Bukankah pria itu sangat keterlaluan. Apalagi, Aksa Seolah tidak punya rasa bersalah sedikit pun terhadap dirinya di masa lalu.
"Shena, tenang saja, sebentar lagi kita akan sampai. Kau pasti akan menyukainya, karena tempat itu tidak banyak berubah, dan tetap sama seperti dulu." Aksa berkata seolah tak peduli dengan ucapan sosok wanita yang ada di sampingnya. Pria itu bahkan tersenyum bahagia, seraya terus melajukan kendaraannya. Ini benar-benar menyebalkan.
*
Sesampainya di tempat yang telah mereka tuju, Shena berusaha agar tetap tenang dan bersikap dingin kepada Aksa. Ya, meskipun pria itu masih tersenyum bahagia seraya berjalan beriringan di sampingnya.
"Kita duduk di sebelah sana saja," tunjuk Aksa pada sebuah meja yang ada di dekat jendela, menghadap ke arah kolam renang yang sangat indah. Wanita itu hanya diam dan patuh mengikuti langkah kaki Aksa.
"Kenapa kau memesan nasi goreng dua porsi?" Tanya Shena pada Aksa setelah seorang pelayan datang menghampiri mereka. Kini, wanita itu yengah menatap pria yang ada di hadapannya dengan tatapan penuh selidik.
"Aku memesannya, agar kita bisa merasakan satu makanan yang sama." Aksa menjawab dengan santai, dan tersenyum lembut sambil menatap ke arahnya. Kali ini Shena sudah tidak bisa berbuat apapun lagi, karena pria itu akan berbuat sesuka hati tanpa mendengarkan ucapannya. Sangat egois, bukan.
"Terserah kau saja." Shena benar-benar muak terhadap pria yang ada di hadapannya. Sehingga ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi Aksa yang saat ini sudah benar-benar gila.
Tak berselang lama, makanan mereka pun sudah tersaji di atas meja. Aksa maupun Shena tidak ingin membuang-buang waktu, dan segera menyantapnya dengan hikmat.
"Shena, kenapa selama ini kau tidak pernah menghubungiku?" Tanya Aksa di sela makannya. Pria itu menatap Shena seolah menuntut jawaban.
"Apa yang kau maksud?" Bukannya menjawab, Shena justru bertanya kembali kepada Aksa, dengan tatapan yang sangat datar dan tanpa ekspresi sedikitpun.
"Shen, jangan berpura-pura lagi di hadapanku. Aku tahu, kau tidak melupakanku, kan. Kenapa kau menghilang secara tiba-tiba, dan begitu cepat? Bahkan, selama ini aku tidak pernah mendengar sedikitpun kabar tentang dirimu." Kini Aksa sudah melepaskan sendok yang ada di tangannya dan menampilkan wajah yang mulai serius.
Shena pun segera meminum jus yang ada di hadapannya, lalu menatap Aksa dengan tatapan dingin tanpa ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Sebaiknya kita akhiri saja makan malam ini. Aku masih punya urusan penting, permisi." Wanita itu segera bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Aksa seorang diri, di sana.
Tentu saja Aksa terkejut dengan reaksi Shena yang sangat berlebihan. Pria itu segera mengejar sang mantan istri, agar tidak ketinggalan jauh. Tak lupa juga, ia mengeluarkan beberapa lembar uang yang ditaruh di atas meja sebelum dirinya pergi mengejar Shena.
"Shena tunggu!" Seru pria itu memanggil sosok wanita yang terus berjalan, tanpa menghiraukan panggilan darinya.
"Shena, tolong jangan seperti ini. Maafkan Aku. Maaf jika aku sudah mengganggu kenyamanan mu. Jangan pergi lagi dariku." Dengan nafas yang memburu, Aksa kini berhasil meraih pergelangan tangan Shena. Sehingga membuat wanita itu menoleh ke arah pria yang ada di belakangnya, dengan tatapan yang tak pernah berubah. Tetap datar dan dingin.
"Kau tidak perlu mencemaskan hal itu, karena aku akan tetap pulang. Sekarang, tolong lepaskan tanganmu dariku!" Shena meminta Aksa agar melepaskan tangannya yang kembali digenggam erat olehnya, seolah tak ingin kehilangan lagi.
"Tidak, aku mohon jangan pergi lagi. Baik, aku akan mengantarkan mu pulang. Kau tunggu di sini, aku ambil mobil dulu." Sesaat setelah itu, Aksa segera bergegas mengambil mobilnya di parkiran. Pria itu benar-benar tidak ingin kehilangan Shena kembali. Ya, meskipun kenyataannya Shena sudah memiliki keluarga yang entah kebenarannya.
Shena patuh dan diam, sambil menunggu kedatangan Aksa di dekat jalan. Tak menunggu lama, kini mobil Aksa sudah ada di hadapannya, dan pria itu segera turun dari dalam mobil untuk membukakan pintu Shena.
"Masuklah!" Shena pun segera masuk tanpa banyak bicara.
"Shena, aku mohon kamu jangan marah lagi. Apalagi dengan cara mendiamkan ku seperti ini." Aksa berkata sambil menatap Shena, dengan tatapan yang memelas sebelum pria itu melajukan kendaraannya.
"Aksa, sepertinya kamu sudah melewati batas. Kita tidak sedekat itu dan jangan pernah mengusik kehidupanku. Karena apa yang aku lakukan, tidak ada hubungannya dengan dirimu!" Kini Shena menjawab dengan ketus, serta melayangkan tatapan tajamnya karena tak suka dengan perilaku Aksa.
"Ma-maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, Shen. Kalau begitu ayo kita pulang."
Setelah perseteruan itu selesai, kini mereka hanya terdiam satu sama lain. Shena yang sudah kesal dan suasana hatinya menjadi buruk, semakin membuat Aksa jadi serba salah. Namun, beberapa saat kemudian, terdengar suara dering dari ponsel milik Shena yang ada di dalam tas kecil wanita itu, hingga membuyarkan lamunan keduanya.
Shena yang mendengar hal itu, segera menerima panggilan video yang berasal dari Mario.
"Halo Ibu!" Shena cukup terkejut, saat menerima panggilan video tersebut, yang langsung disambut oleh kedua anaknya dari seberang sana. Terlihat jelas, Shaka dan Shila begitu antusias setelah melihat wajahnya. Wanita itu pun tak ingin kedua anaknya kecewa, saat melihat wajahnya yang masam, dan ia segera merubah raut wajah itu dengan senyuman termanis yang pernah ia miliki.
"Halo sayang. Bagaimana kabar kalian berdua?" Tanya Shena kepada anak kembarnya.
"Baik, ibu. Ibu jangan khawatir pada kami berdua, karena Daddy selalu bersama kami." Kini Shaka menjawab untuk meyakinkan sang ibu, yang diangguki oleh Shila sebagai tanda setuju dengan apa yang kakaknya ucapkan.
"Kalian memang anak pintar. Ingat pesan ibu, jangan nakal di sana. Ngomong-ngomong soal Daddy, ke mana Daddy kalian pergi? Kenapa hanya ada kalian berdua? Apa kalian membuka ponsel Daddy tanpa izin?"