Sinta teman kerjaku

1155 Words
Shena menatap kedua anaknya dengan tatapan penuh selidik, karena ia tahu putra dan putrinya itu sedikit nakal, apalagi Mario terlalu memanjakan mereka berdua. "Iya Bu, sekarang Daddy sedang mandi. Kami melakukan ini karena terlalu merindukan ibu, dan Daddy sangat lama. Kami tidak sabar," ucap Shila yang kini merebut ponsel dari kakaknya. "Yang dikatakan Shila itu memang benar Bu. Kami juga tidak sabar untuk bertemu Ibu minggu depan." Kini Shaka merebut kembali ponsel yang ada di tangan Shila. Shena hanya menghela nafas panjang, saat mendengar alasan kedua anaknya. Sedangkan Aksa, pria itu diam-diam melirik ke arah ponsel milik Shena, untuk melihat anak-anak yang terdengar sangat menggemaskan itu. "Shen, apa mereka anak-anakmu?" Aksa bertanya seketika saat melihat sekilas wajah Shaka dan Shila. Entah kenapa dia sangat penasaran dengan mereka berdua. "Tentu saja." Shena menjawab dengan dingin, tanpa menoleh ke arah sumber suara, sehingga Aksa terdiam kembali tanpa ingin mengganggu mereka. Namun, tiba-tiba saja jantungnya mulai berdetak dengan kencang, tatkala mendengar suara bariton dari seberang telepon sana. Ia yakin, jika pria itu adalah ayah dari anak-anak Shena. Entah kenapa hatinya tiba-tiba sakit, dan tanpa sadar ia menggertakkan gigi serta mencengkram kemudi dengan sangat kuat. "Sayang maafkan aku, karena telat menghubungimu, hingga anak-anak membuka ponselku. Kamu jangan memarahi mereka, lantaran ini semua kesalahanku." Kini Mario mengambil alih ponselnya dari Shaka, hingga menampilkan wajahnya di seluruh layar ponsel. Terlihat jelas, jika pria itu baru selesai mandi karena masih ada tetesan-tetesan air dari rambutnya yang basah. Pria itu memang sangat menggoda. "Ini karena kecerobohanmu, jadi mana mungkin aku menghukum mereka." Shena berkata dengan sangat malas, sambil memutarkan bola matanya karena jengah dengan kecerobohan Mario. Sedangkan pria itu, hanya terkekeh mendengar penuturan yang keluar dari mulut Shena. Bukankah wanita itu terlalu dingin? Ah, Mario maupun Aksa sangat tertarik dengan wanita tersebut. "Baiklah baiklah ini semua salahku--." "Daddy ayo kita temui ibu!" Kini Shaka dan Shila sudah merengek kepada Mario, hingga menampilkan raut wajah yang memelas. Tentu saja itu adalah kelemahan Mario karena pria itu sangat menyayangi Shaka dan Shila. "Shaka, Shila, kalian jangan menyusahkan Daddy. Tunggu minggu depan sampai Daddy mengurus cutinya dan kalian akan menemani Ibu di sini sepuasnya. Benar kan, Daddy?" Tanya Shena kepada Mario sambil melayangkan tatapan penuh arti. "I-iya tentu saja sayang. Setelah Daddy mengurus cuti di kantor, Daddy janji akan membawa kalian ke tempat ibu." Shena bernafas lega, saat Mario mampu bekerja sama dengannya untuk menenangkan Shaka dan Shila yang terus merengek. "Hore, kita akan bertemu ibu!" Seru Shaka dan Shila yang kini justru memeluk serta mencium Mario dengan antusias. "Kalau begitu, kalian jangan nakal dan patuhi Daddy, oke. Baiklah, Ibu tutup dulu panggilannya. Kalian harus menjaga kesehatan dan berhati-hati." "Siap bu!" "Sayang, kau tenang saja, ada aku yang menjaga mereka. Kamu juga harus baik-baik di sana, dan sampai jumpa nanti." Setelah memutuskan sambungan video dari Mario, kini suasana di dalam mobil tersebut kembali hening, hingga tak terasa Aksa sudah berhenti di sebuah rumah kecil yang kini menjadi tempat tinggal Shena untuk sementara waktu. "Terima kasih, lain kali jika Tuan Aksa yang terhormat ini ada waktu luang, gunakan waktu itu sebaik mungkin untuk hal yang berguna, daripada menculik orang dan mempermalukan diri sendiri." Shena berkata sangat dingin sebelum keluar dari mobil tersebut. Aksa yang mendengar hal itu merasa tak terima, dan langsung mencengkram tangan wanita tersebut dan menariknya hingga sedikit terhuyung ke arahnya. Kini mereka berdua saling berhadapan dan terdiam. "Shena, apapun penilaian mu, Aku tidak akan pernah peduli. Bukankah kau sangat keterlaluan padaku?!" Aksa berdesis dengan sorot mata yang tajam, karena tak terima dengan sikap mantan istrinya yang begitu dingin. "Aksa, Apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan aku! Jika kau tidak peduli, Kenapa kau tidak menerima apa yang aku ucapkan. Lalu apa yang kau katakan. Aku? Keterlaluan padamu? Bukankah kau sangat egois dan tidak tahu diri? Jika tidak ada kepentingan lagi, maka lepaskan tanganku dan cepat pergi dari sini!" Ucapan Shena tak kalah tajam, dan wanita itu segera menarik tangannya yang dicengkeram oleh Aksa serta keluar dari mobil tersebut. "Ah siall, siall, siall! Kenapa jadi seperti ini?! Shena, tak kusangka kau benar-benar berubah, dan telah mencampakkan ku sepenuhnya. Bahkan, kau sudah bahagia dan telah berkeluarga. Sedangkan aku, masih berdiam diri dalam Kubangan penyesalan yang aku alami. Shena, cepat atau lambat kau akan menjadi milikku lagi." Aksa mengumpatt setelah Shena pergi dari mobilnya. Ia benar-benar merasakan ketidakadilan dalam hidupnya. * Seperti biasa, hari ini adalah hari di mana Shena bekerja. Dengan langkah yang pasti, wanita itu mulai memasuki gedung bernuansa putih, sebuah rumah sakit swasta tempat ia bekerja. Beruntung, suasana hatinya tidak terlalu buruk setelah kejadian semalam. Jika dipikir-pikir, kejadian itu membuat Shena harus lebih berhati-hati terhadap Aksa, karena pria itu bisa saja menjadi sangat berbahaya. "Selamat pagi, Shen." Baru saja Shena berpikir untuk menjauhinya, kini justru pria itu datang menyapa seraya tersenyum lembut padanya. Bukankah, pria itu sangat tidak tahu malu. Benar-benar menyebalkan. "Selamat pagi, Pak Aksa," ucap Shena menjawab sapaan dari Aksa, tanpa senyuman di wajahnya. Ia hanya ingin bersikap profesional di tempat kerja, dan tidak melibatkan masalah pribadi maupun keluarga di area tempat kerjanya saja, agar ia bisa fokus dan tidak mengganggu hal lain. "Apa kau punya waktu sebentar?" Tanya Aksa yang terus mengikuti Shena yang tengah berjalan menuju ruangannya, hingga membuat wanita tersebut menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba. "Apa pak Aksa punya urusan penting?" Kini Shena justru bertanya balik, seraya menatap Aksa dengan tatapan penuh selidik. Apakah pria itu tidak bisa, jika tidak mengganggunya sehari saja. "A-aku ingin--." "Kak Aksa!" Tiba-tiba saja terdengar seorang wanita yang memanggil pria tersebut hingga Shena maupun Aksa menoleh ke arah sumber suara. "Sinta, jangan memanggilku seperti itu jika di rumah sakit. Sudahlah, ada apa mencari ku?" Aksa bertanya pada sosok wanita yang bernama Sinta tersebut, setelah wanita itu menghampiri mereka berdua. Shena yang melihat Sinta yang bersikap seolah malu-malu, hanya menatapnya dengan dingin. Sepertinya Shena sedikit familiar dengan sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut. "Kak Aksa. Eh, pak Aksa, sebenarnya semalam kamu ke mana?" Sinta bertanya dengan menampilkan raut wajah yang sangat memelas. "Bukan urusanmu. Shena perkenalkan ini Sinta, dia juniorku saat kuliah sekaligus teman kerjaku sejak kami bekerja di sini." Kini Aksa memperkenalkan Sinta kepada Shena. "Oh begitu, perkenalkan saya Shena. Dokter baru di rumah sakit ini." Shena berkata dengan tegas, seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, yang segera diterima oleh gadis bernama Sinta tersebut. "Sinta. Saya teman kerja pak Aksa." Sinta memperkenalkan diri dan diacuhkan oleh Shena yang masih bersikap acuh tak acuh. "Jika kalian sedang ada perlu, kalau begitu saya pamit undur diri. Masih ada banyak pekerjaan yang harus saya lakukan." Aksa yang mendengar penuturan dari Shena langsung melepaskan tangan Sinta yang memegangi jas kerjanya, dan segera mengejar Shena. "Shena, tunggu Aku!" "Ada apa Pak Aksa memanggil saya sambil berlari seperti itu?" Tanya Shena yang berpura-pura tidak tahu. "Kamu jangan salah paham dia hanya sebatas teman kerja." "Menurut Pak Aksa, saya terlihat peduli dengan dia? Lagi pula, Kenapa saya harus salah paham dengan wanita seperti itu. Apakah dia benar-benar layak untuk saya pikirkan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD