Jantung Shena berdebar kencang karena kaget. Kenapa dia membahas ini lagi? "Oh ya?" Shena menjawab dengan suara yang terdengar sedikit terlalu tinggi. "Teori yang menarik, tapi setiap anak unik, Sa." "Betul," Aksa mengangguk setuju. Dia memajukan tubuhnya sedikit lalu menatap Shena lekat-lekat. "Aku jadi ingat Shaka dan Shila waktu aku lihat foto mereka di meja kerjamu kemarin. Siapa yang namanya Shaka? Yang laki-laki?" "Iya," jawab Shena pendek. "Matanya bagus," puji Aksa lembut. "Sorot matanya tajam dan mengingatkanku pada seseorang." Shena menahan napas. "Dia mirip Mario," potongnya cepat. Aksa tertawa kecil, sebuah tawa yang kering dan hambar. "Mario? Ah iya, tentu saja. Mario punya mata yang ramah, tetapi Shaka berbeda. Ada api di matanya, sesuatu yang keras kepala." Kemudian A
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


