Saat pintu otomatis ruang cuci tangan tertutup di punggungnya, Aksa tidak menoleh lagi. Meskipun suaranya pelan, bagi Aksa bunyi itu terdengar seperti tanda dimulainya sebuah perang. Dia meninggalkan Shena yang masih berdiri kaku di depan wastafel, lalu berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit. Langkah kakinya tegas dan bergema di lantai yang bersih. Tangan kanannya mengepal kuat di dalam saku jas putihnya karena dia sedang menggenggam benda paling berharga saat ini, yaitu sehelai tisu yang membungkus beberapa helai rambut panjang. Aksa sangat yakin bahwa rambut itu milik putrinya. Harus diakui, penjelasan Shena tadi memang masuk akal. Asma, riwayat keluarga, serta tanda-tanda fisik kekurangan oksigen, semuanya terdengar logis. Shena memang dokter hebat yang tahu cara merangkai fakta

