Bukti

676 Words

Shena menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila. Dia tahu satu gerakan mata yang salah atau getaran kecil dalam suaranya akan membuat Aksa semakin yakin. Dia sedang berhadapan dengan dokter bedah senior, bukan orang awam. Shena membuang tisu bekas ke tempat sampah injak dengan gerakan tenang. Dia menegakkan punggungnya, mengubah aura tubuhnya dari seorang wanita yang terpojok menjadi seorang rekan sejawat yang profesional. Shena berbalik, lalu bersedekap menatap Aksa. Tatapannya dingin dan tak tergoyahkan. "Bias kognitif, Dokter Aksa," ucap Shena datar. Suaranya terdengar sangat klinis, seolah sedang mendiskusikan kasus pasien di ruang konferensi. Aksa sedikit terenyak melihat perubahan sikap Shena yang tiba-tiba menjadi dingin. "Kamu terlalu pintar un

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD