Makan siang itu terasa belum tuntas, tapi dering ponsel Shena di atas meja membuyarkan segalanya. Itu nada dering khusus yang selalu sukses membuat jantungnya berdebar kencang. Panggilan darurat. Ada kecelakaan di tol dan korban butuh operasi segera. Shena menyambar ponselnya. Wajahnya menegang seketika. "Maaf, Mario. Ada pasien pendarahan hebat. Aku harus masuk ruang operasi sekarang," ucap Shena. Dia bangkit terburu-buru, mengenakan kembali jas putih kebanggaannya. Mario mengangguk. Meski ada guratan kecewa, pria itu berusaha tampak pengertian. "Pergilah. Menyelamatkan nyawa lebih penting. Biar Bastian antar kamu sampai depan pintu ruang operasi." "Tidak usah, aku bisa sen..." "Bas," potong Mario lembut. Nadanya rendah, tapi terdengar sangat tegas. Bastian langsung berdiri tegap, s

