Rasa penasaran Aksa

1105 Words
Aksa terdiam saat Shena seolah enggan untuk berbicara dengan dirinya. Wanita itu seolah tak ingin membahas apapun selain pekerjaan. Pria itu akhirnya berusaha untuk mencairkan suasana dan mengajak Shena keluar dari ruangan tersebut. "Kalau begitu, aku akan mengajakmu berkeliling dulu di rumah sakit ini. Semoga kau tidak keberatan." Entah apa yang terjadi, Aksa semakin gugup saat Shena hanya diam dan tidak memberikan respon apapun terhadap dirinya. Apakah wanita itu benar-benar sudah melupakannya. Ah, Kenapa ia menjadi frustasi. "Tentu saja Saya tidak keberatan, Pak Aksa." Wanita itu menjawab dengan dingin, sehingga Aksa mengernyitkan dahinya saat mendengar panggilan yang Shena sematkan untuknya. Pak Aksa? Apakah mereka benar-benar asing. Hati Aksa sedikit tak nyaman dengan panggilan tersebut. "Panggil saja saya Aksa." Akhirnya, mau tidak mau, Aksa pun berinteraksi dengan Shena bagaikan orang asing. Kisah cinta dari masa lalu, seolah sudah tidak ada artinya lagi saat ini. Semudah dan secepat itukah perasaan mereka yang tumbuh bermekaran kini layu dan gugur seketika. Bolehkah Aksa menyesali apa yang telah Ia perbuat selama ini. "Baiklah, Aksa." Shena menyetujui permintaan Aksa, seraya tersenyum ramah kepada sosok pria yang kini tengah menatapnya dengan penuh kekaguman. Ya, tentu saja Aksa sangat kagum dengan mantan istrinya saat ini. Wanita cantik dan anggun itu kini terlihat lebih tegas dan tidak dapat ia kenali. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Aksa akhirnya membawa Shena berkeliling rumah sakit dan mengenalkan beberapa dokter yang ada di sana. Sebenarnya Pak Leo ingin mengadakan rapat untuk pertemuan dan perkenalan Shena sebagai dokter baru di Rumah Sakit Putro tersebut. Akan tetapi Shena menolak dengan alasan hanya akan membuang waktu saja. Wanita itu hanya ingin ada rapat, saat jadwal operasi dan keputusan para dokter sudah ditetapkan untuk mengambil tindakan. "Shena, apa kau benar-benar sudah melupakanku?" Aksa bertanya dengan penuh harap, jika wanita itu tidak benar-benar melupakannya. Saat ini Aksa membawa Shena ke ruangan pribadinya, agar wanita itu bisa beristirahat setelah berkeliling Rumah Sakit bersamanya. "Saya tidak akan menjawab pertanyaan yang tidak penting." Begitulah Shena menjawab. Kesal itulah yang dirasakan Aksa saat ini. Hingga tanpa ia sadari, ia sudah mencengkram lengan wanita itu. "Pak Aksa, apa yang anda lakukan? Cepat lepaskan saya!" Shena membentak seraya menepis cengkraman tangan Aksa dari lengannya. Wanita itu terlihat sangat marah, hingga menatap tajam ke arah pria yang sudah ada di hadapannya sejak tadi. "Ma-maaf, aku tidak sengaja. Shena, tolong panggil aku Aksa saja. Aku rasa Kau terlalu formal." Ini benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin, wanita itu cepat melupakannya, bahkan mereka seperti orang asing kembali. "Maaf, tapi ini di tempat kerja. Saya tidak ingin berbuat tidak sopan kepada rekan kerja saya. Sebaiknya pak Aksa juga tidak memanggil saya seperti seseorang yang sangat akrab. Jujur saja, saya sedikit tidak nyaman dengan panggilan Pak Aksa terhadap saya." Gila, ini benar-benar gila! Sebenci itukah Shena terhadap dirinya. "Shena, aku tidak tahu apa yang terjadi padamu selama beberapa tahun terakhir ini, tapi apakah kamu akan terus menghindari ku seperti ini setiap kali kita bertemu?" Tanya Aksa yang kini benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap Shena yang dingin, seolah acuh tak acuh padanya. Namun, wanita itu hanya diam seolah tak mendengar apapun dari mulut Aksa. "Setiap kali kita bertemu? Padahal kita baru pertama kali bertemu saat ini. Sepertinya Pak Aksa sudah kelelahan, jadi saya pamit undur diri." Baru saja Shena hendak bangkit dari duduknya, lagi dan lagi tangan Aksa mencengkram dan menarik wanita itu hingga terduduk kembali. "Shena, apa kau benar-benar sudah melupakanku? Apa kau tidak mengenalku lagi? Aku Aksa, mantan suamimu!" Benar, ia harus mengatakan yang sebenarnya agar Shena tidak mudah untuk berkilah lagi. "Lalu?" Hah, wanita itu hanya mengucapkan satu patah kata yang tidak ada artinya sama sekali. Bagi Aksa, ini adalah sebuah penghinaan. Wanita itu benar-benar sudah mempermainkan dirinya. "Apakah ini sifat mu yang asli. Bisakah kamu bersikap, seolah kita ini bukan orang asing?! Ke mana saja kau selama ini?" Aksa mencecar Shena dengan beberapa pertanyaan, karena merasa begitu penasaran dengan kehidupan wanita itu setelah bercerai dengannya 5 tahun yang lalu. "Ini tidak ada hubungannya denganmu. Sekarang sudah bisa makan siang, aku pamit undur diri terima kasih untuk kerjasamanya hari ini." Entah mengapa, jawaban Shena terasa begitu sulit untuk Aksa dapatkan. Ia sangat yakin, jika wanita itu belum melupakannya. Meskipun memang Shena sudah melupakannya, ia akan berusaha agar Shena mengingatnya kembali. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Tanya Aksa, berharap wanita itu tidak keberatan dengan keinginannya. "Boleh saja." Singkat dan padat, itulah jawaban Shena. Tetapi itu masih jauh lebih baik, daripada tidak dijawab sama sekali. Harga diri Aksa benar-benar terinjak, demi Shena, sang mantan istri. Terik matahari sudah berada di di puncak kepala. Jalanan ibukota pun terlihat sangat ramai apalagi di waktu makan siang seperti ini. Shena maupun Aksa pergi bersama dalam satu mobil. Ya, meskipun awalnya Shena menolak dengan alasan, akan langsung pulang setelah makan siang. Akan tetapi Aksa memberikan alasan lain, hingga wanita itu akhirnya bersedia untuk berangkat bersama. "Shena, apa kau ingat, lagu ini sering kita putar saat kita berpacaran dulu?" Aksa bertanya untuk mencairkan suasana, setelah memutar musik dalam mobil. "Musik ini membosankan." Wanita itu menjawab sangat dingin dan dengan raut wajah yang datar. Bolehkah Aksa merasa malu, sekarang. "Shena, apa selama ini kamu tinggal di London dan melanjutkan pendidikan lagi di sana?" Kini axa sudah mematikan musik dalam mobil, karena tidak ingin membuat Shena tidak nyaman berada di dalam mobilnya. "Ya." Aksa menghela napasnya panjang, tatkala mendengar jawaban Shena yang begitu singkat. Ia merindukan Shena yang dulu. Wanita yang ramah dan memiliki senyum yang indah. Bahkan sifatnya yang lembut yang anggun, membuat Aksa terpikat dan begitu melekat di hatinya. Bisakah Tuhan memutar waktu kembali, agar ia bisa menjaga Shena seperti sedia kala. "Shena, apa kau mau bertemu ibu? Aku yakin Ibu sangat merindukanmu?" Kali ini dia yakin jika Shena tidak akan menolak, karena wanita itu sangat menyayangi ibunya. Meski sang ibu sedikit tak menyukai mantan istrinya tersebut. Tapi itu dulu, bukankah seharusnya sekarang tidak? Ibu pasti akan menyukai Shena, karena wanita itu sudah banyak berubah, begitu pikir Aksa. Akan tetapi, saat Shena hendak menjawab pertanyaan dari Aksa, justru kini ponsel miliknya berdering, menandakan bahwa ada seseorang yang tengah memanggilnya. Mendengar hal itu, Shena pun segera menerima panggilan tersebut, tatkala melihat nama seseorang dilayar benda pipihnya. "Ibu baik-baik saja. Apa kalian akan ke sini bersama Daddy?" Tanya Shena, pada seseorang di seberang telepon sana. "Baik, Ibu tunggu kalian minggu depan. Jangan nakal, dan jangan menyusahkan Daddy, oke!" Wajah Aksa mulai pias, setelah mendengar jawaban Shena. Siapa sebenarnya orang yang sedang berbincang dengan mantan istrinya di balik telepon. Daddy? Apakah Shena sudah mempunyai anak bersama pria lain. Bolehkah Aksa merasa patah hati sekarang. Mantan istri yang hilang bagai ditelan bumi, kini telah kembali membawa luka di hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD