Siapa dia

1033 Words
Suasana kembali menjadi canggung setelah Shena memutuskan panggilan teleponnya. Ingin sekali rasanya Aksa bertanya kepada sosok wanita yang ada di sampingnya. Tetapi, ia takut semakin lancang dan membuat wanita itu semakin tidak nyaman. Hal seperti ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Rasanya benar-benar sangat menyiksa. "Maaf tadi aku menerima telepon dulu." Shena berkata sambil tersenyum canggung ke arah Aksa. Tak lama kemudian, wanita itu kembali terdiam dan menikmati perjalanan mereka, hingga melupakan pertanyaan yang Aksa dilontarkan untuknya. "Shena, kalau boleh tahu, siapa yang menelpon mu barusan?" Kini Aksa bertanya karena tak dapat menahan rasa penasaran yang ia rasakan. Apalagi ini menyangkut Shena, mantan istri yang sudah hilang beberapa tahun terakhir ini. Ia harap dugaannya salah, mengenai anak dan suami baru mantan istrinya tersebut. "Aku tidak pernah membahas tentang keluargaku pada orang lain." Wanita itu menjawab dengan sangat dingin, seolah tak suka dengan pertanyaan yang Aksa lontarkan untuknya. Sedangkan, Aksa langsung terdiam saat mendengar jawaban Shena. Keluarga? Orang lain? Apakah Shena sudah berkeluarga dan menganggap dirinya sebagai orang lain. Bukankah ini sangat keterlaluan. Dan yang paling membuatnya muak adalah, hatinya tiba-tiba merasa sakit tatkala mendengar semua itu. Dulu Shena adalah miliknya dan mereka saling mencintai, seolah tidak akan terpisah dalam segala hal apapun. Tetapi kenyataan berkata lain, karena wanita itu sudah jauh darinya dan bahkan menganggapnya orang asing. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan bagi Aksa, selain kehilangan Shena dan kehilangan Cinta dari wanita itu. Bolehkah kali ini dia egois, dan menginginkan kembali mantan istrinya. "Maaf aku sudah lancang. Aku hanya ingin memberikan selamat, jika memang benar itu adalah keluargamu," ungkap Aksa berkilah, seraya tersenyum getir dalam hatinya. Kini, lukanya kembali menganga dan sakit luar biasa bagaikan tersiram air garam. Hebat sekali mulutnya berbohong hanya untuk melihat senyum Shena yang begitu indah. Kenapa! Kenapa hanya dirinya yang merasakan sakit! Kenapa mantan istrinya justru bahagia bersama orang lain. "Oh benarkah? Mereka adalah anak-anakku. Kau benar, aku sudah berkeluarga." Jantung Aksa seolah berhenti berdetak dan nafasnya terasa sesak saat mendengar jawaban dari Shena. Ingin rasanya ia berteriak dan membantah semua ucapan dari wanita itu. Tetapi apakah itu bisa merubah kenyataan? Jika memang bisa, maka ia akan melakukannya. "O-oh, selamat Shen." Rasanya lidah Aksa terasa kelu, saat mengucapkan kalimat tersebut untuk Shena. Apalagi saat ini, wanita itu terlihat hanya menganggukkan kepalanya, seraya tersenyum lembut. Senyum itu pernah menjadi miliknya seorang. "Apa perjalanan kita masih panjang?" Tanya Shena Yang sepertinya sudah merasa bosan, hingga membuyarkan lamunan Aksa. Pria itu segera tersadar dan menepikan mobilnya di sebuah restoran yang ada di depan sana. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri agar bisa menikmati waktu saat ini bersama sang mantan istri. Jika boleh, ia akan mengklaim Shena sebagai istrinya kembali. * Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah duduk di meja makan, sambil menunggu makanan yang mereka pesan siang hari ini datang. Seperti biasa, Shena hanya diam dan tak banyak mengeluarkan suara. Wanita itu benar-benar menjadi sangat formal dan terlalu dingin. Padahal Aksa masih ingat jika wanita itu sangat ceria, ramah, dan lembut. Bahkan tak jarang juga mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang kepada dirinya tanpa ragu sedikit pun. "Shena, tumben sekali kamu memesan pasta," celetuk Aksa sambil tersenyum ramah di hadapan Shena. Akan tetapi, wanita itu hanya meliriknya sekilas seolah muak dengan apa yang ia katakan. Bukankah ini terlalu menyakitkan. "Saya rasa, pak Aksa terlalu mencampuri urusan pribadi saya. Semua bisa berubah kapan saja, jadi jangan merasa menjadi orang paling mengerti dalam hidup saya," ucap Shena dengan ketus serta melayangkan tatapan tak suka terhadap Aksa. Pria itu terdiam sesaat, kemudian menghela napasnya panjang. "Maaf, aku terlalu ikut campur. Aku tidak akan melakukannya lagi, tapi tolong jangan memanggilku seperti itu." Aksa membujuk Shena, agar wanita itu tidak kembali kaku saat bersamanya. Lumayan sulit untuk meluluhkan hati wanita itu. Entah sejak kapan Shena berubah menjadi dingin seperti saat ini. "Tidak ada yang salah dengan panggilannya, karena kita hanya sebatas rekan kerja." Shena menjawab dengan santai dan menampilkan raut wajah tanpa dosa. Ingin sekali rasanya ia mencium bibir ranum milik mantan istrinya, yang terlalu pedas itu. Namun, beberapa saat kemudian, datang pelayan untuk mengantarkan pesanan mereka. Akan tetapi, Shena terdiam saat melihat pesanan milik mantan suaminya, yaitu nasi goreng. Ya, nasi goreng yang menjadi makanan kesukaannya saat dulu. Sedangkan yang lebih mengherankan lagi, Aksa tidak terlalu menyukai nasi goreng, bahkan hampir tidak pernah memakannya. Pria itu terlalu pemilih makanan sebagai dokter yang perfeksionis. "Selamat makan, Shen." Aksa tersenyum lembut seraya menyendokan nasi goreng ke dalam mulutnya. Yang mana hal itu membuat Shena terdiam sejenak dengan menampilkan raut wajah yang tidak dapat diartikan. "Apa kau mau mencoba makanan ku?" Tanya Aksa yang melihat Shena hanya diam sambil menatap dirinya dengan tajam. "Jangan mengada-ada. Saya tidak memakan makanan itu." Lamunan Shena buyar seketika dan ia segera menyantap hidangan yang ada di hadapannya. Terlihat jelas jika wanita itu justru tergoda oleh makanan milik Aksa, hingga ia tak mampu memalingkan matanya dari sana. "Apa kamu mau mencobanya?" Aksa menawarkan makanan miliknya pada Shena, karena ia tahu jika wanita itu sangat tertarik dengan nasi goreng. Baru saja Shena hendak menjawab, tiba-tiba ponselnya kembali berdering, hingga membuat ia teralihkan. Wanita itu menghela napasnya panjang saat melihat nama kontak yang tertera di layar benda pipih tersebut, dan segera menerima panggilan itu. "Sayang apa kau sudah makan? Jangan terlalu gila kerja dan istirahat yang cukup. Aku sangat merindukanmu. Apa kau juga merindukanku?" Tanya seorang pria yang ada di seberang telepon sana. Ya, Shena sedang melakukan panggilan video. Beruntung layar ponsel miliknya membelakangi Aksa, hingga pria itu tidak melihat wujudnya pria yang telah menggangu mereka. "Apa kau tidak bisa bertanya satu persatu. Aku sedang makan, dan bekerja dimulai besok." Shena menjawab seraya memutar bola matanya jengah. Pria itu sangat posesif. "Kau belum menjawab pertanyaan ku yang lain!" Astaga, ingin sekali rasanya Shena mencubit pria itu. "Memangnya apa lagi?" Tanya Shena berpura-pura tidak ingat. Tapi kini matanya sedikit melirik ke arah Aksa yang sudah menundukkan kepala. "Apa kau merindukanku?" Shena menghela napasnya panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan pria itu. "Iya, aku juga merindukanmu dan anak-anak." Terdengar kekehan dari sana, saat mendengar jawaban dari Shena. "Baiklah, aku cukup senang mendengarnya. Aku harap kau bisa bertahan sampai Minggu depan, sampai aku tiba di sana bersama anak-anak. Kau makan bersama siapa, tadi aku dengar ada orang batuk."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD