Masih mencintai

1063 Words
Shena terdiam, saat mendengar pertanyaan dari sosok pria yang ada di seberang telepon sana. Dia tidak ingin, pria itu mengetahui siapa yang tengah menemaninya saat ini. "Mungkin kau hanya salah dengar. Aku makan sendirian, dan kau jangan khawatir." Shena berkilah agar dia bisa tenang. Ia tahu, betapa posesifnya pria yang ada di seberang telepon itu. Sedangkan Aksa, pria itu semakin menundukkan kepalanya seraya mengepalkan tangan di bawah meja sana. Bukankah ini terlalu menyakitkan baginya. Kenapa Shena tega melakukan itu. Hatinya terasa sakit dan dadanya terasa sesak. Siapa pria itu? Ingin sekali Aksa merebut ponsel milik Shena, dan menghentikan percakapan manis keluarga mereka. Entah kenapa jiwa egoisnya mulai muncul. Ia ingin memiliki Shena kembali, dan mengurung wanita itu agar tidak didekati oleh pria lain. Akan tetapi, bisakah ia melakukannya, setelah Shena bersama pria yang telah menjadi keluarganya. Aksa benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu. Ya, ia menyesal karena sudah menyia-nyiakan sang istri. Entah tuduhan 5 tahun yang lalu itu benar atau hanya sekedar fitnah, tetapi sekarang ia sadar jika dirinya hanya membutuhkan Shena, dan tidak peduli dengan semua itu. Karena ia sadar, jika Shena satu-satunya wanita yang ia cintai. Wanita yang telah menjadi belahan hatinya. "Sayang Apa kau sedang berbohong?" Benar saja, pria itu tidak mudah untuk dibohongi. Benar-benar menyebalkan. Jangan lupakan Aksa yang sudah muak mendengar panggilan yang disematkan untuk Shena dari pria itu. "Mario, apa kau tidak percaya padaku? Sudah, aku mau makan dulu. Oh ya, Jangan lupa makan siang anak-anak. Jangan terlalu memanjakan mereka, oke!" Pria yang bernama Mario itu hanya terlihat mengangguk patuh, dengan wajah yang dibuat seimut mungkin, hingga Shena terkikik geli melihatnya. "Baiklah sayang, hari ini aku akan mengajak mereka jalan-jalan sebentar. Aku janji hanya sebentar saja." Shena hanya menghela nafasnya kasar, saat mendengar ucapan Mario. Kalau sudah begini, dia tidak bisa mencegah mereka. Apalagi anak-anaknya selalu manja saat bersama Mario, karena pria itu terlalu memanjakan mereka. "Baiklah tapi ingat jangan terlalu lama di luar, dan jangan terlalu memanjakan mereka. Atau aku yang akan memberikanmu hukuman." Shena semakin banyak bicara saat bersama Mario, dan itu tak lepas dari penglihatan serta pendengaran Aksa. Entah kenapa selera makannya menjadi berkurang, bahkan lidahnya terasa kelu. "Kalau begitu aku menantikan hukuman darimu!" Mario berkata sambil mengerlingkan matanya untuk menggoda Shena. Akan tetapi tiba-tiba saja Aksa menggebrak meja yang ada di hadapannya, hingga Shena terkejut. "Mario, Aku tutup dulu panggilannya." Wanita itu kemudian menatap Aksa dengan tatapan yang tak dapat diartikan. "Maaf, aku tidak sengaja," ucap Aksa berkilah dan salah tingkah. Namun Shena hanya diam tanpa menjawab apapun lagi. "Apa pria yang bernama Mario itu suamimu?" Aksa bertanya setelah keadaan tidak terlalu canggung. Shena yang hendak menyendokan makanannya langsung terhenti seketika, kemudian menatap Aksa dengan datar. Tatapan itu yang membuat Aksa menjadi rendah diri di hadapan mantan istri. "Apakah itu penting bagimu?" Wajah datar itu terlihat sangat jelas di mata Aksa. Kenapa Shena memperlakukannya seperti orang asing. Apakah wanita itu benar-benar telah melupakannya, atau hanya sedang menghindar saja. "Ti-tidak, aku hanya ingin tahu. Sepertinya kau juga sudah sangat bahagia dengan keluarga barumu." Suara Aksa mulai tercekat saat mengatakan hal itu. Ia ingin mengambil Shena kembali ke dalam hidupnya. Apakah ia bisa melewati hari-harinya bersama wanita itu, sedangkan hatinya menjerit sakit lantaran diasingkan. Tidak, harinya masih panjang, dan ia harus menahan diri. "Apakah terlihat seperti itu?" Bukannya menjawab, Shena justru memberikan pertanyaan balik kepada Aksa. Pria itu hanya mengangguk canggung dan meminum minumannya. Beberapa waktu telah berlalu, kini Aksa maupun Shena sudah bersiap kembali ke rumah sakit. Akan tetapi, semuanya berubah saat melihat perubahan Aksa yang menjadi pucat, serta wajahnya memerah. "Aksa, apa kau baik-baik saja?" Tanya Shena yang ikut terlihat cemas. Pasalnya, wajah Aksa mulai berbintik merah ditambah bibirnya yang pucat. "A-aku sepertinya alergi, karena tadi makan seafood," jawab Aksa merasa bersalah, karena perjalanan pulangnya terganggu. "Astaga, kau ini ceroboh sekali. Apa kau tidak punya obatnya?" Tanya Shena sambil menatap Aksa dengan tetapan kekhawatiran. "Aku punya salep saja. Sebentar, aku akan mengolesinya dulu." Akhirnya Aksa mengoleskan salep pereda gatal itu di beberapa bagian, tanpa bantuan Shena. Justru wanita cantik itu, hanya diam tanpa berniat membantu Aksa yang kesulitan. Benar-benar tidak peka. * Kini Aksa maupun Shena sudah ada di rumah sakit. Shena yang sedang ada di dalam ruangannya dikejutkan, dengan kehadiran Aksa yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Terlihat jelas jika pria itu tersenyum canggung saat Shena menatap sinis dan penuh selidik saat melihatnya. "Tadi aku mengetuk pintunya, tapi kau tidak menjawab. Aku membawa laporan ini untuk kita bahas nanti." Aksa segera memberikan alasan yang kuat hingga membuat Shena segera menetralkan kembali raut wajahnya dan kembali sibuk dengan berkasnya. "Hmm, simpan saja di meja, nanti kita bahas lagi setelah aku mempelajarinya." Shena berkata tanpa mengalihkan pandangannya. Wanita itu terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga membuat Aksa menjadi geram. "Shena." "Hmm." Lagi dan lagi, wanita itu tidak mempedulikan Aksa yang bahkan kini sudah ada di dekatnya. Karena merasa geram, Aksa menarik paksa berkas yang ada di tangan wanita itu. Tentu saja Shena terkejut atas tindakan yang Aksa lakukan. Bahkan wanita itu sudah bangkit dari duduknya, serta melayangkan tatapan tajam. Ia tak terima jika pria itu tidak sopan di ruangannya. "Pak Aksa, jangan macam-macam dengan saya. Anda tahu kita sedang di tempat kerja. Saya harap, anda bisa bersikap profesional." Shena bersungut-sungut dengan kalimat formalnya. Tetapi, kini Aksa tidak ragu untuk menatap tatapan tajam mantan istrinya. "Shena, aku tahu kau belum melupakan ku. Aku tahu kau masih mengenang ku, kan. Shena, sekarang hanya ada kita berdua, kau tidak perlu menutupinya lagi dariku," ucap Aksa dengan mata yang berbinar dengan senyum getir di wajahnya. "Apa pak Aksa sedang demam?" Tanya Shena dengan wajah tanpa dosa. Runtuh sudah harga diri Aksa di depan wanita itu. Begitu tidak berharganya ia saat ini. "Shena, aku Aksa, mantan suamimu!" Pria itu masih terus berharap agar Shena tidak menghindari dirinya lagi. "Memang kenapa jika mantan suami? Bukankah itu berarti, tidak ada hubungannya lagi? Pak Aksa, sebaiknya anda segera keluar dari ruangan saya. Saya sedang sibuk dan berharap anda mau memahaminya." Shena begitu muak sehingga mengusir Aksa dari dalam ruangan tersebut. Ketika Shena hendak berbalik, untuk kembali ke kursi miliknya, tiba-tiba saja sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya. "Apa yang kau lakukan! Cepat lepaskan aku!" Shena membentak seraya memberontak dalam dekapan Aksa. "Shena, aku tahu kau tidak melupakan ku. Besok malam, aku akan membawamu ke rumah. Kau tidak bisa menolak." Aksa berbisik tepat di telinga Shena. Lalu, sesaat kemudian mengecup singkat bahu wanita tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD