Hari ini adalah hari dimana Shena mulai bekerja. Kini, wanita cantik itu sudah berada di rumah sakit dan menuju ruangannya. Terlihat beberapa orang yang menyapa, dan ditanggapi dengan senyuman oleh Shena.
"Selamat pagi, Shena. Apa kau baru sampai?" Entah dari mana datangnya Aksa, yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Sehingga membuat ia terkejut dan segera memundurkan langkah kaki ke belakang. Shena pun segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Selamat pagi juga. Hm, baru saja." Shena menjawab dengan malas dan segera melanjutkan langkah kakinya. Namun siapa sangka, jika Aksa justru mengikutinya dari belakang. Wanita itu sangat jengah dengan apa yang terjadi hari ini. Suasana paginya menjadi hancur, gara-gara Aksa yang sudah muncul di hadapannya.
"Pak Aksa, silakan Anda duluan saja. Jangan berjalan di belakang saya, apalagi mengikuti saya. Apa anda punya keperluan penting?" Tanya Shena yang kini sudah membalikkan tubuhnya ke arah Aksa, yang ada di belakang.
"Ti-tidak ada. Apa kau sudah sarapan? Aku membawakan bekal untukmu. Aku harap kau mau menerimanya." Aksa berkata sambil tersenyum ramah. Bahkan, Shena dapat melihat di tangan pria itu terdapat sebuah bekal makanan. Entah buatan siapa bekal makanan itu, Shena pun tidak ingin tahu dan tidak akan peduli.
"Maaf tapi aku sudah sarapan. Sebaiknya kau makan saja sendiri, aku masih ada urusan terima kasih." Tanpa mempedulikan Aksa yang masih berdiam diri di sana, Shena pun segera bergegas pergi meninggalkan pria itu. Sedangkan Aksa, sudah berubah murung dan menggenggam erat kedua tangannya. Bekal yang ia siapkan tidak diterima dengan baik oleh Shena, dan itu adalah sebuah penghinaan yang teramat besar baginya.
Akan tetapi, Aksa tidak akan pernah menyerah begitu saja. Dia akan terus berjuang demi mendapatkan hati Shena kembali, bahkan jika Wanita itu sudah memiliki suami, ia tidak akan peduli. Karena mengingat jadwalnya yang sudah tiba, akhirnya Aksa membiarkan Shena tenang sementara waktu ini, sampai ia selesai mengerjakan tugasnya di meja operasi.
Di sisi lain, Shena tengah menggerutu kesal akibat Aksa yang terus mengganggunya beberapa waktu ini. Ia sedikit tidak nyaman jika pria itu terus berkeliaran di sekelilingnya. Bahkan, pagi ini pria itu sudah berani mengganggunya. Benar-benar pria yang sangat keterlaluan.
Shena segera menetralkan pikirannya, saat ada seorang perawat yang mengetuk pintunya dari arah luar. Wanita itu terlihat sangat tidak konsentrasi, sehingga membuat sang perawat menjadi bingung dengan sikap yang ia tunjukkan hari ini. Tidak, sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal ini.
"Sus, taruh saja di meja, nanti akan saya periksa!" Titah Shena pada seorang perawat tersebut.
"Baik dok, kalau begitu saya permisi."
"Tunggu! Apa dokter Aksa ada di ruangannya?" Shena bertanya karena merasa penasaran. Ia belum tahu seberapa padat jadwal yang dilakukan oleh pria itu. Dia tidak tertarik sama sekali, hanya saja untuk memastikan agar ia bisa merasa tenang, tatkala Aksa sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Dokter Aksa sedang ada jadwal dok. Apa dokter butuh sesuatu, mungkin saya bisa menyampaikannya saat dokter Aksa jika sudah selesai." Perawat itu menawarkan diri untuk membantu Shena, yang ia kira membutuhkan bantuan.
"Tidak, aku hanya ingin bertanya saja. Bolehkah aku meminta jadwal dokter Aksa, untuk beberapa hari ke depan?" Tanya Shena dengan datar.
"Tentu dok, saya akan mengecek jadwalnya terlebih dahulu."
"Hm, kalau begitu terima kasih, dan Maaf sudah merepotkan."
*
Shena tersenyum puas setelah mendapatkan informasi mengenai jadwal milik Aksa. Ia tidak perlu merasa pusing saat pria itu tengah kosong jadwal, karena ia akan mencari alasan agar bisa menjauh dari mantan suaminya. Shena yang terlalu larut saat memeriksa jadwal serta berkas laporannya, sampai-sampai ia tidak sadar jika waktu makan siang telah tiba. Wanita itu mengecek jam tangannya dan waktu telah menunjukkan pukul 12.30 WIB.
"Astaga, aku sampai lupa waktu karena terlalu larut dalam pekerjaan. Apa sebaiknya aku pesan makanan dari luar saja, ya." Shena berpikir keras karena ia sangat malas untuk keluar. Apalagi waktu yang sudah memepet. Ya, mungkin jalan satu-satunya hanya memesan makanan dari luar saja.
Akan tetapi, semuanya berubah saat suara pintu terbuka dan menampilkan sosok pria dari balik sana. Terlihat seulas senyum ramah dari wajah sosok tampan itu, tapi Shena justru membalasnya dengan tatapan datar, dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bukannya pergi, sosok pria itu justru melangkahkan kaki untuk mendekati Shena. Benar-benar tidak tahu diri, bukan.
"Shena Apa kau sudah makan?" Aksa bertanya dan langsung duduk di depan meja Shena, tanpa rasa malu sedikit pun.
"Untuk apa kau kemari, aku masih ada pekerjaan. Sebaiknya kau cepat keluar dari sini!" Shena berkata ketus dengan nada mengusir. Bahkan matanya enggan untuk menatap Aksa yang ada di hadapannya saat ini.
"Shena Aku tahu kamu belum makan siang, jadi aku bawakan bekal makanan ini untukmu. Aku bukakan untukmu, ya." Shena mulai merasa jengah, lantaran Aksa tidak menggubris sama sekali ucapannya. Justru, pria itu dengan sangat tidak tahu malunya membukakan bekal makan siang agar ia makan.
"Apa kau tidak mendengar ku?!" Shena menatap tajam ke arah sosok pria yang ada di hadapannya.
"Shena, Aku bawakan makanan kesukaanmu. Kau pasti menyukainya." Lagi dan lagi, Aksa tidak menggubris sosok wanita yang sudah diselimuti kabut amarah.
Suasana menjadi tegang, saat wanita itu menggebrak meja, hingga makanan yang ada di hadapan Aksa sedikit bergetar. Aksa pun terdiam seketika, saat matanya beradu pandang dengan sorot mata tajam milik mantan istrinya. Tatapan itu tidak pernah ia lihat selama ini. Tetapi hari ini, ia bisa melihat apa yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Tolong Jangan menggangguku, dan cepat keluar dari sini!" Geram Shena tanpa merubah raut wajahnya yang masih dalam keadaan marah.
Hati Aksa terasa sakit, saat mulai menerima satu persatu penolakan dari wanita yang bahkan telah ia buang lima tahun yang lalu. Mengapa takdir selalu mempermainkan dirinya. Kenapa ia tidak bisa melepaskan Shena dengan mudah. Bahkan setelah sekian lama ia tetap mencintai Wanita itu.
"Shena, aku mohon untuk kali ini saja. Ayo makan bersamaku," ucap Aksa membujuk Shena kembali, agar mau memakan bekal yang ia bawakan. Wajahnya mulai memelas, dan nada suaranya begitu penuh harap, sehingga membuat Shena akhirnya menyerah, dan mau tidak mau memakan makanan yang Aksa bawakan untuknya. Tentu saja wajah Aksa langsung terlihat berubah. Terlihat jelas dari matanya yang berbinar dan dihiasi senyuman yang merekah. Aksa benar-benar bahagia, hingga antusias membuka satu persatu box makanan untuk ia sajikan.
"Shena, ayo kita makan. Aku yakin kau pasti sangat menyukainya."
"Aksa, untuk nanti malam, sepertinya aku tidak bisa datang. Aku ada urusan penting," ucap Shena sesaat sebelum menerima makanan dari Aksa. Pria itu langsung mendongakkan kepalanya menatap Shena dengan tatapan heran, seolah berkata 'kenapa kau membatalkan rencana kita?', itu yang Shena tangkap dari sorot Aksa saat ini.
"Tapi Ibu ingin melihatmu. Aku mohon sebentar saja."