• BAGAIMANA MENJELASKANNYA

777 Words
Ziya POV Berdua dengan kakak tingkatku di mobil, ini semakin tak tenang hatiku. Baru saja aku melewati cobaan dengan 3 preman tadi, sekarang apa? Aku malah berkhalwat dengan laki-laki yang bukan mahramku di dalam mobil. “Igfirlii (ampuni aku/ bahasa arab)  Ya Allah!!!” batinku berulang kali berucap. Aku tak henti-hentinya menitikkan air mata mengingat kejadian yang baru saja hampir merenggut kesucianku. Ditambah dengan keadaan yang hanya ada aku dan dia di dalam mobil. Meskipun aku duduk di belakang namun aku takut kejadian tadi akan terulang lagi. “Lindungi aku ya Rabb.” Berulang kali memejamkan mata dan berulang kali pula air maataku tumpah membasahi pipi. Hanya hal itu yang kulakukan  sepanjang perjalanan menuju rumah. Tak lama mobil yang dikendarainya telah sampai di depan rumahku. Ku lihat di kursi teras rumah ada Affan yang tengah duduk sambil membawa kopyah putihnya. Nampak sekali raut khawatirnya. Langsung ku buka pintu mobil dan aku berlari menuju Affan. Affan yang melihatku langsung berdiri dan kemudian berlari menghampiriku. “Abi, Bunda...., kakak.” teriaknya. Aku berlari sambil menangis. Affan menghampiriku dan aku langsung memeluknya. Aku menagis di pundaknya. “Kak...kakak kenapa ?” katanya. Tak lama kemudian abi dan bunda datang. Saat itu tepat kakak tingkat yang menolongku pun berjalan ke arahku dan Affan. “Kak, kamu kemana aja sayang ? semuanya khawatirin kamu sayang.” Kata bunda. “Bunda......hiks hiks” ucapku lalu beralih memeluk bunda dan masih menangis. Affan menghampiri kakak tingkat yang menolongku tadi. “Kamu apain kakak saya ha? kamu tidak lihat dia behijab? kamu tidak lihat pakaiannya yang tertutup? apa maksutmu?” Bentak Affan dan aku hanya menggeleng mendengar kemarahannya. “Ssst..Affan redam emosimu nak, semua kita omongin baik-baik. Sekarang kita sholat dulu. Kamu muslim?” kata abi menenangkan Affan dan pertanyaan itu untuk kakak tingkat tadi. “Iya pak saya muslim.” “Ya sudah kita sholat dulu, baru setelahnya membahas ini. Bunda ajak Ziya ke dalam...” kata abi yang disetujui anggukan oleh bunda. Masih nampak gurat kemarahan di wajah Affan. “Astaughfirullahal’adziim, kamu hutang penjelasan sama keluarga saya.” Kata Affan dengan nada mengintimidasi. Kemudian ia berlalu pergi ke masjid. Aku dibawa bunda ke dalam menenangkan diri. Saat ini aku berada di kamar. Menutup diri dari keluargaku sejenak. Setelah abi pulang akan ku jelaskas semuanya. Kasian jika aku harus diam, kasian kakak tadi dia yang terkena imbas kemarahan Affan. Itu pun belum lagi kemarahan abi. Tak lama abi, Affan dan kakak tadi pulang dari masjid dan kini mereka tengah duduk di ruang tamu dengan kebisuan. Aku datang dengan bunda. Setelah aku duduk baru abi berkata. “Kak ada yang mau kamu ceritakan.?” tanya abi to the point dengan raut wajah dingin. Nampak abi sedang menahan amarahnya.    “Gini bi tadi waktu di kampus....” kataku bercerita dari awal hingga kejadian aku di antar pulang oleh kakak itu. Suaraku bergetar dan akhirnya air mataku jatuh begitu saja. Keluargaku hanya bisa mengucap istighfar saat aku bercerita. “Benar begitu nak Azril ?” tanya abi. “Iya pak, memang seperti itu kejadian sebenarnya. Dan hal itu yang ingin saya jelaskan tadi. Saya tidak pernah bermaksud m*****i putri bapak.” Kata Kak Azril yang ku tahu namanya setelah abi menyebutnya tadi. “Mm begitu kejadiannya. Kalau begitu saya dan keluarga minta maaf ya...tadi sudah berpikiran yang tidak-tidak tentang nak Azril. Kami terlewat khawatir pada keadaan putri kami.” “Ya pak endak papa saya mengerti kekhawatiran bapak. Wajar pak....jika saya yang ada di posisi bapak saya pun akan melakukan hal yang sama.” Katanya. “Maaf mas......tadi Affan juga udah kelewatan. Affan minta maaf sebesar-besarnya ya mas.” Kata Affan. “Iya...udah endak papa kok.” Katanya lagi. “Saya ucapin banyak terima kasih ya sama kamu nak Azril. Kalau endak ada nak Azril tante endak tau gimana nasib Ziya saat ini. Sekali lagi terima kasih banyak ya...” kata bunda sambil mengelusku yang diragkulnya. “Sama-sama tante, kalau begitu saya pamit pak, tante, Affan, Zi.” “Iya nak Azril hati-hati ya..., sekali lagi terimakasih.” Kata abi. “iya pak...sama-sama sssttttt.” Katanya terpotong. “Panggil om saja.” Kata abi. “Eh iya om sama-sama. Ya sudah saya permisi, Assalamu’alaikum.” pamitnya. “Wa’alaikumussalam.” Jawab kami serentak. Lalu dia pergi dari rumah kami. Baru beberapa saat dia keluar , langsung ku susul dia. Dia baru saja hendak masuk ke mobilnya. “Kak.......!!” panggilku. “Ya..Zi ?” “Jazakallahu khoir......(terima kasih banyak/ bahasa Arab).”  kataku sambil menunduk, mengahapus air mata. “Waiyyakum (sama-sama/ bahasa Arab)...Assalamu’alaikum.”  katanya sambil tersenyum. “Wa’alaikumussalam.”  Jawabku dan setelahnya dia pergi dari rumah ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD