• Menolongnya

363 Words
Azril POV         Hari ini aku pulang agak sore, karena tadi tiba-tiba saja dosen hukum islam memajukan jadwalnya. Dari yang seharusnya besok siang diganti menjadi hari ini pukul 15.30 setelah asar. Akhirnya saat ini aku bisa pulang setelah berjuang dengan rasa kantuk selama penjelasan dosenku berlangsung. Aku menyalakan mobil dan hendak pulang. Saat sampai di gerbang kampus ku lihat ada seorang mahasiswi yang tengah dikepung oleh tiga pria b***t yang tengah mabuk. Ku pusatkan pandanganku melihat siapa mahasiswi itu. “Bukannya itu, gadisku..” kataku. “Astaughfirullah sejak kapan dia jadi gadisku.” Batinku membenarkan. Aku turun dari mobil kemudian membantunya. Aku berkelahi dengan tiga pria mabuk itu. Ku hajar wajah mereka, ku tendang perut mereka. Akhirnya mereka berhenti tak bisa membalas pukulanku lagi. Tiga pria tak tau diri itu habis ku hajar sendiri tanpa senjata. Tak sia-sia aku juara karate waktu SMA. Setelah ketiga pria mabuk itu pergi ku hampiri mm gadisku..eh maksudnya mahasiswi itu. “Kok aku jadi gugup.” Batinku. Dengan tubuh yang basah karena keringat dan nafas yang tersengal-sengal aku mendekat ke mahasisiwi itu. Ku lihat dia diam tanpa ada gerak sedikitpun. Air matanya masih senantiasa mengalir membasahi pipi cantiknya. ‘Igfirli ya rab....sudah menikmati wajah yang bukan mahram hamba.’  “Ehem apa kau baik-baik saja?” tanyaku dan dia terperanjat tersadar dari keterkejutannya. “A.......a.....aku mau pulang..” katanya dengan nada bergetar. “baiklah ayo ku antar, duduklah di belakang!! Aku tidak akan melukaimu.” Kataku. Melihat keadaannya yang pasti shock aku tak tega membiarkannya pulang sendirian. Ku putuskan untuk mengantarnya pulang. Awalnya nampak sedikit keraguan di wajahnya. Namun ku coba untuk meyakinnya bahwa aku tak akan melukainya bahkan menyentuhnya. Akhirnya dia menerima bantuanku. Dia duduk di jok belakang. Ku lajukan mobilku mengikuti arahannya. Sepanjang perjalanan ku lihat dari kaca spion ia terus menitikkan air mata. Ia masih menagis dalam diam. Shock.? iya. Takut? udah pasti. Itu yang membuatnya tak henti menangis. Entah mengapa melihatnya dalam keadaan seperti itu hatiku pun mersa pilu. Tak terlalu lama menikmati perjalanan, akhirnya aku dan dia sampai di depan rumahnya. Disana sudah ada seorang lelaki yang menunggunya. Mahasiswi itu langsung keluar dan berlari kemudian memeluk lelaki di sana. ♥♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD