• KENAPA DENGAN NYA ?

764 Words
Azril POV         Saat ini aku tengah duduk di taman kampus bersama teman-temanku. Lalu ada seorang perempuan yang mendatangi kami. Jika dilihat dari pakaian dan atribut yang dikenakan sepertinya perempuan itu salah satu maba.  “Assalamu’alaikum kak, maaf kak ada yang tau BEM jurusan muamalah...??” tanyanya. “Wa’alaikumussalam.”kami lirih lalu kami saling berpandangan. Aku berdiri lalu berkata padanya. “Untuk apa kamu cari ketua BEM jurusan muamalah..?” kataku berpura-pura sebagai kakak ospek biasa bukan bukan ketua BEM yang dicari maba itu. Saat bertanya maba itu tak sedikit pun mendongak menatap kami. Bahkan saat ini dia pun masih setia untuk menunduk. “Tadi, saya telat dan disuruh untuk menghadap ketua BEM jurusan muamalah.” Jawabnya. Aku berbalik membelakanginya. Posisiku saat ini seperti bos yang sedang memberi teguran pada anak buahnya. Sedang anak buahnya menunduk menerima teguran itu. “Ooo jadi kamu terlamabat. Baru hari pertama sudah tidak disiplin. Apa alasanmu terlamabat?” tanyaku. Dia tak menjawab. “Jawab !!!” bentak Dafa. Kugelengkan kepala mengintruksi agar tak terlalu keras pada maba. Dafa hanya nyengir setelah mengerti intruksiku. Maba perempuan itu tak kunjung menjawab. Tiba-tiba Rian berseru. “Eh....bro.....” katanya kemudian berlari ke arah belakangku. “Astaugfirullah!!” pekikku. Dan benar saja maba tadi jatuh pingsan. Wajahnya terlihat pucat pasi. “langsung bawa ke ruang kesehatan aja!!” kataku. Teman-temanku membawanya ke ruang kesehatan segera dan aku akan menyusulnya. Aku izin terlebih dahulu pada panitia lain. *** Di ruang kesehatan.         Aku dan teman-temanku menunggu di luar ruangan kesehatan. Tak lama menunggu, teman-temanku harus kembali untuk mengospek maba. “Eh bro kayaknya kita harus balik ngospek deh, kamu endak papakan jaga maba tadi sendirian ? kata Rian.. “Ooh...it’s ok..bro aku saja yang  jaga, kalian balik duluan saja. Nanti kalo dia sudah bangun aku langsung balik kok.” Kataku. “Sip, yo wis lak gitu kita pamit yo...Assalamu’alaikum.” ucap Rian. “Sikat bro.” kata Dafa sambil memainkan matanya. “mulai gak jelas!! Udah cepet sana!!” Usirku pada Dafa. Emang temanku yang bernama Dafa ini agak rada-rada sableng.         Setelah teman-temanku pergi. Aku kembali. Aku kembali ke dalam ruang kesehatan untuk melihat keadaanya. Eits tenang, di ruangan itu tidak hanya ada aku dan maba itu. Di sini juga ada perawatnya. Jadi tenang, meskipun aku masuk ke ruangan tidak akan jadi khalwat ataupun sampai zina. Kulihat keadaan maba baru yang masih pingsan ini. Dia berhijab, wajahnya tetap cantik meskipun terlihat lebih pucat, “Astaugfirullah. Kenapa sih aku ini” kataku. Namun entah mengapa ada rasa yang aneh ketika melihatnya. “tunggu sepertinya aku pernah melihat dia tapi entah dimana? ah aku tak ingat. Sudahlah biar ku tunggu saja sampai dia bangun.” kataku yang kemudian beranjak duduk di kursi. Aku duduk di kursi menunggunya sambil memasukkan tangan ke kantong jas ku. Saat memasukkan ke dalam, tanganku terasa menyentuh sesuatu. Coba ku keluarkan, ternyata sesuatu itu adalah cincin emas putih yang pernah ku temukan di supermarket waktu itu. “kok bisa di saku jas?” pikirku. “Mm mungkin aku sendiri  yang lupa menaruhnya.” Batinku. Kupandangi cincin emas putih  engan ukiran nama Azrina itu. Saat itu kemudian saja maba yang pingsan tadi sadar. Segera ku masukkan cincin itu kembali ke saku jasku. “Em....aku dimana?” gumamnya. “Kamu sudah sadar...akamu di ruang kesehatan. Tadi kamu pingsan. “Astaughfirullah......” katanya dan kemudian langsung bangun dari posisinya tiduran. “Hei ...!! keadaanmu belum pulih benar.” “Mm maaf kak saya harus menyelesaikan ospek saya. Saya haru scari ketua BEM ju...jurusan.” katanya. “Tidak...kamu tetap di sini. Kamu sudah dapat izin dari ketua panitia.” Kataku memerintah tegas. Dia nampak takut dengan nadaku bicara. “Em...maaf maafkan aku...aku tak bermaksud membentakmu.” Kataku menyadari kesalahanku. Entah mengapa aku khawatir sekali dengan gadis maba ini. “Mm iya kak......maaf tapi saya haru smencari ketua BEM jurusan muamalah.” Katanya lagi. “Iya...aku tahu. Ok sekarang kamu dengerkan saya. Saya toleransi keterlambatan kamu. Ospek kedepannya lebih disiplin lagi. dan lain kali jangan lupa untuk sarapan dulu. Sekarang saya kasih kamu tugas istirahat di sini sampai keadaanmu membaik.” Kataku dan dia hanya terdiam dan menunduk tak bergeming. Namun aku tetap bisa melihat ekspresi terkejutnya. Lucu sih melihat diam terkejut, bingung seperti itu. Dan tidak tahu mengapa bahasaku jadi tak se formal tadi. Aku udah pakek aku kamu aja. “Kalau gitu saya pergi dulu. Kamu istirahat saja.” Dia tetap tak bergeming. Saat aku keluar baru samar-samar terdengar kata “syukron” entah ada apa dengan diriku mendengar kalimatnya bibirku menyunggingkan senyum. ♥♥♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD