Waktu sisa untuk liburan akhirnya berakhir. Besok aku aku sudah mulai OSPEK. Malam ini aku mengecek checklistku. Memastikan bahwa semua barang yang diinstruksikan sudah aku penuhi. Setelah dirasa selesai, aku beranjak menuju alam mimpi. Sekitar pukul 11.30 malam aku tertidur. Keesokannya seperti biasa aku bangun pukul 03.00 untuk sholat tahajud. Kemudian berlanjut dengan murajaah Al Qur’an hingga waktu shubuh. Saat shubuh aku berjamaah dengan bunda. Abi dan Affan pergi ke masjid. Setelah selesai aku kembali ke kamar. Niat awal akan bersiap-siap berangkat OSPEK. Namun entah kenapa setibanya di kamar aku duduk di ranjang dan rasa kantuk tiba-tiba menyerang. Ku putuskan untuk bernjak dari ranjang dan beralih pada sofa yan ada di kamarku. Ku sandarkan kepalaku. Awalnya untuk mengurangi kantuk. Namun salah di posisi seperti ini malah membuat mataku perlahan-lahan terpejam. Aku tertidur.
***
Pukul 06.20 WIB.............
‘tok......tok...........Assalamu’alaikum....tok tok’
“Kak!! cepet udah di tungguin pak Mardi.” Panggil Affan dari balik pintu. Suaranya menyadarkan ku dari ketiduran ini.
“Hah....Allah..jam berapa sih??” batinku. Lalu ak melihat jam.
“Astaughfirullah jam 06.20, aku pasti bakalan telat ini.” kataku dan langsung beranjak ke kamar mandi. Ku percepat mandiku lalu setelahnya dhuha sebentar. Pukul 06.50 aku berangkat.
“Kak, makan dulu!!” kata bunda.
“Endak sempet bund...ini kakak udah telat. Kakak berangkat dulu ya bund..Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam, hati-hati sayang.”
“iya bund.”
Setelah itu ku segera menuju mobil dan berangkat ke kampus. “Asslamu’alaikum Pak Mardi.” Sapaku.
“Wa’alaikumussalam mbak, berangkat sekarang ???”
“Iya pak, cepet ya Ziya udah telat banget ini.” kataku sopan.
“baik mbak.” jawabnya ku tanggapi dengan senyum lalu masuk ke mobil. Pak Mardi mulai menjalankan mobil. Aku yang sedari tadi duduk di belakang terlihat khawatir. Aku yang berkali-kali melihat jam tangan.
***
‘Akhirnya sampai juga, Alhamdulillah, jalanan endak macet’ batinku. “Syukron ya pak, Pak Mardi pulang aja, nanti kalo Ziya udah selesai Ziya telpon.”
“baik mbak.”
“Oh ya pak...jangan panggil mbak. Panggil Ziya aja toh Pak Mardi lebih tua dari Ziya.”
“Iya mbak eh Ziya.”
“Ya udah pak ...Ziya duluan yah, Assalamu’alaikum.” kataku dan setelah itu berlari menuju tempat OSPEK. Saat berlari tiba-tiba saja ada suara yang memberhentikanku.
“Eits tuggu, mau kemana kamu ??” ada seseorang yang berucap. Aku berhenti lalu mencari seseorang itu. Kubalikkan badan dan benar ada kakak panitia OSPEK di belakangku.
“Mm saya kak.” kataku sambil menunjuk diri sendiri.
“Iya siapa lagi sini !!” ku hampiri kakak panitia itu.
“Dari mana kamu??”
“Mm anu anu kak.” Jawabku gugup sekaligus takut.
“Jawab.....kalo di tanya bukan anu-anu.” Bentaknya.
‘huf. sabar Ziya’ “Maaf kak saya telat.” Kataku singkat.
“Ooo telat, baru hari pertama udah telat. Endak disiplin. Mau jadi apa kamu?” bentaknya lagi.
“Maaf kak saya salah..”
“Ya jelas salah lah sekarang kamu jalan jongkok dari sini sampai sana.” Katanya sambil menunjuk kumpulan teman-teman mabaku.
“Lepas alas kaki. Alas kaki digantung di leher. Kalo udah sampai sana temui ketua BEM jurusan Muamalah.”
“baik kak..” jawabku. Aku melepas sepatuku tanpa kaos kakinya. Baru hendak melangkah, kakak itu sudah berkata lagi.
“Tunggu siapa yang suruh kamu pakek kaos kaki waktu ngejalanin hukuman. Lepas juga !!” perintahnya. Langsung aku berdiri.
“Mm maaf kak sebelumnya. Menurut agama yang saya anut, aurat wanita adalah seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya. Jadi jika saya harus melepas kaos kaki saya hanya untuk menjalankan hukuman, saya tidak akan melakukannya. Saya lebih takut dengan azab Allah. Maaf kak saya tidak bisa melakukannya. Saya terima jika saya harus melakukan hukuman lain asal saya diperbolehkan untuk tetap memakai kaos kaki saya.”
“Ohh gitu berani sekali kamu. Sekarang jalan jongkok sambil mungutin batu kerikil. Jangan pernah berdiri sebelum sampai sana.” Katanya lagi.
“Baik kak.” kataku sambil mulai menjalankan hukuman. Hukuman tetap harus aku lakukan.
30 menit pun selesai aku jalani. Setelah itu tinggal hukuman selanjutnya mencari kakak ketua BEM jurusan Muamalah. Kucari segala penjuru kampus, kutanya pada kakak panitia tetap belum menemukan kakak yang dimaksud. Sudah dua jam setengah aku mencari. Bukannya bertemu dengan ketua BEM itu malah aku yang dikerjai dengan kakak panitia. Berbagai macam perlakuan OSPEK ku terima. Mukaku sudah pucat. Mataku sudah mulai berkunang-kunang.
Saat itu ku lihat ada segerombolan kakak panitia OSPEK. Hal itu terlihat dari jas alamamater yang dikenakan. Kudatangi mereka.
“Assalamu’alaikum maaf kak ada yang ketua BEM jurusan Muamalah?” tanyaku. Mereka saling berpandangan dan menaikkan-naikkan alis. Lalu ada seorang panitia yang bertanya. Suara baritonnya yang indah seperti pernah aku dengar. “Untuk apa kamu cari ketua Bem jurusan Muamalah?” katanya.
“Tadi saya telat dan disuruh untuk menghadap ketua BEM.” Jawabku. Mau tidak mau aku menjelaskan maksudku. Laki-laki itu berbalik membelakangiku.
“Oh jadi kamu terlambat. Baru hari pertama sudah tidak disiplin. Apa alasanmu terlambat??” tanyanya. Aku tak menghiraukan kalimatnya. Kepalaku sudah pusing pandanganku sudah mulai kabur.
“Jawab!!” bentak kakak panitia yang lain. Aku sudah tak tahan lagi. Jika di film kartun, kepalaku sudah ada bintang-bingtang yang berputar-putar karena pusing kepentok. Suhu tubuhku dingin, badanku limbung dan aku pingsan.
♥♥♥♥