Setiap hari Nim dan Luiji melakukan latihan yang diberikan oleh Oldeus.
"Tidak terasa sudah hampir sebulan kita latihan disini, Luiji," ucap Nim, "Tapi aku masih belum melihat hasilnya," sambungnya.
"Kau meditasinya masih kurang, Nim," sahut Luiji.
"Meditasi adalah bagaimana cara kita memusatkan pikiran kita pada satu titik, dan kau selalu tidak fokus melakukannya," jelas Luiji.
"Tapi, kapan lagi kita bisa melawan Alio," sahut Nim.
"Setelah kau siap, Nim," pungkas Oldeus yang tiba-tiba muncul.
"Lalu kapan?" sahut Nim.
"Tutup matamu menggunakan ini, Luiji," ucap Oldeus melempar sehelai kain ke arah Luiji.
"I-ini untuk apa?" tanya Luiji.
"Gunakan saja!" sahut Oldeus.
"Ba-baik," Luiji menggangguk seketika menggunakan sehelai kain dan menutup matanya.
"Lihat dan perhatikan, Nim," ucap Oldeus.
Dengan cepat Oldeus melemparkan tongkat kayunya ke arah Luiji, dan Luiji pun dengan sigap menangkap tongkat tersebut tanpa melihatnya.
"Sekarang kau mengerti?" ucap Oldeus kepada Nim.
"Waaah, hebat," ucap Nim menepuk bahu Luiji.
"Tion, cobalah kau berbicara," ucap Oldeus.
"A-apa?" sahut Tion.
"Bagaiman Luiji? Apa kau mendengar suara Tion?" tanya Oldeus.
"Eeeemm, sebenarnya aku sudah bisa mendengar suara Tion, Guru," jawab Luiji menggaruk kepala.
"Apa!" sentak Oldeus terkejut, "Bagaimana caranya?" sambungnya bertanya.
"Karena Naken bersemayam dalam tubuhku, jadi aku juga bisa mendengar suara Beaster lain," jawab Luiji.
"Ternyata yang seperti itu juga bisa..." ucap Oldeus terdiam, "Baik, sekarang untukmu Nim, kau harus latihan yang serius, kau sangat jauh tertinggal oleh Luiji," sambungnya menatap Nim tajam.
"Ba-baik," sahut Nim mengangguk.
"Sekarang, kau naik sendirian ke atas, dan bawa satu bungkusan hitam itu," perintah Oldeus.
Nim mengangguk kemudian mengangkat dan membawa bungkusan hitam menuju ke atas bukit melalui anak tangga. Sesampainya di atas bukit, Nim merasa heran ketika dia melihat sebuah goa.
"Kenapa ada goa? Bukannya ini di atas bukit?" gumamnya, "Tapi biarlah, nanti coba aku tanyakan kepada kakek tua itu." Kemudian Nim duduk di atas batu besar melakukan meditasi.
"Fokus... Fokus..." Nim mengerutkan keningnya. Dalam keheningan saat meditasi, dalam pandangannya ketika matanya terpejam ia melihat beberapa bintik dengan cahaya biru bergerak. Nim memfokuskan pikirannya, kemudian cahaya biru yang dilihatnya itu bergerak menyatu sehingga membentuk satu cahaya biru yang besar.
"Teruskan, Nim," ucap Tion, "Kau hampir berhasil," sambungnya.
Pikiran Nim kembali terganggu, "Hei Tion, kalau kau bicara aku tidak bisa fokus," sahut Nim.
"Iya iya, lanjutkan," sahut Tion.
Nim kembali memusatkan pikirannya, dilihatnya lagi bintik cahaya biru yang bergerak seakan menyatu dan membentuk satu cahaya biru besar. Begitu serius Nim ketika meditasi dan dilihat oleh Oldeus yang ternyata sedang mengawasi Nim.
"Anak ini juga kelihatan hebat," gumam Oldeus dalam hati, "Mungkin tidak apa-apa aku serahkan benda ini kepada mereka," sambungnya bergumam sembari menatap sebuah pecahan cristal putih yang tidak lain adalah salah satu pecahan dari Hashfer.
"Oy, kakek tua," ucap Nim, "Kalau bicara jangan terlalu keras, aku jadi sulit meditasi nih!" sambungnya.
"Hmmm?" gumam Oldeus melirik Nim yang masih menutup matanya. Oldeus tersenyum, "Bukalah matamu, Nim," ucapnya.
"Ada apa, Kakek tua?" tanya Nim seketika membuka matanya.
Oldeus tersenyum, "Sekarang kau lulus dari latihan," ucapnya.
"Maksudnya?" tanya Nim heran, "Eh, kau bicara, tapi mulutmu tidak bergerak," sambungnya.
"Sekarang kau dapat berbicara bebas dengan Beaster, Nim," ucap Oldeus tersenyum.
"Benarkah?" tanya Nim tersenyum lebar.
"Selamat, Nim," ucap Luiji yang baru saja tiba sembari melangkah menaiki anak tangga terakhir.
"Naken," ucap Luiji.
"Selamat, Nim," ucap Naken.
"Waah benar, aku bisa mendengar Naken bicara," ucap Nim.
"Bagus, bagus," ucap Oldeus menepuk tangannya, "Mungkin sekaranglah saatnya," sambungnya sembari menunjukkan sebuah pecahan Hashfer di tangannya.
Nim dan Luiji menatap pecahan Hashfer dengan tajam.
"Aku akan menyerahkannya kepada kalian," ucap Oldeus. Kemudian Oldeus melemparkannya ke tanah, dengan sekuat tenaga dipukulkannya tongkat kayu di tangan Oldeus ke arah pecahan Hashfer itu sehingga membuat pecahan Hashfer terbagi menjadi dua bagian.
"Luar biasa, Oldeus memang sang legenda," ucap Tion.
"Benar, tidak ada seorangpun yang mampu membelah Hashfer, dan sekarang aku menyaksikannya sendiri, pecahan Hashfer terbelah lagi menjadi dua bagian," sahut Naken.
"Apakah Hashfer memang sekuat itu?" tanya Nim heran.
"Ah, biasa saja, jangan terlalu memujiku begitu, Hahahaha," ucap Oldeus tertawa, "Ambilah," sambungnya menyerahkan dua pecahan Hashfer.
"Ba-baik," sahut Nim dan Luiji bersamaan kemudian menerima pecahan Hashfer tersebut dari Oldeus.
"Lalu, bagaimana kami menggunakan ini?" tanya Luiji.
"Nim, dekatkan pecahan Hashfer itu ke gelangmu," jawab Oldeus.
"Ba-baik," sahut Nim kemudian mendekatkan pecahan Hashfer ke gelang yang di tangannya. Kemudian gelang di tangan Nim memancarkan cahaya putih lalu pecahan Hashfer berubah menjadi segumpal energi putih dan perlahan meresap masuk ke dalam gelang yang ada di tangan Nim.
"Tubuhku terasa sangat ringan," ucap Nim menggerakkan tangan dan kakinya, "Hebat."
"Lalu, aku bagaimana?" ucap Luiji, "Aku tidak memiliki gelang seperti Nim," sambungnya.
"Luiji," ucap Oldeus.
"Y-ya," sahut Luiji.
"Bertukarlah dengan Naken," ucap Oldeus.
"Baik," sahut Luiji, "SWICH!" kemudian Luiji bertukar dengan Naken.
"Naken, dekatkan pecahan itu ke dadamu," ucap Oldeus.
"Ba-baik," Naken mengangguk, "Seperti ini?" sambungnya menempelkan pecahan Hashfer ke dadanya.
"Benar," Oldeus mengangguk, "Tahan sebentar," ucapnya seketika mengulurkan telapak tanganya ke arah tubuh Luiji yang bertukar dengan Naken. Seketika dari telapak tangan Oldeus terlihat aura biru gelap lalu melesat ke arah pecahan Hashfer yang menempel di d*da Luiji.
"Aaaagggh," jerit Naken merasa kesakitan.
"Tahan," ucap Oldeus menambah kekuatannya, seketika pecahan itu meresap masuk ke dalam tubuh Luiji. Kemudian Naken yang bertukar dengan Luiji tertunduk berlutut. Dengan nafas terengah-engah Naken menahan dorongan kekuatan dari Oldeus. Tampak aura putih bercampur kuning keluar dari tubuh Luiji.
"Hebat, kekuatan dari Hashfer ini," ucap Naken merasakan kekuatan dari pecahan Hashfer mengalir dalam tubuh Luiji.
"Baiklah, tugasku sudah selesai," ucap Oldeus, "Ikuti aku," sambungnya melangkah menuju sebuah goa di atas bukit.
Nim dan Luiji mengangguk mengikuti langkah Oldeus.
"Aku rasa teman kalian berada di istana Rieghart," ucap Oldeus menatap tajam.
"Lalu bagaimana caranya kami ke sana?" tanya Nim.
"Di ujung goa ini adalah pintu menuju dunia yang dikuasai oleh Rieghart, dunia Khamaya," jelas Oldeus.
"Dunia Khamaya..." gumam Luiji.
"Benar, kalian harus bergegas menyelamatkan Juno," ucap Oldeus.
"Baik," ucap Nim dengan menunjukkan wajahnya yang serius.
"Ayo, Nim," ucap Luiji melangkah masuk ke dalam goa dan diikuti oleh Nim.
"Ingat, jangan sampai kalian tertangkap oleh Rieghart dan anak buahnya," teriak Oldeus mengingatkan.
"Tenang saja, Kakek tua," teriak Nim melambaikan tangannya.
Semakin mereka melangkah masuk ke dalam goa, semakin pendek pandangan yang dilihat Nim dan Luiji.
"Nim, apa kau membawa ponsel?" tanya Luiji.
"Ya aku bawa," jawab Nim merogoh ponsel yang ada di kantong celananya, "Ini," ucapnya menyerahkan ponsel.
Luiji menyalakan senter yang ada pada ponsel milik Nim, ketika mereka berjalan, keduanya dikejutkan oleh dering ponsel milik Nim yang ada pada tangan Luiji.
"Apa ini?" ucap Luiji melirik layar ponsel milik Nim, "Nim, ambil, adikmu telpon," ucapnya melemparkan ponsel ke arah Nim.
"Eh eh eh." 'PRAAAKK' Ponsel Nim terjatuh karena dia tidak siap menyambut ponsel yang dilempar oleh Luiji.
"Aduuh, gimana ini," ucap Nim membereskan ponselnya yang terhambur di lantai goa.
"Makanya, kau harusnya siaga," sahut Luiji.
"Waaah, untung saja masih bisa dihidupkan," ucap Nim menghidupkan ponselnya setelah membetulkannya.
"Ya Michi, ada apa?" tanya Nim seketika menelpon kembali adiknya.
"Kakak dimana?" Michi balik bertanya.
"Eee... ka-kakak lagi sama Luiji," jawab Nim gugup, "Di-di rumah Luiji," sambungnya.
"Kakak pulang jam berapa, Kak?" tanya Michi.
"Kayaknya kakak malam ini menginap di rumah Luiji dulu, soalnya kakak masih ada urusan," jawab Nim.
"Oh gitu, ya sudah, kakak jangan begadang ya," ucap Michi.
"Iya iya, kamu ini sudah seperti ibu saja," sahut Nim tersenyum, "Besok pagi kakak pulang," sambungnya memberitahu.
"Iya kak," sahut Michi.
"Udah dulu ya, Michi," ucap Nim menutup teleponnya.
"Michi itu adik kamu atau kakak kamu sih, Nim?" tanya Luiji heran.
"Dia memang seperti itu," jawab Nim, "Semenjak orang tua kami pergi ke luar negeri, sifat Michi jadi lebih dewasa, padahal sifatnya yang sebenarnya itu dia sangat manja," sambungnya menjelaskan.
Luiji hanya mengangguk dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari goa.
"Suara apa itu?" tanya Nim menengok kebelakang.
"Cepat kita kesana," ucap Luiji bergegas berlari ke mulut goa.
"Hei hei, tunggu," teriak Nim seketika mengikuti langkah kaki Luiji.
Sesampainya di mulut goa, mereka terkejut ketika melihat jalan keluarnya telah tertutup oleh bebatuan goa yang jatuh.
"Sial, kita terjebak," ucap Nim.
"Siapa yang terjebak?" sahut Naken kemudian, "Kalian kan bisa teleportasi, lalu apa yang dikhawatirkan," sambungnya.
"Benar juga," Nim menghela nafas lega, "Aku lupa," sambungnya menggaruk kepala.
"Ayo kita kembali ke dalam," ucap Luiji kemudian melangkah berbalik menuju ke dalam goa. Nim mengangguk kemudian mengikuti langkah Luiji.
"Nim, apakah kau merasakannya?" tanya Tion ketika hawa di dalam goa terasa semakin hangat.
"Iya, rasanya semakin hangat," jawab Nim.
"Apa itu?" tanya Luiji menunjuk sebuah cahaya putih yang tampak berada di ujung goa.
"Itu jalan keluarnya, ayo kita kesana," ucap Nim seketika berlari ke arah cahaya tersebut.
"Hati-hati, Nim," teriak Luiji.
"Waaah," ucap Nim ketika tampak di hadapannya hamparan tanah tandus yang luas, dan langitnya berwarna merah, "Apa ini neraka?" sambungnya.
"Menyeramkan sekali tempat ini," ucap Luiji melangkah keluar dari goa.
"Apa itu istananya?" ucap Nim menunjuk sebuah bangunan besar nan megah yang di depannya terdapat sebuah gerbang yang memancarkan cahaya berwarna emas.
"Ayo kita kesana," ucap Luiji berhati-hati melangkah.
"Ayo," sahut Nim.
"Awas, Nim," ucap Luiji seketika menarik tangan Nim kemudian bersembunyi di balik semak-semak.
Tampak sekerumun monster bersayap terbang melintas di langit tepat di atas mereka.
"Sepertinya mereka adalah pengikut Rieghart," ucap Luiji, "Kita harus berhati-hati," sambungnya.
"Benar, ingat pesan si Kakek tua 'Jangan sampai tertangkap' katanya," ucap Nim mengingatkan.
Luiji mengangguk, "Ayo kita kesana," ucapnya menatap bangunan besar yang tampak dari tempat mereka berada.
"Ya, ayo," sahut Nim kemudian mereka dengan berhati-hati melangkah menuju ke tempat bangunan itu. Sesekali mereka bersembunyi ketika melihat sekerumun monster bersayap melintasi langit merah di atas mereka.
"Besar sekali gerbang ini," ucap Luiji menatap gerbang yang memancarkan cahaya emas tepat di depan istana.
"Bagaimana caranya kita masuk, Luiji?" tanya Nim.
Tiba-tiba mereka berdua terkejut ketika melihat gerbang istana terbuka.
"Tetap bersembunyi, Nim," ucap Luiji.
Nim mengangguk.
Tampak dua penjaga raksasa yang menyeramkan dengan taring di mulutnya, kepala bertanduk dan memiliki ekor tajam seperti pedang.
"Ayo kita cari jalan lain," bisik Luiji.
"Baik," sahut Nim mengangguk.
Di saat Luiji melangkah mencari jalan masuk lain dan diikuti oleh Nim. Namun ketika Nim melangkah, ia tak sengaja terinjak sebuah ranting pohon dan suara injakan ranting itu terdengar oleh kedua penjaga raksasa. Seketika salah satu penjaga dengan sekejap berada di hadapan Nim dan Luiji.
"Sial, kita ketahuan," ucap Luiji terkejut menatap ke atas ke arah penjaga raksasa.
"Maafkan aku, Luiji," ucap Nim menggaruk kepalanya.
"Sekarang bukan waktunya untuk meminta maaf," sahut Luiji, "Bersiap!" sambungnya memasang kuda-kuda.
"HAHAHAHAH!" Makhluk raksasa itu tertawa. "Makhluk seperti serangga ini ingin melawanku?"
"Ayo, Luiji!" teriak Nim, dan Luiji mengangguk.
"SWICH!"
Nim dan Luiji bertukar dengan Tion dan Naken.
"Ternyata Caster... Hahahaha," ucap makhluk raksasa, "Tidak usah kalian membuang-buang tenaga kalian," sambungnya.
"Hhmm... aku merasakan keberadaan Beaster." Seketika, makhluk raksasa yang satunya tiba-tiba sekejap muncul.
"Kakak?"
"Hmmm." Makluk raksasa yang baru saja muncul menatap tajam Nim dan Luiji, "Kalau kalian ingin masuk ke dalam, tidak perlu repot-repot begitu, Hahahaha..." sambungnya kemudian tertawa.
"Ayo, kami akan antarkan kalian bertemu Tuan kami," sahut raksasa yang satunya melangkah kembali ke arah gerbang.
"Naken, ayo serang mereka!" ucap Luiji terdengar oleh Nim yang juga bertukar dengan Tion.
"Ayo, kita juga, Tion!" ucap Nim.
"Tunggu sebentar," sahut Tion, "Kalau dengan kemampuan kita saat ini, kita hanya akan membuang-buang tenaga kita," sambungnya.
"Bagaimana ini, Luiji?" bisik Nim bertanya.
"Kita ikuti saja mereka berdua," balas Luiji berbisik. Lalu Tion dan Naken bertukar kembali dengan Nim dan Luiji.
Nim mengangguk. "Baiklah, kami akan mengikuti kalian." Kemudian mereka melangkah mengikuti kedua raksasa tersebut masuk ke dalam istana.
"Tuan kami sudah menanti kedatangan kalian," ucap salah satu penjaga raksasa.
Ketika Nim dan Luiji masuk ke dalam istana, mereka menengok ke atas dan melihat beberapa kurungan besar yang memiliki bentuk seperti sangkar burung tergantung sejejer sampai ke ruang tengah istana. Sesampainya mereka di ruang istana, Nim dan Luiji dikejutkan dengan melihat Alio yang sedang duduk di sebuah singgasana.
"Selamat datang." Alio menepukkan tangannya.
"Tidak perlu basa-basi lagi!" teriak Nim, "Dimana teman kami!" sambungnya.
"Teman kalian?" sahut Alio mengerutkan keningnya, "Dia adalah makhluk percobaanku," sambungnya berucap dengan tertawa kecil.
"Apa maksudmu dengan percobaan!" sahut Luiji, "Cepat serahkan teman kami," sambungnya berteriak.
"Baiklah kalau kalian bersikeras," ucap Alio, "Silahkan kalian paksa aku," sambungnya seketika muncul sebuah tombak trisula di tangannya.
"Ayo Luiji!" ucap Nim. Luiji mengangguk.
"SWICH!" Nim dan Luiji kembali bertukar dengan Tion dan Naken.
"Sepertinya, kalian sudah bertambah kuat," ucap Alio tersenyum sembari menepukkan tangannya, "Ayo silahkan," sambungnya.
"Ayo Naken, kita harus menggunakan kemampuan kita," ucap Tion.
"Benar," sahut Naken bersiap dengan posisinya.
Dengan cepat Tion berlari ke arah Alio, tapi Alio hanya berdiri. Hantaman cepat dari Tion dengan mudah dihalau oleh Alio.
"Sepertinya kita harus mengaktifkan kekuatan Hashfer," ucap Tion.
"Lalu bagaimana caranya kita mengaktifkannya?" tanya Nim.
"Nim, Luiji, coba kalian lihat tepat di atas kepala kalian," ucap Tion mengarahkan. Dalam kegelapan di alam bawah sadar mereka melihat sebuah cahaya terang berwarna putih.
"Genggam erat cahaya itu, Cepat!" ucap Tion.
"Ayo Luiji," sambung Naken. Kemudian Nim dan Luiji meraih cahaya terang berwarna putih yang berada di atas masing-masing kepala mereka, lalu mereka menggenggam erat cahaya tersebut yang kemudian dari luar, tampak aura putih memancar keluar dari tubuh Nim dan Luiji.
"Hhhmm?" gumam Alio heran ketika melihat aura putih memancar dari tubuh Nim dan Luiji.
"Ayo sekarang, Naken," ucap Tion. Naken mengangguk.
Di tubuh Nim kemudian tampak aura putih tersebut menyelimuti yang membentuk sebuah wujud harimau dan diikuti dengan tubuh Luiji yang juga aura putih pada tubuhnya yang membentuk sebuah wujud Gurita. Kemudian Tion dan Naken dengan segera menyerang Alio. Tampak Alio kewalahan menghalau serangan dari Tion dan Naken sampai tiba satu serangan mengenai tubuh Alio sehingga membuat kaki Alio tergeser mundur. Dan ketika Tion hendak menyerang Alio lagi, seketika muncul seseorang laki-laki misterius menangkis serangan dari Tion yang ditujukan kepada Alio sehingga dari tangkisan itu membuat tubuh Nim terlempar.
"Tion," ucap Naken seketika berlari ke arah Tion, "Siapa kau!" sambung Naken berteriak ke arah laki-laki tersebut.
"Hanya melawan dua serangga ini, kau sudah kewalahan, Alio," ucap laki-laki misterius tersebut.