3. Latihan Keras

2559 Words
Ketika Nim terbangun dari tidurnya, sentak dia terkejut dengan keberadaan Luiji yang sejak tadi menunggunya bangun. "Aaah, ternyata kau, Luiji," sentak Nim seketika beranjak dari kasurnya. "Nim, ayo sekarang kita kembali ke tempat Oldeus," ucap Luiji dengan tatapan tajam. "Baik," sahut Nim berdiri, namun terdengar suara dari perut Nim, "Tapi, aku makan dulu." "Kakak," terdengar suara Michi dari luar kamar sembari mengetuk pintu, "Apa kakak sudah bangun?" "I-iya Michi, kakak sudah bangun," sahut Nim. "Sarapannya sudah siap, Kak," teriak Michi dari luar kamar. "Iya, sebentar lagi kakak kesana," balas Nim, "Luiji, kita makan dulu, ayo," ajak Nim. "Tidak, aku tidak lapar," sahut Luiji yang kemudian juga terdengar suara keroncongan dari perutnya. "Jangan malu-malu, ayo," ucap Nim menarik tangan Luiji menuju ke arah ruang makan. "Wah, ada teman kakak juga," ucap Michi seketika melihat Nim dan Luiji tiba, "Ayo ikut sarapan bersama," ajaknya. "Ba-baik," sahut Luiji mengangguk. "Silahkan duduk, Kak," ucap Michi mempersilahkan Luiji duduk. "I-iya, terima kasih," sahut Luiji, "Kalian tinggal berdua saja?" sambungnya bertanya. "Iya, kami hanya tinggal berdua," sahut Nim sembari melahap sarapannya. "Iya, hanya kami berdua di rumah ini, Kak," sambung Michi, "Orang tua kami bekerja dan tinggal di luar negeri, tiap enam bulan sekali mereka pulang," sambungnya menjelaskan. "Setiap bulan ayah mengirimkan uang untuk biaya kami di rumah dan juga untuk sekolah Michi," tambah Nim menjelaskan. Luiji mengangguk. "Sekolah mu gimana, Michi?" tanya Nim kepada adiknya. "Sekolah diliburkan, Kak," jawab Michi. Nim mengangguk, "Yap, aku sudah selesai makan, ayo Luiji," ucapnya seketika berdiri. Luiji mengangguk juga kemudian berdiri. "Kami pergi dulu, Michi," ucap Nim, "Kau hati-hati di rumah, kalau mau pergi keluar, jangan terlalu lama, ya," sambungnya sembari mengusap kepala Michi yang sedang menyantap sarapannya. "Iya," sahut Michi mengangguk. "Ayo, Luiji," ucap Nim melangkah keluar dari rumahnya dan diiringi oleh Luiji. "Sekarang, Nim," ucap Luiji menengok ke kiri dan kanan. Mereka memejamkan mata, dan dengan sekejap mereka berpindah tempat. Tepat di depan kuil yang berada di tengah candi, Oldeus sudah menunggu mereka. "Lama sekali kalian," teriak Oldeus seketika memukul kepala Nim dengan tongkat kayunya yang terlihat agak lapuk. "Aduuh!" sentak Nim berteriak memusut-musut kepalanya yang terasa sakit. "Ayo ikuti aku," ucap Oldeus melangkah masuk ke dalam kuil diikuti oleh Nim dan Luiji. Tampak dua buah benda yang terbungkus oleh kain berwarna hitam. "Benda apa ini?" tanya Luiji ketika berdiri di samping benda yang terbungkus itu. "Ikuti aku," ucap Oldeus, "Dan kalian tolong bawakan bungkusan itu, masing-masing bawa satu," sambungnya. "Ba-baik," sahut Nim, "Benda apa memangnya yang di dalam bungkusan ini, berat sekali," sambungnya dengan susah payah mengangkat bungkusan tersebut. "Jangan banyak tanya, bawa saja!" teriak Oldeus yang langkahnya semakin jauh meninggalkan Nim dan Luiji. Dengan nafas terengah, Nim dan Luiji melangkah mengejar Oldeus. "Ingat, jangan ada seorangpun dari kalian yang mencoba membuka bungkusan itu," ucap Oldeus, "Kalau ada yang berani mencoba membukanya, aku akan berhenti melatih kalian," sambungnya. "Ba-baik," sahut Nim terengah-engah. Setelah berjalan cukup jauh, seketika Oldeus menghentikan langkahnya. Tampak ratusan, bahkan ribuan anak tangga di hadapan mereka. "Ayo lewat sini," ajak Oldeus sembari menaiki anak tangga tersebut. "Kita mau kemana?" tanya Nim. "Di atas adalah tempat latihan kalian, dan di atas sana juga terdapat mata air suci yang mampu membuat kalian menjadi kuat," jelas Oldeus tidak menghentikan langkahnya menaiki anak tangga. "Jauh sekali," ucap Nim menatap anak tangga yang terlihat tak berujung. "Ayo cepat, jangan hanya melamun," teriak Oldeus. "Enak saja kau, tidak membawa apa-apa!" sahut Nim berteriak. Oldeus hanya tersenyum melihat Nim dan Luiji yang tampak berjalan terengah-engah melewati satu per satu anak tangga. Setelah beberapa jam mereka melangkah melalui anak tangga, tampak anak tangga terakhir yang menandakan bahwa mereka telah sampai di puncak. "Kalian lama sekali," ucap Oldeus yang terlihat duduk santai di atas sebuah batu yang besar. "A-a-aku tidak... kuat lagi..." ucap Nim terengah-engah dan seketika duduk pada anak tangga terakhir, dilihatnya Luiji yang tetap melangkahkan kakinya, keringatnya mengucur deras diiringi dengan nafasnya yang juga terengah-engah. Nim hanya terdiam heran melihat Luiji yang begitu sangat serius dengan niatnya berlatih. "Kau kalah dengan Luiji," ucap Oldeus. "Eehh!" sahut Nim, "Aku tidak kalah," sambungnya seketika berdiri dan melangkah menyusul Luiji. Sampailah mereka di depan batu besar tempat Oldeus tengah duduk. "Apa selanjutnya?" tanya Luiji. "Kalian duduk saja dulu," jawab Oldeus, "Istirahatkan kaki-kaki kalian," sambungnya. "Dimana mata airnya?" tanya Nim menengok ke kiri dan kanan. "Nanti akan ku beritahu letaknya," jawab Oldeus, "Sekarang kalian duduklah dengan posisi kaki menyilang, seperti yang aku lakukan," sambungnya. Luiji mengangguk. "Ba-baik," ucap Nim. "Lalu apa?" ucap Nim. "Diam!" teriak Oldeus, "Tutup mata kalian dan rasakanlah energi dari alam yang ada di sekitar kalian," sambungnya, "Dengarkanlah suara air yang mengalir, suara dedaunan yang tertiup oleh angin, bahkan suara semut yang berjalan di atas tanah," lanjutnya. "Oy Luiji, apa benar bisa mendengarkan langkah kaki semut?" bisik Nim kepada Luiji. "Aku mendengar mu, Nim!" teriak Oldeus. "Ma-maaf," ucap Nim kemudian terdiam. "Pusatkan pikiran kalian dalam satu titik," ucap Oldeus, "Jangan ada yang berani membuka mata sebelum aku suruh berhenti!" sambungnya berteriak. Nim dan Luiji menuruti yang diperintahkan oleh Oldeus. "Anak ini, tampak sangat bersungguh-sungguh," gumam Oldeus dalam hati melihat Luiji, "Berbeda sekali dengan anak yang satunya lagi," sambungnya berucap dalam hati. "Aku belum menyuruhmu membuka mata!" teriak Oldeus seketika memukulkan tongkat kayu ke arah kepala Nim. "Tion, oy Tion," ucap Nim dalam hati. "Fokus, Nim!" sahut Tion. "Jangan berbicara!" teriak Oldeus seketika memukulkan lagi tongkatnya ke kepala Nim. "Aduuuh!" jerit Nim, "Aku tidak bicara!" ucapnya. "Benar kau tidak bicara, tapi aku tahu kalau kau mengajak Tion berbicara," ucap Oldeus. "Apa! Dia mendengar kita, Tion," bisik Nim dalam hati. "Sudah, Fokus Nim!" sahut Tion. "Baiklah..." sahut Nim dalam hati. "Berhenti!" teriak Oldeus. Seketika Luiji membuka matanya. "Nim? buka matamu," ucap Luiji, "Apa!!!" sentak Luiji terkejut ketika melihat Nim yang ternyata sedang tertidur. "Dasar!" teriak Oldeus memukulkan lagi tongkatnya. "Aduuh!" jerit Nim sentak terkejut dari tidurnya, "Dimana aku?" sambungnya. "Ayo kita kembali ke bawah," ucap Oldeus, "Dan kau Nim, sebagai hukuman, kau harus membawa kembali dua bungkusan itu ke bawah," sambungnya. "Iya iya," ucap Nim seketika berdiri kemudian mengangkat sebuah bungkusan tersebut. "Bawa keduanya!" ucap Oldeus. "Apa!!" sentak Nim yang matanya terbelalak ketika mendengar perintah dari Oldeus. "Jangan banyak tanya! Cepat kau bawa kedua bungkusan itu kembali ke bawah!" teriak Oldeus, "Tapi, sebelum itu kalian minumlah ini," sambungnya seketika melemparkan dua buah kendi berisi air ke arah Nim dan Luiji. Seketika Luiji menangkap kendi berisi air itu dengan sigap, kecuali Nim yang kewalahan menyambut kendi yang dilemparkan oleh Oldeus. "Air apa ini?" tanya Nim, "Apa ini air suci?" sambungnya. "Benar, itu air suci," jawab Oldeus. "Waaah," seru Nim seketika meneguk air tersebut, "Eeh, tapi rasa airnya sama seperti air biasa," sambungnya terheran. "Hahahaha." Oldeus tertawa puas, "Semua air memang sama, kan? Memangnya ada air yang tidak suci?" sambungnya sembari melanjutkan tawanya. "Dasar Kakek Peyot!" teriak Nim geram. Luiji hanya tersenyum melihat tingkah Nim. "Jangan banyak bicara! Cepat kau bawa kembali kedua bungkusan itu!" teriak Oldeus. "Tidak mau!" Nim memalingkan wajahnya. "Atau..." ucap Oldeus sembari menepuk-nepuk tongkat kayunya. "Ba-ba-baik," sahut Nim seketika mengangkat kedua bungkusan berwarna hitam itu, dengan susah payah Nim mengangkat kedua bungkusan itu. "Ayo kita kembali ke bawah," ucap Oldeus melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, dan disusul oleh Luiji tepat di belakang Oldeus. "Hei Hei, tunggu aku!" teriak Nim tergesa-gesa melangkahkan kaki dengan membawa kedua bungkusan yang berat. Oldeus lebih dahulu tiba di bawah, diiringi oleh Luiji, kemudian diiringi oleh Nim yang terengah-engah ketika membawa dua bungkusan hitam yang berat. "Air... Air..." ucap Nim terengah-engah. "Kau ambil saja airnya di dalam kuil," sahut Oldeus. "Ba-baik," sahut Nim melangkah ke arah kuil setelah meletakan dua bungkusan hitam. "Latihan hari ini sudah cukup," ucap Oldeus, "Besok kita lanjutkan lagi," sambungnya kemudian dia menghilang entah kemana. "Heh? kemana dia?" tanya Nim ketika kembali dari kuil membawa sebuah kendi berisi air. "Aku tidak tahu, Nim," jawab Luiji, "Ayo kita pulang," sambungnya. "Baik, kita pulang," sahut Nim. Seketika mereka memejamkan mata dan menghilang. "Kakak," ucap Michi terkejut ketika melihat Nim yang tiba-tiba muncul, "Kakak, dari mana?" "Kok aku tidak mendengar kakak masuk ya?" sambungnya heran. "Ah, itu... eee..." sahut Nim menggaruk kepala, "Iya, tadi kakak kira kamu sudah tidur, jadi kakak pelan-pelan masuk rumahnya," sambungnya. "Oh iya, makan malam sudah ada di meja, Kak," ucap Michi memberitahu. "I-iya, kamu duluan saja ya," sahut Nim, "Kakak mau mandi dulu," sambungnya sembari melangkah ke arah kamar mandi. "Iya, Kak," sahut Michi kemudian melangkah menuju ruang makan. Ketika sampai di ruang makan, tak sengaja Michi menengok ke arah jendela, dan dari kegelapan dilihatnya sepasang mata merah menyala menatap tajam dirinya. Seketika sesampainya di kamar mandi, Nim di kejutkan dengan teriakan adiknya dari ruang makan. "Kakaaaaak!" teriak Michi. Mendengar teriakan adiknya itu, Nim segera bergegas mendatanginya. "Michi!" teriak Nim seketika membuka pintu ruang makan, "Kenapa, Michi?" tanya Nim ketika melihat adiknya duduk ketakutan di sudut ruangan. "A-ada sesuatu di jendela, Kak," ucap Michi gemetar sembari menunjuk ke arah jendela. "Mana? Tidak ada apa-apa?" ucap Nim menengok keluar jendela, "Tidak apa-apa, Michi, ada kakak kok," sambungnya menutup jendela dan tirainya. "Kakak, aku takut..." ucap Michi gemetar. "Memangnya makhluk seperti apa yang barusan kau lihat?" tanya Nim. "Aku takut, Kak..." sahut Michi. "Ya sudah, tidak apa-apa, Kakak akan jaga kamu, tenang saja," ucap Nim mengusap kepala adiknya. "Janji ya, Kak," ucap Michi. "Iya, kakak janji," sahut Nim tersenyum, "Ayo makan dulu," sambungnya mengajak dan dibalas dengang Michi mengangguk. Ketika makan malam, dari dalam hati Nim mencoba berbicara dengan Tion. "Tion, apa kau merasakan sesuatu?" tanya Nim. "Semenjak aku tiba di bumi, banyak hal yang tak aku ketahui, seperti yang terjadi dengan adikmu tadi," jawab Tion, "Aku merasakan ada energi yang tidak pernah aku temui sebelumnya," sambungnya. "Energi? Artinya apa yang dikatakan Michi benar?" tanya Nim. "Mungkin," sahut Tion, "Memangnya apa yang kau tahu, Nim?" sambungnya bertanya. "Di bumi, bukan hanya manusia, hewan dan tumbuhan yang menempatinya, tapi juga masih banyak makhluk lain yang juga tidak bisa dilihat dengan mata," jawab Nim. "Sebenarnya energi yang aku rasakan hampir mirip dengan kami, para Beaster," sahut Tion, "Tapi bedanya, di sekitar energi itu terasa seperti menyimpan banyak kemarahan," sambungnya. "Kau mau tahu, apa nama makluk yang barusan dilihat oleh Michi?" tanya Nim. "Hmmmm?" sahut Tion. "Kami sering menyebut mereka Hantu..." jawab Nim. "Hantu?" "Benar, Hantu," ucap Nim. "Bagaimana dengan wujud mereka?" tanya Tion. "Wujudnya menyeramkan, sebagian mirip dengan Alio, memiliki tanduk," jawab Nim tersenyum. "Kakak, kenapa senyum sendiri?" tanya Michi heran melihat kakaknya tersenyum sendiri. "Hah? Ti-tidak apa-apa," jawab Nim menggeleng gugup. "Nim, ayo cepat selesaikan makanmu, kau harus istirahat, besok kau latihan lagi, kan?" ucap Tion. Nim mengangguk kemudian beranjak dari duduknya, "Kakak mau istirahat dulu ya, Michi," ucapnya. "Kakak, tapi aku masih takut..." sahut Michi. "Ya sudah, kakak temenin kamu sampai selesai makan, nanti kakak bantu membereskan," ucap Nim tersenyum. "Iya, kak," sahut Michi mengangguk. Setelah selesai makam, Nim membantu Michi adiknya membereskan makanan yang ada di meja dan membawanya ke dapur. "Kakak, aku ikut..." ucap Michi. "Iya, iya, jangan jauh-jauh dari kakak," sahut Nim melangkah ke dapur diikuti oleh adiknya. "Oh iya, Kak," ucap Michi. "Kenapa?" sahut Nim. "Aku teringat dengan makhluk gurita raksasa yang kemarin, Kak," ucap Michi. "Gurita?" tanya Nim. "Iya, itu makhluk apa, Kak?" tanya Michi. "Nanti kakak ceritakan," jawab Nim, "Tapi setelah kamu tidur, ya," sambungnya sembari mengusap kepala adiknya. Michi mengangguk. "Kalau kamu takut, nanti kakak temanin kamu tidur," ucap Nim. "Tidak usah, Kak," sahut Michi, "Kan, kamar kita bersebelahan, jadi aku masih merasa aman kok, Kak," sambungnya. "Baiklah, kakak mau istirahat dulu," ucap Nim memasuki kamarnya. "Iya, kak," sahut Michi mengagguk. Nim pun segera merebahkan tubuhnya yang terasa lelah setelah latihan yang dia lakukan, "Tion?" ucap Nim ketika berbaring. "Ya," sahut Tion. "Bukankah semenjak aku memiliki gelang ini, aku bisa berpindah tempat dengan sekejap, dengan cara seperti itu harusnya sangat mudah mengalahkan Alio dan Rieghart," ucap Nim. "Sebaiknya jangan terlalu sering kau gunakan kemampuan itu, sebelum tubuhmu siap, akan berdampak buruk kalau tubuhmu tidak mampu menahannya karena terlalu sering teleportasi," jelas Tion. "Teleportasi?" tanya Nim. "Benar, kemampuan itu adalah Teleportasi," jelas Tion, "Tapi dampaknya sangat besar, seperti yang kau rasakan sekarang, tubuhmu akan terasa lelah," sambungnya. "Memang benar, terlalu sering menggunakan teleportasi, tubuhku terasa semakin lesu," sahut Nim. "Bukan hanya tubuhmu, tapi umurmu juga akan cepat berkurang," ucap Tion. "Umurku?" sahut Nim heran. "Fisikmu akan terlihat cepat menua, Nim," ucap Tion. "Apa, Tua?!" teriak Nim. "Kakak? Kakak kenapa?" teriak Michi dari kamarnya. "Hah, kakak tidak apa-apa," sahut Nim, "Ayo kamu tidur," sambungnya. "Iya kak," sahut Michi. Tak berapa lama, Nim pun tertidur. Di pagi hari, ketika Nim terbangun. Seketika Nim dikejutkan lagi dengan keberadaan Luiji yang tiba-tiba muncul. "Hei, Luiji," ucap Nim, "Jangan muncul tiba-tiba seperti itu!" sambungnya. Luiji tersenyum. "Aku mendengar penjelasan dari Tion, kita tidak boleh terlalu sering menggunakan kemampuan teleportasi," ucap Nim. "Aku sudah tahu, tapi itu hanya berlaku untukmu, Nim," sahut Luiji. "Hanya berlaku untukku?" ucap Nim heran. "Biar Naken yang menjelaskan," sahut Luiji, "SWICH!" bisiknya kemudian kesadaran Luiji diambil alih oleh Naken. "Tion," ucap Naken yang menggunakan tubuh Luiji. "Ya, Naken," sahut Tion. "Baik, akan aku jelaskan," ucap Naken. Nim menatap serius ke arah tubuh Luiji yang digerakkan oleh Naken. "Mudah saja, karena Tion masih bersemayam dalam gelang itu, hanya menjadi pembatas antara Beaster dengan penggunanya," jelas Naken. "Lalu?" tanya Nim. "Karena aku masuk dan bersemayam dalam tubuh Luiji, dengan kata lain..." "Dengan kata lain?" tanya Nim heran. "Dengan kata lain, kemampuan yang aku miliki telah seimbang dengan tubuh Luiji," jelas Naken, "Dan ternyata tubuh manusia lebih cepat menyerap dan beradaptasi dengan energi kami, para Beaster," sambungnya. "Kalau begitu, bagaimana kalau Tion melakukan hal yang sama," ucap Nim semangat. "Itu mustahil, Nim" sahut Tion. "Mengapa mustahil?" tanya Nim. "Benar, itu hal yang mustahil," sambung Naken, "Seperti yang tadi ku katakan, Tion masih bersemayam dalam gelang itu, dan itu akan menjadi pembatas antara Beaster dan penggunanya," sambungnya. "Lalu, bagaimana dengan Caster?" tanya Nim. "Tubuh para bangsa Caster kekuatannya hampir seperti dewa, makanya para Caster dapat memiliki umur yang sangat panjang," jawab Tion, "Berbeda dengan kalian, para manusia, harus melalui latihan fisik yang keras agar bisa menyamai kekuatan yang dimiliki para Caster," sambungnya. "Tapi, aku rasa mustahil, Tion," sahut Naken, "Kecuali aku yang karena tanpa cangkang, bisa masuk ke dalam tubuh Luiji ini," sambungnya. "Apa tidak ada dampak buruknya?" tanya Nim. "Aku masih belum tahu," jawab Naken, "Semoga saja tidak ada dampak buruk terhadap Luiji," sambungnya. "Hmmm..." gumam Nim,"Baiklah, kita sudah terlambat, Ayo!" ucap Nim semangat. "Jangan kau gunakan kemapuan teleportasi sendiri, Nim," ucap Tion, "Aku ada cara yang lebih baik," sambungnya. "Bagaimana?" tanya Nim. "Ayo bertukar," sahut Tion. "Benar, dengan begitu energimu tidak akan berkurang karena teleportasi, Nim," sahut Naken. "Benar," sahut Tion. "Kalau begitu baiklah," ucap Nim, "SWICH!" "Ayo kita pergi ke tempat Oldeus," ucap Tion menggunakan tubuh Nim. Naken mengangguk. Seketika mereka berdua berpindah tempat dari kamar Nim, menuju ke tempat Oldeus. Setibanya di kuil, tampak Oldeus yang sudah menunggu. "Kalian terlambat lagi," ucapnya dengan tatapan yang tajam, "Eh, Tion? Cepat bertukar kembali," sambungnya. "Ba-baik," sahut Tion mengangguk, kemudian Nim kembali sadar. "Kita sudah sampai," ucap Nim ketika membuka matanya. 'JEDUUK' seketika tongkat kayu Oldeus mendarat ke kepala Nim. "Aduuuh!" jerit Nim mengusap kepalanya yang terasa sakit, "Kenapa kau selalu memukulku!" teriak Nim. "Bukan aku, tapi tongkat ini yang bergerak sendiri," sahut Oldeus tenang. "Bohong!" teriak Nim. "Itu benar, Nim," sahut Tion. "Apa!" ucap Nim. "Pengetahuanmu tentang duniamu sendiri masih sedikit," ucap Oldeus menggeleng, "Kau harus serius berlatih, agar mengerti, Nim," sambungnya. "Ba-baiklah," sahut Nim mengangguk sembari mengusap kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD