10. Pengendali Pikiran

1878 Words
Tampak sang surya yang perlahan pergi dan meninggalkan cahaya senja yang menyelimuti hamparan padang hijau luas. Dari dalam istana tepat di ruang latihan, tampak Nim dan Luiji yang masih berlari memutari ruangan tersebut. "Mereka masih saja berlari?" gumam Grazel ketika ia tiba di depan ruang latihan, "Nim! Luiji!" teriaknya kemudian. Nim dan Luiji menoleh ke arah Grazel. "Ya...!" teriak Nim seketika berlari ke arah Grazel dan diikuti Luiji di belakangnya. "Tahap pertama sudah kalian kuasai," ucap Grazel dengan tatapan serius. "Benarkah?" tanya Nim takjub. "Sekarang aku akan melepaskan kedua pemberat yang ada di kaki kalian," ucap Grazel. "Akhirnya..." sahut Nim lega. "Sekarang duduklah, bentangkan kaki kalian," ucap Grazel. "Baiklah," ucap Nim kemudian duduk sembari menghunjurkan kedua kakinya dan diikuti oleh Luiji tepat duduk di sampingnya. Grazel mendekatkan kedua telapak tangannya ke pemberat di kedua kaki Nim dan Luiji sembari membaca mantra sihir pelepas, "Baiklah, sekarang kalian bisa melepaskan pemberatnya," ucapnya setelah selesai membacakan mantera sihir pelepas. Kemudian Nim dan Luiji pun mencoba melepaskan kedua pemberat yang terikat di kedua kaki mereka. "Wah, akhirnya," ucap Nim lega, "Sekarang kedua kaki ku bisa bergerak dengan leluasa," sambungnya sembari meregangkan kedua kakinya. "Berdirilah," ucap Grazel. Nim dan Luiji mengangguk kemudian beranjak berdiri. "Sekarang untuk membuktikan kalau kalian telah berhasil menyelesaikan latihan di tahap ini, berlari lah sebanyak dua putaran," ucap Grazel. "Baik!" teriak Nim dan Luiji dengan lantang kemudian mereka bersiap memasang kuda-kuda untuk berlari. "Bersiap!" teriak Grazel memberi aba-aba, "Mulai!" teriaknya lagi. Seketika Nim dan Luiji berlari dengan sangat cepat kemudian tiba lagi dengan waktu kurang dari satu detik. "Apa benar kita melakukannya?" tanya Nim menoleh ke arah Luiji. "Ya, kita melakukannya," sahut Luiji tersenyum. "Selamat," ucap Grazel tersenyum, "Kalian sudah membuktikan bahwa kalian berhasil menyelesaikan latihan pada tahap pertama ini," sambungnya, "Latihan tahap kedua akan kita mulai besok." "Siap!" teriak Nim dan Luiji bersamaan. "Sekarang kalian boleh beristirahat," ucap Grazel kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang latihan. "Selamat, Nim, Luiji," ucap Tion, "Kalian berhasil," sambungnya. "Ya, terima kasih Tion," sahut Nim dan Luiji bersamaan. "Selamat ya," ucap Naken kemudian. "Ya, Naken," sahut Luiji. "Ayo kita kembali ke kamar kita, Nim," ucap Luiji kemudian melangkah pergi keluar ruang latihan. Nim tersenyum, "Hei, tunggu aku, Luiji," sahutnya seketika melangkah mengikuti Luiji. "Nim," ucap Luiji ketika melihat Nim melangkah tepat di sampingnya. "Ya?" tanya Nim menoleh ke arah Luiji. Luiji tampak murung, "Bagaimana dengan latihan selanjutnya?" "Aku rasa akan jauh lebih sulit dari tahap pertama, tapi aku yakin kita pasti bisa menyelesaikannya," jawab Nim, "Benar kan, Tion?" ucap Nim dengan penuh keyakinan. "Benar, Nim," sahut Tion, "Kalian pasti bisa menyelesaikan latihan tahap selanjutnya," sambungnya. "Tapi, aku masih penasaran," ucap Nim. "Penasaran kenapa, Nim?" tanya Luiji. "Latihan ini ada berapa tahap sih?" sahut Nim kembali bertanya sembari menggaruk kepalanya. "Aku tidak tahu, Nim," sahut Luiji, "Sebanyak apapun tahapnya, aku harus segera menyelesaikan semuanya," ucap Nim penuh semangat, "Setelah itu, kita pasti akan bisa menyelamatkan Juno, benarkan?" sambungnya. "Ya, kau benar, Nim," jawab Luiji tersenyum. Ketika Nim dan Luiji hendak masuk ke dalam kamar, tanpa disengaja mereka melihat seseorang dengan mengenakan pakaian serba hitam yang sedang memperhatikan mereka kemudian dia segera berlari ketika merasa keberadaannya telah diketahui. "Black Tail," ucap Luiji seketika berlari mengejar orang tersebut. "Apa? Black Tail?" gumam Nim heran, "Hei, tunggu aku, Luiji!" teriaknya kemudian ikut mengejar. "Kali ini, tidak akan aku biarkan lolos," ucap Luiji seketika bersiap dengan kuda-kuda kemudian ia berlari dengan sangat cepat, sehingga dengan seketika Luiji menyerang dan dapat menangkapnya, "Perempuan?" gumamnya ketika melihat dengan dekat orang tersebut yang memiliki rambut panjang. "Luiji!" teriak Nim dari belakang, "Kau berhasil menangkapnya," sambungnya. Seorang dengan pakaian serba hitam dan juga menggunakan penutup wajah itu tampak takut ketika melihat wajah Nim. "Siapa kau?" ucap Luiji kemudian memberanikan diri perlahan membuka penutup wajahnya. "Apa!" sentak Nim dan Luiji terkejut ketika ternyata seorang dengan pakaian hitam itu adalah adik Nim, yaitu Michi. "Michi!" ucap Nim terkejut, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya kemudian. "Michi?" gumam Luiji dengan menunjukkan wajahnya yang bingung. Tampak Michi dengan pandangan kosong, "Ka-kakak?" ucapnya. "Ya, aku kakakmu," sahut Nim memeluk adiknya. Kemudian perlahan Michi mendekatkan mulutnya ke telinga Nim dan berbisik di telinga Nim, "U-ulti-mi-miore...." "Ada apa?" tanya Aston seketika menghampiri Nim dan Luiji, "Apa dia adalah salah satu anggota Black Tail?" sambungnya lagi. "Dia adikku," jawab Nim. "Ka..." ucap Michi yang pandangannya terlihat kosong. "Sepertinya dia telah dikendalikan," ucap Aston, "Cepat segera bawa dia ke ruang rawat istana," sambungnya. "Ayo, Michi," ucap Nim seketika menggendong tubuh adiknya. Namun, Nim terkejut karena ketika menggendong adiknya, tubuh adiknya terasa sangat dingin seperti es. "Ayo, ikuti aku," ajak Aston sembari berlari menuju ruang rawat istana. "Iya," sahut Nim seketika berlari mengikuti Aston sembari menggendong adiknya dan diikuti oleh Luiji di belakang. "Cepat bawa masuk," ucap Aston ketika dia tiba di depan ruang rawat istana. Kemudian Nim dengan segera perlahan menaruh adiknya di atas sebuah ranjang di ruang rawat, "Tenang saja, kamu tidak akan apa-apa," ucapnya. "Maaf, Tuan," ucap salah seorang perawat, "Sebaiknya Tuan tolong tunggu diluar, kami akan mengurus ini," sambungnya sembari menuntun Nim menuju ke arah pintu. "Baiklah," sahut Nim menuruti, kemudian perawat tersebut segera menutup pintu ruang rawat. Tampak dari kaca pintu, Nim yang khawatir dengan keadaan adiknya. "Dia akan baik-baik saja, Nim," ucap Luiji menepuk bahu Nim. "Michi..." ucap Nim. "Bagaimana bisa adikmu bisa dikendalikan oleh Black Tail?" tanya Aston. "Aku juga tidak mengetahuinya," sahut Nim seketika duduk dan menyandarkan tubuhnya di depan pintu. "Kau jangan khawatir, kejadian seperti ini sudah sering terjadi," ucap Aston menenangkan hati Nim, "Para perawat istana sudah cukup mahir mengatasinya," sambungnya. Seketika pintu ruang rawat terbuka, Nim pun segera berdiri, "Bagaimana dengan keadaan adikku?" tanyanya. "Dia baik-baik saja," jawab perawat tersebut tersenyum. "Syukurlah," ucap Nim dengan nada lega. "Silahkan masuk," ucap perawat tersebut mempersilahkan. Nim segera memasuki ruang rawat, "Michi, kau tidak apa-apa?" tanyanya. "Kakak?" sahut Michi menoleh ke arah Nim, "Kita dimana, Kak?" tanyanya kemudian. "Nanti akan kakak jelaskan," sahut Nim sembari mengusap rambut adiknya. "Aku takut sekali, Kak," ucap Michi gemetar. "Tenang Michi, sekarang kau tidak perlu takut lagi, kakak akan selalu menjagamu," sahut Nim. "Ada apa?" tanya Putri Alice seketika tiba d ruang rawat istana. "Tuan Putri," ucap Nim menundukkan badannya, "Dia adalah adikku, Tuan Putri," sambungnya memberitahu. "Adikmu? Bagaimana keadaanmu?" tanya Putri Alice seketika mendekati ke arah Michi yang sedang terbaring diatas ranjang di ruang rawat. "Su-sudah mendingan," jawab Michi tersenyum. "Syukurlah," ucap Putri Alice, "Kalau kau sudah bisa tersenyum, itu artinya kau sudah tidak apa-apa," sambungnya tersenyum sembari memegang tangan Michi. "Bagaimana dia bisa kesini?" tanya Putri Alice seketika menoleh ke arah Aston. "Aku juga tidak tahu, Tuan Putri," jawab Aston, "Saat dia disini, dia sudah dalam pengaruh pengendali pikiran, Tuan Putri," sambungnya menjelaskan. "Apakah ini ulah Black Tail lagi?" tanya Putri Alice. "Aku rasa begitu, Tuan Putri," sahut Aston. "Dimana Grazel?" tanya Putri Alice. "Tadi, sebelum saya menghampiri Nim dan Luiji, saya bersama Grazel," jawab Aston, "Kemudian dia berkeliling istana," sambungnya. Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari luar istana. "Apa itu," ucap Putri Alice. "Tuan Putri tunggu saja disini, saya akan segera memeriksanya," sahut Aston. "Ya, saya juga akan kesana," sahut Luiji, "Nim, kau disini saja, jaga adikmu dan juga Putri Alice," sambungnya. "Ayo," ajak Aston kemudian berlari dengan sangat cepat dan diikuti oleh Luiji yang juga berlari dengan sangat cepat menuju ke arah asal suara ledakan tersebut. Ketika Luiji dan Aston tiba di luar istana, tampak dari kejauhan Grazel yang terbaring tidak sadarkan diri. "Grazel!" teriak Aston seketika menghampiri Grazel yang terbaring tidak sadarkan diri. "Apa yang terjadi?" tanya Luiji seketika menghampiri seorang prajurit yang berlari. "Black Tail, Tuan," jawab prajurit tersebut. "Black Tail?" gumam Luiji mengerutkan keningnya, "Dimana mereka sekarang?" lanjutnya bertanya. "Mereka sepertinya masih berada di sekitar istana," jawab prajurit tersebut. "Aston!" teriak Luiji. "Ya," sahut Aston. "Aku akan mengejar mereka, kau urus Grazel," ucap Luiji seketika berlari dengan sangat cepat mengelilingi istana. "Aku harus segera membawa Grazel?" gumam Aston, "Prajurit!" teriaknya. "Ya, Tuan Aston," sahut salah seorang prajurit. "Aku serahkan Grazel kepada kalian," ucapnya , aku juga harus pergi mengejarnya," gumamnya lagi seketika berlari dengan sangat cepat menyusul Luiji. "Ba-baik, Tu..." Sahutan prajurit tersebut terpotong karena kagum ketika melihat kemampuan Aston, "Cepat sekali..." gumamnya. Setiap tempat telah didatangi oleh Luiji, sampai ketika dia menemukan seseorang dengan pakaian hitam yang berusaha hendak keluar dari istana dengan cara memanjat tembok istana. "Ayo, Naken," ucap Luiji. "Baiklah," sahut Naken. "SWICH!" Seketika Luiji pun bertukar dengan Naken. Tampak dari tubuh Luiji yang mengeluarkan aura putih berbentuk gurita yang menyelimuti tubuhnya. "Aku tidak akan membiarkan kalian," ucap Naken seketika menjulurkan tentakelnya ke arah seorang dengan pakaian hitam tersebut, kemudian dia menjerat dan berusaha menariknya dengan menggunakan tentakelnya. Namun, Naken tidak bisa menariknya kemudian ia melepaskan jeratan tentakelnya. Dan ketika jeratan tentakel Naken terlepas, dengan segera orang dengan pakaian hitam tersebut keluar istana. Kemudian Naken pun mengejarnya lagi keluar istana. "Berhenti!" teriak Naken. "Hahahaha." Seorang dengan pakaian hitam tersebut tertawa, "Sepertinya aku tertangkap," ucapnya kemudian berhenti berlari. "Siapa kau!" teriak Naken. "Namaku Yunzo," sahut seorang dengan pakaian hitam tersebut sembari melepaskan penutup wajahnya, "Dan kau?" tanyanya kemudian. "Aku adalah Naken," jawab Naken. "Naken?" ucap Yunzo, "Apakah kau Beaster?" sambungnya bertanya. "Benar, aku adalah Beaster," jawab Naken. Yunzo menepukkan kedua tangannya dua kali, seketika tujuh orang dengan pakaian hitam pun muncul mengepung Naken yang sendirian. "Hahahaha." Yunzo tertawa, "Aku adalah pemimpin kelompok ini. Kami berdelapan, dan kau hanya sendiri, menyerahlah." "Menyerahlah?" Naken tersenyum, "Ayo Luiji," bisik Naken dalam hati. "Baiklah, Naken," sahut Luiji. Kemudian aura putih di tubuh Luiji seketika berubah warna menjadi biru. Dengan menggunakan tubuh Luiji, Naken berlari semakin cepat. Naken melesat ke arah seorang dengan pakaian hitam tepat di depannya. "Rasakan ini!" teriak Naken seketika menghantam salah seorang dengan pakaian hitam di depannya sehingga terlempar jauh, "Siapa lagi selanjutnya," sambungnya tersenyum. "Hebat juga," ucap Yunzo tersenyum, "Ayo serang dia bersama-sama, dan tangkap dia," sambungnya memerintah anak buahnya, "Kalau aku bisa mendapatkan Beaster ini, mungkin tuan Neilto akan memberiku hadiah," gumamnya tersenyum. Serangan dari anak buah Yunzo dengan mudah dihalau oleh Naken. Anak buah Yunzo berdiri mengelilingi Naken sembari membentangkan tangan dan membaca sebuah mantera, kemudian seketika keluar tali dari telapak tangan mereka dan melesat ke arah Naken sehingga mengikat tubuhnya. "Hahahaha," Yunzo tertawa, "Sudah ku katakan, sebaiknya menyerah saja, dan ikutlah bersama kami." Naken tersenyum, "Kalau hanya mantera selemah ini, hanya akan membuat tubuhku terasa geli," ucapnya kemudian tampak tentakel Naken yang memanjang dan membentang, lalu dengan cepat Naken memutar tubuhnya, sehingga membuat semua orang yang mengikat tubuh Naken terpental jauh, "Sekarang, hanya kau yang tersisa," ucapnya tersenyum. "Tidak ku sangka, kau mampu memaksaku menggunakan ini," ucap Yunzo sembari mengeluarkan sebuah cincin dengan kristal merah kemudian memasangkan pada jarinya. Tampak tubuh Yunzo mengeluarkan aura merah ketika dia menggunakan cincin tersebut. "Apa itu," gumam Naken berhati-hati. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari belakang Luiji, "Menyerahlah!" teriaknya. "Aston?" ucap Naken, "Kau terlambat," sambungnya. Yunzo tersenyum, "Baiklah, kita sudahi dulu pertarungan kita sekarang," ucapnya kemudian seketika dengan sangat cepat berlari pergi menjauh. "Mau kemana kau!" teriak Naken seketika hendak mengejar Yunzo. "Tidak perlu," ucap Aston seketika menghalangi Naken yang menggunakan tubuh Luiji, "Aku yakin, kita akan bertemu lagi dengannya." "Baiklah," sahut Naken, "Luiji," bisik Naken dalam hati kemudian Luiji dan Naken bertukar kembali. "Ayo kita segera kembali ke istana," ajak Aston. "Ya," sahut Luiji mengangguk. Kemudian mereka pun dengan sangat cepat berlari kembali masuk ke dalam istana, lalu menuju ke ruang rawat dalam istana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD