Di tengah malam dari dalam kamar, tampak Nim dan Luiji yang sedang tertidur. Terlihat Nim yang sepertinya sedang gelisah dalam tidurnya. Nim bermimpi, dan di dalam mimpinya, ia melihat adiknya yaitu Michi yang sedang berada di suatu tempat yang gelap dan terlihat ketakutan.
"Michi!" teriak Nim seketika terbangun dari tidurnya, "Ternyata hanya mimpi," gumamnya.
"Kau kenapa, Nim?" tanya Tion.
"Aku hanya sedang bermimpi buruk," jawab Tion.
"Mimpi buruk?" tanya Tion lagi.
"Ya, aku bermimpi melihat Michi, dan dia berada di sebuah yang gelap dan terlihat ketakutan," jawab Nim.
"Mungkin itu hanya mimpi, Nim."
"Benar, tapi entah kenapa aku sangat merasa khawatir dengan Michi," sahut Nim.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan adikmu, Nim," ucap Tion.
"Terima kasih, Tion," sahut Nim kemudian ia merebahkan kembali tubuhnya namun tampak Nim yang susah memejamkan matanya, kemudian Nim kembali beranjak bangun dan pergi menuju ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, Nim melihat Luiji yang sedang tertidur, kemudian dengan perlahan dan berat, Nim melangkah keluar dari kamarnya menuju ke ruang latihan.
"Apa kau mau latihan, Nim?" tanya Tion.
"Aku hanya ingin menenangkan pikiranku," jawab Nim seketika duduk bersila tepat di tengah ruangan kemudian ia melakukan meditasi.
"Baiklah, silahkan, Nim," sahut Tion.
Namun, ketika Nim melakukan meditasi, semakin jelas ia melihat adiknya yang berada sendirian di dalam tempat yang sangat gelap, "Aku tida bisa melakukannya, Tion," ucap Nim.
"Ada apa, Nim?" tanya Tion.
"Semakin aku berusaha menenangkan pikiran, semakin jelas aku melihat Michi," jawab Nim, "Sebaiknya aku latihan saja," sambungnya seketika berdiri kemudian perlahan dan berat melangkahkan kakinya memutari ruang latihan.
Ketika pagi tiba, perlahan Luiji membuka matanya kemudian melirik ke arah Nim biasa beristirahat. Namun Luiji tidak melihat Nim disana.
"Dimana Nim?" gumam Luiji beranjak bangun kemudian pergi menuju kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi, Luiji kemudian keluar dari kamar dan berkeliling istana mencari dimana Nim berada. Sampai Luiji tiba di depan ruang latihan dan dilihatnya Nim yang lebih dahulu melakukan latihan.
"Nim...," gumam Luiji.
"Luiji!" teriak Nim, "Ayo kita latihan!" teriaknya lagi.
Luiji mengangguk sembari melangkah masuk ke dalam ruang latihan.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Luiji.
"Sejak tadi malam aku tidak bisa tidur, lalu aku memutuskan untuk latihan lebih awal," jawab Nim.
"Kenapa kau tidak bisa tidur?" tanya Luiji.
"Tadi malam aku mengalami mimpi buruk," jawab Nim.
"Mimpi buruk..." ucap Luiji mengerutkan keningnya.
"Benar, aku bermimpi kalau Michi sedang berada di suatu tempat yang sangat gelap dan dia terlihat ketakutan," sahut Nim.
"Jangan khawatir, Nim," ucap Luiji, "Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa kepada adikmu," sambungnya sembari menepuk bahu Nim.
"Iya, terima kasih, Luiji," sahut Nim tersenyum.
"Ayo kita lanjutkan latihan," ajak Luiji. Nim mengangguk, kemudian mereka berdua memulai latihan.
Tampak Aston ketika itu hendak menujur ruang makan dan melintas di depan ruang latihan yang tanpa sengaja melihat Nim dan Luiji sedang berlatih dan mengelilingi ruangan latihan yang luas tersebut.
"Bagus juga mereka," gumam Aston, "Sepertinya latihan kali ini akan dengan mudah mereka selesaikan," gumamnya lagi.
"Ooy, Aston!" teriak Nim melambaikan tangannya dari dalam ruang latihan.
"Ya!" sahut Aston balas berteriak, "Sarapan!" teriaknya lagi sembari mengisyaratkan untuk mengajak pergi sarapan ke ruang makan.
"Nanti saja!" teriak Nim.
"Ya sudah, aku sarapan dulu!" sahut Aston berteriak lagi kemudian ia pergi menuju ke ruang makan.
"Apa kau serius, Nim?" tanya Tion.
"Ya, nanti saja aku makannya," jawab Nim.
Luiji terdiam ketika melihat tingkah Nim yang tidak seperti biasanya. "Ayo kita lanjutkan lagi, Nim," ucapnya kemudian.
"Ayo, Luiji," sahut Nim dengan semangat.
"Naken," ucap Luiji.
"Ya, Luiji," sahut Naken.
"Tolong jangan berkomentar apapun tentang ini," ucap Luiji.
"Tenang saja, Luiji," sahut Naken, "Aku mengerti," sambungnya.
Grazel terkejut ketika melihat Nim dan Luiji yang terlalu pagi berlatih.
"Ternyata mereka lebih dulu tiba disini," gumam Grazel sembari tersenyum menatap ke dalam ruang latihan kemudian ia melangkah masuk dan kehadiran Grazel disadari oleh Nim dan Luiji, "Apa aku mengganggu kalian?" tanyanya kemudian sembari menyapa dengan tangannya.
"Grazel," ucap Nim, "Kita latihan apa hari ini?" tanya Nim.
"Sama seperti kemarin," jawab Grazel, "Tapi usahakan percepat langkah kalian, sampai kalian bisa berlari seperti biasa," sambungnya.
"Baiklah," sahut Nim kemudian melanjutkan latihannya.
"Nim...." Luiji terdiam ketika melihat Nim yang sangat bersungguh-sungguh melakukan latihan.
"Ayo, Luiji!" teriak Nim melambaikan tangannya.
"Iya!" sahut Luiji tersenyum kemudian mengiringi langkah Nim.
"Grazel," ucap Putri Alice ketika dia tiba di depan ruang latihan berdiri tepat di samping Grazel berdiri.
"Tuan Putri," ucap Grazel seketika menundukkan badannya.
"Ya, Grazel," sahut Putri Alice, "Bagaimana latihan mereka?" tanyanya kemudian.
"Seperti yang anda lihat, Tuan Putri," jawab Grazel tersenyum, "Mereka sangat bersemangat dan bersungguh-sungguh," sambungnya kemudian.
"Wah, wah, sepertinya mereka akan berhasil," pungkas Aston yang tiba-tiba muncul dari belakang Putri Alice.
"Apakah mereka sudah sarapan?" tanya Putri Alice.
"Sepertinya mereka belum sarapan, Tuan Putri," jawab Aston.
"Benarkah?" tanya Putri Alice lagi heran, "Aku masih tidak mengerti dengan tekad yang mereka miliki," gumamnya, "Aston, tolong kau beritahu pelayan untuk membawa makanan kemari," lanjut Putri Alice.
"Baik, Tuan Putri," sahut Aston sembari menundukkan badannya kemudian segera melangkah menuju ke ruang pelayan istana.
"Nim! Luiji!" teriak Putri Alice memanggil sembari melambaikan tangannya.
Nim kemudian juga melambaikan tangannya ke arah Putri Alice, "Ayo, Luiji," ucapnya mengajak Luiji pergi menemui Putri Alice.
"Ya," sahut Luiji mengangguk kemudian mengikuti langkah Nim.
"Ya, Tuan Putri," ucap Nim ketika dia tiba tepat di depan Putri Alice dan Grazel.
"Apakah kalian sudah sarapan?" tanya Putri Alice.
"Belum, Tuan Putri," jawab Nim tersenyum sembari menggaruk kepala.
"Saat latihan pun kalian harus tetap menjaga kondisi tubuh kalian," ucap Putri Alice tersenyum, "Jangan sampai karena kalian memaksakan diri, kalian akan sakit," sambungnya.
"Benar kata Tuan Putri," sahut Grazel,"Kalau kalian sakit, latihan akan berlangsung lebih lama," sambungnya memberitahu.
"Iya, maaf," sahut Nim tersenyum sembari menggaruk-garuk kepalanya.
"Maaf Tuan Putri, ini makanannya," ucap seorang pelayan wanita yang tiba dengan membawa makanan.
"Iya, tolong kamu berikan kepada mereka," ucap Putri Alice menoleh ke belakang.
"Baik, Tuan Putri," sahut pelayan tersebut kemudian mendorong sebuah meja kecil yang di atasnya telah tersedia makanan.
"Sebelum kalian melanjutkan latihan, silahkan kalian mengisi perut kalian terlebih dahulu," ucap Putri Alice.
"Iya, Tuan Putri, terima kasih," sahut Nim dan Luiji bersamaan sembari menundukkan badannya. Kemudian dengan segera Nim dan Luiji menyantap makanan yang tengah disediakan untuk mereka berdua.
"Nim?" ucap Putri Alice.
"Ya, Tuan Putri," sahut Nim.
"Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu," ucap Putri Alice.
"Bukan apa-apa, Tuan Putri," sahut Nim tersenyum kemudian tanpa sepatah kata pergi melanjutkan latihan setelah menghabiskan sepotong kue.
"Luiji?" tanya Putri Alice.
"Ya, Tuan Putri," sahut Luiji.
"Ada apa dengan Nim?" tanya Putri Alice.
Luiji tersenyum, "Seperti yang anda lihat sekarang, Tuan Putri," ucapnya.
"Apa atau siapa yang dia khawatirkan?" tanya Putri Alice.
"Adiknya, Tuan Putri," jawab Luiji.
"Nim memiliki adik?" tanya Putri Alice lagi.
"Benar, Tuan Putri," jawab Luiji, "Seorang perempuan," lanjutnya.
"Lalu, dimana dia sekarang?" tanya Putri Alice lagi.
"Di bumi, Tuan Putri," jawab Luiji, "Mungkin," sambungnya.
"Mungkin?" ucap Putri Alice.
"Saat ini Nim merasa sangat khawatir dengan adiknya, tidak seperti biasanya," sahut Luiji.
Putri Alice mengangguk, "Semoga saja kalian bisa dengan cepat menyelesaikan latihan," ucapnya, "Dengan begitu, aku harap kalian bisa kembali ke dunia kalian," sambungnya.
Luiji mengangguk, "Iya, Tuan Putri," ucapnya, "Aku akan menyusul Nim latihan Tuan Putri," sambungnya.
"Ya, silahkan," sahut Putri Alice tersenyum.
Luiji mengangguk kemudian segera pergi menyusul Nim yang sudah tampak terbiasa menggerakkan kedua kakinya dengan benda berat yang membebani kedua kakinya.
"Grazel," ucap Putri Alice menoleh ke arah Grazel.
"Ya, Tuan Putri," sahut Grazel.
"Kapan latihan selanjutnya dimulai?" tanya Putri Alice.
"Setelah mereka berhasil berlari dengan menggunakan benda itu, seperti berlari tanpa pemberat, Tuan Putri," jawab Grazel.
"Apakah harus seperti itu?" tanya Putri Alice.
"Ya, Tuan Putri," jawab Grazel, "Karena latihan selanjutnya akan memerlukan hasil dari latihan ini, Tuan Putri," sambungnya.
"Baiklah," ucap Putri Alice mengangguk, "Grazel, ayo ikut aku," ajak Putri Alice.
"Baik, Tuan Putri," sahut Grazel, "Aston, tolong kau awasi latihan mereka juga para prajurit yang lain," sambungnya ketika melihat Aston yang baru tiba di ruang latihan.
"Oh, ba-baik," sahut Aston.
"Ayo," ucap Putri Alice kemudian melangkah pergi menjauh dari ruang latihan dan diikuti oleh Grazel di belakang.
"Sepertinya sebentar lagi mereka akan berhasil menyelesaikan latihan tahap pertama ini," gumam Aston tersenyum ketika melihat Nim dan Luiji yang tampak terbiasa dengan benda berat yang terikat di kedua kaki mereka.
"Luiji," ucap Nim sembari berlari pelan.
"Ya, Nim," sahut Luiji yang juga berlari pelan tepat di samping Nim.
"Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan benda ini," ucap Nim.
"Ya, aku juga," sahut Luiji, "Benda ini terasa semakin ringan," sambungnya.
"Ayo kita percepat langkah kita," ajak Nim.
"Kenapa kita tidak balapan saja?" tanya Luiji tersenyum seketika mencuri start sembari melambaikan tangannya.
"Kau curang, Luiji!" teriak Nim mempercepat langkahnya berlari menyusul Luiji di depannya.
"Apanya yang curang?" ucap Luiji sembari tertawa ketika melihat Nim yang berlari tepat di sampingnya.
"Curang, kau mulai start nya lebih dulu," ucap Nim kemudian menyalip Luiji.
"Hei, tunggu aku, Nim!" teriak Luiji menambah kecepatan larinya.
Sampai ketika Nim dan Luiji melintas di depan Aston, "Berhenti!" ucapnya seketika menghentikan Nim dan Luiji yang sedang melakukam balapan.
"Ya, ada apa-apa Aston?" tanya Nim yang seketika berhenti tepat di depan Aston.
"Sepertinya kalian sudah terbiasa dengan pemberat yang ada di kaki kalian," jawab Aston tersenyum.
"Benar, aku sepertinya sudah terbiasa menggunakan ini," sahut Nim sembari melemaskan kedua kakinya.
"Ya, aku juga," sahut Luiji kemudian.
"Baguslah, sepertinya tahap pertama akan berlangsung lebih cepat dari yang sudah diperkirakan," ucap Aston.
"Benarkah?" tanya Nim tersenyum.
"Nanti kita tunggu keputusan dari Grazel," jawab Aston.
"Baiklah, sebaiknya kami latihan lagi," ucap Nim bersemangat.
"Ya, silahkan," sahut Aston mengangguk.
"Daaah," ucap Nim melambaikan tangannya seketika kembali berlari memutari ruang latihan dan diikuti oleh Luiji di sampingnya.
"Sudah berapa putaran, Nim?" tanya Luiji.
"Aku tidak tahu," jawab Nim, "Aku lupa menghitungnya," sambungnya tersenyum sembari menggaruk kepalanya.
"Kalau begitu, kita ulang dari awal saja," sahut Luiji.
"Baiklah, siapa takut," ucap Nim seketika mempercepat larinya.