"Kenapa kau belum tidur, Nim?" tanya Luiji melangkah ke arah Nim ketika melihat Nim sedang memandang keluar jendela kamar.
"Tidak, Luiji." Nim menoleh ke arah Luiji.
"Apa kau tidak ingat, Nim?" tanya Luiji tersenyum.
"Hmm?" sahut Nim, "Tidak ingat tentang apa?" tanyanya kemudian.
"Aku juga bisa mendengar ucapanmu walau dalam hati sekalipun," jawab Luiji menepuk bahu Nim.
"Kau benar juga," sahut Nim tersenyum.
"Aku juga tahu kalau kau mengkhawatirkan adikmu," ucap Luiji.
"Iya, sebelumnya aku sudah berjanji dengan Michi akan selalu menjaganya," sahut Nim, "Mungkin sekarang ini dia juga sedang mengkhawatirkan aku," sambungnya.
"Yakin saja Nim, kita pasti akan bisa kembali," ucap Luiji.
"Benar, kita harus secepatnya bisa kembali, bagaimanapun caranya," sahut Nim menggenggam tangannya.
"Baguslah kalau kau bersemangat, Nim," ucap Tion.
"Tolong kerjasamanya ya, Tion," ucap Nim tersenyum.
"Ya," sahut Tion.
"Kita juga, Luiji," ucap Naken.
"Ya, benar," sahut Luiji.
Pagi pun tiba, tampak sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat banyak prajurit sedang melakukan latihan.
Aston melangkah mendekati Grazel, "Dimana mereka, Grazel?" tanyanya ketika tiba di samping Grazel berdiri.
"Mereka belum datang," jawab Grazel sembari mengawasi para prajuritnya berlatih.
"Aku disini," ucap Luiji dari belakang.
"Dimana temanmu?" tanya Aston.
Tiba-tiba terdengar teriakan Nim yang berlari dari depan pintu ruang latihan, "Tunggu aku!" teriaknya.
"Kau terlambat!" ucap Grazel tegas ketika Nim tiba di sampingnya, "Coba lihat sekelilingmu, mereka semua berlatih dengan sungguh-sungguh, bukan masalah kekuatan, tapi masalah disiplin!" sambungnya.
"Baik," ucap Nim.
"Untuk sekarang, kau ku maafkan, tapi jangan harap aku tidak menghukummu kalau kau melakukannya lagi," sahut Grazel.
Nim dan Luiji mengangguk.
"Sekarang, kalian lari mengelilingi ruangan ini sebanyak delapan ratus kali," perintah Grazel.
"Apa!?" teriak Nim dan Luiji bersamaan ketika mendengar perintah pertama dari Grazel.
"Kau serius, Grazel?" tanya Aston.
"Benar, maafkan aku," sahut Grazel tersenyum, "Sebagai gantinya, kaulah Aston yang harus berlari sebanyak delapan ratus kali!" teriaknya.
"Baiklah," sahut Aston tenang.
"Dan untuk kalian akan aku kurangi, lari mengelilingi ruangan ini sebanyak seratus kali, tapi menggunakan ini," ucap Grazel menatap ke arah Nim dan Luiji sembari memberikan dua benda di tangannya kepada Nim dan Luiji.
"Berat sekali!" ucap Nim ketika menyambut benda yang diberikan oleh Grazel.
"Apa ini?" tanya Luiji.
"Pasang itu di kedua kaki kalian," jawab Grazel. Kemudian Nim dan Luiji memasangnya di kedua kaki mereka. "Sekarang kalian mulailah berlari!" sambung Grazel.
"Bagaimana mau berlari, mengangkat kaki saja sudah berat!" ucap Nim.
"Lakukan saja!" teriak Grazel.
"Hahahahaha." Aston tertawa melihat Nim yang dengan susah payah melangkahkan kakinya.
"Jangan hanya tertawa! Kau juga Aston! Cepat lakukan!" teriak Grazel.
"Baiklah," sahut Aston, "Hei, kalian berdua, lihat dan perhatikan," sambungnya kemudian bersiap untuk berlari.
WHUUSSSHHH~~
Tampak Aston berlari sangat cepat sampai tak terlihat, sehingga membuat Nim dan Luiji terkejut ketika melihatnya.
"Waah!" ucap Nim terkejut ketika melihat Aston yang sangat cepat berlari.
"Cepat sekali!" ucap Luiji kemudian terdiam, "Benar, aku harus melakukannya!" gumamnya dalam hati kemudian ia mencoba dengan sekuat tenaga melangkahkan kedua kakinya.
"Luiji?" gumam Nim ketika melihat Luiji yang bersungguh-sunggu melakukan apa yang diperintahkan oleh Grazel.
"Sudah delapan ratus kali, Grazel," ucap Aston yang seketika tiba berdiri di samping Grazel.
"Sebenarnya kau kelebihan seratus kali," sahut Grazel, "Jadi, kau harus berlari mundur sebanyak seratus kali," sambungnya.
"Baiklah," ucap Aston kemudian seketika menghilang dan seketika lagi tiba-tiba berdiri di samping Grazel, "Sudah seratus kali," sambungnya.
"Baiklah Aston, sekarang kau awasi yang lain, dan aku akan mengawasi mereka berdua," ucap Grazel.
"Baiklah," sahut Aston kemudian melangkah menuju ke tengah ruangan latihan.
"Ayo lari lah sekarang!" teriak Grazel.
"Ba-baik," ucap Nim kemudian dengan susah payah melangkahkan kedua kakinya.
"Kalau tidak bisa berlari, berjalan juga boleh," ucap Grazel tersenyum.
"Ooy, Luiji!" teriak Nim, "Tunggu aku!" teriaknya lagi sembari berusaha menyusul Luiji yang sudah jauh di depan.
Grazel tampak tersenyum ketika melihat Nim dan Luiji yang melakukan latihan dengan sungguh-sungguh.
"Ayo cepat, kalian baru dapat satu putaran," ucap Grazel ketika melihat Nim dan Luiji yang melintas di depannya.
"Baru satu putaran?" ucap Nim dengan nafas terengah-engah, "Masih tersisa sembilan puluh sembilan putaran lagi?" sambungnya lagi.
"Cepat!" teriak Grazel, "Nim! Kau tidak akan mendapatkan makanan sebelum kau menyelesaikan latihan pertama ini!" teriaknya lagi.
"Apa!" sahut Nim berteriak.
"Benar, ini adalah perintah dari Putri Alice!" sahut Grazel lagi.
"Aku harus cepat menyelesaikannya," ucap Nim kemudian mempercepat langkah kedua kakinya.
"Nim?" gumam Luiji heran ketika melihat Nim yang tampak terengah-engah melangkahkan kakinya.
"Aku pergi ke tempat Putri Alice dulu," ucap Grazel, "Kalian, jangan berhenti," sambungnya.
"Ya!" teriak Nim dan Luiji bersamaan.
Grazel berdiri di depan ruangan latihan. Tampak ruangan latihan yang sudah sepi karena prajurit sudah selesai berlatih, kecuali Nim dan Luiji yang masih belum menyelesaikan latihan dari Grazel.
"Apa kalian sudah selesai?" teriak Grazel berdiri di depan ruangan.
"Masih belum," ucap Luiji, "Masih tersisa dua belas putaran lagi," sambungnya.
"Benar," sahut Nim.
"Baiklah, akan aku tunggu kalian di sini!" teriak Grazel, "Apa benar mereka akan bisa melakukannya?" gumamnya dalam hati kemudian.
"Bagaimana dengan latihannya, Grazel," ucap Putri Alice yang tiba-tiba berada di belakang Grazel.
"Eh, Tuan Putri," ucap Grazel seketika membalikkan badan kemudian menundukkan badannya, "Sepertinya mereka memiliki kemauan yang kuat, Tuan Putri," jawabnya kemudian.
"Baguslah," sahut Putri Alice tersenyum, "Setelah latihan, tolong kau sampaikan pada mereka untuk pergi ke ruang makan," sambungnya tersenyum kemudian melangkah pergi keluar dari ruang latihan.
"Cukup, kalian sudah menyelesaikan seratus putaran," ucap Grazel ketika melihat Nim dan Luiji yang tiba di depannya.
Seketika Nim dan Luiji berhenti, tampak Luiji yang terengah-engah sembari menundukkan badannya dan tangannya bertumpu pada lututnya.
"Akhirnya," sahut Nim lega menghentikan langkahnya kemudian mendudukkan tubuhnya sembari hendak melepaskan benda berat yang mengikat di kedua kakinya.
"Jangan dilepaskan!" teriak Grazel.
"Kenapa tidak boleh dilepas?" tanya Nim.
"Kalian harus menggunakannya terus selama kalian berada di istana ini," jawab Grazel, "Walaupun kalian berusaha melepaskannya, itu tidak akan mungkin, karena benda itu hanya aku yang bisa melepaskannya," sambungnya sembari tersenyum.
"Apa!?" teriak Nim terkejut kemudian ia memaksa untuk melepaskan benda tersebut, "Ternyata benar, tidak bisa dilepas," ucap Nim kemudian.
"Benda yang di kaki kalian itu sudah terikat dengan mantera sihi, dan hanya aku yang bisa membatalkan sihirnya," ucap Grazel menjelaskan, "Cukup bicaranya, kalian sudah ditunggu tuan putri di ruang makan," sambungnya kemudian melangkah pergi keluar dari ruang latihan, meninggalkan Nim dan Luiji.
"Ini latihan atau hukuman," keluh Nim.
"Sudah Nim, lakukan saja," sahut Luiji, "Ayo kita pergi," sambungnya kemudian perlahan melangkahkan kedua kakinya keluar dari ruang latihan dan menuju ke ruang makan.
"Benar," ucap Tion.
"Kau sih enak, Tion," sahut Nim kemudian mengikuti Luiji.
Setelah Nim dan Luiji selesai makan, kemudian mereka pergi menuju ke kamar. Tampak Nim dan Luiji yang masih dengan susah payah melangkahkan kedua kaki mereka karena benda berat yang terikat pada kaki mereka.
"Aahh." Nim menghempaskan badannya di atas kasur besar, "Aku lelah sekali," ucapnya.
"Latihan ini ternyata lebih sulit dari pada latihan yang diberikan oleh Oldeus," sahut Luiji yang juga seketika merebahkan tubuhnya.
"Aku berharap kita bisa dengan cepat menyelesaikan latihan ini," ucap Nim.
"Kau benar, Nim," sahut Luiji kemudian ia terkejut ketika mendengar Nim yang seketika tertidur sembari mendengkur, "Dasar kau Nim," gumamnya tersenyum kemudian membangunkan tubuhnya, lalu melangkah ke kamar mandi. Sesampainya dalam kamar mandi, Luiji samar mendengar beberapa orang yang berbicara seolah sedang mengawasi ia dan Nim. Seketika Luiji bergegas membasuh wajahnya kemudian segera pergi menuju asal suara tersebut. Luiji keluar kamar dan tampak dua orang yang mengenakan pakaian serba hitam seketika dengan cepat pergi, kemudian Luiji mengerjarnya, namun seketika dua orang tersebut menghilang.
"Sedang apa kau disini, Luiji?" tanya Grazel ketika melihat Luiji yang seperti sedang mencari sesuatu.
"Tadi aku mengejar dua orang yang berbaju hitam, sepertinya mereka mengawasi kami berduan," sahut Luiji menjawab.
"Pakaian hitam?" tanya Grazel mengerutkan keningnya.
"Benar," jawab Luiji.
"Aku akan memerintahkan para penjaga untuk segera mengepung mereka," ucap Grazel kemudian berlari menuju ke luar istana.
"Aku ikut!" sahut Luiji seketika mengikuti Grazel.
"Penjaga! Pantau setiap sudut! Ada dua orang penyusup!" teriak Grazel.
"Baik!" sahut para penjaga.
"Ada apa, Grazel?" tanya Aston seketika menghampiri Grazel.
"Mereka datang lagi," jawab Grazel.
"Mereka siapa?" tanya Luiji mengerutkan keningnya.
"Cepat cari mereka! Jangan biarkan mereka lolos!" teriak Grazel.
"Mereka adalah sebuah klan yang mengenakan pakaian serba hitam, klan mereka bernama Black Tail," sahut Aston menjelaskan.
"Black Tail?" ucap Luiji, "Lalu apa tujuan mereka memata-matai kami?" tanya Luiji.
"Sebenarnya dahulu, ketua mereka yang bernama Neilto adalah termasuk salah satu petinggi istana sama sepertiku dan Grazel. Namun, tanpa sepengetahuan kami dan Putri Alice, Neilto melakukan penelitian terhadap Beaster, sehingga suatu ketika dia menemukan sesuatu yang mengejutkan dari penelitian tersebut. Neilto membuat sebuah alat yang mampu mengendalikan pikiran para Beaster," jawab Aston menjelaskan.
"Dan tujuannya pun sama seperti Rieghart, menguasai seluruh dunia," sambung Grazel menjelaskan.
"Kami tidak menemukan mereka," ucap salah seorang prajurit yang menghampiri Grazel, "Seluruh sudut istana sudah kami datangi, tapi kami menemukan ini," sambungnya sembari menunjukkan sebuah benda yang ditemukannya, benda tersebut berbentuk segitiga pipih dan dari tengah tampak sebuah titik dengan cahaya biru.
"Sial!" teriak Grazel seketika merebut benda di tangan prajurit tersebut kemudian dengan kuat melemparkannya ke atas langit sehingga benda tersebut terlempar menjulang tinggi ke atas. Kemudian tak berapa lama, dari langit benda tersebut meledak sehingga menggetarkan seluruh istana dan membuat Nim terbangun dari tidurnya.
"Ada apa ini?" ucap Nim ketika terbangun.
"Nim, sepertinya di luar istana sedang terjadi keributan," sahut Tion.
"Ayo kita kesana," ucap Nim kemudian seketika berlari menuju keluar istana.
Nim menghampiri Luiji, "Ada apa, Luiji?" tanyanya ketika tiba di luar istana.
"Dasar kau, Nim," sahut Luiji ketus, "Kenapa kau baru saja bangun," sambungnya kemudian.
"Iya, tadi aku terkejut karena mendengar suara ledakan dan juga ruang kamar terasa bergetar," sahut Nim.
"Black Tail," ucap Luiji.
"Apa itu Black Tail?" tanya Nim heran.
"Apa kau mengatakan Black Tail?" pungkas Tion.
"Ya benar, Black Tail," sahut Luiji, "Apa kau mengenal mereka?" sambungnya bertanya.
"Aku tidak begitu yakin, tapi aku pernah bertemu dengan Neilto," jawab Tion.
"Benarkah?" sahut Luiji.
"Hei, kalian sedang bicara dengan siapa?" tanya Aston yang merasa bingung ketika memperhatikan Nim dan Luiji yang sedang berbicara entah dengan siapa.
"Itulah salah satu kelebihan dari pengguna Beaster, Aston," sahut Grazel. Kemudian tampak Nim dan Luiji yang menggaruk kepalanya masing-masing.
"Beaster ya, benar," ucap Aston, "Pantas saja mereka kemari, aku lupa kalau kalian bersama Beaster," sambungnya.
"Hei, hei, aku masih belum mengerti," ucap Nim.
"Nanti aku ceritakan, Nim," sahut Tion.
"Baiklah, untuk semua prajurit yang bertugas mengawasi, silahkan kalian kembali ke posisi kalian!" teriak Grazel.
"Baik!" sahut para prajurit serentak.
"Ayo, kita masuk ke dalam istana," ajak Grazel.
"Ayo, aku masih mengantuk," sahut Nim, "Aduuuh!" jeritnya seketika terjatuh karena ia lupa bahwa di kakinya terdapat benda berat yang masih terikat di kedua kakinya.
"Hahahaha," Grazel dan Aston tertawa ketika melihat Nim yang terjatuh, juga tampak Luiji yang juga tersenyum melihatnya.
"Aku lupa kalau ada benda ini," ucap Nim tertawa sembari menggaruk kepalanya.