Dari luar kamar tempat Nim dan Luiji beristirahat, tampak seorang wanita dengan mengenakan seragam pelayan yang sedang berdiri di depan kamar.
"Selamat pagi, Tuan. Apa kalian sudah bangun?" tanya pelayan kamar dari luar sembari sesekali mengetuk pintu, namun tak ada satupun terdengar jawaban dari dalam kamar, "Sepertinya mereka masih tidur," gumamnya kemudian ia mencoba membuka pintu tersebut yang ternyata tidak dikunci, "Tidak dikunci?" gumamnya lagi, "Saya masuk ya," ucapnya kemudian perlahan masuk ke dalam kamar, "Ternyata benar, mereka masih tidur," sambungnya saat melihat Nim dan Luiji yang masih tertidur di atas kasur, kemudian ia perlahan melangkah ke arah jendela kamar dan membuka tirai penutupnya. Tampak cahaya matahari yang menyusup masuk melalui jendela kamar ketika tirainya dibuka, sehingga cahaya matahari yang masuk menyilaukan mata dan membangunkan Luiji.
"Ahh, silau sekali." Perlahan Luiji membuka matanya yang masih rait kemudian menoleh ke arah Nim dan dilihatnya Nim yang masih tidur mendengkur, "Dasar kau Nim," gumamnya kemudian ia menoleh lagi ke arah jendela, "Siapa kau!" teriak Luiji yang terkejut seketika berdiri disaat melihat seorang wanita tersebut.
"Ma-maafkan saya, Tuan," ucap pelayan tersebut sembari menundukkan badannya, "Saya adalah pelayan istana, Tuan," sambungnya.
"Lalu, mau apa kau disini?" tanya Luiji mengerutkan keningnya.
"Tadi saya sudah mengetuk pintu, tapi kalian belum bangun. Kemudian saya masuk karena pintunya tidak terkunci," jawab pelayan tersebut menjelaskan.
"Oh begitu, iya tidak apa-apa," ucap Luiji mengangguk sembari tersenyum.
"Tuan-tuan sudah ditunggu tuan putri di ruang makan untuk sarapan bersama," sahut pelayan memberitahu.
"I-iya terima kasih, kami akan segera kesana," ucap Luiji mengangguk.
"Baik, saya tinggal dulu," ucap pelayan kemudian melangkah keluar kamar.
Kemudian Luiji pergi ke kamar mandi untuk membasuk mukanya, setelah keluar dari kamar mandi tampak Nim yang masih tertidur mendengkur.
Luiji menggelengkan kepalanya kemudian melangkah ke arah Nim, "Nim, oy Nim," ucapnya mencoba membangunkan Nim yang masih tidur, namun Nim tidak juga bangun, "Nim!" ucap Luiji kemudian menggoyangkan tubuh Nim.
"Eh Luiji, sudah pagi ya?" tanya Nim dengan wajah kusamnya.
"Ayo cepat bangun, kita sudah ditunggu Tuan Putri di ruang makan," sahut Luiji.
"Apa! Makan!?" teriak Nim seketika beranjak bangun kemudian bergegas menuju kamar mandi.
"Dasar Nim." Luiji menggelengkan kepalanya, "Kalau urusan makan dia cepat sekali," sambungnya tersenyum.
"Ayo kita kesana sekarang," ucap Nim keluar dari kamar mandi seketika bergegas melangkah keluar kamar dan diikuti oleh Luiji di belakang.
Sesampainya Nim dan Luiji di ruang makan, tampak Putri Alice dan beberapa petinggi istana yang sudah duduk menunggu Nim dan Luiji tiba.
"Kalian baru bangun?" tanya Putri Alice.
"I-iya. Maaf Tuan Putri, kami kesiangan," jawab Luiji.
"Iya tidak apa-apa," sahut Putri Alice tersenyum, "Silahkan duduk," sambungnya mempersilahkan.
"Baik, Tuan Putri," sahut Nim seketika duduk di kursi makan dan diikuti oleh Luiji.
"Kalian lama sekali, aku sudah lapar menunggu kalian!" ucap Grazel yang duduk di samping Nim.
"He, maaf," sahut Nim menggaruk kepala.
"Nim!" ucap Tion, "Kalau makan jangan terlalu banyak seperti kemarin, nanti kalau kekenyangan bagaimana?" sambungnya memperingatkan Nim.
"Iya, iya," sahut Nim.
"Apanya yang iya, iya, Nim?" tanya Grazel yang karena tidak bisa mendengar ucapan dari Tion.
"Oh, tidak," ucap Nim mendadahkan kedua tangannya, "Ini, Tion yang berbicara," jawab Nim menggaruk kepala sembari menunjukkan gelang di tangannya.
"Oh iya, bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Grazel.
"Dengan Tion?" sahut Nim balik bertanya.
"Iya." Grazel mengangguk.
"Ceritanya panjang," jawab Nim, "Nanti aku ceritakan kalau aku sudah selesai makan," sambungnya seketika menyantap makanan di depannya.
"Nim, Luiji," panggil Putri Alice tersenyum.
"I-iya Tuan Putri?" sahut Luiji, dan di saat bersamaan Nim dengan mulut penuh makanan juga menoleh ke arah Putri Alice.
"Setelah kalian selesai makan, kalian tunggu aku di ruang rapat kerajaan," ucap Putri Alice, "Nanti para petinggi istana akan mengantarkan kalian," sambungnya sembari menoleh ke arah para petinggi istana yang juga ikut sarapan di sana.
"Baik, Tuan Putri," sahut Luiji.
"Hhmm." Nim mengangguk.
"Aku ada urusan sebentar, silahkan kalian semua nikmati sarapannya," ucap Putri Alice tersenyum seketika beranjak dari duduknya kemudian melangkah pergi keluar ruang makan.
"Hei, Grazel," bisik salah seorang petinggi yang duduk di sebelah Grazel.
"Ya, Aston," sahut Grazel.
"Apa benar mereka berdua bisa diandalkan?" bisik Aston bertanya.
"Aku juga masih belum tahu, karena aku belum melihat kemampuan mereka," jawab Grazel.
"Kalau yang satunya memang terlihat kuat," bisik Aston sembari mengarahkan matanya ke arah Luiji, "Tapi, yang seorang lagi aku tidak yakin," sambungnya menatap ke arah Nim.
"Ooy, aku dengar kalian," sahut Nim, "Kalian membicarakan aku ya!" sambungnya dengan nada marah.
"Ti-tidak, tidak," sahut Aston menggelengkan kepala sembari mendadahkan tangannya.
"Nim," ucap Luiji.
"Ya, Luiji," sahut Nim menoleh ke arah Luiji.
"Aku sudah selesai makan, ayo sekarang kita pergi," ucap Luiji seketika beranjak dari duduknya kemudian melangkah keluar dari ruang makan.
"Hei tunggu aku, Luiji!" teriak Nim seketika bergegas mengikuti Luiji, "Kau mau kemana?" tanya Nim melangkah di samping Luiji.
"Aku mau latihan," jawab Luiji.
"Baiklah, aku ikut," sahut Nim.
Ketika Nim dan Luiji mengelilingi dan menelusur istana, tampak dari kejauhan sebuah taman yang ukurannya lumayan luas tepat berada di dalam istana.
"Wah, ada taman di dalam istana," ucap Nim kagum, "Kita bisa latihan di sana, Luiji," sambungnya seketika melangkah ke arah taman diikuti oleh Luiji di belakang.
Masih dari ruang makan istana, Aston masih bertanya-tanya tentang Nim dan Luiji.
"Grazel, sebenarnya mereka berasal darimana?" tanya Aston.
"Katanya sih dari Bumi," jawab Grazel, "Tapi aku belum yakin." Grazel mengangkat bahunya.
"Putri Alice sepertinya sangat percaya dengan mereka," ucap Aston.
"Hhhmm," sahut Grazel mengangkat keningnya, "Ayo kita ke ruang rapat," sambungnya seketika beranjak berdiri kemudian melangkah keluar dari ruang makan menuju ke ruang rapat.
"Baiklah," sahut Aston beranjak dari duduknya, "Kami duluan pergi ke ruang rapat, ya!" ucap Aston kencang.
"Aku ikut," jawab salah seorang petinggi istana yang juga beranjak dari duduknya. Kemudian diikuti oleh para petinggi istana yang lain.
"Hei, Grazel. Tunggu aku," teriak Aston berlari mengejar Grazel, "Kau mau kemana, Grazel? Bukannya ruang rapat ke arah sana?" tanya Aston mengiringi langkah Grazel sembari menunjuk ke arah ruang rapat.
"Aku ingin mencari dua orang itu," jawab Grazel, "Mereka tidak tahu dimana ruang rapat, kan?" lanjut Grazel.
"Ba-baik, aku lebih dulu ke ruang rapat ya," sahut Aston menghentikan langkahnya kemudian berbalik arah menuju ruang rapat.
Tampak Nim dan Luiji yang sedang melakukan meditasi, namun Nim merasa seperti mendengar suara Grazel yang sedang mencari-cari mereka.
"Dimana mereka?" gumam Grazel berbisik dalam hati sembari menoleh ke kiri dan kanan ketika berada di dekat taman yang berada dalam istana.
"Sepertinya Grazel mencari kita, Luiji," ucap Nim dalam hati kemudian ia menghentikan meditasinya dan berdiri, "Ooy! Grazel, kami disini!" teriak Nim yang tampak dari jauh melambaikan tangannya.
"Kalian! Ayo ikuti aku!" ucap Grazel balas berteriak.
"Kemana!" teriak Nim.
"Jangan sampai membuat Putri Alice lama menunggu!" sahut Grazel berteriak.
"Oh iya, tadi kan, Tuan Putri mengajak kita untuk pergi ke ruang rapat, Luiji," ucap Nim.
"Ayo kita kesana," sahut Luiji seketika menghentikan meditasinya kemudian berdiri.
"Tunggu kami!" teriak Nim bergegas melangkah menuju ke arah dimana Grazel berdiri kemudian Luiji mengikuti langkah Nim di belakang.
"Mari, ikuti aku," ucap Grazel ketika Nim dan Luiji tiba di depannya, kemudian Grazel menuntun mereka menuju ke ruang rapat istana. Sesampainya di depan ruang rapat istana, tampak dari luar para petinggi istana sudah berkumpul dan duduk di ruangan tersebut.
"Tumben kau terlambat, Grazel," ucap salah seorang petinggi yang duduk dekat pintu ruang rapat.
Sembari terseyum Grazel menoleh ke arah petinggi tersebut, "Iya, tadi aku mencari mereka, takutnya mereka tersesat," sahutnya.
Salah seorang petinggi itu melirik ke arah Nim dan Luiji yang berdiri di belakang Grazel, "Kalian, ayo duduk di sampingku, ini ada dua kursi kosong," ucapnya tersenyum sembari membersihkan kursi kosong tersebut.
"I-iya, Baik," jawab Nim seketika melangkah menuju kursi tersebut dan diikuti oleh Luiji di belakang, "Terima kasih." Nim tersenyum.
"Grazel?" Tiba-tiba saja dari belakang Grazel terdengar suara Putri Alice, "Apa semuanya sudah berkumpul?" tanyanya.
Grazel tersentak kemudian menoleh kebelakangnya, "I-iya, semuanya sudah berkumpul, Tuan Putri," jawab Grazel.
"Baiklah, Ayo," ucap Putri Alice kemudian melangkah menuju ke sebuah kursi yang disediakan khusus untuknya.
"Baik," sahut Grazel mengikuti langkah Putri Alice dari belakang, "Silahkan duduk, Tuan Putri," ucapnya mempersilahkan ketika Putri Alice tiba di samping kursi yang disediakan khusus untuknya, kemudian Grazel duduk di kursi yang berada di samping Putri Alice.
"Terima kasih kalian sudah bersedia menghadiri rapat ini," ucap Putri Alice tersenyum, "Baik kita mulai sekarang."
"Maaf, Tuan Putri," ucap Luiji.
"Ya, silahkan," sahut Putri Alice tersenyum.
"Sebelumnya, bolehkah saya tahu mengapa kami berdua Tuan Putri ajak untuk mengikuti rapat ini?" tanya Luiji.
Putri Alice tersenyum. "Baiklah, untuk ini pertama biar saya yang akan jelaskan," sahutnya, "Sebenarnya tujuan kalian dan kami semua di sini sama, yaitu ingin menghentikan ambisi Rieghart yang hendak menguasai seluruh dunia," jelasnya.
"Tuan Putri, izinkan saya melanjutkan," pungkas Grazel memotong penjelasan dari Putri Alice.
"Ya, silahkan, Grazel," ucap Putri Alice mengangguk.
"Seperti yang sudah kita semua tahu, Rieghart sekarang ini sudah memiliki beberapa pecahan Hashfer, namun untuk sekarang bukan itu yang harus kita cari," ucap Grazel, "Teman dari mereka berdua ini sekarang sedang ditawan di istana Rieghart, dan misi pertama kita adalah untuk menyelamatkannya terlebih dahulu," sambungnya menjelaskan.
"Benarkah kalian ingin membantu untuk menyelamatkan teman kami?" tanya Nim heran.
"Ya, dan itu adalah termasuk salah satu rencana utama," jawab Grazel.
"Rencana utama?" tanya Luiji merasa bingung.
"Benar rencana utama, karena aku sudah mengetahui apa yang sudah Rieghart dan anak buahnya rencanakan dengan menjadikan teman kalian sebagai tawanan di sana," pungkas Aston menjelaskan.
Grazel berdiri, "Teman kalian sekarang akan dijadikan alat untuk sebagai wadah dari pecahan Hashfer yang Rieghart dapatkan," ucapnya dengan nada tegas, "Kalau benar begitu, jika kita bisa menyelamatkan teman kalian itu, maka dengan kata lain, seluruh pecahan Hashfer yang sudah didapatkan oleh Rieghart akan jatuh ke tangan kita," sambungnya menjelaskan kemudian ia duduk kembali.
"Dan sebaiknya kita harus segera menyelamatkannya," ucap Aston yang kemudian juga berdiri, "Karena jika pecahan tersebut terlalu lama berada dalam tubuhnya, maka aku takut jika teman kalian tak bisa diselamatkan lagi," sambungnya menjelaskan.
"Lalu, bagaimana kita bisa pergi kesana?" tanya Luiji.
"Itu sebabnya kami memerlukan kalian," jawab Putri Alice.
"Baiklah, bagaimana rencananya?" tanya Luiji.
"Grazel, silahkan kau jelaskan rencananya," ucap Putri Alice.
"Baik Tuan Putri, akan saya jelaskan secara terperinci," sahut Grazel kemudian berdiri.
Terdengar suara gemuruh dari seluruh orang di dalam ruang rapat dan tampak seluruh orang yang mengikuti rapat tersebut saling mengemukakan pendapat mereka. Sampai dimana ketika Grazel akan menjelaskan tentang bagaimana cara agar mereka bisa pergi menuju ke dunia Khamaya yaitu dunia yang dikuasai oleh Rieghart.
"Sekarang aku akan menjelaskan, lebih tepatnya aku akan memberitahu kalian rahasia dari Beaster dan hubungan mereka dengan Hashfer," ucap Grazel.
Nim dan Luiji tampak serius menatap Grazel.
"Seperti yang kalian tahu, disini adalah dunia penghubung atau lebih tepatnya adalah jembatan penghubung antar dunia yang lain, namun agar bisa membuka gerbang jembatan tersebut kita harus memiliki Beaster dan juga yang terutama adalah Hashfer," jelas Grazel, "Aku akan memberitahu kalian atau lebih tepatnya melatih kalian untuk dapat mengeluarkan seluruh kemampuan dari pecahan Hashfer yang kalian miliki sekarang," sambungnya menjelaskan.
"Tunggu sebentar! Bagaimana kau tahu kalau kami memiliki pecahan Hashfer?" tanya Nim heran.
"Putri Alice lah yang memberitahuku bahwa kalian memiliki pecahan Hashfer," jawab Grazel, "Dan beliau juga memiliki pecahan Hashfer sama seperti kalian, sehingga beliau mampu merasakan keberadaan dari pecahan Hashfer yang lain," sambungnya menjelaskan.
"Benarkah dengan menggunakan kekuatan dari pecahan Hashfer, kita bisa merasakan keberadaan pecahan Hashfer yang lain?" tanya Luiji.
"Bukan hanya merasakan, tapi juga bisa digunakan untuk melacak keberadaan dari pecahan Hashfer yang lain," pungkas Putri Alice menjelaskan.
"Kalau benar begitu, bolehkah Tuan Putri memberitahu kami bagaimana caranya?" tanya Luiji.
"Biarkan Grazel yang nanti akan memandu kalian atau lebih tepatnya melatih kalian agar bisa menggunakan dan menyempurnakan kekuatan dari pecahan Hashfer yang kalian miliki," sahut Putri Alice menjelaskan.
"Baiklah, latihan apapun pasti akan aku jalani," ucap Nim dengan semangat.
"Bagus, berlatihlah kalian dengan sungguh-sungguh, dan aku akan mempersiapkan pasukan untuk mempermudah kita melawan dan menghentikan rencana dari Rieghart," sahut Putri Alice, "Untuk sekarang rapat kita tutup," sambungnya sembari memukulkan palu kecil dua kali di tangannya.
"Baiklah! Untuk seluruh peserta rapat saya persilahkan untuk keluar dari ruangan ini!" teriak Grazel tegas. Kemudian para petinggi istana serentak keluar dari ruangan, kecuali Nim dan Luiji yang masih belum beranjak dari duduknya.
"Terima kasih, Tuan Putri," ucap Nim berdiri sembari tersenyum.
"Tidak perlu kalian berterima kasih kepada ku," sahut Putri Alice tersenyum, "Teman Oldeus adalah temanku juga, dan teman kalian adalah temanku juga," sambungnya tersenyum, "Sebaiknya kalian istirahat sebelum nanti Grazel akan melatih kalian, karena latihan yang diberikan oleh Grazel berbeda dengan latihan yang telah diberikan oleh Oldeus kepada kalian," sambungnya lagi kemudian perlahan beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan. Ketika di depan ruangan, Putri Alice menghentikan langkahnya, "Kalau kalian memerlukan sesuatu, kalian bisa panggil pelayan untuk membantu kalian," ucapnya kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
"Baik, Tuan Putri," ucap Nim mengangguk.
Tampak Luiji yang terlihat heran karena kebaikan dari Putri Alice, "Nim?" tanya Luiji.
"Ya?" sahut Nim.
"Apakah kita harus mempercayai mereka?" tanya Luiji.
"Selalulah berprasangka baik, Luiji," jawab Nim, "Karena itu akan menjawab semua pertanyaan yang membuatmu bimbang," sambungnya.
"Mungkin kau benar, Nim," sahut Luiji tersenyum.
"Ayo, nanti kalian akan latihan lagi," ucap Tion, "Sebaiknya persiapkan diri kalian," sambungnya.
"Benar," sahut Naken, "Sebaiknya kalian mempersiapkan diri untuk latihan," sambungnya.
"Baiklah," ucap Nim mengangguk, "Ayo, Luiji," ucapnya lagi kemudian melangkah keluar dari ruangan rapat istana dan diikuti oleh Luiji di belakang.