Dari kejauhan tampak sebuah istana megah yang dikelilingi sungai kecil, sungguh pemandangan yang indah dengan tanaman dan pohon subur di sampingnya. Tampak segerombol prajurit menaiki kuda dan mereka membawa Nim juga Luiji.
"Tempat ini sudah seperti surga saja," ucap Nim dalam hati.
"Benar," sahut Luiji dalam hati.
"Sekarang aku ragu, apakah kita sudah mati?" tanya Nim dalam hati.
"...." Luiji terdiam. Dalam hatinya muncul keraguan karena mendengar pertanyaan dari Nim.
"Kalau memang benar kita sudah berada di surga, aku ingin meminta dihidupkan lagi, agar dunia tidak jatuh ke tangan Rieghart," ucap Nim dalam hati dengan menunjukkan tatapan matanya yang serius.
Luiji tersenyum, "Kau benar, Nim," sahutnya dalam hati.
"Aku ketua Grazel!" teriak Grazel, "Buka!" sambungnya ketika mereka tiba di depan gerbang istana.
Gerbang istana kemudian terbuka dan gerombolan prajurit pun segera masuk ke dalam istana dengan membawa Nim dan Luiji.
"Ayo ikut kami menemui pemimpin kami!" ucap Grazel, "Bawa mereka ke dalam!" lanjutnya memerintah anak buahnya.
"Baik!" seru salah seorang prajurit seketika melangkah masuk lebih dulu sembari menarik tali yang terikat pada tangan Nim dan Luiji. Kemudian Nim dan Luiji pun masuk ke dalam istana diikuti dengan Grazel di belakangnya.
"Besar sekali..." ucap Nim takjub ketika melihat patung emas raksasa yang tersusun rapi berjejer di kiri dan kanan dalam istana.
"Diam!" seru prajurit yang memegangi pengikat tali, "Ayo cepat jalan!" lanjutnya mendorong tubuh Nim dan Luiji.
"Iya, iya..." sahut Nim.
Ketika mereka tiba di tengah istana, tampak seorang wanita mengenakan baju zirah berwarna emas yang duduk di sebuah singgasana.
"Duduk!" seru prajurit tersebut memaksa Nim dan Luiji, dan mereka menurutinya.
"Grazel, siapa dua orang laki-laki ini?" tanya wanita tersebut.
"Maafkan saya Tuan Putri, saya menemukan dua orang ini di luar bangunan di dekat hutan," jawab Grazel.
"Lepaskan tali pengikatnya!" teriak wanita tersebut memerintah prajuritnya.
"Ba-baik, Putri," sahut prajurit gugup.
"Perkenalkan, namaku Alice, Pemimpin disini," sambungnya memperkenalkan diri, "Perkenalkanlah diri kalian," sambung Putri Alice tersenyum.
"Baiklah," ucap Nim seketika berdiri.
"Jaga sopan santunmu!" tegur Grazel.
"Tidak apa-apa, Grazel," sahut Putri Alice.
"Weee." Nim menjulurkan lidahnya ke arah Grazel, sehingga membuat Grazel geram dengan tingkah Nim.
"Nama saya Nim," ucap Nim.
"Dan kau?" tanya Putri Alice menatap ke arah Luiji.
"Nama saya Luiji, Tuan Putri," jawab Luiji.
"Lalu, apa yang kalian lakukan saat berada di belakang bangunan dekat hutan?" tanya Putri Alice.
"Kami sebenarnya bukan berasal dari dunia yang kalian tinggali sekarang," jawab Luiji.
"Lalu, kalian berasal dari dunia mana?" tanya Putri Alice.
"Kami berasal dari dunia lain yang bernama bumi," jawab Luiji.
"Hahahahaha." Grazel tertawa ketika mendengar jawaban yang dikatakan oleh Luiji.
"Grazel!" bentak Putri Alice.
"Dia berbohong, Tuan Putri," sahut Grazel.
"Grazel! Jaga sikapmu," bentak Putri Alice.
"Maaf tuan putri," sahut Grazel.
"Bumi?" tanya Putri Alice heran, "Jika kalian memang benar berasal dari bumi, lalu coba beritahu aku bagaimana keadaan bumi yang kalian tempati," sambungnya.
"Baiklah, Tuan Putri," ucap Luiji, "Kami akan memberitahu bagaimana keadaan bumi yang kami tempati." Kemudian Luiji berdiri, "Sebenarnya bumi yang kami tempati hampir serupa dengan dunia yang kalian tempati sekarang ini, tapi hanya warna langitnya saja yang tampak berbeda," jelas Luiji.
"Warna langit?" tanya Putri Alice heran.
"Benar, Tuan Putri," sahut Nim, "Di bumi langitnya berwarna biru bukan putih seperti disini," sambungnya menjelaskan.
"Langit biru...." Wajah Putri Alice tampak tersenyum, "Lalu bagaimana cara kalian bisa sampai ke sini?" tanya Putri Alice.
"Kami hendak menyelamatkan teman kami yang bernama Juno, dia dibawa oleh Alio dan dikurung di istana Rieghart," jawab Luiji.
Ketika mendengar Luiji menyebutkan nama Alio dan Rieghart, tampak wajah Grazel yang terkejut.
"Rieghart dan Alio?" Putri Alice heran, "Kalian mengatakan bahwa kalian berasal dari Bumi, lalu bagaimana kalian bisa pergi ke dunia yang dikuasai oleh Rieghart?" sambungnya bertanya.
"Setelah teman kami dibawa oleh Alio, untuk menyelamatkannya kami dilatih oleh seorang Caster yang juga tinggal di bumi, namanya Oldeus," jawab Luiji.
"Kalian kenal dengan Oldeus?" tanya Putri Alice.
"Benar, kami kenal dengannya," jawab Nim, "Setelah kami dilatih oleh Oldeus, kami disuruh memasuki sebuah goa dan kami sampai ke dunia yang dikuasai oleh Rieghart, yaitu dunia yang bernama Khamaya," sambungnya menjelaskan.
"Kalau kalian memang dilatih oleh Oldeus, itu artinya kalian datang kemari bersama dengan Beaster, apa benar begitu?" tanya Putri Alice.
"Benar, kami memang bersama Beaster," jawab Nim kemudian menunjukkan gelang yang ada di tangannya.
"Apa kalian juga seorang Caster, sama seperti Oldeus?" tanya Putri Alice.
"Bukan, kami adalah manusia," jawab Luiji.
"Benar, kami adalah manusia," sahut Nim.
"Lalu, bagaimana bisa kalian bisa tiba di dunia ini?" tanya Putri Alice.
"Ketika kami bertarung dengan Alio, kami terhisap oleh sebuah lubang hitam yang dibuat oleh Alio, kami terombang-ambing di dalam lubang hitam itu," jawab Nim.
"Lalu?" tanya Putri Alice.
"Sampai kami melihat sebuah lorong yang tiba-tiba muncul, dan kami terhisap ke dalamnya sehingga kami jatuh di dalam hutan," jawab Nim.
Putri Alice mengangguk, "Jika kalian bertemu dengan Rieghart dan Alio, apakah kalian juga bertemu dengan Neru?" tanya Putri Alice.
"Iya, kami juga bertarung dengan Neru," jawab Nim, "Apa Tuan Putri mengenal Neru?" lanjut Nim bertanya.
"Iya, aku sangat mengenalnya..." jawab Putri Alice menampakkan wajahnya murung.
"Tuan Putri?" ucap Grazel.
"Tidak apa-apa, Grazel," sahut Putri Alice kembali tersenyum kemudian menatap ke arah Nim dan Luiji, "Baiklah, sebelumnya aku meminta maaf kepada kalian karena perlakuan kasar dari prajurit ku, sekarang kalian adalah tamu ku," sambung Putri Alice.
"Terima kasih, Tuan Putri," sahut Nim dan Luiji bersamaan.
"Maaf Tuan Putri, apakah saya boleh mengetahui dimana kami sekarang ini?" tanya Luiji.
"Kalian sekarang berada di jembatan penghubung antar dunia," jawab Putri Alice.
"Jembatan?" sahut Nim heran, "Lalu bagaimana kami bisa kembali ke bumi?" lanjutnya bertanya.
"Kami tidak tahu," jawab Putri Alice.
"Jadi, kami akan tinggal selamanya disini?" tanya Nim berteriak.
"Tidak juga," jawab Putri Alice tersenyum, "Beruntung kalian tiba disini bersama Beaster," sambungnya.
"Benarkah?" tanya Nim tersenyum lega.
"Benar, sebenarnya Beaster adalah makhluk yang berasal dari dunia ini, dan yang menciptakan Beaster adalah kakek ku sendiri," jawab Putri Alice.
"Nim, bertukar sebentar," bisik Tion.
"Untuk apa?" tanya Nim.
"Tidak perlu, tenang saja, aku dapat mendengar kalian berbicara," pungkas Putri Alice yang ternyata juga mampu mendengar Tion berbicara.
"Ba-baik, Tuan Putri," ucap Tion.
"Beaster sebenarnya berasal dari dunia ini, karena naluri yang dimiliki para Beaster hampir mirip dengan hewan yang suka memangsa dan juga karena kekuatan Beaster yang terlalu besar dan tidak seimbang, sehingga kakek ku dan Oldeus membuat gelang yang bisa membelenggu dan menyeimbangkan kekuatan yang dimiliki oleh para Beaster," ucap Putri Alice menjelaskan.
"Pantas saja, waktu itu Naken pernah berusaha memangsa adikku," ucap Nim.
"Maaf, maaf," sahut Naken, "Makanya aku segera masuk ke dalam tubuhmu pada waktu itu," sambungnya.
"Apa benar kau pernah hendak berusaha memangsa adiknya Nim, Naken?" tanya Luiji.
"Iya benar, Luiji," jawab Naken, "Kami para Beaster, jika kami keluar dari gelang atau gelangnya hancur, naluri kami akan kembali muncul," sambungnya menjelaskan.
"Aku sudah lama ingin menanyakan ini kepada kalian," ucap Nim, "Lalu, bagaimana kalian makan?" sambungnya bertanya.
"Sebenarnya jika para Beaster bersemayam, mereka tidak memerlukan makanan seperti kalian atau kami," pungkas Putri Alice menjelaskan, "Jika para Beaster bersemayam ke tempat atau benda khusus, mereka tidak perlu susah payah mencari makanan sendiri, akan tetapi jika makhluk lain menyentuh benda yang dimasuki oleh para Beaster, dari situlah Beaster dapat menyerap sebagian energi, ringkasnya seperti benalu, namun tidak memiliki dampak buruk pada inangnya," sambungnya.
"Pantas saja aku sering merasa lapar..." sahut Nim.
"Itu hanya karena Tion yang memang memiliki wujud sebagai hewan pemakan daging, Nim," sahut Naken, "Berbeda denganku, wujudku adalah gurita dan makanan yang aku perlukan berbeda dengan yang Tion perlukan," sambungnya menjelaskan.
"Waah, ternyata kau itu rakus, Tion!" teriak Nim mendekatkan mulutnya ke gelang di tangannya sembari memarahi Tion.
"Hahahaha." Tion tertawa, "Aku kan memang berwujud hewan buas, jadi wajar saja jika aku suka makan," lanjutnya tertawa dan diikuti oleh Putri Alice yang juga ikut tertawa ketika melihat tingkah Nim dan Tion.
Tiba-tiba, terdengar kembali suara perut dari perut Nim, "Benar kan, aku lapar lagi," ucapnya sembari mengusap perutnya.
Putri Alice tersenyum, "Tenang saja, kalian adalah tamuku," ucapnya, "Silahkan sekarang kalian pergi ke ruang makan," sambungnya sembari menepukkan tangannya dua kali dan seketika datang dua prajurit.
"Iya, Tuan Putri?" tanya salah satu prajurit.
"Tolong kalian antar tamuku ke ruang makan," perintah Putri Alice sembari tersenyum.
"Baik, Tuan Putri," sahut prajurit tersebut.
"Waaah, terima kasih, Tuan Putri," ucap Nim.
Putri Alice mengangguk, "Teman Oldeus adalah temanku juga," sahutnya tersenyum.
"Tuan-tuan, silahkan ikuti saya," ucap prajurit mempersilahkan, kemudian melangkah menuju ke ruang makan.
Luiji mengangguk.
"Iya," sahut Nim kemudian melangkah mengikuti kedua prajurit tersebut.
"Waaaahh!" teriak Nim ketika melihat makanan yang sudah tersedia di atas meja makan yang ukurannya sangat besar, "Aku boleh memakan semuanya, kan?" lanjutnya bertanya.
"Iya, silahkan Tuan," jawab salah satu prajurit.
"Hei, Nim. Apa kau benar sanggup menghabiskan semuanya?" tanya Luiji.
"Iya, supaya aku dan Tion tetap memiliki energi yang cukup," jawab Nim.
"Tion," panggil Naken.
"Ya, Naken," sahut Tion.
"Dia sama seperti kau, Tion," ucap Naken, "Sepertinya, Nim memang telah ditakdirkan bersama denganmu, Tion," sambungnya.
"Hhhmmm..." gumam Tion.
"Ayo, Luiji," ajak Nim seketika berlari ke meja makan dan dengan segera melahap makanan yang berada di depannya.
"Hei, pelan-pelan, Nim," tegur Luiji kemudian duduk dan mengambil sepotong roti di depannya.
"Bagaimana makanannya?" tanya Putri Alice seketika muncul dari belakang.
"Enak sekali, Tuan Putri," sahut Nim dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Putri Alice tersenyum, "Makanlah sebanyak-banyak yang kalian mau," ucapnya.
"Maaf, Putri Alice," ucap Luiji, "Bolehkah saya menanyakan sesuatu?" sambungnya.
"Ya, silahkan," jawab Putri Alice mempersilahkan.
"Setelah ini, apa ada cara lain supaya kami bisa kembali ke bumi?" tanya Luiji.
"Nanti akan aku jelaskan kepada kalian," jawab Putri Alice, "Setelah kalian selesai makan," sambungnya tersenyum.
Luiji mengangguk kemudian menggigit sepotong roti yang berada di tangannya.
"Waaah, kenyang sekali," ucap Nim duduk dan menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi di meja makan, "Aku sangat mengantuk," sambungnya.
"Jika kalian ingin beristirahat, kamar kalian sudah aku siapkan," sahut Putri Alice.
"Wah, benarkah?" ucap Nim.
Putri Alice mengangguk sembari tersenyum.
"Ayo, Luiji," ajak Nim seketika beranjak dari duduknya.
"Ayo," sahut Luiji yang juga kemudian beranjak dari duduknya.
"Silahkan ikuti aku," ajak Putri Alice kemudian melangkah pergi dari ruang makan istana yang tampak begitu luas dan megah itu.
"Baik, Tuan Putri," sahut Luiji seketika dari belakang mengikuti langkah Putri Alice.
"Ooy, Luiji, tunggu aku!" teriak Nim yang ketika itu sulit berjalan karena perutnya yang penuh dengan makanan.
"Kalau lama, kami tinggal," sahut Luiji tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada Nim.
"Aduuh, aku sakit perut," jerit Nim dengan susah payah melangkahkan kakinya.
"Itu salahmu sendiri, Nim," sahut Tion.
"Apa? Salahku?" sahut Nim, "Bukannya aku begini karena dirimu, Tion," ucapnya dengan nada kesal.
"Aku tidak serakus dirimu!" sahut Tion balas memarahi Nim, "Karena kau juga memang rakus!" sambungnya.
"Iya, iya," ucap Nim sembari mengusap-usap perutnya.
"Nim!" teriak Luiji terdengar jauh di depan Nim, "Ayo cepat," sambungnya berteriak.
"Iya, iya, tunggu sebentar!" balas Nim berteriak, "Aduuh," jerit Nim.
"Makanya, lain kali kalau makan jangan terlalu rakus!" ucap Tion.
"Iya, iya, dasar kau kakek tua," sahut Nim.
"Ayo cepat ikuti Luiji," ucap Tion, "Sekarang aku juga merasa kekenyangan karena kau makan terlalu banyak," sambungnya.
Setelah dengan susah payah Nim melangkahkan kakinya menuju ke kamar, sesampainya di depan kamar tampak Luiji yang sudah membaringkan tubuhnya di atas sebuah kasur besar empuk dan mewah.
"Kau curang, Luiji," ucap Nim seketika masuk ke dalam kamar.
"Apanya yang curang?" tanya Luiji.
"Ah, sudah lupakan," sahut Nim, "Sekarang aku ingin istirahat," sambungnya kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur besar empuk dan mewah tepat di samping kasur tempat Luiji merebahkan tubuhnya.
"Naken," ucap Luiji.
"Ya, Luiji?" sahut Naken.
"Apa benar kita bisa mengalahkan Sieghart?" tanya Luiji.
"Semua tergantung kalian, Luiji," jawab Naken.
"Maksudmu?"
"Jika kita berhasil mengumpulkan pecahan-pecahan Hashfer lebih cepat dari Rieghart dan anak buahnya, mungkin kita akan mampu melawannya," jawab Naken menjelaskan.
"Lalu, bagaimana caranya kita bisa menemukan pecahan-pecahan Hashfer yang tersisa?" tanya Luiji.
"Aku masih belum mengetahui caranya, tapi semoga kita beruntung bisa menemukannya lebih dahulu dari Rieghart dan anak buahnya," jawab Naken.
"Naken," panggil Tion.
"Ya, Tion," sahut Naken.
"Sebenarnya masih banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada Putri Alice," ucap Tion.
"Ooy Tion, bicaranya jangan keras-keras," sahut Nim, "Aku jadi tidak bisa tidur," sambungnya.
"Nim! Apa kau tidak perduli dengan Juno!" ucap Luiji kesal dengan tingkah Nim.
"Juno..." gumam Nim, "Jangan kalian mengira aku tidak perduli dengan Juno, hanya karena aku baru mengenalnya, karena teman Luiji adalah temanku juga," sambung Nim tersenyum. "Sebaiknya kita istirahah dulu, dan besok kita harus memikirkan bagaimana caranya kita bisa kembali ke Bumi, dan pergi lagi ke Khamaya menyelamatkan Juno," ucap Nim.
Luiji terdiam.
"Pasti ada cara untuk kita pergi dari tempat ini," ucap Tion.
"Maksudmu?" sahut Luiji.
"Karena jika kami para Beaster memang berasal dari sini, dan para Caster berasal dari Khamaya, itu artinya...."
"Benar! Aku tahu caranya," pungkas Nim memenggal perkataan Tion.
"Benarkah, Nim?" sahut Luiji.
"Sebaiknya besok kita langsung menanyakannya kepada Putri Alice," jawab Nim.
"Dasar kau Nim," ucap Luiji kesal, "Aku mengira kau mengetahui caranya pergi dari sini," sambungnya.