PDA 33 . Pukul enam pagi saat Abian kembali dari kantin rumah sakit, ia membuka pintu dan melihat Aluna sudah terbangun. Kemudian ia berjalan mendekat pada Aluna, dan menyodorkan sekotak bubur ayam itu padanya. "Untukmu. Bukankah kamu sampai rela mengantri demi bubur ayam?" sinis Abian mengingat kebohongan Aluna beberapa waktu lalu. Aluna menatap tajam padanya. Namun, ia terpaksa mengambil bubur itu dari tangan Abian karena perutnya benar-benar terasa lapar. Bubur itu beralih ke tangan Aluna, Abian pun tersenyum, lalu ia melepas jaket yang dipakainya dan duduk berjauhan di sebelah Aluna. Ia juga meletakkan semua belanjaannya untuk sarapan pagi. Ada roti, camilan, bubur, sandwich ala-ala kantin, dan beberapa minuman. Aluna sendiri kini mengambil ponselnya, dan menghubungi papa. "Aku

