BAB 4

1418 Words
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan sebuah gerbang besi kokoh yang menjulang tinggi. Kaira turun dengan langkah ragu, matanya tak lepas menatap bangunan megah di hadapannya. Ini bukan sekadar rumah; ini adalah kediaman utama keluarga besar Alzahir. Arsitekturnya yang klasik namun kokoh memancarkan aura kekuasaan dan kekayaan yang telah dipupuk selama puluhan tahun. Taman luas yang tertata rapi di sekelilingnya menambah kesan indah sekaligus mengintimidasi. “Ada apa?” suara Safira memecah lamunan Kaira. Kaira tersentak, lalu buru-buru menunduk. Wajahnya memerah karena malu kedapatan menatap rumah itu dengan tatapan kagum yang terlalu kentara. “Maaf, Tante ... rumahnya sangat besar.” Safira terkekeh pelan, nada suaranya melembut, tidak sedingin saat ia berada di rumah keluarga Kareem tadi. “Tidak perlu sungkan. Mulai hari ini, kamu adalah menantu di rumah ini. Anggap saja rumah sendiri,” ucap Safira sembari merangkul bahu Kaira, mengajaknya melangkah masuk. Bagian dalam rumah itu jauh lebih memukau. Kaira yakin setiap sudut bangunan ini dipikirkan dengan matang. Lantai marmer yang mengilat, ukiran kayu jati yang detail pada pilar-pilarnya, hingga perabotan antik yang harganya pasti setara dengan satu unit apartemen mewah. Semuanya tertata dengan selera kelas atas yang tak terbantahkan. Safira langsung membawa Kaira menuju ruang keluarga yang luas. Di sana, suasana terasa jauh lebih hangat namun tetap berwibawa. “Tante ...” cicit Kaira pelan, jari-jarinya meremas ujung gaunnya sendiri. “Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja,” bisik Safira meyakinkan. Saat mereka memasuki ruangan, Kaira mendapati banyak orang sudah berkumpul. Sepertinya Safira memang sudah meminta seluruh anggota inti keluarga besar Alzahir untuk hadir. Kaira menatap mereka satu per satu. Ada aura martabat yang kuat terpancar dari orang-orang ini; jenis wibawa yang hanya dimiliki oleh kalangan elit yang sesungguhnya. Satu hal yang terlintas di pikiran Kaira, Khalisa tidak pernah berada di posisi ini. Selama lima tahun, kakaknya itu tidak pernah diakui, apalagi diundang masuk ke ruang keluarga ini. Khalisa selalu menjadi “orang luar” bagi Alzahir, dan sekarang, justru Kaira yang berdiri di titik pusat perhatian mereka. “Kamu?” Suara seorang wanita tua memecah keheningan. Kaira menoleh ke arah sofa utama dan seketika matanya membelalak kaget. “Nenek?” panggil Kaira spontan. “Kenapa Nenek ada di sini?” Safira yang berdiri di samping Kaira tampak terkejut. Ia mendekati ibunya, Nenek Mireya. “Ibu mengenal Kaira?” Nenek Mireya mengangguk antusias dengan senyum lebar menghiasi wajah senjanya. “Tentu saja. Ini gadis yang Ibu ceritakan minggu lalu. Gadis yang menolong Ibu saat hampir terjatuh di taman ketika Ibu jalan-jalan sendirian. Bukannya Ibu sudah menceritakannya pada kalian semua?” Seketika, tatapan dingin yang tadinya diarahkan pada Kaira berubah menjadi tatapan penuh terima kasih. Anggota keluarga lainnya saling berpandangan dan mengangguk. Safira tersenyum lega, ia menarik Kaira untuk duduk di sampingnya. “Terima kasih, Kaira. Kalau tidak ada kamu, Ibu mungkin sudah terluka serius saat itu.” Kaira tersenyum tipis, tampak malu-malu. “Sama-sama, Tante. Maaf, waktu itu saya benar-benar tidak tahu kalau Nenek adalah ibu dari Tante Safira.” “Justru itu intinya,” sahut Nenek Mireya bijak. “Baik dan buruknya seseorang bisa dilihat dari tindakannya kepada orang asing yang tidak dikenal. Kamu tulus menolong tanpa tahu siapa aku.” Nenek Mireya lalu menatap Safira, memberikan isyarat tanya. Safira berdehem, lalu menatap semua anggota keluarga dengan ekspresi serius. “Semuanya, perkenalkan. Ini adalah Kaira, istri kedua Azlan.” Keheningan sesaat menyelimuti ruangan. Seorang wanita paruh baya yang tampak elegan namun memiliki sorot mata tajam menyahut, “Jadi Kaira ini adalah adik dari wanita itu?” Safira mengangguk pelan sebagai jawaban. “Ck! Lalu kenapa dibawa ke sini? Kita semua tahu bagaimana perangai keluarga mereka,” celetuk salah satu anggota keluarga lainnya. Kaira hanya bisa menunduk dalam. Ia mendengar bisik-bisik dan celaan halus di sekitarnya. Ia sadar, kebencian keluarga Alzahir terhadap Khalisa sangat dalam, dan sebagai adik kandung, ia otomatis terkena imbasnya. Namun, Kaira tidak bergerak. Ia membiarkan dirinya terlihat sebagai pihak yang terpojok dan patut dikasihani. “Kaira,” panggil Safira lembut. “I―iya, Tante?” cicit Kaira. “Kenapa masih panggil Tante? Panggil aku Mama, seperti Azlan memanggilku.” Kaira mengerjap, tampak ragu. “Tapi, Tante ...” Safira menggenggam tangan Kaira, tersenyum manis—jenis senyum yang menunjukkan perlindungan. “Tidak ada tapi-tapian. Ayo, panggil Mama.” “Ma ... Mama,” ucap Kaira pelan, hampir tidak terdengar. “Iya, begitu. Sekarang, kamu pasti lelah. Pergilah ke kamar suamimu dan istirahatlah,” titah Safira. “Aku akan mengantar Kak Kaira,” seorang gadis muda bernama Leah, sepupu Azlan, menawarkan diri dengan ramah. Kaira berdiri, membungkuk sopan kepada semua orang di ruangan itu dengan tata krama yang sempurna, lalu mengikuti Leah menuju lantai atas. Setelah punggung Kaira menghilang di balik tangga, suasana di ruang keluarga berubah menjadi serius. Kakek Ilyas, ayah mertua Safira sekaligus pemegang otoritas tertinggi di keluarga itu, menatap putrinya. “Apa yang terjadi, Safira? Kamu bilang kamu tidak setuju dengan pernikahan kedua ini. Tapi kenapa sekarang kamu malah membawanya tinggal di sini?” tanya Kakek Ilyas tegas. Safira menghela napas panjang, menatap ayah mertuanya. “Awalnya aku memang menentang, Ayah. Apalagi suamiku juga sedang tidak ada di sini untuk mendiskusikan ini. Tapi Azlan terus-menerus memohon padaku agar aku datang ke pernikahan itu sebagai wali. Aku terpaksa pergi demi anakku.” Safira menjeda kalimatnya, ekspresinya berubah sedih. “Tapi begitu aku tiba di sana, aku melihat sesuatu yang meruntuhkan hatiku. Aku mendapati Kaira menangis sendirian di kamar mandi. Dia menjerit pelan, mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar.” “Kenapa dia menangis?” tanya Bibi Luwi, adik Safira, mulai penasaran. “Sepertinya keluarga Kareem sangat pilih kasih,” lanjut Safira. “Mereka memaksa Kaira menikah dengan Azlan hanya untuk dijadikan mesin penghasil anak. Mereka bilang, setelah Kaira melahirkan, bayinya akan diambil dan diberikan pada Khalisa. Bisa kalian bayangkan betapa terlukanya gadis itu? Dia harus mengorbankan rahim dan perasaannya demi kepentingan kakaknya yang egois itu.” Ruangan itu mendadak sunyi. Simpati mulai merayap di hati mereka yang hadir. “Pernikahan itu diatur satu minggu yang lalu, kan?” Nenek Mireya bertanya. “Betul, Ibu. Saat Azlan datang meminta izin pada kita semua dan kita semua menentangnya,” jawab Safira. Nenek Mireya mengangguk perlahan. “Pantas saja. Saat menolongku minggu lalu, matanya sangat sembab. Terlihat sekali kalau dia baru saja menangis hebat. Saat aku tanya kenapa, dia bilang ada masalah keluarga yang tidak bisa ia ceritakan. Wajahnya benar-benar terlihat malang.” Cerita Nenek Mireya menjadi potongan puzzle terakhir yang meyakinkan semua orang. Jika seorang gadis yang sedang hancur hatinya masih bisa bersikap tulus menolong orang asing di jalan, maka gadis itu bukanlah orang jahat seperti kakaknya. “Kalau memang begitu keadaannya, sebaiknya Kaira tetap tinggal di sini. Hubungi Azlan dan minta dia datang,” ujar Anton, anak kedua Kakek Ilyas. Safira mengangguk setuju. “Aku juga ingin begitu. Tapi kita semua tahu Azlan. Dia keras kepala dan sulit diatur jika sudah menyangkut wanita itu.” “Azlan memang selalu bertindak semaunya sejak dulu,” sahut Anita, ibu Leah. “Apalagi Khalisa pasti akan melakukan segala cara untuk menahan Azlan agar tidak ke rumah ini. Azlan tidak suka tekanan dari kita.” “Apa aku harus memaksanya?” tanya Safira ragu. Kakek Ilyas terdiam sejenak, lalu berdiri dari kursinya. “Biarkan saja dulu. Jangan dipaksa dengan kata-kata. Safira, siapkan beberapa keperluan mereka. Besok, aku sendiri yang akan mengirim mereka bulan madu ke luar negeri. Azlan tidak akan bisa menolak perintah kakeknya.” Senyum tipis muncul di wajah anggota keluarga yang lain. Mereka setuju. Itu adalah cara terbaik untuk memisahkan Azlan dari pengaruh Khalisa, sekaligus memberi ruang bagi Kaira untuk menjalankan perannya. *** Sementara itu, di kamar Azlan yang luas dan elegan, Kaira duduk di tepi tempat tidur yang empuk. Ia menatap ke arah balkon, namun pikirannya bekerja dengan sangat cepat. Segalanya berjalan sesuai skenario. Tangisannya di kamar mandi, pertemuan “tidak sengaja” dengan Nenek Mireya minggu lalu—semuanya adalah bagian dari rencana panjang yang telah ia susun dengan teliti. Ia tahu bahwa keluarga Alzahir menghargai ketulusan dan membenci keserakahan. Dengan memposisikan dirinya sebagai korban yang terzalimi oleh keluarganya sendiri, ia berhasil memenangkan hati Safira dan Nenek Mireya dalam sekejap. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis. Benih simpati sudah ditanam. Sekarang, ia hanya perlu menunggu Azlan datang ke dalam “perangkap” yang sudah disiapkan oleh keluarganya sendiri. Sandiwara di rumah keluarga Alzahir baru saja dimulai, dan kali ini, Kaira-lah yang memegang naskahnya. “Panggungnya sudah siap, Kak Khalisa. Mari kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan,” batin Kaira sembari memejamkan mata dengan tenang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD