BAB 5

1179 Words
Kabin jet pribadi itu sunyi, hanya menyisakan dengung mesin yang stabil di ketinggian ribuan kaki. Kaira menyandarkan kepala di jendela oval, menatap hamparan awan putih. Ia sedang menyesap jus jeruknya saat mendengar langkah kaki berat yang sangat ia kenali mendekat. “Kaira.” Gadis itu tersentak, bahunya sedikit melonjak kaget. Ia menoleh dan mendapati sosok Azlan berdiri di sana dengan satu tangan merogoh saku celana. “Mas Azlan?” bisik Kaira. Ia segera berdiri dari kursi kulit yang empuk dengan gerakan kikuk. “Mas ... kenapa ada di sini?” Azlan mengernyit. Matanya menatap Kaira dari ujung rambut hingga kaki, tampak heran melihat kehadiran adik iparnya di sana. “Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu ada di jet pribadiku?” Kaira mengerjap polos, tampak bingung. “Tadi malam Mama Safira minta aku siapkan barang. Beliau bilang aku boleh liburan buat menenangkan diri. Mama sendiri yang suruh sopir antar aku ke bandara pagi-pagi sekali.” “Jadi Mama yang atur?” Azlan mengulangi, suaranya berat dan penuh selidik. Kaira mengangguk cepat, tangannya menggaruk tengkuk seolah benar-benar tidak paham situasi. “Mas sendiri kenapa di sini? Bukannya harusnya ke kantor?” Azlan menghela napas panjang, embusan napas yang menunjukkan rasa lelah. Ia duduk di hadapan Kaira dengan gaya maskulin yang dominan. “Kakek telepon semalam. Ada urusan mendesak soal pembelian aset di Paris. Beliau minta aku terbang pagi ini.” Azlan menyandarkan punggung, menatap Kaira yang masih berdiri mematung. “Aku nggak menyangka Mama bakal memanfaatkan perjalanan bisnisku buat mengirimmu.” Melihat gurat cemas di wajah Kaira, Azlan merasa yakin bahwa gadis di depannya ini hanyalah korban dari rencana ibunya. “Benarkah? Ya ampun, aku rasa ini kesalahan besar, Mas. Aku nggak mau ganggu pekerjaan Mas Azlan,” ucap Kaira panik. Ia segera meraih tas tangannya. “Aku keluar sekarang dan telepon Mama. Mungkin pilotnya bisa putar balik atau—” “Nggak perlu,” potong Azlan tegas. Ia meraih pergelangan tangan Kaira, menahannya. Kulit mereka bersentuhan, mengirimkan sensasi hangat yang singkat. “Jet ini sudah di jalur pacu. Duduk yang benar, Kaira. Sebentar lagi kita lepas landas.” Kaira tampak ragu, namun akhirnya duduk kembali. “Tapi, Mas ...” “Setelah urusanku selesai di sana, aku akan ajak kamu jalan-jalan sebentar. Anggap saja kompensasi karena kamu terjebak rencana Mama,” ucap Azlan sebelum akhirnya menutup mata, mencoba mencari ketenangan. Kaira hanya diam menunduk. Namun saat Azlan sudah terlelap, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. Rencananya berjalan jauh lebih mulus dari bayangannya. ‘Pulang dari Paris nanti, aku akan pastikan keluarga Alzahir mendapatkan calon cucu yang mereka inginkan,’ batin Kaira. *** Perjalanan panjang itu berakhir di sebuah hotel mewah di pusat Paris. Kamar mereka lebih menyerupai penthouse eksklusif dengan balkon yang menghadap langsung ke Menara Eiffel. “Bersihkan dirimu dulu, baru istirahat,” ucap Azlan sesaat setelah pelayan hotel meletakkan koper mereka. Azlan sibuk melepas jas dan jam tangannya dengan gerakan efisien. Kaira mengangguk patuh. Ia menyeret kopernya ke dekat tempat tidur dan membukanya. Namun, saat ritsleting terbuka, wajah Kaira berubah pucat. “Ah!” jeritnya pelan. Azlan yang sedang membuka kancing kemeja bagian atas segera berbalik. “Kenapa?” tanyanya cemas. Ia mendekat dan matanya langsung membelalak melihat isi koper itu. Bukk! Kaira menutup koper dengan cepat, wajahnya merah padam. “Mas ... sepertinya koperku tertukar. Bagaimana ini?” Azlan memijat pangkal hidungnya yang pening. “Jangan konyol, Kaira. Kita pakai jet pribadi. Sopir Mama yang bawa ke bagasi. Nggak mungkin tertukar.” “Tapi isinya ... bukan pakaianku,” ucap Kaira panik yang sangat meyakinkan. Azlan tahu persis apa yang ia lihat sekilas tadi. Tumpukan kain renda tipis, sutra transparan, dan potongan pakaian dalam yang sangat provokatif. Ia mengerti sekarang; ini adalah serangan lanjutan dari ibunya. “Mandi saja dulu. Pakai bathrobe yang ada di sana. Aku akan keluar cari toko baju yang masih buka buat belikan pakaian yang layak,” ucap Azlan sebelum berbalik keluar kamar dengan langkah terburu-buru. Setelah pintu tertutup, Kaira kembali membuka koper. Ia memeriksa satu per satu. Benar-benar gila. Mama Safira tidak meninggalkan satu pun pakaian normal. Semuanya adalah lingerie kurang bahan dengan berbagai warna menggoda. “Semoga Mas Azlan nggak merasa jijik,” gumam Kaira. Ia menyimpan koper itu di sudut lemari, lalu masuk ke kamar mandi. Di bawah pancuran air hangat, ia membiarkan tubuhnya rileks. Paris adalah panggung sempurna untuk meruntuhkan benteng pertahanan Azlan. Sementara itu, di sebuah butik kelas atas, Azlan bergerak canggung di antara deretan pakaian wanita. Ia memilih beberapa set pakaian harian dan gaun sopan. Pikirannya tidak fokus; ia terus terbayang pada potongan kain renda merah yang ia lihat di koper Kaira tadi. Setelah kembali ke hotel, Azlan membuka pintu kamar hati-hati. Kaira sedang duduk mengeringkan rambut di depan meja rias. Gadis itu hanya mengenakan bathrobe putih tebal yang tampak kebesaran di tubuh mungilnya. Bagian leher jubah itu sedikit terbuka, memperlihatkan tulang selangka dan kulit lehernya yang mulus. “Bagaimana aku bisa jalan-jalan besok kalau nggak punya baju,” gumam Kaira pelan, seolah tidak sadar Azlan sudah masuk. Azlan berdehem, mencoba menetralkan detak jantungnya. “Mama benar-benar niat,” ucapnya sambil meletakkan beberapa paper bag di tempat tidur. Kaira berbalik, wajahnya berbinar. “Terima kasih banyak, Mas Azlan! Mas benar-benar penyelamatku.” Ia segera menyambar belanjaan itu dan lari ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Azlan duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan ponsel dan melihat banyak pesan masuk dari Khalisa. Tadi pagi, ia hanya berpamitan untuk urusan bisnis tanpa menyebutkan Kaira. Ia tahu Khalisa sedang tidak stabil; wanita itu terus menangis dan meminta Azlan menceraikan Kaira. Azlan mematikan ponselnya. Ia lelah meladeni tuntutan Khalisa. Ada rasa kecewa yang tumbuh; bagaimana bisa Khalisa berpikir adiknya adalah barang yang bisa dibuang begitu saja setelah dimanfaatkan? Di dalam kamar mandi, Kaira berganti pakaian. Ia menatap pantulannya di cermin. Posisiku nggak aman selama Khalisa masih memegang emosi Mas Azlan. Aku harus jadi pihak yang paling patut dikasihani dan dilindungi, bisiknya. Kaira keluar dengan langkah pelan. Rambutnya yang lembap menyebarkan aroma sabun yang segar. Azlan mendongak, dan untuk sesaat, ia merasa tenggorokannya mendadak kering. Pakaian yang Azlan pilihkan tampak begitu pas di tubuh Kaira, menonjolkan kurva lembut yang selama ini tersembunyi di balik sikap pemalunya. Di bawah cahaya lampu temaram kamar hotel, kulit Kaira tampak bersinar halus, memancing fokus Azlan pada setiap geraknya. Azlan bisa merasakan tarikan gairah yang asing saat menatap bibir ranum Kaira yang sedikit bergetar. Ada godaan yang begitu kuat untuk mendekat, merasakan kelembutan kulit itu di bawah jemarinya, dan menghapus sisa kesedihan di mata bening gadis itu dengan sentuhan yang lebih dalam. Azlan harus mengalihkan pandangan agar tidak kehilangan kendali atas dirinya sendiri di depan gadis yang seharusnya ia lindungi ini. *** “Mas ... apa aku kelihatan aneh?” tanya Kaira lirih. Azlan segera membuang muka, mengatur napasnya. “Nggak, itu cocok buatmu. Istirahatlah, besok jadwal kita padat.” Kaira tersenyum tipis dalam hati sambil berjalan menuju tempat tidurnya. Sandiwara di Paris baru saja dimulai, dan ia akan memastikan Azlan Alzahir tidak akan pernah ingin melepaskannya, bahkan jika Khalisa berlutut memohon sekalipun. Satu-satunya cara adalah menjadi satu-satunya wanita yang bisa memberikan ketenangan dan ahli waris bagi pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD