Malam di Paris jatuh dengan keanggunan yang dingin. Di dalam penthouse mewah yang menghadap langsung ke kerlip lampu Menara Eiffel, suasana justru terasa membeku. Setelah makan malam yang dilewati dengan denting sendok dan keheningan yang menyesakkan, Azlan dan Kaira kini terjebak dalam satu ruang yang sama.
Secara hukum dan agama, mereka adalah suami istri. Status “halal” itu seharusnya mencairkan suasana, namun bagi Azlan, keberadaan Kaira di sini tetaplah sebuah anomali. Ada rasa canggung yang begitu tebal, seolah udara di kamar itu dipenuhi oleh kabel-kabel tegangan tinggi yang siap menyengat jika salah satu dari mereka salah melangkah.
Azlan beranjak lebih dulu dari kursi santainya. Tanpa banyak bicara, ia melangkah menuju ranjang besar bertiang empat itu, namun bukan untuk merebahkan diri di sana. Dengan gerakan efisien, ia mengambil bantal tambahan dan selimut tebal dari lemari.
“Istirahatlah di kasur. Mas akan tidur di sofa,” ucap Azlan datar. Suaranya berat, namun tidak mengandung permusuhan.
Kaira menatap punggung tegap itu dengan tatapan yang sulit diartikan. “Tapi, Mas ... sofa itu sepertinya tidak nyaman untuk ukuran tubuh Mas Azlan.”
Azlan tidak menoleh. Ia sudah membaringkan tubuhnya di sofa kulit yang terletak di sudut ruangan, cukup jauh dari ranjang. “Tidak apa-apa. Mas sudah biasa tidur di mana saja saat perjalanan bisnis. Besok Mas harus menyelesaikan urusan tanah itu pagi-pagi sekali. Kalau sempat, nanti sore kita keliling Paris.”
“Terima kasih, Mas,” bisik Kaira pelan.
Melihat Azlan sudah memejamkan mata dan memungguhinya, Kaira segera naik ke atas ranjang. Ia menyelimuti tubuhnya hingga sebatas d**a. Kasur itu sangat empuk, namun pikirannya tetap terjaga. Ia meraih sakelar lampu di nakas, memadamkan cahaya, lalu menyunggingkan senyum kecil yang tersembunyi di balik kegelapan. Sebuah senyum kemenangan yang tenang sebelum ia akhirnya membiarkan dirinya terlelap.
***
Tepat jam dua belas malam, keheningan di kamar itu pecah oleh suara yang menyayat hati.
“Ayah ... Tolong. Ayah ... jangan tinggalkan Kaira. Tolong, Ayah ... Ayahhh!”
Azlan, yang memang memiliki insting waspada dan gampang terbangun, langsung terduduk tegak. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengernyitkan dahi, mencoba mengenali arah suara teriakan yang penuh ketakutan itu. Detik berikutnya, ia sadar itu adalah suara Kaira.
“Ayah ... hiks ... tolong, Ayah ... Panas ... hiks ... Ayahhh tolong!”
Azlan segera bangkit dan menyalakan lampu utama. Cahaya terang seketika menyinari kamar, dan Azlan terkesiap melihat pemandangan di depan matanya. Kaira sedang meringkuk di tengah ranjang, tubuhnya gemetar hebat, dan wajahnya dibanjiri keringat dingin. Rambut hitamnya menempel di dahi dan lehernya yang basah.
“Kaira! Bangun! Kaira!” Azlan mendekat, memegang bahu Kaira yang terus bergerak gelisah.
“Panas, Ayah ... Hiks ... Panas ... Tolooonggg!” racau Kaira. Napasnya tersengal, seolah ia sedang terjebak di tengah kobaran api yang nyata.
Azlan berusaha lebih keras. Ia tidak tega melihat wajah yang biasanya tenang itu kini dipenuhi penderitaan yang begitu nyata. Ia memegang kedua pipi Kaira, mencoba menarik gadis itu keluar dari labirin mimpi buruknya. “Kaira, bangun! Ini Mas Azlan! Bangun!”
“AYAHHH!!!”
Kaira menjerit kencang saat matanya terbuka lebar. Pupil matanya membesar, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong selama beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada wajah Azlan yang berada tepat di depannya.
Azlan menatapnya dengan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. “Tenanglah. Itu cuma mimpi buruk. Kamu aman di sini.”
Kaira menggeleng cepat. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. “Ayah tidak sayang padaku ... hikss ...” isaknya pilu.
Azlan tertegun. Kebingungan luar biasa menghantamnya. “Kaira, tenanglah. Tarik napas pelan-pelan.”
“Tidak ... hiks. Ayah jahat. Ayah meninggalkanku sendirian,” ucap Kaira dengan suara parau. Ia bergerak mundur secara refleks, menjauh dari jangkauan tangan Azlan, lalu meringkuk di sudut kasur. Suara tangisannya kini mengecil, namun terdengar sangat menyayat hati, seperti suara anak kecil yang terbuang.
Melihat kerapuhan yang begitu telanjang, sisi protektif dalam diri Azlan bangkit. Tanpa berpikir panjang, ia ikut naik ke atas ranjang dan menarik tubuh mungil Kaira ke dalam pelukannya.
“Hiks, lepaskan!” jerit Kaira histeris, mencoba memberontak. Tangan kecilnya memukul-mukul d**a Azlan.
Namun Azlan justru mengeratkan pelukannya. Ia tidak peduli jika dadanya sakit. Ia membenamkan wajah Kaira di bahunya, membiarkan air mata gadis itu membasahi kemejanya. “Tenanglah. Ada Mas di sini. Mas akan menjagamu. Tidak akan ada yang menyakitimu,” bisik Azlan lembut, terus mengusap punggung Kaira dengan gerakan yang menenangkan.
Perlahan, pemberontakan Kaira melemah. Tubuhnya yang tadi kaku kini melunak di dalam dekapan hangat Azlan. Tangisannya mereda menjadi isakan-isakan kecil yang masih terdengar sisa traumanya.
“Ayah jahat ... Ayah meninggalkanku. Ayah dan Ibu cuma sayang sama Kak Khalisa saja ...” gumam Kaira sangat lirih.
Azlan terdiam kaku. Ia mencoba melihat wajah Kaira, namun gadis itu sepertinya sudah kembali terlelap karena kelelahan setelah badai emosinya. Kalimat tadi hanyalah gumaman bawah sadar, sebuah kejujuran yang keluar saat pertahanan mentalnya runtuh.
“Sebenarnya apa yang terjadi di keluarga itu?” gumam Azlan pada kesunyian malam.
Ia menatap wajah tidur Kaira yang kini tampak sangat damai dalam pelukannya. Selama ini ia hanya mengenal Kaira sebagai adik ipar yang pendiam dan penurut. Namun malam ini, ia melihat luka yang sangat dalam. Trauma yang sampai terbawa mimpi itu bukan tentang hantu, tapi tentang rasa terabaikan di dalam keluarganya sendiri.
Ucapan Kaira soal orang tuanya yang hanya menyayangi Khalisa berputar-putar di kepala Azlan. Ia teringat bagaimana mertuanya tadi pagi memperlakukan Kaira seperti aset, bukan manusia.
‘Pantas saja dia tampak begitu rapuh,’ batin Azlan. Tanpa sadar, ia mempererat pelukannya, memberikan kehangatan yang sepertinya selama ini tidak pernah didapatkan gadis itu. Azlan menutup matanya, membiarkan dirinya ikut tertidur sambil tetap mendekap Kaira di atas ranjang itu.
***
Sementara itu, ribuan kilometer di belahan bumi lainnya, kedamaian adalah sesuatu yang mustahil ditemukan.
Di dalam kamar mewahnya yang luas di Jakarta, Khalisa Kareem sedang mengamuk. Suara barang pecah belah terdengar berulang kali saat ia melempar vas bunga ke arah dinding. Napasnya memburu, wajahnya merah padam karena amarah yang tidak tersalurkan.
“Sial! Sialan!” teriak Khalisa frustrasi.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas karpet, melihat layar yang masih bersih dari notifikasi. Ia sudah mengirim lebih dari dua puluh pesan pada Azlan sejak sore tadi, namun tidak ada satu pun yang dibalas. Jangankan balasan, dibaca pun tidak. Padahal, biasanya Azlan selalu memberikan kabar singkat meski hanya satu kalimat setiap kali pria itu pergi ke luar negeri.
“Kenapa dia tidak membalas? Apa yang dia lakukan dengan jalang kecil itu di sana?” gumam Khalisa sambil meremas rambutnya sendiri hingga berantakan.
Khalisa merasa hampir gila. Permintaannya agar Azlan menceraikan Kaira ditolak mentah-mentah oleh Azlan dan juga Ibu Safira. Sekarang, suaminya justru seolah menghindarinya dengan alasan perjalanan bisnis mendadak. Ia bisa merasakan posisinya mulai goyah, dan itu adalah ketakutan terbesarnya.
Khalisa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur emosinya yang meledak-ledak. Ia berjalan menuju cermin besar, menatap bayangannya yang tampak berantakan. ‘Tidak. Aku tidak boleh begini. Aku harus tetap cantik dan tenang,’ batinnya mencoba menghibur diri.
“Pasti ada cara untuk menyingkirkan Kaira. Selalu ada cara,” gumamnya dengan nada yang jauh lebih dingin.
Ia menyunggingkan senyum licik. Sebuah ide mulai terbentuk di kepalanya. “Mungkin aku harus bicara langsung pada Kaira begitu dia pulang nanti. Aku akan menyuruh adik bodoh itu untuk meminta cerai sendiri pada Azlan. Dia kan selalu patuh padaku. Dia pasti takut kalau aku ancam.”
Khalisa menghembuskan napas perlahan, merasa sedikit lebih tenang setelah menemukan sebuah rencana. Pandangannya beralih ke tumpukan paper bag berlogo brand mewah yang ia beli pagi tadi sebagai pelarian rasa kesalnya.
“Iya, Kaira itu gampang disetir. Dia cuma butuh sedikit gertakan,” gumamnya lagi sambil mulai membongkar belanjaannya. Melihat tas-tas mahal itu sedikit mengurangi rasa sesak di hatinya. Baginya, semua masalah di dunia ini bisa selesai jika ia tetap menjadi nyonya besar Alzahir yang kaya raya, dan ia tidak akan membiarkan adik kecilnya yang malang itu mencuri takhtanya.
Khalisa tidak tahu, bahwa di Paris sana, pelukan Azlan yang selama ini menjadi miliknya, kini sedang memberikan kehangatan bagi orang yang paling ia remehkan.