BAB 7

1313 Words
Matahari Paris mulai tergelincir ke ufuk barat, membiarkan semburat jingga masuk melalui celah gorden penthouse. Azlan melangkah masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan urusan dokumen pembelian tanah yang menyita energinya sejak pagi. Namun, langkah kakinya tertahan di ambang pintu. Ia melihat Kaira. Gadis itu duduk di tepi ranjang, membelakangi jendela. Sorot matanya kosong, tertuju pada satu titik di lantai marmer tanpa benar-benar melihatnya. Ada kesunyian yang berat menyelimuti sosok itu, sebuah keheningan yang seolah menceritakan luka yang tidak sanggup diucapkan. “Kaira,” panggil Azlan pelan. Kaira tersentak, bahunya melonjak kecil sebelum ia menoleh dengan raut wajah yang buru-buru ia rapikan. “Mas Azlan? Sudah pulang?” Azlan mengangguk singkat. Ia tidak melepaskan tatapannya dari mata Kaira yang tampak sedikit sembab. Ia melangkah menuju sofa tunggal di dekat meja kerja dan duduk di sana. “Kemarilah. Ada yang ingin Mas bicarakan.” Kaira tampak ragu sejenak, namun ia menurut. Ia beranjak dari tempat tidur dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Azlan. Jarak mereka dekat, cukup dekat bagi Azlan untuk mencium aroma sabun lembut yang menguar dari tubuh gadis itu. “Tentang tadi malam,” Azlan memulai, suaranya rendah dan langsung pada inti permasalahan. “Sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu mimpi buruk seperti itu?” Kaira terdiam. Pupil matanya bergetar sesaat sebelum ia menggeleng pelan, mencoba memaksakan sebuah senyum tipis. “Itu cuma mimpi biasa, Mas. Mungkin karena aku terlalu lelah belakangan ini. Tidak perlu dipikirkan.” “Tapi bagi Mas, itu bukan sekadar mimpi biasa, Kaira. Kamu berteriak seolah-olah sedang dalam bahaya besar,” desak Azlan. Ia ingin tahu, ada dorongan dalam dirinya yang menuntut untuk memahami sisi gelap yang disembunyikan istri keduanya ini. “Nggak, Mas. Benar-benar nggak apa-apa. Tolong lupakan saja,” ucap Kaira, suaranya kini terdengar sedikit lebih tegas namun juga mengandung kepanikan. Ia segera berdiri, menghindari kontak mata. “Maaf kalau aku mengganggu tidur Mas semalam. Aku mau ke kamar mandi sebentar.” Azlan hanya bisa memperhatikan punggung Kaira yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia tahu gadis itu sedang membangun tembok. Jika Kaira tidak mau bicara, maka ia harus mencari tahu dari sumber lain. *** Sepuluh menit kemudian, Azlan sudah berada di kafe hotel. Di sudut yang agak tersembunyi, Abi, asisten kepercayaannya, sudah menunggu dengan sebuah map cokelat di atas meja. “Sudah dapat?” tanya Azlan tanpa basa-basi. Abi mengangguk pelan, wajahnya tampak sedikit tegang. “Sudah, Pak. Saya sudah menelusuri catatan lama dan berbicara dengan salah satu mantan pekerja di rumah keluarga Kareem.” “Katakan,” perintah Azlan. “Begini, Pak. Bertahun-tahun lalu, gudang di rumah keluarga Kareem pernah mengalami kebakaran hebat. Saat itu Ibu Khalisa dan Ibu Kaira masih sangat kecil, mereka berdua terjebak di dalam gudang yang terkunci.” Abi menjeda kalimatnya, menarik napas panjang. “Saat api mulai membesar, Pak Emir datang. Namun ... beliau hanya menggendong Ibu Khalisa keluar. Beliau mengabaikan Ibu Kaira yang masih terjepit di dalam.” Azlan tertegun. Gelas kopi di tangannya tertahan di udara. “Lalu siapa yang menyelamatkan Kaira?” “Seorang pekerja rumah tangga, Pak. Itu pun sudah terlambat karena mereka mengira Ibu Kaira sudah dibawa keluar bersama Ibu Khalisa. Saat itu Pak Emir bilang kalau gudang sudah kosong. Padahal, Ibu Kaira masih di dalam, pingsan karena terlalu banyak menghirup asap.” Azlan menyandarkan punggungnya, merasa sebuah beban berat menghantam dadanya. Ia tidak percaya bahwa seorang ayah sanggup meninggalkan anaknya di tengah kobaran api demi menyelamatkan anak yang lain. “Ibu Kaira sempat koma selama beberapa minggu di rumah sakit,” lanjut Abi, suaranya merendah. “Dan yang paling menyedihkan, selama koma, tidak ada anggota keluarga yang menjaganya. Hanya pelayan yang bergantian datang. Pak Emir dan Ibu Dewi sibuk menemani Ibu Khalisa yang trauma karena kejadian itu.” “Keterlaluan,” geram Azlan. “Apa penyebab kebakarannya?” “Keluarga Kareem mengonfirmasi bahwa itu kesalahan Ibu Kaira. Mereka bilang dia bermain korek api dan membakar mainannya sendiri. Tapi,” Abi mencondongkan tubuhnya, “ada seorang pelayan tua yang membantah. Dia bilang saat itu Ibu Kaira bahkan belum bisa menyalakan korek api sendiri karena usianya lebih muda dari Ibu Khalisa. Sangat jelas kalau Pak Emir sengaja memojokkan Ibu Kaira yang saat itu masih koma untuk menutupi sesuatu, atau mungkin sekadar mencari kambing hitam.” Azlan menghela napas panjang, menatap kosong ke arah jalanan Paris di luar jendela. Sekarang ia paham kenapa Kaira berteriak “panas” dan “ayah jahat” dalam tidurnya. Luka itu bukan hanya di ingatan, tapi sudah meresap ke dalam jiwanya. *** Sementara itu, di belahan bumi lain, Jakarta terasa jauh lebih panas bagi Khalisa. Ia baru saja keluar dari gerbang mansion keluarga Alzahir dengan wajah yang basah oleh air mata. Sekali lagi, Ibu Safira mengusirnya seperti pengemis. Namun, ada satu berita yang lebih menyakitkan daripada pengusiran itu. Ia baru tahu bahwa Azlan dan Kaira sedang berada di Paris. Paris. Kota impiannya. Selama lima tahun menikah, Khalisa selalu merengek minta diajak ke sana untuk merayakan ulang tahun pernikahan, tapi Azlan selalu beralasan sibuk. Namun sekarang, Kaira—adik yang ia anggap bodoh dan hanya sebagai alat—justru sedang berada di sana bersama suaminya. “Mas Azlan ... hiks ... kenapa?” isak Khalisa lemah. Langkahnya lunglai menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan. Bayangan bahwa Azlan dan Kaira mungkin sedang berbagi kemesraan di bawah menara Eiffel membuat dadanya sesak luar biasa. Rasa iri yang membakar kini berubah menjadi kebencian yang murni. Bruk! Khalisa jatuh terduduk di samping pintu mobilnya. Ia meremas aspal dengan jemarinya yang terawat. “Kaira sialan. Kamu benar-benar sudah mencuri semuanya dariku.” Ia menatap kosong ke depan, air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh sorot mata yang penuh dendam. “Aku pasti akan menyingkirkanmu. Kalau perlu, aku akan menghancurkanmu sampai tidak ada lagi yang tersisa.” *** Kembali ke Paris, Azlan melangkah menuju kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk. Namun, saat ia melangkah di koridor hotel, ia merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhnya mendadak terasa panas, detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Awalnya ia mengira itu hanya efek kemarahan setelah mendengar cerita Abi, namun sensasi ini berbeda. Rasa panas itu menjalar dari perut bagian bawah ke seluruh pembuluh darahnya. Napasnya mulai memburu. Azlan membuka pintu kamar dan segera menutupnya kembali, bersandar pada pintu kayu yang dingin untuk menenangkan diri. Ia mencoba melonggarkan kemejanya yang mendadak terasa mencekik. Pandangannya tertuju pada ranjang. Di sana, Kaira sedang terlelap. Mungkin ia kelelahan setelah menangis tadi. Gadis itu tidur dalam posisi menyamping, namun saat Azlan mendekat, Kaira bergerak pelan, mengubah posisinya menjadi telentang. Pemandangan di depannya membuat pertahanan Azlan runtuh dalam sekejap. Kaira mengenakan dress tidur berbahan katun tipis yang longgar. Karena posisinya yang tidak beraturan, bagian bawah dress itu tersingkap, memperlihatkan paha mulusnya yang putih bersih. Kedua lengannya terangkat ke atas kepala, menyingkap bagian ketiaknya yang mulus dan leher jenjang yang tampak begitu mengundang di bawah cahaya lampu temaram. Garis leher dress yang rendah itu memperlihatkan lekuk d**a Kaira yang naik turun teratur seiring napas tidurnya yang tenang. Azlan menelan ludah dengan kasar. Rasa panas yang tadi ia rasakan kini meledak menjadi gairah yang primitif. Selama lima tahun pernikahannya dengan Khalisa, ia jarang merasakan getaran sehebat ini. Ada sesuatu pada Kaira yang memicu sisi gelap dan posesifnya. Fakta bahwa Kaira adalah istrinya yang sah, digabung dengan rasa kasihan atas masa lalunya, membuat Azlan merasa memiliki hak sepenuhnya atas wanita ini. “Sial,” maki Azlan rendah. Ia tidak bisa lagi menahan diri. Dengan gerakan yang tergesa, ia melepas kemejanya dan membuangnya ke lantai. Azlan merangkak naik ke atas ranjang, menindih tubuh mungil Kaira dengan berat tubuhnya yang tegap. Kaira terbangun seketika, matanya membelalak kaget saat merasakan beban yang menimpanya. “Mas ... Mas Azlan?” “Diamlah, Kaira,” bisik Azlan, suaranya serak dan penuh gairah. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Kaira, menghirup aroma cendana yang memabukkan itu lebih dalam, sementara tangannya mulai menjelajahi kulit lembut istrinya, membiarkan nalurinya mengambil alih di malam Paris yang panjang ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD