Bab 3. Bos besar

2014 Words
Kiandra benar-benar menahan kesal. Sejak tadi ia berusaha tetap profesional, tapi cara Ardan berbicara pada Raka perlahan mengikis kesabarannya. Anak sekecil itu sedang sakit, ketakutan, dipasang infus, berada di lingkungan asing—namun yang diterima justru bentakan dan tuntutan untuk bersikap “kuat”. Bagaimana anak lima tahun bisa memahami semua itu? “Jangan kasar,” ucap Kiandra akhirnya, suaranya lebih tegas dari sebelumnya. “Di sini dia pasien, dan saya bertanggung jawab atas kenyamanan pasien walaupun dia anak bapak.” Ruangan langsung hening. Wanita paruh baya di sudut ruangan tampak menahan napas. Bahkan Raka yang tadi sesenggukan ikut diam sambil memandangi Kiandra dan ayahnya bergantian. Ardan menatap Kiandra lurus. Sorot matanya tajam, dingin, dan sedikit tidak suka karena ditegur di depan orang lain. Namun lelaki itu tidak membalas apa pun. Hanya rahangnya yang tampak mengeras. Kiandra sendiri tidak peduli. Kalau soal pasien anak, terutama yang diperlakukan terlalu keras, ia memang tidak pernah bisa diam. Ia mengalihkan fokus kembali pada Raka yang masih cemberut di atas ranjang. “Nah…” Kiandra duduk di sisi ranjang sambil menarik meja makan kecil mendekat. “Sekarang kita bikin perjanjian ya.” Raka mengusap matanya pelan. “Perjanjian apa?” “Kalau Raka makan sama minum obat, dokter kasih hadiah.” Mata anak itu langsung sedikit berbinar. “Hadiah apa?” Kiandra berpura-pura berpikir keras. “Hmm… rahasia.” “Yahhh…” “Tapi hadiahnya spesial.” Raka mulai terlihat tertarik meski masih sesekali melirik ayahnya dengan waspada. Kiandra memperhatikan itu. Anak ini bukan takut pada obat. Ia takut dimarahi lagi. “Pak Ardan,” ucap Kiandra tanpa menoleh, “boleh kasih saya waktu sebentar sama Raka?” Ardan tampak ingin menolak, tapi akhirnya hanya mengangguk tipis. “Oke.” Lelaki itu mundur beberapa langkah, berdiri dekat jendela sambil melipat tangan di d**a. Kiandra kembali fokus pada Raka. “Sekarang dokter mau tanya,” katanya pelan. “Kenapa nggak mau makan?” Raka menunduk. “Pahit…” “Yang pahit obatnya atau makanannya?” “Dua-duanya…” Kiandra menahan senyum kecil. Anak-anak memang sering sejujur itu. Ia mengambil mangkuk bubur hangat di atas meja lalu mengaduknya perlahan. “Kalau dokter bantu gimana?” Raka tampak berpikir. “Disuapin?” “Iya.” “Kayak bayi dong…” “Loh, tadi katanya sakit. Orang sakit boleh manja sedikit.” Raka akhirnya tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak Kiandra datang lagi ke kamar itu. Dan suara tawa kecil itu entah kenapa membuat suasana ruangan terasa jauh lebih ringan. “Oke,” jawabnya pelan. Kiandra mulai menyuapkan bubur sedikit demi sedikit. Tidak terburu-buru, memberi waktu anak itu mengunyah dengan nyaman. “Pinter…” pujinya. Raka tampak bangga walau mulutnya masih penuh bubur. Di sisi lain ruangan, Ardan memperhatikan tanpa sadar. Tatapannya tidak lagi setajam tadi. Ia memperhatikan bagaimana Kiandra bicara dengan sabar, bagaimana perempuan itu bisa membuat Raka tenang hanya dengan nada suara lembut dan sedikit candaan receh. Padahal sejak tadi ia sendiri hampir kehilangan kesabaran. “Ayah nggak pernah nyuapin,” gumam Raka tiba-tiba. Sendok di tangan Kiandra berhenti sebentar. Ia melirik Ardan sekilas sebelum kembali tersenyum pada Raka. “Ayah kamu sibuk kerja ya?” Raka mengangguk kecil. “Ayah sering pulang malam.” “Makanya ayah kerja supaya Raka bisa cepat sembuh dan beli mainan.” “Tapi aku lebih suka ayah di rumah.” Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi beberapa detik. Ardan memalingkan wajah ke arah jendela. Sementara Kiandra merasa dadanya sedikit menghangat sekaligus sesak. Anak kecil memang tidak peduli soal uang, jabatan, atau kesibukan. Yang mereka inginkan hanya kehadiran. “Kalau begitu,” kata Kiandra lembut, mencoba mengalihkan suasana, “Raka harus cepat sembuh supaya bisa ngajak ayah main.” “Emang ayah mau?” Pertanyaan polos itu membuat Ardan akhirnya menoleh cepat. Tatapan lelaki itu langsung tertuju pada anaknya. Dan untuk pertama kali sejak tadi, Kiandra melihat jelas rasa bersalah di sana. “Mau,” jawab Ardan pelan. “Ayah mau.” Raka terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya kembali membuka mulut untuk disuapi. Sedikit demi sedikit bubur itu habis. Kiandra tersenyum puas. “Nah, kan hebat.” “Tapi obatnya pahit…” “Nggak apa-apa. Habis obat nanti minum air banyak.” Raka langsung menggeleng keras. “Dokter janji hadiahnya spesial?” “Janji.” Anak itu tampak berpikir keras lagi sebelum akhirnya pasrah menerima obat dari tangan Kiandra. Wajahnya langsung meringis begitu rasa pahit memenuhi mulutnya. “Huekk…” Kiandra buru-buru menyodorkan air putih dan tisu. “Nah, selesai!” Raka meminum air cepat-cepat lalu menghela napas lega. “Hadiahnya mana?” Kiandra tertawa kecil. Ia merogoh saku jas tipis yang masih dibawanya lalu mengeluarkan sebuah plester bergambar kartun superhero. “Aku dapat ini dari pasien kemarin,” katanya sambil menempelkan plester itu di punggung tangan Raka, dekat infus. “Cuma buat pasien pemberani.” Mata Raka langsung membulat senang. “Keren!” “Tuh kan. Jadi sekarang nggak boleh nangis lagi.” Raka mengangguk cepat sambil memandangi plester itu berkali-kali. Kiandra akhirnya berdiri pelan. Tubuhnya mulai terasa benar-benar lelah sekarang. Ia melirik Ardan sebentar. “Pasiennya sudah makan dan minum obat. Tolong jangan dibentak lagi.” Nada suaranya tetap terdengar dingin. Ardan menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Saya nggak biasa menghadapi anak sakit.” “Belajar.” Jawaban Kiandra singkat tanpa basa-basi. Namun anehnya, Ardan tidak tersinggung kali ini. Justru sudut bibir lelaki itu bergerak tipis, nyaris seperti senyum kecil yang tertahan. “Dokter Kiandra…” Kiandra menoleh malas. “Terima kasih.” Kiandra mengangguk tipis. Namun sebelum ia benar-benar keluar kamar, suara kecil Raka kembali memanggilnya. “Dokter cantik!” “Iya?” “Besok datang lagi ya…” Langkah Kiandra terhenti sesaat. Ia tersenyum kecil pada anak itu. “Kalau Raka nggak nakal dan mau makan, dokter pikir-pikir dulu.” Kiandra berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit sambil membawa tas dan ponselnya di tangan. Langkahnya sudah mulai gontai sekarang. Adrenalin yang sejak tadi menahannya tetap aktif perlahan menghilang, menyisakan rasa lelah luar biasa setelah semalaman berjaga. Baru beberapa langkah meninggalkan kamar Raka, seorang perawat muda berlari kecil menghampirinya dengan wajah penuh kekaguman. “Dokter Kiandra berani banget deh…” Kiandra menoleh sekilas sambil tetap berjalan. “Berani apa? Aku nggak melakukan apa-apa.” “Ya ampun dok…” Perawat itu terkekeh kecil. “Dokter tadi ngomongnya tegas banget ke Pak Ardan.” Kiandra mengernyit bingung. “Justru kalian yang harus lebih peka sama pasien,” balasnya santai. “Jangan didiemin aja kalau ada yang nggak beres kayak tadi.” Perawat itu langsung menggeleng cepat. “Kami bukan nggak berani, dok… kami cuma segan.” “Segan?” Kiandra berhenti di depan lift lalu menatap perawat itu heran. “Segan apanya?” Perawat itu terlihat ragu-ragu sebentar sebelum mendekat sedikit. “Dokter nggak tahu siapa Pak Ardan?” “Nggak.” Kiandra menekan tombol lift dengan malas. “Buat apa tahu? Siapapun dia kalau kasar sama anaknya ya wajib ditegur.” Perawat itu langsung menepuk jidat pelan. “Wahhh… dokter Kiandra beneran nggak tahu…” Kiandra mulai kehilangan minat. “Memangnya dia kenapa?” “Dia itu duda…” “Hah?? Duda? Lalu?” Kiandra mendengus pelan. “Mentang-mentang duda jadi nggak boleh ditegur?” “Bukan gitu maksud saya—” “Ah udah jangan gosip,” potong Kiandra cepat sambil melangkah masuk ke lift yang baru terbuka. “Saya capek. Mau pulang, mau tidur.” Ia melambaikan satu tangannya malas sebelum pintu lift perlahan tertutup. Perawat itu cuma bisa melongo. “Padahal aku belum selesai…” gumamnya pelan. “Dia itu duda sekaligus pemilik rumah sakit ini.” Namun Kiandra sudah terlanjur turun. — Satu jam kemudian. Kiandra akhirnya tiba di apartemennya. Begitu pintu terbuka, perempuan itu langsung melempar tas ke sofa dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur tanpa sempat mengganti pakaian. “Akhirnyaaa…” gumamnya sambil memeluk bantal. Ruangan apartemennya tidak terlalu besar, tapi nyaman dan hangat. d******i warna putih dan krem membuat suasana terasa tenang. Ada beberapa tanaman kecil di dekat jendela dan rak buku yang hampir penuh oleh jurnal kedokteran serta novel. Kiandra memejamkan mata. Namun baru beberapa detik, bayangan wajah Raka kembali muncul di kepalanya. Lalu wajah ayahnya. Pak Ardan. Kiandra membuka mata lagi sambil mendengus pelan. “Nyebelin.” Ia membalik tubuhnya. “Tukang marah.” Namun entah kenapa, yang paling teringat justru ekspresi lelaki itu saat Raka berkata, “ayah marah terus.” Tatapan bersalah itu terlihat nyata. Kiandra menghela napas panjang. Mungkin lelaki itu memang hanya bingung menjadi seorang ayah sendirian. Tapi tetap saja… Tidak seharusnya anak sekecil itu dimarahi terus. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Refandi. “Udah sampai rumah?” Kiandra membalas singkat. “Udah.” Balasan datang cepat. “Masih hidup?” Kiandra terkekeh kecil. “Sayangnya masih.” Refandi langsung mengirim emoji tertawa. “Dengar-dengar kamu ngamuk ke bos besar.” Kening Kiandra langsung berkerut. “Hah?” “Udah nyebar satu rumah sakit kali.” “Aku nggak ngamuk.” “Kamu negur Pak Ardan di depan semua orang.” “Terus?” Refandi mengetik cukup lama sebelum akhirnya mengirim pesan lagi. “Kian… serius kamu nggak tahu dia siapa?” Kiandra mulai kesal. “Kalau kamu mau ngomong dia duda, aku udah tahu.” “Tentu aja bukan itu poinnya.” “Terus apa?” “Dia pemilik utama rumah sakit tempat kita kerja.” Jari Kiandra langsung berhenti bergerak. Beberapa detik ia cuma menatap layar ponselnya. “…hah?” “NAH. Baru kaget kan?” Kiandra langsung bangkit duduk di atas kasur. “Yang serius?” “Serius. Bahkan keluarga Ardan yang bangun rumah sakit itu dari awal.” Kiandra memijat pelipisnya pelan. Pantas saja semua orang tadi terlihat hati-hati. Pantas para perawat tampak takut. Dan pantas lelaki itu punya akses mudah memindahkan Raka ke kamar VVIP hanya dalam waktu singkat. “Kenapa nggak ada yang bilang dari awal sih?” gerutunya kesal. Refandi langsung membalas. “Karena kamu nggak pernah peduli gosip rumah sakit.” “Ya mana aku tahu.” “Tapi salut sih.” “Salut apanya?” “Kamu dokter pertama yang pernah ngomelin Pak Ardan terang-terangan.” Kiandra mematung beberapa detik sebelum akhirnya menjatuhkan tubuh kembali ke kasur sambil menutup wajah dengan bantal. “Ya Tuhan…” Ia benar-benar menegur pemilik rumah sakit. Dan lebih parahnya lagi, ia melakukannya dengan nada kesal. Namun beberapa saat kemudian Kiandra malah tertawa kecil sendiri. “Bodo amat.” Karena menurutnya, jabatan tetaplah jabatan. Kalau salah ya salah. Lagipula yang ia bela tadi pasien kecil yang sedang sakit. Ponselnya kembali berbunyi. Refandi lagi. “Hati-hati besok dipanggil direksi.” Kiandra langsung membalas cepat. “Kalau aku dipecat gara-gara ngebela pasien berarti rumah sakit ini bermasalah.” Refandi mengirim emoji tepuk tangan. “Ngeri juga dokter anak satu ini.” Kiandra meletakkan ponselnya di samping bantal lalu memejamkan mata lagi. Kali ini kantuk mulai benar-benar datang. Namun tepat sebelum tertidur, bayangan wajah Ardan muncul lagi di kepalanya. Tatapan tajam lelaki itu. Nada dinginnya. Dan cara lelaki itu memeluk Raka tadi. Kiandra mendengus pelan sambil menarik selimut. “Nyebelin…” — Sementara itu di rumah sakit. Ardan masih berada di kamar rawat Raka. Anak itu akhirnya tertidur sambil memeluk plester superhero pemberian Kiandra seolah benda paling berharga di dunia. Ardan duduk diam di sofa dekat ranjang sambil membuka kancing mansetnya perlahan. Wanita paruh baya yang sejak tadi menemani akhirnya bicara pelan. “Dokter tadi baik sekali ya, pak.” Ardan tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertuju pada plester kecil di tangan anaknya. “Iya,” jawabnya akhirnya singkat. “Jarang ada yang berani ngomong begitu sama bapak.” Sudut bibir Ardan bergerak tipis. Ia teringat bagaimana Kiandra menatapnya tanpa takut sedikit pun. Tidak peduli siapa dirinya. Tidak peduli jabatan atau kekuasaan yang ia punya. Perempuan itu tetap membelanya—lebih tepatnya membela Raka. Dan entah kenapa… Sudah lama sekali Ardan tidak bertemu orang seperti itu. “Namanya siapa tadi?” tanyanya tiba-tiba. “Dokter Kiandra, pak.” Ardan mengangguk pelan. “Dokter anak baru ya?” “Katanya sih sudah hampir setahun di sini.” Ardan bersandar pelan sambil memandang langit malam di balik jendela kaca. “Ohh…” gumamnya lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD