Bab 2. Tangisan Raka

1902 Words
Tangisan anak kecil itu menggema di sepanjang lorong IGD, membuat beberapa orang menoleh sekilas sebelum kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Rumah sakit memang seperti itu—tidak pernah benar-benar tenang. Selalu ada rasa sakit, kecemasan, juga harapan yang bercampur menjadi satu. Kiandra berjalan mendekat dengan langkah cepat namun tetap tenang. Rambutnya yang tadi hanya diikat asal kini mulai sedikit berantakan, kantung matanya samar terlihat setelah berjaga semalaman. Meski tubuhnya lelah, instingnya sebagai dokter anak tetap bekerja lebih cepat dibanding rasa ingin pulang. Anak lelaki itu terlihat sekitar lima tahun. Wajahnya memerah karena menangis terlalu keras, tubuh kecilnya memberontak saat dua perawat mencoba menahan tangannya. “Nggak mau! Sakit! Nggak mau disuntik!” jeritnya sambil menggeleng kuat-kuat. Seorang wanita paruh baya, entah ibunya atau bukan tampak panik di samping ranjang. “Adek, jangan gitu sayang… nanti cepet sembuh kalau dipasang infus.” Namun anak itu justru semakin histeris. Kiandra menghela napas pelan. Pemandangan seperti ini bukan hal baru baginya. Bahkan hampir setiap hari ia menghadapi pasien kecil dengan ketakutan yang sama. “Ada apa ini?” tanyanya lembut. Salah satu perawat langsung menoleh. “Dia nggak mau diinfus, dok. Dari tadi memberontak terus. Pembuluhnya juga susah.” Kiandra mengangguk kecil. Ia melirik name tag pasien di ujung ranjang. Raka. Pelan-pelan Kiandra mendekat, bukannya langsung mengambil alat infus. Ia justru berjongkok hingga sejajar dengan tinggi anak itu. “Halo…” sapanya pelan. Tangisan Raka belum berhenti, tapi matanya mulai melirik waspada ke arah Kiandra. “Nama kamu siapa?” tanya Kiandra lagi. Anak itu cemberut, tidak menjawab. “Kalau aku namanya dokter Kiandra.” Ia tersenyum kecil. “Tapi biasanya pasien kecil manggil aku dokter Kian.” Raka masih sesenggukan. Kiandra tidak buru-buru. Ia tahu, anak kecil bukan tidak bisa diajak kerja sama. Mereka hanya takut. Dan rasa takut tidak bisa dilawan dengan paksaan. “Raka takut jarum ya?” tanyanya lagi. Anak itu langsung mengangguk cepat sambil memeluk tangan ibunya. “Nah, dokter juga sebenarnya nggak suka jarum,” ujar Kiandra santai. Kedua perawat saling pandang menahan senyum. Raka mulai berhenti menangis meski masih terisak. “Masa dokter takut jarum?” tanyanya lirih. Kiandra mengangguk serius. “Iya. Jarum itu nyebelin banget.” Anak itu tampak mulai memperhatikan. “Tapi…” Kiandra menurunkan nada suaranya seperti sedang membocorkan rahasia besar, “jarum infus ini punya kekuatan super.” Raka berkedip bingung. “Dia bisa bantu masukin obat supaya Raka cepet sembuh dan bisa pulang.” “Bohong…” gumam anak itu. “Beneran.” Kiandra menunjuk tiang infus di samping ranjang. “Lihat? Itu markas obatnya.” Perawat di belakang langsung menunduk menahan tawa. Kiandra mengambil sarung tangan karet dan memakainya perlahan. Gerakannya santai, tidak menunjukkan tekanan sedikit pun. “Gimana kalau kita coba permainan?” tawarnya. Raka diam mendengarkan. “Nanti dokter hitung sampai tiga. Habis itu Raka tarik napas kayak superhero.” Kiandra mencontohkan menarik napas dalam-dalam. “Kalau berhasil, berarti Raka lebih hebat dari dokter.” Anak kecil itu tampak mulai ragu-ragu. “Sebentar aja?” tanya Kiandra lembut. Raka menatap ke arah samping, ke arah wanita yang menatap khawatir ke arahnya, lalu kembali ke Kiandra sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Nah, gitu dong.” Kiandra tersenyum tipis. Ia segera memeriksa punggung tangan kecil itu. Jemarinya bergerak cekatan dan hati-hati, mencari pembuluh darah yang paling mudah diakses. Wajahnya langsung berubah fokus—tenang, profesional, berbeda jauh dari sikap santainya tadi. “Siap ya?” tanyanya. Raka menggigit bibir bawahnya. “Satu…” Anak itu mulai menarik napas. “Dua…” Kiandra memegang tangannya dengan stabil. “Tiga.” Jarum masuk dengan cepat dan presisi. Hanya beberapa detik. “Udah.” Raka yang tadi memejamkan mata langsung membukanya cepat. “Hah?” Perawat segera memasang plester dan menyambungkan cairan infus. “Udah selesai?” tanyanya tak percaya. Kiandra mengangguk kecil sambil melepas sarung tangan. “Superhero nggak boleh nangis lama-lama kan?” Raka terlihat bingung beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum malu-malu. Wanita paruh baya itu langsung mengembuskan napas lega. “Ya ampun dok… makasih banyak. Dari tadi nggak bisa sama sekali.” Kiandra tersenyum kecil. “Anaknya sebenarnya berani kok. Cuma takut aja.” Raka langsung membela diri, “Aku nggak takut!” “Oh iya?” Kiandra menaikkan alis. “Berarti tadi yang nangis siapa?” Anak itu langsung menutup wajahnya dengan selimut tipis, membuat semua orang di sana tertawa kecil. Suasana tegang yang tadi memenuhi lorong IGD perlahan mencair. Kiandra menepuk pelan kepala Raka sebelum berdiri. Rasa pegal di punggungnya kembali terasa sekarang. Baru beberapa menit berdiri saja tubuhnya sudah mengingatkan kalau ia belum tidur sejak kemarin. “Dokter cantik…” panggil Raka tiba-tiba. Kiandra menoleh. “Jarumnya nggak sakit.” Kalimat polos itu membuat sudut bibir Kiandra terangkat lagi. “Kan dokter bilang juga apa.” Wanita paruh baya itu kembali berterima kasih berkali-kali sebelum Kiandra akhirnya pamit. Kedua perawat tadi ikut mengiringinya keluar ruangan. “Dok, serius deh… kok bisa cepet banget?” salah satu perawat bertanya kagum. “Padahal tadi kita udah nyoba berkali-kali.” Kiandra tertawa kecil sambil merapikan rambutnya yang mulai lepas dari ikatan. “Karena pasien anak itu bukan soal pasang infusnya,” jawabnya santai. “Tapi soal bikin mereka percaya dulu.” “Keren banget sih dokter.” “Biasa aja.” “Biasa dari mana? Dokter Refandi aja pernah kalah negosiasi sama bocah umur tiga tahun.” Kiandra terkekeh kecil mendengarnya. “Ya karena Refandi hobinya bercanda receh.” “Dokter juga receh tadi pake superhero segala.” “Yang penting berhasil.” Mereka kembali tertawa kecil. Setelah itu Kiandra melangkah keluar dari area IGD. Lorong rumah sakit masih ramai meski hari baru saja mulai terang. Beberapa keluarga pasien terlihat tertidur di kursi tunggu, suara roda brankar terdengar sesekali melintas. Kiandra kembali membuka aplikasi makanan online di ponselnya. Bubur ayam. Ia menatap foto menu itu beberapa detik dengan tatapan kosong. Tiba-tiba rasa lelah menyerang berkali-kali lipat sekarang setelah adrenalin tadi mereda. “Dokter Kiandra.” Ia menoleh malas. Refandi berdiri tidak jauh darinya sambil membawa kopi kaleng. “Kok belum pulang?” “Tadi ada pasien anak nangis.” “Oh… pantes.” Lelaki itu mengangguk paham lalu menyodorkan kopi dingin padanya. “Nih.” Kiandra menatap kopi itu beberapa saat. “Tumben baik.” “Aku takut dokter anak terbaik rumah sakit ini tumbang di lorong IGD.” Kiandra mendengus pelan tapi tetap menerima kopi itu. “Makasih.” Refandi berjalan di sampingnya menuju lift. “Sarapan apa hari ini?” “Bubur ayam.” “Lagi?” “Emang kenapa?” “Nggak bosen?” Kiandra menatap lurus ke depan sambil menekan tombol lift. “Nggak semua yang nyaman harus diganti.” Refandi melirik sekilas ke arah Kiandra. Entah kenapa kalimat sederhana itu terdengar seperti bukan cuma membahas bubur ayam. Kiandra baru saja meneguk air mineral terakhirnya ketika seorang perawat datang tergesa-gesa ke kantin dokter. Napas perempuan itu memburu, wajahnya panik seolah sedang mengejar sesuatu yang penting. “Dok Kiandra!” Kiandra yang sudah setengah berdiri mengurungkan niatnya untuk pergi. “Kenapa?” “Pasien anak tadi… Raka. Dia nangis lagi, dok. Histeris banget.” Kiandra mengerutkan kening kecil. “Kenapa? Infusnya bermasalah?” “Nggak, dok. Tapi dia nggak mau ditinggal. Tadi baru dipindah ke kamar rawat.” Kiandra melirik jam di pergelangan tangannya. Shift-nya sudah selesai sejak hampir empat puluh menit lalu. Secara aturan, ia tidak punya kewajiban lagi untuk menangani pasien. Dokter jaga berikutnya pun sudah ada. Tapi entah kenapa bayangan wajah kecil Raka tadi muncul lagi di kepalanya—anak yang akhirnya tersenyum bangga karena merasa jadi superhero. Ia mengembuskan napas pelan. “Oke, aku lihat sebentar.” Perawat itu langsung tampak lega. “Makasih dok.” Kiandra meraih tasnya lalu berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit. Rasa lelah mulai menyerang lagi, apalagi setelah perutnya terisi. Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya hanya ingin rebahan di apartemen dengan pendingin ruangan menyala dingin. Namun langkahnya tetap mantap menuju ruang rawat anak VIP. Saat pintu kamar terbuka, suara tangisan Raka langsung terdengar nyaring memenuhi ruangan. “Aku nggak mau! Aku mau pulang!” Kiandra langsung menangkap situasi di dalam kamar itu. Raka duduk di atas ranjang sambil menangis keras. Wajahnya basah oleh air mata. Seorang wanita paruh baya—mungkin pengasuh atau neneknya—terlihat kewalahan membujuk. Sementara di dekat jendela berdiri seorang lelaki tinggi dengan setelan jas abu gelap yang masih rapi. Dasi hitamnya sedikit longgar, rahangnya menegang jelas menahan emosi. “Berhenti nangis, Raka!” bentak lelaki itu. “Kamu laki-laki atau bukan sih?” Tangisan Raka justru semakin keras. “Ayah nggak suka anak cengeng!” Kiandra langsung berhenti melangkah. Nada suara itu… Terlalu keras untuk anak sekecil itu. Wanita paruh baya tadi tampak cemas. “Pak… jangan dimarahin dulu. Dari tadi dia memang ketakutan.” “Tapi nggak begini juga!” sahut lelaki itu frustrasi. “Baru sakit sedikit aja kayak dunia mau kiamat!” Kiandra menghela napas pendek sebelum akhirnya masuk sepenuhnya ke dalam kamar. “Ada masalah apa?” Suasana mendadak hening beberapa detik. Raka yang tadi menangis langsung menoleh cepat. Matanya membesar begitu melihat Kiandra. “Dokter cantik…” isaknya lirih. Kiandra mendekat ke ranjang tanpa langsung mempedulikan lelaki berjas itu. “Loh, superhero kok nangis lagi?” tanyanya lembut. Bibir Raka langsung bergetar lagi. “Sakit…” Kiandra memeriksa cepat selang infusnya. Tidak ada masalah. Cairan berjalan baik. “Yang sakit tangan atau hati?” tanyanya santai. Raka terdiam sebentar sebelum menjawab pelan, “Dua-duanya…” Jawaban polos itu membuat d**a Kiandra terasa sedikit sesak. Ia melirik lelaki di belakangnya sekilas. Tatapan mereka bertemu untuk pertama kali. Dan benar. Lelaki itu memang ayah Raka. Wajahnya tegas, tampan dalam cara yang dingin. Usianya mungkin sekitar awal tiga puluhan. Tatapannya tajam, namun sekarang terlihat lelah dan kesal bercampur jadi satu. “Dokter?” tanyanya singkat. “Saya dokter Kiandra. Dokter anak yang menangani Raka tadi di IGD.” Lelaki itu mengangguk kecil. “Saya ayahnya. Ardan.” Kiandra membalas anggukan tipis. Namun sebelum percakapan berlanjut, Raka kembali merengek kecil sambil menarik ujung baju Kiandra. “Dokter jangan pulang…” Suara kecil itu langsung membuat Ardan mengembuskan napas kasar. “Raka!” tegurnya. “Jangan manja.” Tubuh anak itu langsung mengecil ketakutan. Kiandra menatap Arsen datar beberapa detik. “Pak Ardan,” ucapnya tenang, “boleh saya bicara sebentar?” Nada suaranya lembut, tapi cukup jelas menunjukkan bahwa itu bukan permintaan biasa. Arsen tampak menahan sesuatu di wajahnya sebelum akhirnya mengangguk. “Silakan.” Kiandra berdiri lalu berjalan beberapa langkah menjauh dari ranjang. Ardan mengikuti. “Anak bapak sedang sakit,” kata Kiandra pelan namun tegas. “Dia takut, bingung, dan berada di tempat asing. Reaksi menangis itu wajar.” Arden mengusap wajahnya kasar. “Saya tahu. Tapi dia terlalu bergantung sama orang lain.” “Dia baru lima tahun.” “Justru karena itu saya ngajarin dia supaya nggak lembek.” Kiandra terdiam sesaat. Ia sudah sering bertemu orang tua seperti ini. Mencintai anaknya, tapi salah menunjukkan cara. “Anak kecil nggak akan jadi kuat hanya karena dimarahi saat takut,” ucapnya akhirnya. “Kadang mereka cuma butuh merasa aman.” Aedan menatap Kiandra cukup lama. “Dokter belum punya anak kan?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Kiandra sedikit terkejut. Namun ekspresinya tetap tenang. “Belum.” “Kalau begitu dokter mungkin nggak ngerti rasanya jadi orang tua.” “Pak Ardan juga buak dokter, kan? Jadi bapak nggak tau penyakit yang diderita Raka.” balas Kiandra tidak mau kalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD